System : Unknown

System : Unknown
Chapter 48 -Sergapan-


__ADS_3

Maaf, telat update ... ada urusan mendadak. Jadi, nggak bisa nulis bab selanjutnya.


Sekali lagi maaf 🙏


.


.


.


Ancaman iblis bernama Ashera yang pernah memiliki gelar Demonlord membuat Benua Barat gempar. Semua kerajaan mau tidak mau harus segera menghapus ancaman itu secepatnya sebelum sesuatu yang mengerikan terjadi.


Maka dari itu pahlawan juga harus ikut turun tangan. JUDGMENT dan para orang kuat di setiap kerajaan dirasa kurang untuk menyelesaikan masalah ini, terlebih ada pontensi ancaman yang sama besarnya dengan Ashera—buronan bernama Azkiya. Orang yang katanya bertanggungjawab atas munculnya Ashera kembali.


Oleh karenanya para pahlawan harus merombak tema rapat mereka, yang awalnya adalah masalah internal para pahlawan sendiri bergeser ke masalah Ashera.


Tempat pertemuannya pun sampai di rubah. Awalnya adalah kerajaan Scasina—Kerajaan asal pahlawan Fene digeser ke kerajaan Gharagi.


"Di sini sangat dingin!?" Arron terus menggigil berjalan menyusuri lorong-lorong di istana.


"Aku bisa membuatnya lebih dingin!" Sahut Ranan cuek.


"Dari pada Es, aku lebih suka kau menggunakan api mu ... ha~chiu ... ini benar-benar dingin!"


"Sudah tau dingin, kenapa pakaianmu tipis?" Gouri yang sedikit berjalan di depan, bergabung dengan obrolan.


"Y~ah, tempat pertemuannya berubah secara mendadak, aku salah membawa perlengkapan ...! Ha~chih."


Kerajaan Gharagi, kerajaan yang digunakan para pahlawan untuk melakukan pertemuan. Kerajaan asal pahlawan Gouri.


Kerajaan Gharagi adalah kerajaan yang sebagian wilayahnya adalah daratan tinggi dengan banyak sekali gunung yang menjulang tinggi sampai batas awan. Karena hal itu Gharagi kadang disebut sebagai kerajaan di atas awan. Dan tentu saja dingin.


Rapat internal para pahlawan telah selesai, selanjutnya adalah rapat besar yang melibatkan seluruh kerajaan di Benua Barat, Federasi dunia, Gereja suci Carialin ...


Pihak kerajaan Benua Timur tak ikut dalam rapat itu.


Posisi Kiya dan Ashera sudah diketahui, sisanya tinggal menyikapi hal itu. Langsung melakukan penyerangan atau tidak? Apa harus mengerahkan pasukan yang besar selain para pahlawan? Mungkin itu persoalan yang akan dibahas.


Gouri, Arron, dan Ranan sudah sampai di ruangan yang dimaksud. Gouri pun membuka pintunya. Dan ...


"Pahlawan Ranan, Gouri, dan Arron ...? Lalu di mana pahlawan Fene dan Viola?"


"Yah ... itu ..."


.


.


.


"Aku tak menyangka kamu bisa marah seperti itu, Viola! Apa kamu benar-benar sudah—"

__ADS_1


"Diamlah, Vian!" Sela Viola sedikit membentak.


"Baiklah, aku mengerti."


Si burung Alerion biru—Vian tak merasa tersinggung atas bentakan Viola yang tak beralasan. Vian sudah mengenal Viola sejak lama, semua perangainya sudah dia mengerti.


Berada di salah satu tempat tertinggi di kerajaan Gharagi yang merupakan ibukota, puncak gunung Rogi—Kota Rogia ... Viola tampak merenungkan sesuatu.


"Kamu khawatir pada Kiya, Viola?" Kata burung biru kecil sedikit khawatir, yang hinggap di pundak kanan Viola.


"Aku masih yakin bahwa Kiya tak salah! Dia bukan yang bertanggungjawab atas semua ini! Tapi ..." Kata-kata Viola terhenti, kesulitan tuk mengucapkan kata selanjutnya.


"Yah ... fakta bahwa Kiya saat ini sedang bersama Ashera tak terelakkan!?" Vian melengkapi kalimat Viola.


Tangan Viola terkepal kuat, begitu juga dengan bibir bagian bawahnya yang tergigit dengan kuat tuk menahan kekesalannya. Dia bingung harus berbuat atau menyikapinya masalah ini.


Tetep kekeh terhadap keyakinannya atau percaya terhadap fakta yang ada? Pilihan yang diambilnya sangat menentukan.


"Kamu lupa, ya? Fakta bahwa Ashera adalah iblis panggilan?" Kata Vian tiba-tiba.


"Iblis panggilan?" Viola tampak sedikit terkejut, dia pun menatap Vian serius.


"Iblis panggilan tak akan berbuat apa-apa jika si pemanggil tak memberinya perintah!?" Vian melanjutkan perkataannya.


"Pemanggil butuh sejumlah tumbal, kan?" Balas Viola dengan ekspresi wajah yang sangat serius, malah tampak sedikit marah.


Tidak sesuai harapan, eskpresi wajah Viola bertambah gelap setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan Vian. Niat hati ingin sedikit menghibur malah memperburuk suasana hatinya.


Viola tak memedulikan Vian yang kabur. Kini dia masuk dalam kesunyian di atas puncak gunung itu. Di atas sana tak ada apa-apa selain dirinya yang matanya memandang jauh suatu arah.


"Huh ... aku tak tau mengapa, tapi aku sangat percaya bahwa Kiya tak melakukan semua itu!"


Rasa saling percaya yang kuat, mungkin? Mereka bahkan belum terlalu mengenal satu sama lain.


.


.


.


"Kurasa ini sudah cukup."


Kiya merebahkan dirinya di dinding gua. Dia cukup letih setelah semua pertarungan itu.


Calsya mengambil tempat di sampingnya, sedangkan Ashera berdiri di atas katana-nya yang menancap tak jauh dari mereka, Ashera nampak memikirkan sesuatu.


"Hasil yang bagus, Kiya!" Kata Ashera turun dari katana-nya menghampiri Kiya dan juga Calsya.


"Apa dengan kekuatanku saat ini bisa untuk menyelesaikan semua ini?" Kata Kiya agak ragu menatap telapak tangannya lalu menatap Ashera.


"Siapa yang tau." Jawab Ashera dengan bahu terangkat.

__ADS_1


Jawaban Ashera menambah keraguannya, Ashera pun tersenyum atas ekspresi bingung yang ditunjukan Kiya.


"Kau bisa mengandalkanku! Aku adalah bawahanmu!" Ashera melemparkan katana-nya dan Kiya menangkapnya dengan sempurna.


"Yah, terserah!" Jawa Kiya malas.


"Ngmong-ngmong, Putri! Aku mau bertanya satu hal."


Calsya yang dari tadi hanya menjadi pendengar dan tak berminat ikut dalam pembicaraan seketika kaget, wajahnya kemudian menjadi pucat setelah mendengar Kiya ingin bertanya padanya.


"A-pa, apa yang ingin kau tanyakan?"


"Apa kau membenci keluargamu? Kau peduli dengan mereka? Apa alasanmu kabur?" Kiya melayangkan serangkaian pertanyaan yang membuat Calsya bingung. Semuanya adalah pertanyaan yang sensitif.


Calsya sampai terbata-bata dalam menjawab pertanyaan Kiya yang berujung pada ketidakjelasan Calsya dalam berbicara.


Calsya sejujurnya sulit menentukan pertanyaan mana yang ingin dijawabnya, dia berpikir bahwa jawaban yang diberikan akan menentukan tindakan Kiya selanjutnya pada dirinya.


"Apa yang harus kukatakan? Kiya ... dia ..?!"


Calsya pun semakin tertekan dengan adanya Ashera di sini, dia juga sedikit mengintimidasi.


"Begini ... a-ku tak—"


"Maaf, tapi kita tak bisa melanjutkannya! Tamu-tamu kita memberikan sedikit sambutan." Ashera mengehentikan perkataan Calsya. "Apa yang akan kau lakukan, Kiya?"


"Huh ... bikin repot!"


"Eh? Apa maksudnya? Tamu, apa ...?" Calsya bertanya celingukan dengan panik.


Swoshh ... jdarr ...


Selang beberapa saat datang sebuah serangan besar yang menghancurkan gua tempat Kiya bersembunyi. Serangan itu datang dari arah Kerajaan Gharagi, di salah satu puncak gunung.


Serangan itu tak akan mampu membunuh Kiya dan yang lainnya. Ashera membentuk sebuah pelindung untuk menghalau serangan itu.


"Jumlahnya ada 3 ... oh, pahlawan?" Kejut Ashera dengan senyuman jahat. Adrenalinnya terpacu karena sosok seorang pahlawan.


"Ahh ... serangannya datang lagi!?"


.


.


.


Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.


Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.


aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.

__ADS_1


Dah ... see you


__ADS_2