
"Kiya ... ini sudah terlalu berlebihan! Kau masih mau melanjutkan?" Teriak Calsya yang berada jauh di belakangku, berlindung dibalik Barrier buatan Ashera.
"Berisik, Putri! Aku masih kuat, tak perlu mengkhawatirkanku seolah-olah aku orang yang gampang mati."
Jdarrr ... Jdarrr ... jdarrr ...
"Ular dan kura-kura itu sangat sulit dikalahkan!" Gumamku sedikit kesal menghindari setiap serangan yang mengarah padaku.
Berkat semua skill pasif yang aku dapatkan, kondisiku menjadi lebih baik. Masalah stamina dan Mana, juga tubuh yang penuh luka bisa terselesaikan.
[ Auto-Recovery ] [ Super Mana-Regeneration ] [ Extreme-durability ]
Aku sangat berterimakasih pada semua monster ini, berkat mereka aku mempunyai semua skill pasif yang sangat berguna. Pada pertempuran selanjutnya, aku tak perlu mengkhawatirkan soal Mana dan stamina.
Meskipun ini tak sesuai harapan ... aku dituntut untuk menggunakan kekuatanku sendiri, tapi mau bagaimana lagi, skill pasif tak bisa dinonaktifkan.
"Bagaimana cara mengalahkan ular itu?"
Orochi terus menyerangku dengan variasi serangan berupa nafas api, racun, dan. Yah, itu percuma ... aku berada di udara, jadi ruang gerakku untuk menghindar sangat luas, dan juga sihir terbang yang aku kuasai sudah mencapai tingkat yang lebih tinggi. Kini aku bisa terbang dengan bebas tanpa bantuan angin.
Aku mencoba melakukan beberapa serangan dari udara, tapi tak ada hasilnya. Pertahanan Orochi sungguh luar biasa, begitu juga dengan Shellshield. Hal itu membuat diriku sedikit frustasi. Monster yang tersisa hanya dua jenis itu.
"Hei, Kiya ... bagaimana? Menyerah? Aku lihat kau tak bisa mengalahkan kedua monster itu!?" Ashera berteriak dari kejauhan.
"Ahh, tidak ... aku harus mengalahkan ular dan kura-kura itu!"
"Yah, baiklah. Semoga berhasil."
Swooooshh ...
Angin berhembus, bukan ... angin menarikku dan apa pun ke dalam mulut Orochi. Aku yang dalam keadaan melayang tak akan bertahan lama dengan sedotan Orochi, maka dari itu aku terpaksa turun. Hasilnya sama saja, Orochi menghisap apa saja yang ada di sekitarnya seperti lubang hitam.
"Apa-apaan ini?!"
Aku bertumpu pada Ashera's Katana yang aku tancapkan ke tanah sebagai pegangan agar tak terhisap.
"Ini tak akan bertahan lama, cepat atau lambat pasti aku akan terhisap!"
Tanah yang aku tancapkan Ashera's Katana bahkan terkikis terus-menerus, jadi aku harus menancapkan lebih dalam. Yah, ini memang masalah waktu. Dalam kondisi ini aku harus segera mencari solusinya, jika tidak aku berakhir di dalam perut Orochi.
"Rank S, aku baru dua kali berhadapan dengan monster peringkat itu. Orochi dan ... slime?"
Bibirku sedikit melengkung ke atas, tiba-tiba saja kepalaku disusupi oleh suatu ide yang kemungkinan berhasil.
"Baiklah, makan semuanya Orochi!"
.
.
.
__ADS_1
Boammm!
Tubuh Orochi meledak mengeluarkan semua isi perutnya, tak terkecuali diriku yang sudah berlumuran cairan menjijikkan.
"Rencananya berhasil!"
Pertahanan Orochi sangatlah kuat, jika aku menyerangnya dari luar itu hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga, jadi aku mencoba hal yang lumayan ekstrim. Menyerang dari dalam memanfaatkan hisapan Orochi tadi.
Hasilnya pun terlihat, aku meledakan tubuh Orochi dari dalam dan mengambil Core-nya.
"Wah, kau berhasil ... aku tak menyangka kau akan berbuat sedikit nekat!?" Kata Ashera dengan nada mengejek.
"Diamlah ...!"
Aku di dalam perut Orochi bukan tanpa hambatan sama sekali, Orochi berusaha mati-matian untuk membunuhku atau memuntahkan diriku. Racun dan asam tubuhnya harus kuterima, pakaianku pun sampai meleleh.
[ Acid Resist ]
Aku mendapatkan skill pasif baru. Hasil dari Grinding ini sangat luar biasa, selain poin yang luar biasa banyak, peningkatan kekuatan yang aku dapatkan pun tak bisa dianggap remeh.
Sekarang masih ada beberapa Orochi, tapi kali ini adalah Rank A dan Shellshield yang jumlahnya masih dia atas ratusan. Huh ... aku harus mencari cara mengalahkan kura-kura yang cangkangnya luar biasa keras itu.
.
.
.
Pertemuan kali ini berjalan sedikit alot, pasalnya pada saat awal-awal pertemuan terjadi sedikit keributan. Tapi, yah ... masalahnya sudah selesai dan rapat para pahlawan ini bisa dilanjutkan.
"Ini hari keberuntunganmu, Viola! Ada masalah yang sangat besar sampai urusanmu sedikit dikesampingkan!" Kata pria berambut cokelat, Gouri.
"..."
Viola memilih tak tak menjawab, dia melirik Ranan. Namun, laki-laki berambut abu-abu itu pura-pura tak sadar.
"Sebaiknya kita cepat selesaikan ini!" Timpal wanita berambut biru panjang bergaya twintail. "Ini hanya membuang-buang waktu!" Sambungnya sambil menguap.
"Cih ... baiklah." Kata Gouri kesal. "Seharusnya kita semua tau bahwa ada sebuah berita besar, iya kan?" Gouri melihat semua orang yang ada di ruangan itu satu per satu.
"Itu hanya menambah pekerjaan kita!" Fene berkata dengan malas.
"Demonlord Ashera ... orang yang memanggilnya sungguh bodoh! Apa yang dipikirkannya?" Kata pria berambut pirang, Arron.
"Ini adalah kesalahan Ranan dan Viola!" Gouri melirik ke arah mereka berdua. "Orang yang kalian temui di Xely dan orang yang memanggil Ashera adalah orang yang sama!? Lalu ... kenapa kalian tidak menghabisinya jika dia adalah suatu ancaman!"
Brakkk ...
Viola berdiri dan menggebrak meja tuk menunjukkan kekesalannya.
"Dia tak seperti itu ...! Kiya tak seperti itu! Dia orang baik, tak mungkin dia memanggil iblis atau membantai habis seluruh penduduk kota Ran'gild! Itu tidak mungkin!" Kata Viola dengan lirih. Dia sudah cukup emosi bahwa Kiya dikambing hitamkan, sedangkan mereka tak tahu kebenarannya.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu, Viola? Pertemuan kalian singkat, tapi kau bisa menyimpulkan hal itu!?" Balas Gouri berusaha tetap tenang meladeni Viola yang sudah meledak-ledak.
"Hahaha ... mungkin perasaan, ada istilah Cinta Pada Pandangan Pertama ... Viola sepertinya sudah jatuh cinta!?" Fene tersenyum cengengesan.
"Kalau seperti itu ...kau tak profesional sama sekali! Siapa pun itu ... jika dia adalah ancaman, maka dia patut dilenyapkan. Tak peduli itu bahkan keluargamu sendiri!"
Gouri ikut menyudutkan Viola, sedangkan dua orang lainnya ... Ranan dan Arron tak berminat bergabung dalam perdebatan itu.
"Yah, Viola memang tak pantas menjadi pahlawan, dia selalu membawa perasaannya—"
"Tutup mulutmu, Fene! Tutup mulutmu!" Kata Viola serius menodongkan pedang rapier-nya pada Fene.
Semua orang tampak terkejut, mereka tak mengira bahwa seorang Viola akan semarah ini pada rekannya sendiri, bahkan ada niat membunuh di dalamnya.
Fene tak bisa berkata apa-apa, dia berkeringat dingin melihat pedang itu hanya terpaut beberapa senti dari lehernya.
"Persetan dengan pahlawan! Sebenernya apa arti gelar itu? Menurutnya—Kiya ... kita tak pantas disebut pahlawan! Kita semua hanya bermain-main dengan gelar itu ...!" Viola menurunkan kembali pedangnya dan juga emosinya. Semua uneg-uneg telah dia keluarkan.
"Yang pantas menyandang gelar itu malah Kiya sendiri ...!" Kata-kata terakhir Viola, setelahnya dia memilih membisu pada pertemuan itu.
"He-he-he ... sudah, ya! Kita lupakan semua itu! Ingat fokus kita adalah Ashera, untuk orang bernama Kiya ... tak perlu buru-buru, kita harus mencari kebenarannya lebih dulu!" Arron berusaha melunakkan suasana.
"Untuk Ashera ...yah, biar kami para pria yang akan mengurusnya! Kalian para wanita duduk manis!" Gouri berkata dengan canggung setelah keributan besar tadi.
"Hehehe ... iya, kami bertiga sepertinya cukup!? Benarkan, Ranan?" Arron sampai berhati-hati dalam memilih kata, dia takut kata-katanya memancing keributan lagi.
Ranan yang duduk dalam keadaan mata terpejam pun lalu membuka mata. "Entahlah?"
"Hiiii ... jangan seperti itu!"
Arron sudah menciut setelah mendengar jawaban ambigu Ranan. Dia sebenarnya merasa tak yakin jika menghadapi Ashera tak mengerahkan seluruh pahlawan.
"Huh ... Arron! Seharusnya kau tau perangai Ranan. Hah ... sudahlah! Dimana posisi Ashera sekarang?" Tanya Gouri. Dia sekarang tak berani menyebut nama Kiya atau merujuk kepadanya.
"Mereka sedang ada di gurun pasir yang terletak di antara kerajaan Rentweder dan Valakia! Tunggu, apa kita akan langsung menyerbunya?" Kata Arron sedikit panik.
"Tentu saja."
.
.
.
Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.
Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.
aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.
Dah ... see you
__ADS_1