System : Unknown

System : Unknown
Arc [ Fugitive's Life ] Completed


__ADS_3

Layar proyeksi terpampang di langit malam menampilkan sebuah pemandangan yang mengejutkan semua orang. Layar itu terlihat dari seluruh benua, karena untuk mengumumkan hal besar yang baru saja terjadi.


"Kuh ... dia di salib ... ! Dan keadaannya sangat memprihatinkan."


"B-ba-gai-mana bisa ... jelas-jelas kamu ...?"


"Sssttt ... diam sebentar, Calsya!"


Penyambutan besar-besaran yang diadakan di Xeliqia untuk menyambut sosok pahlawan mereka, mendadak berubah. Suka cita menjadi ... yah, perasaan mereka campur aduk. Tapi, rata-rata adalah perasaan kesedihan.


Suasana yang riuh dengan gemerlapnya cahaya dari lampu-lampu kota dan suasana bising dari semua orang yang tumpah di jalanan kota untuk penyambutan seseorang ... mendadak senyap.


"T-tuan K-kiya di tangkap ... dan akan dieksekusi?"


Rumor yang beredar mengatakan bahwa Kiya akan segera berkunjung ke Xeliqia ... namun, kenyataannya ... datanglah berita dari Gereja Suci Carialin yang membuat gempar satu benua, tak disangka sama sekali.


"Dia ...?! Menurutku keterlaluan, menipu satu dunia!" Ashera menghela nafas. Menatap sosok yang dari tadi tersenyum tipis menyaksikan proyeksi di langit.


"Nona Ashera, apa benar yang diperlihatkan di langit adalah kebenarannya? Jelas-jelas Nona di sini ... berarti Tuan Kiya baik-baik saja, kan?" Tanya Riela yang tak percaya dan yang lainnya mulai mendekat.


Selanjutnya, Ashera langsung dikerubungi oleh banyak orang yang haus akan penjelasan.


"Hehe ... begini, aku jelaskan pelan-pelan—"


"Umm ... maaf, semuanya mohon perhatiannya sebentar!"


Suara itu membuat perhatian semua orang buyar pada Ashera. Sosok pemuda dengan rambut berwarna cokelat dengan warna mata biru pudar. Bersanding dengan seorang wanita dengan rambut cokelat gelap dengan mata hijau zamrud.


"Ah, Ayikza, Calli ... apa ada yang penting?" Riela menghapus air mata di pelupuk matanya.


"Inilah tujuannya kenapa dia memintaku untuk mengenalkan sosok Ayikza dan Calli


... Kiya ingin menggunakan identitas itu selamanya. Yah, dan sangat kebetulan ... dia menemukan seseorang yang bisa selalu kembali dari kematian, langsung membuat kematian palsu dari sosok Azkiya!" Batin Ashera menatap proyeksi di langit.


"Benua iblis sudah bertindak ... Kiya, apa dia ingin bergabung dengan mereka? Eh ... tidak, jelas sekali dia cuma ingin memanfaatkan mereka! Dasar licik, lebih licik dariku dulu!" Ashera langsung menepis pemikirannya.


"Maaf, telah mengganggu kesedihan kalian, tapi dengarkan ini sebentar ... cerita ini pasti akan langsung membuat kalian tersenyum kembali!"


Perkataan Ayikza, yah ... atau Kiya yang ambigu membuat semua orang lantas memiringkan kepalanya.


"Berhentilah menangis, apa kalian percaya bahwa Azkiya akan mati dengan cara sekonyol itu?"


.


.


.


Waktu beberapa hari yang lalu, setelah latihan pedang. Kiya bertemu dengan Russil.


"Apa yang saya harus lakukan?" Kata Russil agak gemetaran.


"Yah, simpel ... pergi ke Gereja Suci dan bunuh diri di sana!" Balas kita tersenyum hangat, tapi menurut Russil jelas itu adalah senyuman jahat.


"Pergi ke gereja Suci? Untuk apa?" Tanya Russil ketakutan.


"Sudah kubilang ... bunuh diri, hmm ...?" Kiya memindahkan kepala Calsya dari pangkuannya, dia lalu berdiri.


Russil reflek memundurkan diri, takut Kiya akan membunuhnya untuk ketiga kalinya.


"Apa kau bisa meniru wujud seseorang dengan sempurna?"

__ADS_1


"Ya, s-sa-ya bisa me-niru wujud, ta-pi harus membutuhkan contoh genetik—"


"Baiklah, ambil sehelai rambut ini! Itu adalah rambutku ... aku memintamu untuk menyamar sebagai diriku." Kiya mencabut sehelai rambutnya lalu diserahkan pada Russil.


"Saya tak mengerti."


"Cih ..." Dengus Kiya.


"Akan kujelaskan pelan-pelan, begini ... aku memintamu untuk menyamar sebagai diriku lalu pergi ke Gereja Suci, buat keributan atau apalah terserah ... babak akhirnya adalah bunuh diri. Tujuannya adalah memalsukan kematianku dengan kematianmu ...! Terdengar kejam, apa boleh buat, secara kebetulan kau mempunyai kemampuan yang membuatmu sanggup kembali dari kematian dalam beberapa hari ... jadi, tak terlalu merugikanmu.


Sebagai balasan atas jasamu, aku akan menyetujui seluruh tawaranmu, bergabung dengan benua iblis tentunya!?"


Kiya mengulurkan tangan pada Russil yang terduduk di tanah. Russil ragu-ragu sejenak ... namun, pada akhirnya dia menerima uluran tangan itu.


"Perjanjiannya telah dibuat. Aku sangat berterimakasih padamu setelah ini selesai! Dan ... yah ... ambil ini!"


Kiya melemparkan sebuah Katana buatan Ashera yang selalu menjadi senjata utama.


"Supaya lebih meyakinkan!"


"Ya, akan saya laksanakan."


Russil kemudian menghilang ke sisi kegelapan hutan.


"Kebetulan yang sangat bagus! Andai saja dia tak mempunyai Blessing Semi-immortal, aku tetap akan memanfaatkannya ... dari awal aku memang sudah merencanakan untuk mengorbankan seseorang, tapi siapa sangka ... malah yang datang adalah sosok yang tak bisa mati!"


.


.


.


Cerita yang disampaikan Ayikza atau Kiya telah selesai, tak perlu menunggu waktu yang lama. Semua orang berlarian menuju ke arah Kiya dan berusaha untuk memeluknya. Calli atau Calsya rela dirinya berhimpit dengan banyak orang, sampai dirinya tak kuat lalu terlempar keluar dari kerumunan.


"Semua orang mencintainya ... itu wajar, dia memang orang yang baik!" Gumam Calsya menyaksikan Kiya kewalahan meladeni semua orang.


Pupuk mata merah delimanya sedikit berkerlip, di kedua sudut mata tergenang air yang siap turun menyusuri pipi putih dan lembut itu.


( Skill tak berpengaruh pada pengguna. Dalam penglihatan Calsya dan Kiya ... mereka tetap sama, tak berubah )


"Aku harap aku adalah orang nomor satu di hatinya, tapi ... ah, aku terlalu jumawa!? Sampai sekarang ... aku bahkan tak tahu bagaimana perasaan Kiya terhadapku." Calsya lantas mencegah air itu untuk jatuh. Karena orang yang dari tadi diperhatikan olehnya memergoki dirinya yang ingin menangis.


Semua orang telah puas melampiaskan kekesalannya pada Kiya, mereka pun kembali menjauh dan secara bersamaan membungkuk 90°.


"""Selamat datang."""


"Ah, jangan seperti itu ... aku bukan siapa-siapa di sini ... ingat, Azkiya sudah tak ada ... yang ada cuma Ayikza!" Kiya yang tak enak hati berusaha membuat mereka kembali menegakkan tubuhnya.


"Tidak, entah identitas siapa yang Tuan gunakan, Anda tetaplah pahlawan kami, juga pemimpi kami!"


"Ah, kalian membuatku terharu, tapi serius perlakukan aku seperti biasa ... ini demi Xeliqia!"


Perdebatan kecil pun terjadi ...


"Tuan Putri Calsya ...?" Sepasang anak kecil tak dikenal mendekati Calsya dengan menarik-narik ujung bajunya.


Penjelasan dari cerita Kiya cukup jelas—bagi sebagian orang, semuanya langsung bisa paham pada bagian yang Kiya berubah menjadi Ayikza ... untuk Calsya menjadi Calli tak diceritakan ... namun, dua anak kecil itu langsung paham, mereka sangat peka.


Yang dalam ingatan Calsya, dirinya pernah berperilaku buruk pada anak kecil itu.


"Anak-anak ini? Mereka ...?"

__ADS_1


"Tadi, Tuan Putri menangis ... kenapa? Apa Tuan Putri sedih?" Tanya polos anak-anak itu.


Calsya sedikit berjongkok menyamakan tingginya dengan kedua anak itu. Dia dengan lembut membelai pucuk kepalanya.


"Ini bukan kesedihan, tapi kebahagian!" Calsya berhenti sejenak. Dia ingin berkata lagi, tapi dirinya ragu. "M-ma-af, aku pernah berperilaku buruk pada kalian, seharusnya—"


"Tak apa-apa, kami yang salah ... kami tak sopan!"


"Bukan, meskipun begitu ... aku tak—"


"Tuan Putri harus berterimakasih pada kami ... huek ..." Kedua anak itu menjauh dan melakukan ejekan pada Calsya dengan menjulurkan lidahnya. Calsya pun dibuat kebingungan.


"Eh ...?"


"Jika bukan karena kami, Tuan Putri pasti tak akan bisa selalu di sisi Tuan Kiya!?" Teriak kedua anak itu berlari menuju ke tempat Kiya, untuk memeluknya.


"Ji-ka ... bu-kan ... ji-ka a-ku ... tak ..." Calsya geli hati, dia tak bisa menghentikan tawanya. "Kiya ... karena hal itu, ya?! Yah ... aku memang harus bersyukur."


Calsya lalu tak bisa mengalihkan pandangannya dari Kiya sedikit pun, seolah-olah di dunia ini hanya ada Kiya saja.


"Oi, Master ... jangan asyik sendiri! Kau tak memperkenankan istri dan para bawahanmu?" Teriak Ashera dengan nada menggoda.


Semua orang terkejut, terlebih pada kata "istri".


""Tuan Kiya sudah menikah?""


"Haha ... penjelasan lumayan panjang, tapi akan kuperkenalkan ..." Kiya menunjukkan Calsya. "Di sana ... Calli dia adalah Putri Calsya."


"Hah ...?"


"Tuan Putri, maaf ... tadi saya tak sengaja mendorong-dorong Anda."


"Maafkan saya juga."


Rentetan ucapan maaf pun terdengar.


"Dan di sana ..." Kiya menunjuk ke arah para mantan anggota JUDGMENT yang sedari tadi diam, tak ikut terbawa arus suasana. "Dandelina ... kau tak perlu khawatir, kami tak akan menipumu ... semua orang di sini tak akan menghianatimu ... dan kau bukanlah tahanan di sini! Kau bagian dari kami, tempat ini adalah rumahmu ... tolong bantu kami semua untuk membangun negara ini!"


"Dandelina ...?" Kata Feelid khawatir. Begitu Kiya selesai bicara, Dandelina terkulai lemas berdiri dengan lututnya dan tak berhenti mengucek kedua matanya. "Terimakasih, terimakasih ..."


Feelid yang melihat Dandelina seperti itu pun tersenyum ... dia dan yang lainnya reflek membungkukkan badan kepada Kiya.


"""Terimakasih. Kami pasti akan berusaha sebaik mungkin."""


.


.


.


Yah, arc 2 selesai ...


Happy ending ... yah, bagi sebagian kubu ... tapi, kubu lainnya ... ya mungkin beda. Contohnya Viola yang kena mental karena tak tau apa-apa ... nggak aku tunjukkin gimana reaksinya.


Hmm ... mungkin akan libur kurang lebih seminggu ( Bisa molor, sekolah mulai aktif ... jadi, waktu buat nulis juga berkurang ) untuk persiapan cerita arc 3 dan revisi bab-bab sebelumnya ...


Saya ucapkan terimakasih bagi pembaca yang selalu baca bab terbaru, baik yang sering ngasih like dan komen, atau pembaca yang cuma sekedar baca.


Maaf, belum bisa buat cerita yang memuaskan dan kadang membingungkan.


Sampai jumpa di Arc 3👋👋👋

__ADS_1


__ADS_2