System : Unknown

System : Unknown
Chapter 64 -Merepotkan


__ADS_3

Sebuah dahan pohon merendah dari posisi aslinya, terdapat suatu beban yang melebihi kapasitas kekuatannya sedang bertengger.


"Nah, bagaimana kelanjutan aksi si orang iseng?"


Dia—Kiya mengelus dagu yang masih mulus nan bersih dari helaian rambut yang seharusnya tumbuh, itu menandakan dia masih muda.


«Seharusnya dia punya tujuan ... pertama adalah penduduk desa atau dirimu! Memisahkan diri menurutku memang keputusan yang tepat»


"Hmm ... dengan begini motifnya akan terlihat!? Tetapi, rencana ini mungkin terlalu beresiko, aku tak tahu dia sekuat apa?! Bagaimana jika Calsya tak bisa mengatasinya?"


«Kau mengkhawatirkan Calsya? Ah, menurutku itu tak akan terjadi karena kau akan segera ke


sana»


"Cih ... apa-apaan dengan prediksimu itu!" Dengus Kiya dengan kesal, namun diujung kalimatnya sebuah senyum tipis merekah.


«Terpenting, prediksiku memang benar»


"Hmm ... aku mengakuinya."


Beberapa waktu berselang, tapi tak ada gejolak apa pun yang muncul. Semuanya masih normal tak ada kejanggalan sama sekali, meskipun begitu, Kiya tak mengendorkan kewaspadaannya terhadap sekitar. Matanya tak berhenti untuk melihat sekeliling, jika beruntung dia akan menemukan kegelapan yang biasa—Yang membuatnya tersesat beberapa waktu yang lalu. Namun, keberuntungan itu tak datang.


"Luxury, sensormu tak bekerja pada orang iseng itu, kah?"


«Dia tak terdeteksi»


"Huh ...bikin repot saja!" Kiya menghembuskan nafas dengan malas. "Baiklah, akan kucoba dengan skill ini!"


Kiya menutup matanya dan Mana berwarna kebiruan mulai menyelimutinya. "Detection!"


Selimut Mana itu pecah berhamburan ke segala arah menjadi partikel kecil yang indah di kegelapan malam.


Menggunakan Mana-nya sendiri, Kiya akan melakukan klasifikasikan Mana. Mana tadi sudah dibuatnya untuk menyatu dengan Mana alam pada jangkauan yang sama dengan wilayah sekitar desa. Dengan begitu Kiya bisa langsung mengindentifikasi Mana setiap orang yang terdaftar atau sudah dikenal.


"Hmm ...? Tak ada respon yang aneh!? Apa dia bisa menyembunyikan Mana-nya juga?" Kiya kembali membuka mata.


«Ini akan sulit, jika begitu kita hanya bisa menunggu sampai dia melancarkan aksinya»


"Merepotkan!"


.


.


.

__ADS_1


Bergeser ke Xeliqia.


Di sebuah ruangan, seorang wanita yang memiliki rambut berwarna ungu yang khas duduk bersebrangan dengan seorang pria dan meja sebagai pembatas.


"Jangan membunuh satu pun penduduk!"


Sebuah perintah yang selalu diingat wanita berambut ungu gelap itu.


"Untungnya kesabaranku dalam tahap tertinggi, Kiya ... jika tidak, aku pasti sudah membunuh orang ini bahkan menghancurkan negara kecil kesayanganmu!" Batin wanita berambut ungu itu menahan kekesalannya terhadap orang yang duduk bersebrangan dengannya.


Sejak masuk ke Xeliqia, wanita itu—Ashera sudah seharian berada di ruangan yang lumayan sempit dengan penerangan seadanya itu. Bahkan dia tak tahu bahwa di luar sudah malam saking lamanya.


"Cukup, kamu diizinkan masuk!" Kata pria di sebrang.


"Ya, terima kasih." Ashera berdiri dari kursinya lalu menunduk sedikit, tak lupa dia melemparkan senyuman manisnya.


"Kau beruntung, manusia!" Batinnya, Ashera ingin sekali membunuh manusia di depannya.


Selanjutnya pria pengintograsi itu menyerahkan beberapa lembar kertas yang merupakan berkas yang digunakan untuk bisa masuk ke Xeliqia. Mendapatkannya pun perlu melakukan proses yang panjang, salah satunya adalah interogasi habis-habisan dan penggeledahan yang menyebalkan.


Ashera pun menerimanya kemudian keluar dari ruangan sempit yang merupakan sebuah tenda itu. Jubah berwarna cokelat kusam yang dilepaskannya saat masuk ke tenda langsung dipakainya kembali, penampilannya cukup mencolok, jadi Ashera menutupi seluruh tubuhnya dengan jubah itu.


Di depan gerbang Xeliqia yang masih dalam tahap pembangunan ulang, berjejer puluhan tenda yang digunakan untuk mengintrogasi setiap pendatang.


Ashera kemudian berjalan ke arah dua orang penjaga untuk menyerahkan berkas-berkas yang sudah didapatkannya susah payah.


Bukan hanya Ashera sendiri, melainkan puluhan orang lainnya. Sebenernya jumlahnya ada ratusan lebih, namun setelah diseleksi jumlahnya tersisa 60-an orang.


Kebanyakan adalah para pedagang yang tak terikat status penduduk kerajaan lain dan para pendatang dari desa terdekat yang memiliki maksud melamar sebagai tenaga kerja untuk pembangunan Xeliqia.


Tak ada bantuan tenaga kerja dari kerajaan lain, para tenaga orang-orang desa sangat diperlukan mengingat Xeliqia memiliki pekerja yang sedikit di bidang pembangunan.


Orang-orang desa itu pun mencari peruntungan untuk melamar dan tentu saja meminta bayaran yang tinggi.


"Hmm ...? Rangkaian sihir ini? Ada yang menggunakan telepati!"


Fokus Ashera tertuju pada sebuah rombongan pedagang yang lumayan besar, dia melihat beberapa orang yang kelihatannya adalah pengawal.


"Huh ... apa-apaan tadi? Kenapa sangat ketat?"


"Yah, seharusnya wajar saja!?"


"Pemimpin mereka ternyata sangat berhati-hati."


"Jika masuk saja seribet itu ...?! Kemungkinan saat di dalam akan jauh lebih parah."

__ADS_1


"Yah, semoga saja kita bisa mendapatkan informasi tentang si buronan."


Ashera kemudian mulai sedikit menyeringai setelah menyadap hubungan telepati mereka. Dia memikirkan sesuatu yang kejam, hal yang bisa sedikit menghiburnya.


"Hehe ... inilah yang aku tunggu-tunggu!"


Pemeriksaan berkas-berkas itu telah selesai, Ashera sudah bisa masuk.


"Baiklah, silahkan masuk."


Bersama dengan puluhan orang lainnya, Ashera pun membaur. Dia perlahan-lahan mendekat ke arah rombongan dagang itu.


"Katamu aku tak boleh membunuh penduduk negara ini, kan? Berarti ... aku boleh dong ..."


.


.


.


"Hiii ... menakutkan! Pemanggil Nona Ashera sungguh menakutkan, bisa-bisanya dia keluar dari Eternal Darkness dengan santai!" Kata seseorang menggigil ketakutan. Dia adalah seseorang misterius dengan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Yah, negosiasi ini pasti akan sulit!"


Di sekitar tempatnya berdiri, bergelimpangan tubuh manusia yang tak sadarkan diri. Mereka adalah kelompok pemburu yang belum kembali ke desa sampai sekarang.


"Apa aku perlu jaminan agar semuanya berjalan lancar?"


Orang berjubah itu berpikir sejenak, keputusan yang dia ambil harus tepat jika tak ingin hidupnya berakhir percuma.


"Jika aku langsung menemuinya, pasti aku langsung dibunuh!? Apa aku sandera saja para manusia itu? Tidak, tidak ... jika gagal aku langsung dibunuh!"


Orang yang merupakan utusan dari benua iblis itu pun pusing sendiri, dia kesulitan untuk memutuskan langkah selanjutnya. Pikirannya terlalu paranoid jika rencananya gagal, itulah yang menghambatnya.


"Huh ... semoga aku tidak mati!"


.


.


.


Aku ganti jadwal Update yang biasanya pagi berubah menjadi malam, sekitaran jam 7 -9 malam.


Terima kasih yang udah baca sampai bab ini ...

__ADS_1


__ADS_2