
"Aku akan membantai kalian, para iblis maupun Demon. Karena tujuan inilah aku—"
Dandelina belum menyelesaikan perkataannya, namun dirinya telah lenyap dari pandangan rekan-rekannya. Dan semilir angin menyibak tudung jubah milik Ashera membiarkan helaian ungu gelap miliknya terurai, bersamaan dengan Dandelina yang mendadak sudah ada di belakang Ashera. Pedang yang tadinya masih tersarung rapi di pinggang kiri telah dikeluarkan.
Slash ... sriett ...
"Hidup, untuk dendam ini!" Teriak Dandelina melanjutkan perkataannya.
Feelid dan yang lainnya tak bisa menahan rasa terkejut, mulut yang menganga lebar dan mata yang terus terkejab beberapa kali adalah buktinya.
Waktu seakan berhenti sesaat, tiba-tiba hening ... selain suara gemerisik sesuatu yang menggesek rerumputan.
"D-dan-de-lina, kau ... berhasil membunuhnya?" Kata Feelid dengan tubuh gemetaran, dia takut bercampur senang.
Kegelapan malam tak cukup tuk menyembunyikan benda apa yang jatuh dan bergesekan dengan rumput, semua rekannya tahu jelas bahwa Ashera terbelah menjadi dua.
Dandelina pun merekahkan senyuman kemenangan, nafasnya langsung terengah-engah. Adrenalinnya terpacu dalam tahap tertinggi.
"Oi, jadi dengan begini kita berhasil memusnahkan ancaman dunia! Semua hadiah—"
"Yah, membuat patah arang dan diangkat tinggi-tinggi terus dijatuhkan dengan keras. Ahh ... aku sangat suka itu!"
Wajah-wajah penuh kegembiraan langsung lenyap, tegang dan pucat ... mereka baru saja mendengar suara yang begitu menusuk telinga.
Kedua bagian tubuh Ashera yang terpisah dan berceceran cukup jauh, mendekat dan mulai menyambung diri.
"Apa-apaan ini? Curang!" Geram Dandelina menggertakan gigi.
"Hmm ... apa kau pikir bisa mengalahkanku hanya dengan satu tebasan? Jangan naif, Nona!" Kata Ashera menyeringai.
"Kugh ... kekuatanku tinggal setengah!" Ashera berusaha menyembunyikan raut wajah cemas, seringainya pun sulit untuk bertahan. "Tak apa-apa, aku masih yakin bisa menghabisi semua manusia ini hanya dengan sisa kekuatanku saat ini!"
Percikan petir muncul di kedua telapak tangan Ashera, dalam sekejap berubah menjadi sepasang Dagger berwarna hitam dengan alur berwarna ungu yang menyerupai petir.
"Berhati-hatilah, manusia!" Ashera bersiap melakukan serangan.
Slash ... trangg ...
Kecepatan yang begitu tinggi, penglihatan biasa tak bisa mengikuti. Sadar-sadar, Ashera sudah berada di depan Geshi mengayunkan Dagger-nya. Namun reflek Geshi dapat mengikuti, kedua tangan yang terselimuti oleh pelindung logam khusus digunakan sebagai tameng.
"Zirah yang mereka gunakan cukup kuat!?"
Pria berambut merah—Falama datang melesat berniat menyerang Ashera yang sibuk dengan Geshi.
Slash ...
Pedang dengan bilah berwarna merah milik Falama yang diayunkan secara harizontal hanya mampu memotong sedikit helaian rambut Ashera, karena Ashera menunduk untuk menghindar.
"A-pa—"
Bak ...
Falama dan Geshi terpental akibat tendangan Ashera, mereka berdua pun harus rela menabrak beberapa pohon.
"Ukh ... sialan, dia gesit sekali!" Kata Falama tersenyum pahit.
__ADS_1
Ratusan lingkaran sihir berwarna ungu muncul di sekitar Ashera, dari sana keluar berbagai senjata yang menghujani para JUDGMENT itu.
Para JUDGMENT itu berkumpul dan bersama-sama membuat Mana Shield atau sihir pertahanan lainnya.
Jdarr ... jdarr ... jdarr ...
Rentetan ledakan meramaikan malam yang sebelumnya sunyi, hutan yang tadinya lebat kini dalam radius 200 meter telah gundul. Lima orang bersusah payah serangan yang membabi buta dan tak kenal ampun itu selama beberapa menit.
"Cih ... rambut adalah mahkota wanita, dan kau beranimencukurnya ... pria macam apa kau?!" Cemooh Ashera dengan menunjukkan ekspresi yang menakutkan.
Ketika pria yang menghembuskan nafas dengan tersenggal-senggal karena kelelahan secara bersamaan melirik Falama.
"I-ni adalah petempuran, tak ada istilah wanita dan pria!" Falama mengusahakan berkata tegas.
Pertahanan yang mereka bentuk tak kuat untuk membendung rentetan hujan senjata Ashera, tubuh Golem ciptaan Whikal pun tergerus sampai jadi bebatuan, perisai tanah yang diciptakan Geshi juga sama ... malah lebih parah. Sejumlah luka pun bersarang meskipun ada zirah yang melekat, darah juga mengalir di pelipis dan beberapa titik lainnya.
"Ini mustahil ...!? Kami akan mati jika terus melanjutkan pertarungan ini!" Batin Feelid mengepalkan tangan dengan kuat. "Aku harus bisa membujuk Lina untuk segera lari, jika ingin selamat!" Feelid melirik Dandelina yang kondisinya tak bisa dikatakan baik.
Pipi putih nan halus miliknya telah kusam, rambut krem panjang yang lembut pun sama, telah kusut dan kotor diterpa berbagai kotoran. Cara bernafas seperti penderita asma juga semakin membuat Feelid geram.
"Kami harus lari! Aku tak mau mati oleh perintah Gereja terkutuk itu ...!"
Feelid tiba-tiba berdiri dan berjalan membelakangi kelima rekannya yang telah banyak menggunakan Mana. Feelid sendiri tadi cuma menumpang pada Geshi.
"Feelid, menyingkir! Aku yang akan maju—"
"Tutup mulutmu! Duduk diam saja di belakang, pilihkan mereka! Kau itu seharusnya yang support, Lina!" Bentak Feelid dengan nada yang tinggi.
Dandelina pun terhentak, dia sangat terkejut. Feelid yang dia kenal adalah orang yang cukup pendiam, marah pun jarang.
Pada dasarnya Dandelina adalah tipe support dalam party mereka, kemampuan sihirnya begitu baik. Tapi, keahlian menggunakan senjatanya juga sama baiknya, Dandelina pun bisa berperan semaunya.
"Yah, perasaan seperti itu adalah salah satu pemberi kekuatan terbesar!"
Ashera mulai meningkatkan kewaspadaannya pada Feelid yang menggenggam erat Holy Sword berwarna putih bersih itu.
"Enchant ...!"
Yah, sihir sederhana untuk meningkatkan kekuatan fisik.
"Mana spill ...!"
Semuanya terkejut, termasuk Ashera.
"Overdrive ...!"
Cahaya putih yang indah menyelimuti tubuh Feelid, memberikan cahaya yang amat terang di sekitarnya.
"Dia bisa masuk dalam kondisi Spill ... sesuka hati? Aku tak merasakan dia menyerap Mana alam!?" Ashera pun juga kebingungan.
"Lina, kamu tak sendirian! Ada kami—teman-temanmu!" Kata Feelid menoleh ke belakang sejenak memerhatikan Dandelina yang terkaku.
"Kami harus berhasil lari!" Feelid kembali mengikuti pandangannya pada Ashera. "Aku cuma bisa menggunakan kekuatan ini selama 2 menit, dan itu tak cukup untuk mengalahkan Ashera!"
Hembusan angin yang kencang menemani Feelid yang menerjang Ashera. Holy Sword-nya beradu menimbulkan bunyi dentuman yang sangat nyaring dan percikan bunga api.
__ADS_1
Tanah yang menjadi pijakan mereka berdua retak tak mampu menahan tekanan yang diterima. Ashera terus menggertakan gigi dengan kesal.
"Kekuatan dan kecepatannya meningkat beberapa kali lipat, sedangkan aku menurun ... ah, curang!"
Swush ... swush ...
Rentetan Mana Bullet dilancarkan dari
belakang, mengincar Ashera.
Jdarrr ...
Ashera berhasil menghindar, namun Feelid terus-menerus menempelkannya.
"Manusia sialan!"
Trang ... trang ... trangg ...
Pertukaran serangan antara pedang dan Dagger terjadi secara sengit. Kecepatan mereka berdua tak terjangkau oleh mata lagi, yang tertangkap cuma bunga-bunga api dan sekebat siluet berwarna putih.
"Kalian, kenapa Mana kalian pulihnya lama sekali? Dasar ...!" Maki Dandelina yang terus menggunakan Heal dan Recovery pada ketiga rekannya.
"Kita ada potion pemulih Mana, kan?" Geshi tiba-tiba berbicara.
Mereka saling pandang untuk sesaat.
"PAYAH!"
Trang ...
"Ini aneh sekali?! Kenapa dia tak terpengaruh dengan cahaya yang aku biaskan? Seharusnya serangannya akan selalu meleset!" Ashera tahap kekesalannya telah mencapai puncak.
Krakk ...
Salah satu Dagger Ashera hancur berkeping-keping tak kuat menahan serangan rentetan yang ada. Dan serangan Feelid pun berhasil memotong lengan kirinya.
"Yah, bagus ... saatnya bersiap untuk lari!" Batin Feelid senang.
Meskipun berhasil memojokkan Ashera bahkan membuatnya dalam kondisi kritis, perasaannya selalu mengarahkan segera lari
"Hahaha ... jika aku menyambungkan lengan ini, kekuatanku akan semakin terkuras ... kondisi yang buruk!"
Feelid dan Ashera menjaga jarak untuk sesaat, balutan cahaya putih yang menyelimuti Feelid kian meredup—Batasan waktu yang dimilikinya tinggal 40 detik. Ashera pun berusaha menghentikan pendarahan yang terjadi.
Feelid menengok ke arah rekannya, mereka semua telah dipulihkan. "Bagus, saatnya kabur—"
"Summoning ... Carrot, Aspara, Broci ... keluarlah!" Teriak Dandelina memanggil tiga makhluk panggilannya.
Falama, Whikal, Geshi pun juga telah bersiap untuk bertarung lagi.
"Hei, apa-apaan ini? Kenapa mereka malah dalam siaga tempur? Ah, tunggu ... aku tak memberitahukan rencana untuk kabur!? Bodoh, tindakan sok keren tadi membuatku lupa untuk mengatakannya." Feelid dilanda kepanikan.
.
.
__ADS_1
.
Terimakasih telah membaca ...