System : Unknown

System : Unknown
Chapter 37 -Awal dari semua permasalahan-


__ADS_3

Chapter ini lumayan panjang sekitar 2000 kata. Lebih baik skip jika tak suka dengan drama ... tapi, chapter ini sangat penting untuk menjelaskan awal dari semua permasalahan di Arc ini.


Aslinya ini 2 chapter, tapi aku gabungin.


.


.


.


Kota Xely ... kota ini sebelumnya diserang sekelompok pasukan yang dipimpin oleh seorang pahlawan. Terdengar mengerikan karena seorang pahlawan ikut serta.


Apa kota Xely melakukan kejahatan sampai seorang pahlawan datang?


Maka jawabannya adalah "Ya", Kota itu hendak melakukan kudeta.


Meskipun begitu ... pihak yang bersalah sulit ditentukan. Kota Xely ingin melakukan kudeta, tapi tak sampai ingin merebut pemerintahan kerajaan, mereka hanya ingin melepaskan diri. Sisi lainnya ... pihak kerajaan pun asal memvonis untuk menghancurkan tanpa mencoba membicarakannya baik-baik.


Karena hal itu ... korban yang berjatuhan tak sedikit. Belasan ribu orang meninggal dan ribuan terluka. Kedua belah pihak sama meruginya, tapi pemenang dalam sengketa ini adalah kota Xely.


Semua itu tak lepas dari peran seorang pemuda, Azkiya ... tak diketahui nama panjang atau nama marga miliknya.


.


.


.


Seorang gadis dengan rambut abu-abu panjang yang tak lain adalah Balta duduk bersimpuh di depan sebuah gundukan. Tangannya dikatupkan dan matanya terpejam, tak lupa suara hati mengucapkan kalimat-kalimat doa.


Tak berselang lama, matanya kembali terbuka. Di sudut mata kanannya secara mengejutkan meneteskan air, dengan segera dia mengelapnya.


"C-ce-lia ...!?"


Sebelum pergi dia meletakkan sekuntum bunga dengan dominan berwarna cokelat, Bunga Kalma ... bunga kesukaan dari Celia. Bunga dengan dominan warna cokelat sedikit oranye, ada pun yang berwarna cokelat-emas. Bunga itu hanya mekar saat Kalma dan Palma(Nama matahari di Dunia Arias) bersinar. Itulah alasan dari penamaannya.


"Manusia dengan kasih sayang dan cinta yang berlebihan adalah mangsa yang empuk bagiku! Tapi, Azkiya pasti akan marah jika aku mengusik teman-temannya!?"


Ternyata tepat di samping Balta terdapat gumpalan asap berwarna hitam yang membentuk wujud humanoid dengan mata cokelat rami.


Sampai kapan pun Balta tak akan sadar jika ada sosok seperti itu di sampingnya. Kemudian sosok itu menghilang ketika menyadari ada orang yang datang.


Puk ...


Seseorang menepuk pundak Balta, sontak hal itu membuatnya tersentak sampai melompat berbalik lalu mengeluarkan pisau tuk siaga bertarung.


Dua orang dengan jubah cokelat yang sangat lusuh melambaikan tangannya, di belakang mereka terdapat seekor kuda bersayap membawa seseorang yang pingsan di pelananya.


Orang yang menepuk pundaknya beberapa saat yang lalu berkata, "Yo ...!"


"T-tuan Kiya ...!?"


Tangis Balta pun pecah ...


.


.


.


Kota Xely masih dalam masa pembangunan ulang pasca penyerangan. Fokus pertamanya adalah membersihkan puing-puing bangunan yang hancur dan penimbunan kawah yang terbentuk di sebagian kota.


Semua orang bekerja keras, tak ada yang bermalas-malasan.


Ada juga perkembangan yang lumayan bagus ... kota Xely mendapatkan bantuan dari Gereja suci Carialin dan beberapa kerajaan terdekat. Jadi, mereka tak perlu cemas soal krisis makanan dan kontruksi yang membutuhkan biaya yang sangat besar.


Hal itu bisa tercapai tak lepas dari peran Viola.


"HEI ... ! TUAN KIYA SUDAH PULANG!? Teriak seorang gadis dengan semangatnya melambaikan tangan dan senyuman yang lebar.


Semua orang lantas menghentikan pekerjaannya sejenak dan secara kompak menghampirinya.


"Tuan ... saya sangat bersyukur Anda bisa kembali."


"Saya pikir Anda tak akan kembali!?"


"Hiks ... saya sangat terharu!"


Beberapa orang menunjukkan suka citanya karena kedatangan Kiya.


"Yah ... aku kembali sesuai janjiku. Umm ... aku membawa sesuatu untuk kalian!"


Orang di samping Kiya —Putri Calsya menuntun seekor pegasus ke depan.


"Apa pegasus ini?" Tanya pak Will dengan polosnya.


"Tentu saja bukan!"


"B-bukannya itu Duke Volancy?!" Tunjuk Riela yang menyadari seorang manusia terlentang tak sadarkan diri di atas pegasus.


"Tunggu apa lagi ... ayo kita siksa dia habis-habisan!" Kata pria berkacamata, Lunett.


"Aku akan membunuhmu jika kau melakukannya! Aku membawanya bukan untuk diperlakukan seperti itu ... hei, apa kalian bisa memaafkannya?" Kata Kiya tersenyum.


""HAH ...?!""


.


.


.


20 tahun lalu ... tahun 599 Kalender dunia Arias.

__ADS_1


Kota Xely, salah satu kota di kerajaan Rentweder, sebuah kota yang terletak di pesisir. Kota yang makmur, pendapat dari para pendatang yang datang ke kota ini untuk berdagang karena terkenal dengan penduduknya yang ramah, jadi kesepakatan dagang bisa terjalin dengan baik.


Sosok yang telah membuat kota kecil itu makmur dan para warganya hidup bahagia, yah ... meskipun belum semuanya. Tak terlepas dari Walikota muda yang baru berumur 25-an tahun, Volancy Egramn.


Rambut pirang dengan busana yang bersahaja, dia selalu berkeliling menyaksikan setiap hiruk-pikuk di kotanya. Tak lupa dia melambaikan tangan dan menyapa setiap orang yg ditemui dengan senyuman lembut, tak lupa juga berbasa-basi sebentar untuk menanyakan kabar.


Sosok pemimpin yang dicintai rakyatnya ... begitulah.


"Sayang, kota ini sangat indah!" Kata seorang wanita yang selalu setia berada di sampingnya, Foulan Egramn. Sosok yang selalu mendukungnya—istri.


"Yah, saya akan berjuang agar kota ini selalu indah dan para warganya dapat hidup dengan nyaman!" Balas Volancy melempar senyuman pada istri tercintanya itu.


Pasangan yang harmonis, selalu sehati dan tak pernah berselisih. Hubungan yang didambakan oleh semua orang.


"Selamat pagi, Tuan Volancy dan Nona Foulan," sapa ramah seorang wanita yang kebetulan melihat mereka berdua melintas di depan rumahnya.


Setiap warga yang tak sengaja melihat mereka langsung menyapa, tak sopan rasanya jika penguasa mereka lewat dan malah bersikap cuek.


"Ya ... selamat pagi. Apa ada keluhan?" Balas Volancy tersenyum.


"Tentu saja tidak, Tuan Volancy. Kami semua puas dengan kepemimpinan Anda."


"Senang mendengarnya."


"Ehh ...? Apa Nona Foulan akan segera bersalin, Tuan?" Kejutnya ketika melihat Foulan yang perutnya terlihat sedikit menonjol.


"Masih beberapa bulan lagi. Doa kan supaya anak kedua kami bisa lahir dengan selamat." Timpal Foulan mengelus-elus perutnya.


"Dan saat kelahiran anak kedua kami. Saya akan mengadakan pesta yang besar dan meniadakan setiap kegiatan di kota. Kita akan bersenang-senang untuk satu hari!" Kata Volancy dengan mata yang sangat berkaca-kaca. Dia sudah merencanakan ini sejak lama.


"Sayang, tak perlu berlebihan seperti itu!" Foulan mensikut suaminya yang dinilai terlalu berlebihan.


"Tak apa-apa lah! Saat Klue lahir, kita tak sempat merayakannya." Balas Volancy mengelus pinggangnya yang terasa nyeri.


Pada saat itu adalah hari yang bertepatan dengan diangkatnya dia menjadi Walikota. Jadi, dia sibuk kan dengan pekerjaan barunya setelah mendiang sang ayah meninggal. Tak punya waktu untuk mengurus dan mengadakan sebuah pesta yang besar.


"Hahaha ... Pesta kecil atau besar, pasti kami dengan senang hati akan datang!"


Obrolan ringan itu sedikit terusik setelah seorang prajurit datang menghampiri dengan tergesa-gesa.


"Tuan Volancy ...!" Panggilnya dengan nafas yang tak beraturan.


"Ahh ... ada sesuatu yang penting? Kamu terlihat sangat terburu-buru!?"


Prajurit itu sejenak mengatur nafasnya agar bisa menjelaskan maksud kedatangannya.


"Umm ... begini, di gerbang masuk kota ..."


.


.


.


Dia terkaget-kaget melihat ada kerumunan orang di pintu gerbang masuk kota. Salah satu prajurit yang bertugas berjaga di gerbang menghampiri dan menjelaskan situasi ...


Ada rombongan orang yang hendak masuk ke kota Xely, dan katanya mereka berasal dari sebuah Desa yang tak jauh di selatan kota Xely. Dan yang paling mengejutkan adalah ... Desa mereka hancur oleh Invasi monster dari dungeon yang dekat dengan desa itu.


Sebagian penduduk desa mati dalam peristiwa itu dan tinggal menyisakan mereka ini, jumlahnya hanya 2 ribuan.


Volancy pun ikut prihatin dengan kondisinya. Jadi, dia pun langsung menanggapi hal ini. Dia mengerahkan para bawahannya untuk mengurus mereka.


"Kalian ... antar mereka ke tempat penampungan imigran. Dan cepat tempel misi di guild untuk pembasmian monster, sejumlah prajurit juga harus ikut!" Seru Volancy dengan tegas.


""Laksanakan!""


Para prajurit yang diperintahkan pun langsung menjalankan instruksi yang diberikan.


"T-terima kasih, Tuan Volancy!" Kata salah seorang pengungsi agak segan.


"Ya ... tak masalah, ini tak tugas saya sebagai walikota!" Jawab Volancy dengan senyuman lembut.


.


.


.


"Apa yang terjadi di gerbang, sayang? Kamu kelihatan gundah!?" Sambut sang istri, Foulan ketika Volancy masuk ke kamarnya untuk beristirahat setelah menjalani hari yang melelahkan.


"Sebuah desa di selatan kota, katanya dihancurkan oleh sekumpulan monster!" Volancy yang letih mengambil tempat duduk tepat di samping istri tercintanya di atas ranjang.


"Lalu, bagaimana keadaan desa itu?" Tanya Foulan sedikit cemas.


"Desanya hancur dan lebih dari sebagian penduduknya meninggal!"


"I-tu sangat buruk!"


"Yah ... memang. Jadi ... saya akan berjuang keras untuk mereka?" Volancy merobohkan kepalanya pada pangkuan sang istri.


"Saya akan selalu di sampingmu dan selalu mendukung apa yang kamu lakukan!" Kata Foulan seraya mengelus-elus rambut pirang sang suami.


Mungkin karena kelelahan mengurus itu semua, Volancy langsung tertidur. Foulan sampai terkejut ... "Kamu sudah berjuang keras, ya?"


Tok ... tok ... tok ...


Foulan sedikit terganggu oleh ketukan pintu itu.


"Tuan Volancy, ada hal yang perlu dibicarakan!" Kata sang pendatang dengan sopan.


Foulan sekilas melihat Volancy yang tertidur lelap, dia tak tega membangunkannya. Jadi, dengan pelan Foulan beranjak dari tempat tidur supaya Volancy tak terusik.


"Eh? Nona Foulan?" Pekik prajurit itu.

__ADS_1


"Apa ada sesuatu?"


"Ah, maaf sebelumnya Nona Foulan. Tapi, ada hal yang harus dilakukan oleh Tuan Volancy!"


Foulan melirik sang suami sekilas, "Apa memang harus Volan?"


"Err ... sepertinya memang begitu, Nona!" Jawab prajurit itu agak canggung.


"Baiklah, saya akan menggantikannya. Cepat apa yang harus saya lakukan?"


"Mari ikuti saya!"


Hal yang harus dilakukan Volancy adalah meninjau tempat penampungan imigran yang dijadikan pengungsian penduduk desa. Keadaan tempat itu sebenernya tak terawat karena terbengkalai, tak pernah digunakan.


Beberapa perbaikan harus dilakukan supaya tempat itu layak. Dan hal itu ... Volancy yang harus memutuskan berapa anggarannya.


"Uhh ... tempat ini sangat jorok dan bau! Aku tak menyangka ada area seperti ini di kota!" Baru sampai saja Foulan tak bisa membiarkannya menghirup udara bebas.


Tempat itu malah seperti pemukiman kumuh.


"Karena tak pernahkah digunakan, Nona. Juga, Tuan Volancy menggunakan anggaran untuk hal yang lebih penting!"


"Yah ... sejak dulu jarang sekali ada pendatang yang memutuskan untuk menetap di kota Xely. Sepertinya memang wajar!"


Foulan bersama prajurit itu pun mulai berkeliling area itu, suasananya sangat sepi ... Foulan sedikit heran.


"Di mana semua orang?"


"Kemungkinan semuanya sudah tertidur!?" Balas prajurit itu.


"Eh? Ini tak boleh dibiarkan, aku harus cepat-cepat mengatakan ini pada Volancy! Kasihan mereka!" Kata Foulan sendu melihat semua bangunan yang tak terawat dia sekitarnya.


"Saya juga merasa seperti itu, Nona!"


"Hmm ... tapi, apakah tidak ada alternatif lain? Seperti kita bisa menampungku di Mansion untuk sementara atau berusaha menyewakan mereka penginapan!"


"Tidak semudah itu, Nona! Ada banyak hal yang dipertimbangkan!?"


Foulan hendak masuk ke salah satu bangunan untuk mengecek keadaan mereka, tapi dengan cepat prajurit itu menghentikannya.


"Tidak seharusnya Nona melakukan ini. Biar saya saja!" Katanya menghadang langkah Foulan ke salah satu bangunan.


Prajurit itu pun masuk, Foulan dengan sabar menunggu kabar darinya.


Beberapa waktu berselang ...


"Bagaimana keadaan mereka?"


"Mereka baik-baik saja, tak perlu ada yang dikhawatirkan! Sebaiknya kita kembali, Nona!"


Foulan menuruti usul prajurit itu. Sedangkan prajurit itu masih diam di tempat dan kembali masuk ke dalam.


"Wah ... keluar dari kandang buaya, masuk ke kandang singa. Begitulah, nasib kalian sekarang! Penguasa kota ini tak peduli pada kalian, dan malah sebaliknya."


.


.


.


Beberapa bulan kemudian, setelah persalinan Foulan ... Pesta perayaan.


Hingar-bingar mewarnai kota Xely pada malam ini. Anak kedua walikota Volancy Egramn akhirnya lahir dengan selamat dan untuk merayakannya, Volancy mengadakan pesta besar-besaran di kediamannya dan mengundang seluruh warga kota.


Semua orang pun menanggapi hal ini dengan suka cita, tapi itu dilihat dari depan saja. Nyatanya ada suatu kelompok yang merasa tak senang.


Volancy dan Foulan tak menyadari hal ini.


"Sayang, apa kamu tak mengundang para imigran? Mereka tak terlihat sama sekali!?" Kata Foulan celingukan memerhatikan setiap orang yang hadir di pesta.


"Jo bilang mereka enggan tuk datang karena minder atau merasa bukan warga kota! Begitulah ... tapi, saat ini aku sedang mengutus Jo agar bisa membujuk mereka." Jawab Volancy sambil asik bermain-main dengan Putra barunya yang berada di gendongan sang istri.


"Yah ... kuharap mereka datang, kasihan mereka. Awal-awal tinggal di sini mereka harus susah terlebih dahulu."


"Semoga saja mereka mau!"


Di sisi lainnya, prajurit yang diutus Volancy tak melakukan instruksinya, dia—Jo sengaja mengabaikannya. Dia sudah lama main belakang tanpa sepengetahuan Volancy.


Seperti sekarang ...


"Lihat kan? Pemimpin busuk itu sedang berfoya-foya, sementara kalian ditelantarkan begini—tak diundang?!" Kata Jo pada sekelompok orang.


Semua yang dikatakannya adalah kebalikan. Tapi, para imigran memercayainya karena mereka sudah diberikan serangkaian bukti yang kelihatannya sangat meyakinkan oleh Jo.


"Si bedebah itu ...! Semua yang dijanjikannya omong kosong!" Salah seorang sudah terhasut. Dia menyimpan dendam pada Volancy dan keluarganya.


Bagaimana tidak dendam ... tempat tinggal mereka yaitu tempat penampungan imigran tak disentuh sama sekali. Kondisinya sama, seperti area kumuh. Juga soal subsidi bantuan yang diberikan yang tak pernah sampai ke tangan mereka. Karena semua itu, para pendatang bekerja, tapi lagi-lagi ... mereka menerima kenyataan pahit, semua jenis pekerjaan di kota tak menerima seorang imigran.


Tentu saja semua itu telah dimanipulasi, kenyataannya ... Volancy tak pernah melakukan itu. Dia sudah dikelabui dengan laporan bahwa para imigran hidup dengan nyaman.


Volancy tak pernah berkunjung ke tempat imigran ... itu bukan hal yang disengaja. Jo yang telah mencegahnya selama ini, dia berhasil membuat Volancy tak punya alasan tuk berkunjung ke sana.


"Kuharap walikota dan keluarganya mati saja!" Kata-kata para imigran penuh dengan dendam dan amarah.


Jo tersenyum jahat, dia kemudian memberikan sebuah busur lengkap dengan anak panahnya.


"Kau bisa mewujudkannya dengan ini!"


.


.


.

__ADS_1


See you ...


__ADS_2