
Lautan berpasir sepanjang netra mampu memandang dan langit biru tanpa gumpalan kapas, melainkan berhiaskan dua bulatan yang memancarkan panas. Kombinasi yang mematikan!
Jejak alas kaki tercetak sempurna di atas lautan berpasir yang sedang mengekor pada dua sosok manusia, itu tak termasuk dengan seorang wanita yang bergelut di dalam mimpinya. Tuan Putri itu tidur pulas di gendongan pria yang dianggapnya pangeran.
"Ini membosankan!"
Gumaman dari seorang wanita dengan helaian violet—Ashera memecah keheningan yang melanda.
Sosok di depan, yang tak lain adalah Kiya cuma membalas ...
"Aku juga bosan, tak usah mengeluh!" Ketus Kiya.
Jawaban yang sontak membuat bibir Ashera mengerucut dan pipi yang membengkak. "Tsk ... pria yang tak menghargai wanita!" Ashera membuang mukanya.
Kiya sejujurnya terganggu akan perkataan menusuk Ashera, tapi terlalu malas untuk memunculkannya. Alhasil, batin yang menjadi pelampiasannya.
"Tak menghargai? Jika begitu ... kenapa Calsya tak kuseret saja alih-alih kugendong padahal merepotkan!"
Keheningan kembali melanda. Saking heningnya, suara pasir yang diterbangkan angin bahkan mampu terdengar.
Lamort Desert, sebuah gurun pasir yang membentang membelah dua wilayah kekuasaan, yaitu Rentweder dan Scasina. Gurun terbesar kedua di benua Barat, tempat terpanas kedua di benua Barat, gurun kematian, tempat tinggal Orochi ... semua itu adalah segelintir julukan yang melekat pada Lamort Desert.
"Kita benar-benar dikepung, aku tak menyangka para manusia itu cekatan!?"
Sebuah fakta yang sudah diketahui sebelumnya, tetapi Ashera mengangkatnya kembali sebagai topik obrolan. Namun usahanya sia-sia ...
"..."
Tak ada respon. Pria di depannya tak bergeming atas pernyataannya.
"Huh ... sudahlah!" Ashera menyerah.
«Ada perkembangan yang bagus?!»
Luxury tiba-tiba mengajak bicara, ini adalah momen yang sudah jarang terjadi. Semenjak Ashera ada, peran Luxury seakan tersisihkan sebagai system.
Pada kenyataannya Ashera sangat berguna layaknya sebuah system.
"Yah, tumben sekali!" Balas Kiya dengan nada mengejek.
«Terserah! Aku cuma mau memberitahu ini»
Panel hologram antarmuka seketika muncul di hadapan Kiya. Panel itu memuat sebuah peta yang menggambarkan area Kiya berada, Lamort Desert dan sekitarnya.
Bulatan kecil berwarna biru tua, ungu, dan merah muda terletak di tengah peta yang melambangkan Kiya, Ashera, dan Calsya. Lalu bulatan kecil berwarna abu-abu tersebar di area perbatasan gurun, itu melambangkan orang-orang yang belum pernah ditemui Kiya secara langsung.
Yang menjadi pusat perhatiannya adalah ... bulatan kecil berwarna biru muda bergerak sangat cepat ke arah Kiya berada.
"Ini ... Viola, kah?" Kata Kiya seakan tak percaya.
"Hm ... apa?" Tanya Ashera yang penasaran mendekat. "Apa yang kau lihat?" Alisnya terangkat sebelah merasa bingung.
"Luxury!" Titah Kiya.
Ashera langsung membuka lebar mulutnya ketika sebuah peta tiga dimensi mendadak muncul.
__ADS_1
"Woah ... keren! Luxury, kah?" Kata Ashera dengan mata berbinar-binar. "Eh?
Ashera bisa langsung menyadari inti masalahnya.
"Apa-apaan ini? Bagaimana bisa ada seseorang yang bisa tau tempat kita secara akurat?" Ashera menatap Kiya meminta penjelasan.
"Orang itu, tepatnya wanita itu, pernah bertemu denganku ... dia salah satu pahlawan!" Kata kiya serius.
"Cih ... Kenapa Viola harus datang?"
"Hahaha ... ini kebetulan sekali! Mungkin pahlawan bisa menjadi penghilang bosan!?" Ashera tertawa girang.
Seiring titik biru muda itu kian mendekat, Kiya bertambah kebingungan ... dia bimbang dengan keputusannya.
"Nee ... boleh, kan?" Tanya Ashera penuh harap.
Bibir Kiya telah terbuka hendak melontarkan beberapa kata, namun itu tertahan ... tak ada kata yang keluar.
"T-t-terserah!"
"Hahaha ... oke, ini pasti akan menarik!? Kiya, kau bersembunyi saja di Dimension Room milikmu! Aku akan mengurus pahlawan itu!"
Tepat setelah menyelesaikan perkataannya, Ashera langsung menghilang meninggalkan Kiya.
"Kuharap Ashera tak membunuhnya!?"
.
.
.
Lamort Desert, lokasiku sekarang. Tujuanku berada di tempat ini? Menemui Kiya.
"Aku beruntung pernah bertemu dengan Kiya!?"
Mengandalkan Vian, kami terbang sangat cepat menyusuri Lamort Desert, gurun yang terkenal sangat luas.
"Viola, kita disambut."
Vian secara tiba-tiba mendarat dengan sendirinya tanpa menunggu perintah dariku.
"Disambut? Sia—"
Perkataanku terpotong oleh kemunculan sebuah gundukan pasir yang membentuk siluet humanoid.
Semakin lama gundukan itu semakin menyerupai wujud manusia ... sampai akhirnya aku mengetahui identitas sosok itu lewat helaian rambutnya yang berwarna ungu.
"Maaf telah mengganggu perjalanannya, tapi Anda harus berhenti di sini!" Ucap sosok itu menyeringai.
Wanita dengan surai ungu, mata merah darah, dan sepasang tanduk mungil di kepalanya ...
"Ashera ...!" Ucap Vian dengan tatapan permusuhan. Semua lehai bulu lembutnya menegang seketika.
Vian mengambil posisi di depanku memfungsikan dirinya sebagai tameng.
__ADS_1
Ini sangat gawat! Ashera muncul di hadapanku, jika aku menghadapinya sendiri ... aku pasti akan kalah. Apa sebaiknya lari saja?
Ah, tidak ... seharusnya ini bagus. Sedikit melenceng dari rencana, tapi tetap masih bisa berhasil.
Tujuanku adalah meminta konfirmasi pada Kiya bahwa bukan dia yang sudah membuat semua kekacauan ini.
"Ahh ... Vian, lama tak jumpa! Kau masih menjadi mainan para manusia, ya?"
Yah, ini adalah reuni. Vian seharusnya sudah pernah bertatap muka dengan Ashera ... Demonlord.
"Jangan banyak bicara, iblis! Katakan bagaimana kau kembali ke dunia, siapa yang memanggilmu?" Ucap Vian dipenuhi amarah, dia sudah tak bisa lagi mengontrol amarahnya.
Ashera merentangkan tangan kirinya, secara ajaib muncul sebuah lubang dimensi yang sejajar dengan lengannya. Dia sedikit memasukkan tangannya ... keluarlah sebuah benda panjang, itu adalah sebuah pedang dengan satu bilah pipih berwarna hitam berhias corak berwarna ungu.
"Kalian ketinggalan informasi atau apa? Seharusnya ini gampang ditebak ... huh, tapi yah ... sepertinya pahlawan cantik ini tak akan percaya jika tak mendapat konfirmasi langsung dari yang bersangkutan!?" Ashera menyeringai padaku dengan menenteng pedang di pundaknya.
"Katakan saja iblis!" Desak Vian tak sabaran.
"Huh ... aku sedang tak ingin bicara denganmu, Vian?"
Ketika mataku terpejam beberapa saat karena berkedip, keberadaan Ashera sudah tak ada. Aku langsung bersiap bertarung, kedua tanganku sudah bersiaga pada pedang di pinggangku.
Jadi, inilah kekuatan dari iblis pada perang besar ratusan tahun lalu? Aku bahkan tak bisa bereaksi sedikit pun.
Brukk ... jdarr ...
"Vian ...!" Rintihku cemas.
Vian tiba-tiba tubuhnya dihantam oleh sesuatu yang sangat kuat hingga terlempar ratusan meter.
Ashera sudah berada tepat di hadapanku, jarak kami bisa dibilang sangat dekat, satu jengkal pun tak ada.
"Kau seharusnya pernah bertemu dengannya, pahlawan! Azkiya adalah master ku!"
Aku langsung melompat mundur mengambil jarak sejauh mungkin dan pedang rapier sudah kukeluarkan. Kini aku siap bertarung meski tubuhku tak berhenti tuk bergetar.
"Ucapanmu tak bisa dibuktikan!"
"Cih ... kau menyangkalnya! Tapi, yah ... tak apa-apa. Aku tak peduli kau percaya atau tidak!" Ashera dalam kuda-kuda bersiap menyerang. "Nah ... aku ingin tau lebih tentang dirimu. Mata yang bisa melihat apa pun ... observasi!"
Manik merah darah itu menyala terang tepat setelah Ashera mengucapkan kalimat terakhirnya.
Ada sesuatu keanehan, ekspresi wajah Ashera menjadi tak karuan. Dia sangat terkejut ...
"Cih ... ternyata sangat merepotkan! Hei, pahlawan ... sebaiknya kau—Ah tidak! Takdir konyol itu ... yah, antara kau dan Master Kiya. Bagaimana akhirnya, ya?
.
.
.
Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.
Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.
__ADS_1
aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.
Dah ... see you