
Sebelum membaca alangkah baiknya menyentuh tombol like terlebih dahulu jika suka dengan Chapter ini dan tinggalkan komentar jika ada kekurangan atau kelebihan.
Jangan lupa tekan tombol favorit, agar tak ketinggalan update.
Selamat membaca, semoga terhibur.
...
Dor ... dor ...
Pihak kota Xely sedang di atas angin, pasukan musuh tak ada yang sanggup mendekat lebih jauh lagi. Berbekal senjata yang diberikan oleh Kiya, alur pertempuran berhasil dikendalikan.
"Tuan Kiya memang hebat!" Puji Riela tulus yang melihat Kiya bersama dengan para petualang menghabisi musuh.
"Atas kebaikannya ... kita tak bisa membalasnya!" Vlad yang berada di sampingnya sedikit merasa bersalah.
"Hmm ... aku tak keberatan jika menyerahkan tubuhku padanya! Lagipula Tuan Kiya juga tampan, siapa yang tak mau dengannya!" Celetuk Riela asal, perkataan darinya membuat fokus Vlad menghilang.
Dor ...
"Eh? apa yang kau katakan tadi? Kau serius?" Vlad dengan sorot mata yang serius menatap Riela, dia memegang bahunya mengguncangnya.
"Lepas ...! Fokuslah, kita harus membantu Tuan Kiya!" Timpal Riela acuh, tapi dia sedikit melirik Vlad yang terlihat syok lalu tersenyum tipis.
Beberapa batu besar melayang cepat ke arah kota Xely. Semuanya dengan sigap menembaki batu itu, tapi sayangnya ... kekerasannya melebihi zirah. Senapannya tak berguna.
Saat mereka pasrah akan nasib ... mendadak batu itu terpotong dan kemudian hancur berkeping-keping.
Slash ... Jdarrrrr ...
"Kalian baik-baik saja ...!" Kata Viola sedikit cemas.
"Eh? Ahh ... maaf, Nona Viola, tadi kami sedikit melamun!?" Kata Vlad sedikit menundukkan badan.
"Fokuslah ...! Kiya dan yang lainnya memerlukan bantuan kalian!"
Kemudian Viola kembali fokus untuk mengatasi para penunggang pegasus. Yah ... pertempuran di darat dan udara tak terelakkan.
Sebanyak 16 ribu orang berpartisipasi dari pihak kota Xely. Pasukan menjadi 4 regu. satu regu bertugas bertarung di garis depan, Kiya dan para petualang mengurus pasukan darat, serta Viola membereskan yang ada di langit.
2 regu lainnya bertugas di garis belakang untuk melakukan serangan jarak jauh menggunakan senapan membantu Kiya dan Viola. Sisa regu adalah regu pengganti dan penyembuh.
Sedikit berkurang ... serangan dadakan musuh menggunakan senjata penghancur memang berhasil mengurangi jumlahnya. 8 ribu orang tewas dengan ribuan lainnya yang mengalami luka berat. Itu masih keberuntungan ... jika Viola tidak ada untuk mengurangi efek kerusakan Mana Cannon. Bisa dipastikan pasukan kota Xely hanya menyisakan 3 ribuan orang saja.
"Ya ... kami mengerti." Jawab Vlad sedikit lesu.
"Apa kau cemburu? Jika benar, maka kau konyol!" Riela tersenyum, tapi dia masih fokus menembaki musuh. "Tuan Kiya sudah berkorban demi kita. Dia, mengerahkan semuanya untuk kota ini ... sesuai dengan perkataanmu tadi, kita tak bisa memberinya apa-apa sebagai balas budi! Yah ... karena aku juga tak punya apa-apa, jadi ... hanya tubuh ini."
Vlad tak bisa merespon balik perkataan Riela.
"Aku hanya berpikir bahwa pengorbananku tak sebanding dengan apa yang dilakukannya. Sekarang, kau mengerti, kan? Pengorbanan juga harus dibalas pengorbanan!" Riela melirik Vlad yang tak bergeming. "Meskipun kau tak mendapatkan tubuhku, hatiku masih setia denganmu!" Sambung Riela dengan suara yang kecil seperti berbisik. Suaranya tak mampu mencapai Vlad.
"Ahh ... tak perlu sedih! Tuan Kiya bukan orang yang seperti itu! Celia yang tubuhnya jauh lebih baik dariku saja ditolak mentah-mentah! Jadi, tak mungkin ... lupakan saja!" Kata Riela agak canggung menepuk punggung Vlad dengan kuat.
"Yah ... semua yang kau katakan benar! Jasa Tuan Kiya harus dibayar dengan mahal!" Vlad tiba-tiba bersuara dan membuat Riela kebingungan.
"Eh?"
__ADS_1
...
Jeratan benang tipis memotong salah satu kaki kuda yang membuat penunggangnya terlempar. Pemandangan itu sudah sering dilihat pada pertempuran ini. Kilatan petir yang menyambar terlihat indah di kegelapan juga merupakan pemandangan biasa.
"Voltage ...!"
Petir bertegangan tinggi menyetrum sekelompok pasukan musuh hingga tubuhnya gosong, benar-benar dipanggang.
"Hahaha ... kerja mereka bagus! Aku tak menyangka bahwa mereka bisa menggunakan senapan itu dengan cepat!" Kata Kiya dengan senang melirik ke belakang.
[Ahh ... sebenarnya, Tuan. Senapan itu bukan seperti yang ada di bumi! Ada sedikit unsur sihir]
"Jadi ...?
[Secara otomatis akan menargetkan musuh. Jika tidak begitu, mereka pasti sudah menembaki Tuan, apalagi dengan cahaya yang minim. Tak mungkin mereka sanggup menguasainya hanya dalam waktu beberapa jam]
"Pantas saja harganya berjuta-juta!"
Pasukan musuh tinggal menyisakan seperempat pasukan. Setengah lebih sudah dibantai oleh pasukan kota Xely.
"Hmm ... Viola juga melakukan tugasnya dengan baik untuk mengurus kuda terbang itu dan melindungi regu penembak! Dia benar-benar sangat hebat!" Puji Kiya melihat ke langit, fokus pada burung biru yang memburu satu per satu kuda terbang.
[Wah ... Tuan memuji Viola, apa yang merasuki Anda?]
"Kau memang menyebalkan, system!"
Pertempuran sudah berjalan beberapa jam. Kedua belah pihak mulai kelelahan.
"Tuan Kiya ... musuh mulai menarik mundur diri! Apa kita akan mengejarnya?" Lapor salah satu petualang dengan rank tinggi di kota Xely. Dia menggunakan perisai dengan pedang.
"Jangan ...! Biarkan saja, mungkin saja itu perangkap!? Kita juga sebaiknya mundur untuk memilihkan stamina!"
Pasukan musuh mundur secara perlahan. Kiya juga menyuruh semua untuk mundur memulihkan diri. Namun ...
"Kita bicara sebentar!"
Beberapa bongkahan es membentuk tombak melesat dengan cepat ke arah Kiya. Sedikit terlambat menyadari, tapi Kiya berhasil menangkisnya.
Semua orang pun terkejut dengan serangan kejutan itu.
"P-pah-la-wan Ranan ...?"
Sejak pertempuran dimulai, Ranan memang masih belum berpartisipasi.
"Baiklah, apa yang ingin kau bicarakan, pahlawan?"
Pasukan garis depan kota Xely kemudian memundurkan diri setelah Kiya memberi aba-aba. Berbeda dengan yang lain, Viola justru mendekat dan mendarat di samping Kiya.
Pasukan penembak bersiaga terhadap Ranan yang kelihatan tidak ingin melakukan perlawanan.
"Hmm ...? Kau akan mendapat masalah saat pertemuan, Viola?" Kata Ranan menatap datar Viola yang baru datang.
"Tak apa, ini memang konsekuensinya!" Timpal Viola tak gentar sedikit pun.
"Dasar ...!" Ranan mengalihkan pandangannya. "Kau ... otak semua ini, kan?"
"Bisa dibilang begitu?"
__ADS_1
"Aku tak akan berbasa-basi, jadi langsung saja. Sebaiknya kalian menyerah saja!"
Kiya merasa tak terima dengan perkataan Ranan. "Heh ... apa maksudmu—" Namun perkataannya dipotong oleh Ranan.
"Kalian tak akan bisa menang!" Ranan melirik ke arah pasukan kota Xely.
Kiya dan Viola juga melakukan hal yang sama. Mereka, pasukan kota Xely ... tubuhnya mulai gemetar lagi, hawa dingin mulai menyerang lagi.
"Sepertinya batasnya sampai sini saja, Viola! Protection yang kau gunakan sudah limit. Percuma saja kau memaksakan diri!" Kata Ranan tanpa ekspresi.
Memang benar, Viola melakukan Protection untuk ribuan orang, tentu saja itu akan menguras Mana, meskipun kapasitas Vessel-nya bisa dibilang sangat besar. Namun, Viola tak bisa mempertahankannya selama beberapa jam.
Buff perlindungan Viola akan hancur dan hawa dingin ekstrem akan menyerang.
Lalu, kenapa Ranan yang juga menggunakan sihir area untuk menciptakan hawa dingin dalam waktu yang lama tidak kehabisan Mana?
Yah ... jawabannya pada Chapter-Chapter yang akan datang.
Kiya pun melirik Viola, "Dia terlalu memaksakan diri!"
"Kalian menyerah saja! Perintah yang diberikan padaku adalah menghancurkan kota. Dengan begitu, kalian akan selamat! Aku juga merasa bersalah harus membunuh para warga sipil, kalian tau!" Ranan mulai berbicara lagi.
"Cih ... sial! Jika aku menggunakan breaker hasilnya sama. Sebenarnya apa yang direncanakan orang ini!"
Kiya dan Viola pun tak sanggup menjawabnya.
"KAMI TAK AKAN MENYERAH! KAMI MATI PUN TAK PEDULI!"
Dari belakang, semua orang mendekat dan meneriakkan kata-kata itu. Meskipun hawa. dinding itu menyerang mereka.
"Hmm, baiklah. Aku hargai keputusannya! Kuharap kalian tidak menyesal!?" Kata Ranan melompat mundur. Dia mendekat dimana pedangnya menancap di tanah lalu mencabutnya.
Bongkahan-bongkahan es muncul dari tanah dan membekukan para prajurit kerajaan yang tersisa. Semuanya pun terkejut melihatnya.
"D-d-dia membunuh me-reka!" Kata salah seorang pasukan kota Xely.
"Kalian salah sangka ...!"
Kemudian bongkahan es yang memenjarakan para prajurit itu pun hancur. Para prajurit itu baik-baik saja, namun penampilan mereka berubah. Zirah besi berubah menjadi zirah es berwarna biru gelap.
"Aku akan membantu kalian mewujudkan keinginan untuk bebas dari Kerajaan Rentweder, jika kalian sanggup menang ataupun bertahan melawan ini!?"
Bukan hanya pasukan kota Xely yang terkejut, prajurit itu sendiri juga kebingungan mulai menelisik zirah baru mereka.
"I-ni sangat kuat!"
"Hehehe ... jadi, ini tujuannya. Dia menunggu jumlah pasukannya menipis agar tak terlalu membebani dirinya seperti apa yang dilakukan Viola!" Kiya tersenyum kecut.
Dor ... dor ...
Seseorang mencoba menembaki para prajurit berzirah es itu. Namun, hasilnya di luar dugaan ... tak ada goresan sedikit pun pada zirah es nya.
"A-a-pa ...? Itu sangatlah kuat!"
"Ini hanya bertahan kurang lebih satu jam! Mencobalah untuk bertahan selama itu!" Kata Ranan tersenyum tipis.
...
__ADS_1
Terima kasih sudah mau setia membaca sampai sini. Terus dukung author agar cerita ini bisa lanjut terus sampai tamat.
Dah ...