
"Wah ... Si iblis ternyata bisa melakukan hal yang seperti ini?" Kata pria dengan helaian rambut berwarna hijau yang tubuhnya melekat sebuah zirah perak, dia mencabut sebuah pedang yang menancap di tanah.
"Senjata ini berkualitas tinggi?!" Pria itu mencoba mengayunkan pedang hitam dengan alur ungu tersebut untuk menguji kualitasnya. "Jumlahnya juga banyak, kalau aku menjualnya—"
"Cih ... buang niatanmu, Geshi! Kita tak punya waktu tuk melakukan hal seperti itu!" Timpal pria dengan rambut cokelat rami yang mengenakan zirah yang senada dengan si pria rambut hijau, Geshi.
Mereka adalah para ksatria yang tergabung dalam kelompok yang dinamakan JUDGMENT, yang bekerja di bawah perintah Uskup agung tuk menegakan ajaran Dewi Aria dan menghukum setiap penyimpangan yang ada. Contohnya berhubungan dengan iblis ataupun Demon.
Ciri dari para JUDGMENT adalah zirah perak mengkilap yang kelihatan sangat elegan dan kuat, meskipun ada beberapa ksatria yang memakai zirah dengan warna berbeda. Namun, ciri khas paling menonjol adalah lambang 3 pasang sayap di dada atau pada atribut lainnya.
"Tapi, senjata ini benar-benar kuat, lho?! Sayang jika dibiarkan ... lebih baik kita pungut beberapa sebagai senjata cadangan—" Geshi masih tak mau menyerah.
"Jika begitu, kepalamu akan segera terlepas dari tubuhnya!?" Potong seorang wanita yang duduk di atas seekor kelinci raksasa berwarna putih dengan tanduk di dahinya. Jelas sekali bahwa itu bukanlah kelinci normal.
"Hahaha ... aku lupa tentang hal itu!?" Jawab Geshi canggung menyunggingkan senyuman kecut, dan menggaruk bagian belakang kepalanya.
Kedua rekannya telah memberikan respon ketidaksetujuan, jadi Geshi terpaksa melemparkan pedang itu kembali tuk berkumpul dengan teman-temannya di Lamort Desert.
Sedangkan dua rekan lainnya memilih tidak memberikan respon apa pun, memilih diam dan menjalankan tugasnya dengan baik.
Keheningan kembali terjadi sesaat ... sampai salah satu dari mereka memulai pembicaraan.
"Dandelina, bagaimana keadaan di tengah Lamort Dessert?" Tanya pria berambut merah pada wanita yang dari tadi terus duduk di atas kelincinya, menyilangkan kedua kakinya dengan anggun nan elegan, tak lupa menyeruput secangkir teh entah darimana.
"Wanita ****** ini?!" Batin pria berambut merah geram. Dia telah lulus soal persifatan semua rekannya. Tapi, tak mengira akan separah ini.
"Emm ... yah, tak ada apa pun, semuanya mati!" Jawab Dandelina terkesan cuek.
Wanita dengan rambut krem panjang terurai sampai punggung kembali menyeruput teh di cangkir antik-nya.
"Begitu, ya?" Jawabnya memegang dagu tampak berpikir.
"Percuma saja dipikirkan, Falama! Dari awal ini adalah sesuatu yang mustahil!" Celoteh seorang pria berambut putih.
"Betul sekali ... kita hanya disuruh untuk menggali kuburan kita sendiri!" Pria dengan rambut berwarna cokelat rami memberikan persetujuan terhadap pria berambut putih.
"Yah, jika dipikir-pikir ... kegiatan ini cuma buang-buang anggaran dan sumber daya. Cara yang dipakai tidak efisien! Mengejar seseorang dengan kekuatan yang besar sampai bisa melenyapkan hawa keberadaan, sihir jenis apa pun tak dapat melacaknya?" Terang Falama yang tersenyum pahit di ujung kalimat.
"Aku setuju, kita cuma buang-buang waktu! Meski kita dapat menemukan buronan itu dan iblis-nya kita belum tentu bisa mengalahkannya! Lebih baik jika kita main cantik saja, kau setuju denganku, Whikal?" Tanya Dandelina pada Whikal, pria dengan rambut putih.
"Main cantik? Apa maksudmu?" Tanya Falama.
Orang yang berdiskusi cuma 3 orang, Geshi dan satu orang lagi cuma menjadi mendengar yang baik. Dari 5 orang di kelompok itu, memang mereka bertiga yang kadang mengatur strategi.
"Kau sudah mengetahui informasi tentang si burunan?" Tanya Whikal.
"Tak terlalu banyak informasi! Dia berasal darimana dan siapa keluarga saja tidak ada. Tapi ..."
"Falama, kau lupa ...? Dia dianggap pahlawan lho di kota Xeliqia!"
__ADS_1
"Bukannya itu telah menjadi sebuah kerajaan, ya?" Geshi tiba-tiba nimbrug.
"Huh ... semua kerajaan belum mengakuinya dan kota kecil itu terlalu kecil tuk jadi sebuah wilayah kekuasaan yang berdiri sendiri. Aku rasa sangat mustahil bisa berdiri lama!"
"Langsung saja, Dandelina ...! Apa rencanamu?" Desak Falama.
"Ya ya ... kita manfaatkan saja kota itu, ayo lakukan sesuatu yang membuatnya menyerahkan dirinya sendiri atau jika tidak, kita bisa menggali informasi ... yah, semacam kelemahannya. Bagaimana?" Dandelina sedikit menyeringai.
"Apalagi setelah orang itu menjadi buronan dan bersekutu dengan iblis. Pihak gereja suci tak lagi mengirimkan bantuan ... sepertinya rencana ini bisa terealisasi!?" Imbuh Whikal.
Semuanya pun menganggukan kepala, rencananya kemungkinan bisa terlaksana mengingat hal itu lebih efektif. Namun ...
"Kami akan menanggung akibatnya jika menyentuh kerajaan itu!? Cih ... bagaimana aku memberitahu mereka?" Batin orang satu-satunya yang tak ikut mengangguk, pria dengan rambut cokelat rami yang bernama Feelid.
.
.
.
Kiya PoV
Ashera adalah seorang Demonlord di masa lalu yang berhasil dikalahkan oleh para pahlawan. Meskipun menang, para pahlawan tidak bisa dikatakan menang. 5 di antara 6 pahlawan gugur untuk mengalahkan Ashera. Pastinya itu adalah kemenangan yang semu bagi pahlawan yang masih hidup itu karena teman-teman berharga bahkan kekasihnya tak bisa ikut merasakan kemenangan itu.
Sampai akhirnya ... sang pahlawan yang terakhir menyudahi hidupnya untuk menyusul semua teman-temannya yang telah pergi lebih dulu.
Dari cerita itu bisa disimpulkan bahwa Ashera itu sangat kuat, kan?
Iblis 7 dosa besar? Ahh, lawan mereka adalah 7 kebajikan besar.
Para pahlawan cuma melawan Ashera dan beberapa petinggi iblis.
"Kau terperdaya oleh trik seperti itu, Ashera!"
"Diamlah, jangan terus mengungkitnya!"
Setelah kekalahannya melawan Nia, aku terus mengejeknya habis-habisan. Dan sejak itu juga, aku menyuruh Ashera untuk menjadi senjata saja. Dia pun menerimanya, meskipun dengan berat hati.
Sekarang, Ashera sepenuhnya tunduk padaku. Yah, perkembangan yang sangat bagus.
"Hmm ... Putri!" Panggilku pada Calsya yang berada tak jauh dariku. Dia sedang memetik bunga.
Ya ... aku membuat sebuah hamparan kebun bunga di dimensi ini.
Setelah Ashera menjadi pedang dan perlu mengisi kekuatannya kembali, kemampuannya yang bisa meniadakan segala jenis pelacakan tidak akan bekerja. Sangat beresiko jika kami berada di luar. Hah ... Mana-ku hampir terkuras 60% setiap menciptakan dunia di dimensi pribadiku, jangan berpikir itu tak membutuhkan Mana!
"Ya, apa ada sesuatu?" Respon Calsya tampak antusias. Secepat kilat dia menghampiriku.
"Aku pernah bertanya padamu, dan kau belum menjawabnya!? Aku ingin kau menjawabnya sekarang!"
__ADS_1
Ekspresi penuh senyuman seketika berubah, sudut bibirnya langsung melengkung ke bawah, begitu juga dengan kepalanya yang kehilangan tenaga tuk tetap tegak.
Calsya memegang erat sebuah karangan bunga berbentuk gelang dengan bunga yang berwarna-warni.
"Sebelum aku menjawabnya, maukah kau menerima ini dan memakainya?" Calsya menegakkan kembali kepala dan menatapku intens.
Dunia seakan berhenti sesaat. Aku tak kunjung menjawabnya, tapi pada akhirnya aku mengangguk.
"Terserah, tapi benda seperti itu tak akan bertahan lama! Sia-sia kau membuatnya!"
"Di dunia ini tak ada yang abadi, pada akhirnya semuanya akan tiada. Memang menyedihkan jika kita hidup, tapi pada akhirnya akan mati. Jadi, untuk apa kita ada, kenapa kita dibuat?" Kata Calsya sembari melingkarkan gelang itu di tangan kiriku.
Dari mana dia mendapatkan kata-kata itu?
Calsya menggenggam tangan kiriku dengan kedua tangannya.
Dan ...
Mataku melebar, sensasi lembut pada bibir ini? Aku pernah merasakannya, tapi kali ini berbeda. Meskipun, sama-sama mendadak.
Aku tak melawan, membiarkannya mengalir begitu saja.
Bibir mungil milik Calsya bertemu dengan bibirku memberikan sensasi lembut dan hangat. Kini wajah Calsya sangat dekat, kulihat dia memejamkan mata dan pipi yang sepenuhnya berwaran merah.
Kami pun menyudahi ciuman singkat itu.
"Aku tak peduli! Keluargaku telah membuat kak Callista tiada! Aku tak peduli! Aku tak peduli! Asal aku bisa bersamamu ... maka tak apa-apa, kau boleh melakukan apa pun."
Kata-kata yang menyeramkan, tak peduli apa pun?
«Apakah ship Kiya X Viola akan tenggelam? Huhuhu ... mengecewakan»
"Kapal pun berlayar Kiya X Putri ... menangislah kau, Luxury"
"Ahhh ... kalian mengganggu suasana!"
.
.
.
Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.
Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.
aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.
Dah ... see you
__ADS_1