System : Unknown

System : Unknown
Chapter 74 -Bawahan baru


__ADS_3

Dandelina ketakutan setengah mati ketika Kiya yang merupakan targetnya tiba-tiba raib dan secepat kilat sudah berada tepat di depannya mengayunkan sebuah katana yang teraliri petir bertegangan super besar.


Reflek Dandelina tak bisa mengikuti, alhasil dia pasrah. Matanya tertutup dan siap merasakan rasa sakit yang luar biasa. Namun ... kenyataannya sedikit berbeda.


Slash ... Jdarrrrr ...


Tekanan yang begitu kuat menghempaskan Dandelina layaknya kapas yang ringan. Beberapa pohon di belakangnya menjadi korban, roboh begitu saja. Tubuhnya seperkian detik tak bisa digerakkan dan mati rasa, rasanya mau mati.


Dandelina memberanikan diri untuk membuka mata, melihat keadaan sekitar dan juga kondisi musuhnya. Netra berwarna abu-abu yang dia miliki tak bisa dicegah untuk melebar, lalu seakan ada bawang merah, yang membuat kedua mata Dandelina berair.


"F-fee-lid?" Teriak lirih Dandelina.


Belasan meter dari dirinya berdiri kokoh seorang Feelid yang berinisiatif menjadi perisai hidup bagi Dandelina.


Kiya yang tahu serangannya gagal menjauh sejenak dan melihat perkembangan situasinya.


"Hmm ...?" Batin Kiya sedikit tertarik.


Holy Sword kepunyaan Feelid yang digunakan untuk membendung serangan Kiya tak bisa terselamatkan, kini yang tersisa cuma gagang.


"K-k-ka-mu baik-baik sa--ja, Lina?" Feelid susah payah menoleh ke belakang dan berbicara dengan sisa tenaganya.


Tak lama kemudian, tubuh yang masih terdapat loncatan-loncatan arus listrik yang belum sepenuhnya hilang itu hendak ambruk. Dandelina yang kondisi sama buruknya memaksa tuk bisa bergerak. Minimal, ya ... minimal dia bisa mencegah Feelid membentur tanah. Tapi, bergerak beberapa jengkel saja bisa membuat nyawanya langsung terpisah.


Brukk ...


"Si pemakan wortel ...!" Kiya menoleh ke belakang yang ada lautan besar kelinci. "Calsya, urus itu sebentar!"


"Eh? Tapi, bukannya jika dibunuh mereka akan menggandakan diri?" Tanya Calsya sedikit bingung terhadap perintah Kiya.


"Tak apa-apa, halangi saja mereka ... mau menggandakan diri atau tidak, terserah, terpenting halau saja!" Kiya kemudian berjalan mendekati Feelid yang terkapar.


Calsya langsung melaksanakan perintah. Dia berjongkok menempelkan kedua telapak tangannya pada tanah.


"Apa abadi yang membakar segalanya, tolong halangi musuh-musuhku ... Eternal Fire Wall!" Seru Calsya lantang.


Dari tanah muncul semburan api yang menjulang tinggi membentuk tembok api yang sangat lebar.


"Baguslah," batin Kiya sedikit melirik Calsya.


"To-long, jangan bunuh dia!"


Teriakan lirih penuh keputusasaan membuat Kiya mengalihkan lirikannya dari Calsya.


"Atas dasar apa kau bisa memerintahku!" Balas Kiya dingin yang semakin dekat dengan Feelid.

__ADS_1


"Aku tak punya siapa-siapa lagi, hanya dia temanku—orang yang bisa kupercaya." Tangis Dandelina pecah.


"Apa aku peduli?"


Dandelina masih berusaha bergerak, meski dia harus bergerak dengan perutnya, dia berusaha sekuat tenaga mencegah Kiya melakukan sesuatu yang buruk pada temannya yang berharga itu.


"Tolong, dia tak punya salah padamu, dia hanya mengikuti keinginan egoisku. To-long, jangan bunuh dia ...!"


"Hmm ...? Keinginan egois? Baiklah, aku sedikit tertarik, kau punya waktu satu menit untuk cerita ... jika membosankan, ujung logam ini akan segera menembus kepalanya!"


Kiya telah sampai di dekat Feelid, dia mengarahkan Katana-nya tepat di atas kepala Feelid.


"T-tidak, jangan lakukan itu ... to-long bunuh saja a—"


"Ini semua tergantung pada ceritamu, Nona!"


Calsya yang menyimak pembicaraan Kiya dan Dandelina, cuma tersenyum menyaksikan ekspresi samar yang Kiya perlihatkan, penuh harap.


"Kenapa dia sangat baik pada orang lain? Bahkan kenal saja tidak."


Tiga pendatang baru muncul dan bersiap untuk bergabung dengan party kecil-kecilan yang Kiya buat. Mereka bertiga adalah Geshi, Falama, Whikal.


"D-dandelina, kau tak apa-apa?" Teriak Whikal melihat kondisi Dandelina yang buruk, lalu visi-nya menangkap hal lain.


Kiya sedikit menoleh.


"""F-feelid?""" Kata mereka bertiga bersamaan dengan suara yang pelan.


Holy Sword masing-masing langsung terjatuh dari tiap genggaman, mereka kehilangan tenaga untuk menggenggamnya. Selanjutnya mereka terkulai lemas berdiri dengan lutut.


Falama menatap Kiya dengan penuh kemarahan.


"Huh ... marah padaku percuma, biar kutanya ... siapa yang memulainya terlebih dulu? Aku, kah?" Kata Kiya dengan senyuman mengejek.


Falama terbungkam, mereka semua terbungkam.


Kiya lalu mengalihkannya fokusnya lagi pada Dandelina.


"Soal keinginan egoismu, apa itu berhubungan denganku? Kau punya dendam padaku?"


Tubuh Dandelina bergetar sesaat, giginya bergemelatuk tak kuasa menahan getaran itu.


"Aku memang egois, aku menyeret teman-temanku kepada kematian ..." Dengan sisa tenaga Dandelina berusaha menggerakkan tubuhnya.


"""D-dandelina?"""

__ADS_1


Dandelina bersujud, sesuatu yang tak mungkin dilakukannya mengingat sifatnya yang sedikit arogan.


"Biarkan mereka hidup, ini memang kesalahanku ... aku tertipu, selalu tertipu. Aku perempuan naif yang polos." Tanah tepat di bawah wajah Dandelina mulai banjir.


Suasana berubah drastis, keheningan seolah melanda area itu. Angin berhenti berhembus dan suara berisik yang ditimbulkan oleh Giant Horn Rabbit telah sirna.


"Eh? Kelinci-kelinci itu berhenti menggandakannya diri?" Pekik Calsya bingung.


Alam seolah-olah ingin mendengarkan setiap perkataan yang dikatakan Dandelina.


"Orangtuaku telah pergi meninggalkanku hanya mereka yang kupunya, hanya mereka yang selalu di sampingku, hanya mereka yang setia mendukungku ... karena hal itu ... aku ... aku ..." Dandelion kesulitan berkata-kata.


"AKU TAK PANTAS HIDUP, TOLONG BUNUH SAJA AKU!" Teriak dandelion histeris yang mengejutkan semua orang, dia kemudian mengangkat kembali kepalanya dan menatap ketiga temannya.


Kulit putihnya telah ternoda, tanah basah hampir menutupi seluruh wajah.


"Karena kalian terlalu peduli padaku, aku selama ini cuma memanfaatkan kebaikan kalian untuk kepentinganku sendiri, aku selalu memanfaatkan kebaikan kalian untuk memenuhi ambisi konyolku, aku benar-benar bodoh ... dan sekarang, aku menggiring kalian menuju kematian!"


"Apa yang kau katakan, Dandelina? Aku tak merasakan kau memanfaatkan diri—" Geshi hendak berkata, tapi lingkaran sihir berwarna ungu muncul di tengah-tengah mereka.


"Si pembuat onar!" Batin Kiya geram. "jadi Semua drama ini adalah ulahnya?!"


Dari lingkaran sihir itu muncul seorang wanita dengan rambut ungu gelap yang tergerai, dan gaun one piece berwarna hitam dengan corak berwarna cokelat pudarah ... jangan lupakan manik merah layaknya darah. Kemunculan yang begitu didramatisir.


"Sudah ... sudah ... pertunjukan drama ini selesai, huh ... aku hampir menitihkan air mata tau, good job kalian semua!" Kata Ashera mengacungkan jempol tanpa merasa bersalah.


"Iblis urakan ... apa yang sebetulnya kau pikirkan?" Maki-maki Kiya pada Ashera.


Dandelina yang sebelumnya sangat emosional, begitu juga dengan tiga temannya ... Geshi, Whikal, dan Falama ... sekarang benar-benar sangat kebingungan.


Bersamamu dengan itu ... api putih tiba-tiba melesat membakar Feelid, Dandelina pada awal sangat terkejut, tapi ... saat api putih itu juga mengenainya, tak ada yang bisa dilakukannya selain bersujud lagi dan terus menggumamkan kata 'terimakasih' berulang-ulang.


"Jangan terus menyerangku, ah ya ... aku memang sedikit berlebihan, tapi ..."


"Jangan banyak bicara, Ashera! Kau harus dihukum!"


Sengatan listrik terus bermunculan dari tangan Kiya berusaha menyerang Ashera.


"Ah, moe ... aku bahkan susah payah mencarikan bawahan baru untukmu!"


.


.


.

__ADS_1


See you next chapter


__ADS_2