System : Unknown

System : Unknown
Chapter 7 -Salah orang-


__ADS_3

Sebelum membaca alangkah baiknya menyentuh tombol like terlebih dahulu jika suka dengan Chapter ini dan tinggalkan komentar jika ada kekurangan atau kelebihan.


Jangan lupa tekan tombol favorit, agar tak ketinggalan update.


Selamat membaca, semoga terhibur.


...


Matahari kembar sudah tidur dan kini bulan yang bangun. Namun, penerangan bulan tak berguna untuk memberi penerangan pada kota Xely, cahayanya kalah terang dengan lampu-lampu kota.


Tepat di tengah kota Xely terdapat sebuah taman yang indah, apalagi saat malam hari. Terlihat di taman itu, seorang wanita dengan umur kira-kira 17-an duduk merapatkan lututnya dibawah pohon.


Terlihat mata biru saphir-nya kelihatan agak sayu.


"S-semua yang dikatakannya benar."


Gadis itu mengingat pembicaraannya dengan seorang pemuda. Pembicaraan yang telah mengubah pola pikirnya,


"Kiya, ya ... a-ku harus berterima kasih padanya. Dia telah membuka mataku terhadap kenyataan!?" Dia—tak lain adalah Viola menggumamkan satu nama, Kiya. Pemuda yang sebaya dengannya, tapi jalan pikiran mereka berdua beda.


Viola de Arca, seorang pahlawan—salah satu pahlawan. Sesuai dengan gelarnya, tugasnya adalah menumpas kejahatan dan menciptakan kedamaian. Namun, Viola dan pahlawan lainnya hanya bergerak jika ada yang mengirim laporan.


Entah serangan bandit, invasi monster ... intinya jika para pahlawan tidak mendapatkan laporan, mereka nganggur dan melakukan sesuatu sesuka mereka.


"B-b-bagaimana aku memulainya?" Viola dengan frustasi membenamkan wajah pada lututnya.


Viola sebenarnya menjadi pusat perhatian di taman itu, banyak orang yang ingin menghampirinya. Namun, sadar bahwa suasana hatinya kelihatan buruk, mereka mengurungkan niatnya.


"Mungkin kamu harus bertemu dengannya lagi, Viola?! Dia pasti akan membantumu?! Kupikir dia orang yang baik, meskipun kadang sangat kejam dan dingin!?" Cincin yang Viola pakai mengeluarkan cahaya yang berkedip-kedip, juga suara seorang wanita.


"Apa kamu tau lokasinya, Vian?"


"Yah ... aku sudah menyimpan bau tubuhnya dan jubah milikmu yang dia pakai membantuku dalam pencarian ini. Lokasinya ... sepertinya dia sedang melakukan sesuatu yang penting!?"


Sebelas alis mata Viola terangkat, "A-ku tak mengerti."


"Kamu akan segera mengetahuinya. Aku akan menuntunmu ke tempatnya berada!"


Viola pun mulai berdiri, pertama-tama dia menepuk-nepuk pantatnya—memastikan bahwa tak ada tanah yang menempel.


Dan dalam sekejap, Viola menghilang bersama dengan hembusan angin yang tiba-tiba muncul.


Semua orang di taman itu lalu terkaget-kaget.


"Sial, padahal aku ingin berbicara dengan pahlawan!?"


Itu adalah salah satu keluh kesah orang di taman itu.


...

__ADS_1


"Hmm ... ternyata situasinya cukup rumit, ya?"


Tempatnya gelap dengan sedikit penerangan remang-remang dari bulan, bisa terlihat jelas di sekitaran kakinya banyak tumpukan tubuh manusia tergeletak. Sengatan-sengatan listrik masih keluar dari para manusia itu.


[Tuan mendapatkan 20 ribu poin ...]


"Oh ...? Aku tak sengaja membunuh dua orang, kah?" Kejut Kiya dengan tampang tak bersalah.


[Mereka berdua tak tahan dengan serangan listrik, Tuan]


"Hmm ... yah, biarlah." Kiya mulai melihat ke sekelilingnya dengan tajam.


Dalam kegelapan itu, Kiya mengetahui dengan jelas. Banyak pasang mata memperhatikannya. Yah ... mereka adalah penduduk area kumuh ini. Tak ada satu pun dari mereka yang berani keluar dari rumah yang Kiya bahkan tak bisa menyebutnya sebuah rumah.


"Jika aku menjadi mereka ... sejak dulu, aku pasti akan memberontak, perlakuan tidak adil ini?! Ada di antara mereka yang punya pemikiran seperti itu, tapi ada sebagian lainnya yang tak mau mengambil resiko. Yah ... penduduk area ini terbagi menjadi 2 kubu!" Kiya sekali lagi melihat orang yang tak sadarkan diri.


"Kelompok pro pemberontak harus bisa meyakinkan kelompok oposisi dengan menunjukkan kekuatan tempur yang kuat. Hanya itu caranya agar mereka semua bersatu!"


[Jadi, apa yang akan Tuan lakukan?]


"Entahlah ... aku akan mencari tahu ke penguasanya dulu lalu mengambil tindakan. Oh, yah ... seharusnya jika pahlawan itu peka, dia sudah sadar dengan kondisi ini."


[Umm ... Tuan, Viola sedang menuju ke sini]


"Hah ...? untuk apa cewek itu ke sini?"


Karena tak ingin bertemu dengan Viola, Kiya memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu. Dengan kecepatan penuhnya dia melesat. Para penghuni area itu hanya sekilas melihat sesuatu berwarna putih melesat dengan cepat.


"Mereka masih hidup!"


"Yang di sini sudah meninggal!"


Mereka semua kemudian saling pandang dengan berteman cahaya bulan yang redup.


"Apa mereka sudah ketahuan? Apa tadi adalah orang suruhan Duke?"


Mereka takut jika akan dieksekusi. Mereka tak memiliki kekuatan untuk melawan, lawannya bukan hanya pemimpin kota ini, para warga kota lainnya pasti tak akan tinggal diam jika ada yang melakukan kudeta.


...


Angin kencang menerpa Kiya yang sedang dalam kecepatan yang tinggi melompat atap bangunan ke bangunan lainnya. Tudung jubahnya terbuka dan menunjukkan wajahnya yang terlihat kesal.


"Kenapa dia mencariku?"


Kiya juga tak lupa menggunakan Hide agar tak terlalu mencolok.


[Viola semakin dekat, Tuan]


Kiya menggigit bagian bawah bibirnya akibat kesal dengan Viola. Entah kenapa dia tak ingin bertemu dengannya dalam waktu dekat.

__ADS_1


Kiya sesaat menurunkan kecepatan dan memperhatikan kerumunan orang di bawahnya. Kiya sekarang berada di area perdagangan kota Xely, pasar. Banyak orang berlalu lalang, tempat yang pas untuk Kiya bisa bersembunyi.


"System, bagaimana caranya cewek itu bisa mengetahui lokasiku secara tepat?" Kiya menonaktifkan skill Hide-nya lalu berjalan dengan normal di tengah kerumunan. Tak lupa dia menutupi kepalanya dengan tudung.


[Saya tidak tahu, Tuan. Tapi, saya pikir itu adalah berkat burung itu, mungkin saja dia sudah menandai Tuan atau ...]


"Jangan setengah-setengah, system!"


[Jubah yang Tuan kenakan]


Ekspresi wajah Kiya bertambah kesal.


Di sisi lainnya, Viola ...


Viola masih melakukan pengejaran terhadap Kiya yang tak mau melambatkan kecepatannya. Sebenernya dia bisa saja langsung mengejarnya, tapi Vian—Contracted-nya menghimbau agar menyamakan kecepatan mereka. Karena itulah Viola tak bisa mengejar Kiya.


"Viola, Kiya melambat!" Suara keluar dari cincin yang dipakainya.


"Benarkah?" Jawab Viola dengan wajah yang berseri-seri.


"Dia berkerumun dengan orang-orang!"


"Ahh ... dia berpikir bisa mengelabuiku?!"


"Jangan terlalu senang, Viola! Pria itu pasti punya rencana!" Kata Vian dengan nada serius.


Kemudian, Viola pun ikut melakukan hal yang sama dengan Kiya. Tak lupa jubah baru, Viola menutupi wajahnya. Kalau tidak, pasti akan terjadi kehebohan dan Kiya bisa sadar.


"Viola, dia ada di dekat kita. Cepat cari!"


Setelah mendapat petunjuk dari Vian, Viola lalu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Mencari seseorang yang mengenakan jubah putih, mungkin ada orang yang mengenakan hal yang sama. Namun, jubah yang sebelumnya miliknya itu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh jubah sejenisnya. Itu adalah simbol burung biru di belakang jubah putih itu—ibunya yang membuat. Bisa dipastikan jubah itu hanya ada satu di dunia.


"Di sana ...!" Kata Viola dengan girang menunjuk orang dengan jubah putih di antara kerumunan orang.


"Jangan terlalu senang, Viola! Dia nanti bisa menyadarimu!?"


Viola menghiraukan kata-kata Vian dan langsung bergerak mendekati orang yang diduga Kiya. Agak kesusahan untuk berjalan di antara keramaian itu.


Namun, dengan sedikit perjuangan Viola sudah ada tepat di belakang orang dengan jubah putih itu. Viola menarik nafas dalam-dalam, entah kenapa dia merasa agak gugup hanya untuk menepuk bahu memintanya berhenti.


Di sisi lain, Vian merasa ada yang aneh. Bau dan jubah yang dia kenakan adalah milik Viola yang telah bercampur dengan bau Kiya sendiri. Tapi, anehnya apakah Kiya tak menyadari ada Viola di dekatnya?


"Umm ... K-k-ki-ya, a-ku ingin berbicara denganmu?" Kata Viola dengan kegugupan yang luar biasa meminta orang itu berhenti dengan menepuk bahu kanannya.


Orang yang diduga Kiya pun berbalik, "Siapa?"


"Ehh ...?" Pekik Viola terkejut. Ternyata ... dia bukan pemuda yang dicari olehnya.


"P-p-pahlawan ... VIOLA?" Kejutnya berteriak.

__ADS_1


Sontak semua orang yang mengenal nama itu menaruh perhatiannya pada teriakan itu.


"Gawat ...!"


__ADS_2