System : Unknown

System : Unknown
Chapter 69 -Dasar manusia


__ADS_3

Peluh keringat yang bercucuran dan tarikan nafas yang berat, itulah yang dirasakan seorang wanita berambut perak dengan netra merah delima—Calsya. Tubuhnya terhuyung-huyung hendak roboh, namun pedang di salah satu tangannya mencegah, sisa tenaga dipakai guna pedang itu tertancap di tanah tuk menopang bobot tubuh.


Tapi, apa daya, tenaganya telah habis, berdiri tak bisa—alhasil terduduk dan memandang amukan si jago merah di hadapannya dengan mata yang tertutup sebelah.


"Calli ...!"


Suara hiruk pikuk yang memanggil nama—palsunya, yah cuma itu bahan bakar yang membuat dirinya terjaga.


"Calli, kamu tak apa-apa?"


"Calli, telah mencapai batas, kita harus segera—"


Segelintir orang hendak mendekati Calsya, mengingat kondisinya yang terbilang buruk—bisa ambruk kapan saja.


"A-ku ... m-men-ca-pai ... ba-ta—"


Tubuh mungilnya hendak ambruk ke depan, namun lengan seseorang menahannya. Bukan salah satu lengan sekumpulan orang yang ingin menolong Calsya, melainkan seorang pria yang tiba-tiba datang.


""Ayikza ...?!"" Kejut mereka menyaksikan si pendatang.


Ayikza—sebuah identitas samaran dari Kiya yang mengabaikan segala pasang mata tuk sementara.


"Huh ... yah, kau telah berjuang Putri!? Sekarang, tidurlah!" Kiya menangkap tubuh Calsya lalu diletakkan dalam gendongannya.


Cahaya hijau yang indah pun membungkus Calsya, ekspresi kesakitan yang sebelumnya tergambar jelas di wajahnya kian hilang berganti dengan ketenangan ... sihir penyembuh.


Bau daging terbakar memenuhi udara, indera penciuman Kiya pun sedikit terusik oleh bau yang kurang sedap itu. Dia lantas menengok ke arah kobaran api yang ada di sekelilingnya.


"Api merah?"


Tubuh monster yang terbakar adalah biang masalah yang menyebabkan bau daging terpanggang mempolusi udara, Calsya memanggang mereka.


"Api putih, api merah, api merah muda, api biasa ... Calsya punya 4 jenis api!"


Kondisi desa bisa dikatakan masih beruntung, kerusakan yang terjadi terbilang tak terlalu parah. Belasan rumah mengalami kerusakan ringan, dan cuma beberapa yang mengalami kerusakan sedang. Calsya telah berhasil meminimalisir segala kerugian.


"Ayikza, darimana saja kamu? Kami sempat berpikir bahwa kamu sudah tiada karena serangan monster-monster itu!?" Seru salah seorang wanita yang ekspresinya mengeras, dia marah.


"Aku telah mencari para pemburu, dan aku menemukan mereka dalam keadaan pingsan!?"


Kalimat itu cukup menjadi penyumbat mulut cerewet para wanita.


.


.


.


Ashera telah menyelesaikan urusannya dengan para JUDGMENT itu, yah ... hasil akhirnya dia tak membunuh mereka. Sebuah rencana khusus telah disiapkan untuk mereka.

__ADS_1


"Wo-ah ... tadi cukup melelahkan!?" Kata Ashera dengan santai duduk bersimpuh di atas tubuh para anggota JUDGMENT. Mereka telah disembuhkan, luka yang bisa mengancamnya nyawa telah membaik. Perlakuan buruk semacam itu tak akan membunuhnya.


Ashera sedang memulihkan tubuhnya, jujur saja pertarungan 5 lawan 1 itu cukup melelahkan.


"Benda terbang misterius? Bukan alat sihir, kan?" Gumam Ashera memfokuskan pandangannya ke salah satu arah.


Lalu, bunyi misterius tertangkap oleh telinga Ashera. Itu merupakan bunyi yang misterius, semacam dengungan ... tapi, bisa dipastikan itu masih sangat asing bagi Ashera.


"Ada beberapa? Sebentar, aku sepertinya—" Mulut Ashera membentuk huruf O, "Drone, kah? Alat pengintai milik manusia Bumi!?"


"Hei, penduduk Xeliqia ...! Kalian tadi sudah menonton dari kejauhan, kan? Seharusnya, kalian bisa sedikit mengenaliku ... aku Ashera bawahannya—" Teriak Ashera ke segala arah.


Beberapa Drone mulai menampakkan diri di tengah kegelapan, benda terbang berwarna putih dengan 4 baling-baling kecil sebagai tenaga pengangkat, secara mengejutkan arah terbangnya menjadi kacau. Sampai akhirnya "Dorr" meledak, beberapa Drone saling bertabrakan.


"Yah, mereka ternyata belum mahir mengendalikannya!" Kata Ashera dengan wajah yang datar, disusul senyuman masam.


.


.


.


"Hei, Lunett ... apa yang kau lakukan? Drone itu adalah aset yang berharga!?" Wanita berambut cokelat—Riena diserang rasa panik.


Sebuah tab yang dia pegang, seharusnya menampilkan kondisi medan pertempuran Ashera melawan para JUDGMENT ... tiba-tiba hilang kontak.


"Jangan menyalahkanku, kau pikir gampang? Benda itu sangat rumit, tau!" Pria berkacamata—Lunett tak mau dikambing hitamkan. Benda yang menjadi alat pengendali Drone ditunjuk-tunjuk ke wajah Riela.


Pak Will, Volancy, Vlad hanya bisa menghembuskan nafas berat melihat perselisihan itu. Drone-drone itu memang sangat berharga, Kiya merogoh simpanan poin nya sangat dalam untuk membawa seluruh teknologi milik bumi.


"Hei, aku menghubungkan telepati pada wanita bernama Ashera!?" Celoteh Syilta. Semua orang dalam ruangan terkejut setengah mati.


""Hah ...?!""


"Kak, dia itu iblis ... kenapa ingin berbicara dengannya?" Balta berkata dengan ekspresi yang bingung.


"Dia tadi berkata bahwa dia adalah bawahannya Tuan Kiya, kan? Lagipula ... rumor mengatakan bahwa Tuan Kiya memanggil iblis bernama Ashera!?" Balas Syilta.


"Y-yah, mungkin kamu benar!" Timpal Volancy agak ragu.


"Semoga saja Xeliqia tidak hancur!" Vlad merinding memikirkan Ashera.


"Akan kusambungkan ke semua orang!"


Semua orang dalam ruangan mulai berkeringat, badan pun sedikit gemetar. Demonlord di masa lalu akan berbicara, mereka akan mendengarkan bagaimana suara aslinya.


Tentu saja pikiran mereka sudah terlalu liar.


"Halo, halo ... orang-orang Xeliqia, apa kalian bisa mendengarnya?" Kata Ashera lewat telepati.

__ADS_1


Kepala mereka reflek mengangguk.


"Suaranya lembut bagaikan—" Batin Vlad.


"Yah, aku mendengarmu manusia. Kita sekarang terhubung lewat telepati, sebaiknya jangan katakan perkataan yang membuatku tersinggung—kau akan mati!"


"M-ma-af, N-no-na Ashera! Sa-ya tak bermaksud—"


"Ah, ya ... ya ... aku tak peduli. Sekarang dengarkan aku ..."


Ashera menjeda perkataannya, hal itu sontak membuat semua orang tegang.


"Bisa jemput aku?! Aku terlalu malas untuk berjalan atau terbang!"


Tak ada jawaban untuk sementara, mereka semua sedang mengelus dadanya—bersyukur bahwa bukan sesuatu yang mengerikan.


"Hei, aku tunggu setengah jam ... jika tidak datang selama waktu itu ..."


Ashera memutuskan telepatinya secara sepihak ...


"Oi, cepat kirim orang ... hidup kita semua sedang dipertaruhkan!"


.


.


.


Sesuai yang dijanjikan, jemputan Ashera akhirnya tiba. Yah, meski tak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Dan Ashera pun cuma menggertak. Senang sekali rasanya melihat wajah ketakutan manusia ... salah satu hiburan baginya.


Kini Ashera telah berada di dalam alat transportasi yang tenaga geraknya adalah monster kadal, bukan kuda.


Dan dia tak sendiri, lima orang lainnya—para JUDGMENT ada di dekatnya. Mereka dalam keadaan pingsan.


"Hmm ...?" Ashera menoleh ke arah salah satu dari mereka.


Wanita dengan rambut berwarna krem—Dandelina, tubuhnya sedikit menggeliat. Matanya yang terpejam itu juga meneteskan air mata,


"Ibu, ayah ... aku berjanji akan membantai seluruh iblis dan demon di dunia ini, akan kubalaskan dendam kalian!" Ngigau Dandelina.


Ashera hanya me menatapnya datar, lalu dia mengalihkannya pandangannya ke arah lain.


"Dasar manusia ...!"


.


.


.

__ADS_1


Terimakasih bagi yang telah baca sampai sini, termasuk ghost reader. Kalian terbaik.


__ADS_2