System : Unknown

System : Unknown
Chapter 62 -Tujuan? Xeliqia


__ADS_3

"Aku sepenuhnya menjadi babu!"


Ashera telah sepenuhnya tunduk pada Kiya—tak ada Ashera urakan yang berbuat seenaknya sendiri. Meski begitu, Ashera masih belum terlalu patuh, beberapa kali Ashera harus diberikan ancaman agar dirinya bergerak melaksanakan tugas.


Servant tetaplah Servant—pada dasarnya adalah gelar untuk melayani orang lain. Mau sekuat apa pun Ashera, para bawahan harus tunduk pada Tuannya.


"Sialan ...!"


Iblis tingkat tinggi seperti dirinya menjadi bawahan sebetulnya adalah sebuah penghinaan dan aib yang besar. Tapi, apa boleh buat ... itu adalah bayaran untuk bisa eksis kembali di dunia fana.


"Kiya ... kenapa harus aku?" Ashera cemberut saat mengingat tugas yang diberikan padanya. "Cih ... aku harus menemukan hal yang menarik!" Ashera menggemukkan pipi dan membuat suara dengusan kuda dengan bibirnya.


Ashera sekarang tak ada bedanya dengan gadis yang ngambek, begitu menggemaskan—Tsundere. Namun, di dalamnya adalah sosok kejam yang telah membunuh ratusan ribu nyawa.


Dua kakinya yang lengting dikuatkan sedemikian rupa pada pijakan, retakan tanah kemudian terbentuk, semakin besar dan ... "wush".


Ashera melompat sangat tinggi menembus awan meninggalkan kepulan debu di bawahnya.


"Berangkat."


.


.


.


"Ah, Ashera sudah berangkat?" Senyuman tipis merekah di wajah seorang pemuda—Kiya.


"Tapi, kenapa kamu menyuruhnya untuk ke Xeliqia? Lagipula, darimana kamu mendapatkan uang sebanyak itu? Itu sang—ekhm ... ekhmm ...."


Kiya menghembuskan nafas dengan malas sembari salah satu tangannya menyumbat mulut Calsya yang terus nyerocos tak bisa direm.


"Teruslah bicara, maka aku akan meninggalkanmu sendiri!"


Calsya menggeleng dengan cepat, matanya mulai berkaca-kaca—ingin menangis. Dia menelan mentah perkataan Kiya.


"Apa dia memang jatuh cinta padaku, ya?"


«Ya ... dia sudah tergila-gila padamu»


"Huh ... aku masih belum mengharapkan hubungan yang spesial selagi kondisi belum damai. Tapi ... cinta adalah kekuatan yang besar!"


«Kau juga mencintai Putri!»


"Jangan sok tau!"


Tak tahan melihat mata merah delima berkerlip yang menatapnya sendu, Kiya melepaskan sumbatan tangan yang menahan mulut Calsya.


"Huh ... jangan menganggapnya serius, Putri! Aku tak akan meninggalkanmu, aku bisa menjanjikan hal itu." Kiya menepuk bahu Calsya lembut. "Percayalah!"

__ADS_1


Calsya mengangguk pelan, tangannya tak berhenti menyeka sedikit air yang berada di matanya.


"Hubungan macam apa ini?" Kiya berbalik dan memijat kening.


"Ahh ... manisnya. Pengantin baru yang berjanji akan selalu bersama selamanya."


Spontan, wajah pasangan yang dikira pengantin baru itu sontak memerah. Bertingkah seperti anak ABG yang baru saja jatuh cinta.


"Apa kata-kataku tadi manis, ya?"


.


.


.


Terbang seharian dari wilayah kerajaan Gharagi ke wilayah Xeliqia, dari hari yang terang berubah menjadi hari yang gelap.


"Sebaiknya aku tak datang malam hari, aku pasti akan kesulitan masuk!?"


Ashera telah berada di dekat wilayah Xeliqia, namun dia memilih berhenti untuk bermalam dan melanjutkan perjalanannya saat hari sudah terang.


Bagi negara baru yang pendirinya adalah penjahat dan dimusuhi oleh negara tetangga bahkan dunia, menerima seseorang pendatang adalah hal yang beresiko, apalagi malam hari. Mereka pasti ingin mengantisipasi adanya penyusup.


Adapun Xeliqia memiliki SDM militer yang sangat kecil, rawan diinvasi. Tapi, seluruh dunia tak tahu saja ... bahwa senjata militer Xeliqia adalah yang termaju teknologinya.


"Kiya menyuruhku untuk memberikan sejumlah uang, 4 miliar Arial untuk kepentingan negara. Dia menukarkan hampir setengah poin system yang dimilikinya. Yah, dia orang yang cukup bertanggungjawab!" Tanpa sadar Ashera tersenyum. Namun, ekspresi Ashera kemudian sedikit mengeras.


"Hehehe ... ini akan menarik!"


Deg ...


"Hahaha ... Sin of Lust, Tuan atau Nona? Ah, bodo amat! Ada apa?" Ashera mencoba tersenyum manis meski tubuhnya sedikit gemetar.


Dari atas sebuah pohon yang tak jauh dari Ashera, di salah satu dahan—nampak sesosok nangkring di atasnya. Dalam kegelapan malam, tubuhnya tak bisa terlihat selain mata berwarna cokelat rami yang berkilauan.


"Tak apa-apa, aku cuma ingin menyapa gadis cantikku ini."


"Hehe ... tak perlu dipuji, aku memang cantik!" Jawab Ashera tersenyum kecut.


"Narsis ...!" Ujar Asmodeus mengejek.


"Ukh ... itu memang fakta, aku tak bisa mengelak!"


"Narsis ...!"


"Ah, ayolah. Apa yang ingin Anda bicarakan? Jangan membuang-buang waktu, bo—" Secepat kilat Ashera membungkam mulutnya. Jika si Sin of Lust tersinggung ... berakhirlah hidup Ashera di Dunia Fana.


"Aku hanya ingin menyapamu, gadis manis!"

__ADS_1


"T-terserah!" Jawab Ashera membuang muka.


Sementara itu ...


Ratusan kilometer dari tempat Ashera beristirahat. Sebuah rombongan dagang menghangatkan diri di dekat api unggun.


Jumlahnya belasan orang, barang bawaannya pun banyak. Wajah-wajah penuh ambisi mencari kekayaan pun tergambar jelas.


"Ketua, apa kita bisa masuk ke kerajaan baru itu?" Tanya seorang pria.


"Iya, setelah pemberian status buronan pada pendirinya. Kerajaan tetangga, Gereja suci telah menarik diri. Kerajaan itu tertutup, siapa pun tak akan diizinkan masuk!" Timpal pria lainnya menunjukkan ekspresi yang bermasalah.


"Kalian tenang saja, kita pasti bisa masuk! Tawaran-tawaran yang kita berikan pasti tidak akan ditolak, mereka itu kerajaan baru yang masih belum makmur, miskin." Kata si ketua penuh keyakinan.


Kata-kata si ketua berhasil memupuk kepercayaan diri bawahannya yang sempat gagal tumbuh.


Di sisi lainnya ... 5 orang tampak membuka telinganya lebar-lebar membiarkan semua obrolan itu masuk. Sembari mengurus kuda—dan hewan lainnya yang menjadi alat tarik barang.


"Kenapa kita harus repot-repot menyamar? Tinggal bilang kita adalah JUDGMENT, maka akan langsung beres!?" Keluh Whikal berbisik.


"Bukannya ini lebih mendebarkan?" Dandelina berkata dengan mata yang penuh hasrat.


"Yah, ini mungkin masuk akal! Dandelina ingin ini jadi senatural mungkin. Jika mereka mengetahui identitas kita, itu hanya akan membuat mereka tertekan dan potensi mereka akan gagal keluar!" Jawab Falama.


"Semoga ini berjalan lancar!?" Harap Feelid.


Menyusup ke Xeliqia dan membaur. Untuk mencari segala informasi tentang Kiya, itu merupakan tujuan awal. Akan sedikit berubah jika situasi mengharuskannya.


"Kita berlima bisa menghancurkan kerajaan itu sendiri!" Terang Dandelina.


Yah, itu rencana cadangannya, terdengar bar-bar. Dan kepercayaan diri mereka yang terlalu tinggi.


"Huh ... kesombongan adalah tanda kekalahan!"


Satu orang menyadari hal itu ...


.


.


.


Maaf sedikit telat, ada sedikit kendala.


...


Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.


Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.

__ADS_1


aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.


Dah ... see you


__ADS_2