System : Unknown

System : Unknown
Chapter 18 -Keputusan-


__ADS_3

Sebelum membaca alangkah baiknya menyentuh tombol like terlebih dahulu jika suka dengan Chapter ini dan tinggalkan komentar jika ada kekurangan atau kelebihan.


Jangan lupa tekan tombol favorit, agar tak ketinggalan update.


Selamat membaca, semoga terhibur.


...


"Aku akan bertarung sampai akhir! Akan kupertahankan kota ini!"


Pernyataan yang begitu mengejutkan dilontarkan oleh seorang pemuda. Dia bukanlah penduduk kota itu, dia tidak lahir di sana atau punya keluarga yang tinggal di sana. Tapi, dia rela bertarung sampai titik darah penghabisan, bertaruh nyawa demi sesuatu yang tak ada hubungan dengannya.


Orang aneh! Mungkin itu yang akan dipikirkan oleh orang-orang.


Tapi, memang ada tipe manusia yang rela mengorbankan diri untuk ditegakkannya keadilan. Namanya pahlawan, lebih tepatnya pahlawan sejati.


"Kita buat pilihan ketiga! Pertahankan kota dan dirikan kerajaan kita sendiri!"


Sebuah deklarasi ... namun, sayang tak disambut dengan baik. Tak ada orang yang meresponnya.


"K-kiya, apa maksudmu?" Celia orang berada paling dekat dengannya berkata dengan tubuh yang gemetar serta ekspresi senang yang ditahan.


"Huh ... tentu saja aku tak akan menyerah!" Si pemuda—Kiya menunjuk senyum yang jarang sekali ditunjukkan. Ini adalah momen langka.


Semua orang yang pertama kali melihatnya pun terpana dan perasaan asing kemudian muncul menggerakkan hati mereka semua.


Hati mereka sedang tergerak bukan hanya karena itu. Kota Xely adalah tempat tinggal mereka, dan mereka tak berani memperjuangkannya, malah orang asing yang tak punya sangkut pautnya yang mati-matian dan berjuang paling keras. Mereka malu akan hal itu.


Sepertinya perkataan Kiya berhasil mencapai hati mereka.


"Benar tak peduli seburuk apa pun, kota ini adalah tempat kelahiran kita. Seburuk-buruknya itu adalah tanah air kita! Jika kalian pergi meninggalkannya, apa yang akan diceritakan pada keturunan kita, apa yang dibanggakan? Kita bangsa nomaden yang dulu diusir secara paksa?!" Vlad adalah orang pertama yang kembali bangkit dan langsung menyemangati yang lain agar tak menyerah.


Dampaknya semua orang mulai menegakan kembali kepalanya, tak ada lagi yang kepalanya selalu tertunduk.


Di sisi lain, Viola tampak tersenyum menatap Kiya. Vian yang berada di bahunya pun menyadari. "Itu hal yang mustahil, Viola!" Batin Vian.


"System!"


[Ya, Tuan]


"Sebenarnya, kenapa aku melakukan ini? Ini sangat berlawanan dengan sifatku, kan? Kenapa aku ingin berjuang demi mereka?"


[Saya juga tak mengerti. Kemungkinan Tuan salah menilai diri sendiri]


"Begitu, ya?"


"Jadi, ayo kita bertarung bersama! Jangan biarkan Tuan Kiya bertarung sendirian!" Teriak Vlad mengangkat tangannya.


"Yeah ...!" Diikuti oleh semua orang.


Namun, semangat itu ...


"JANGAN BODOH! KITA TAK AKAN BISA MENANG!" Teriak seorang wanita separuh baya yang keluar dari pengungsian yang berjalan dibantu oleh seseorang dengan usia yang sama.


Di belakangnya sekumpulan orang berjalan mengikuti.


Teriakan itu memecah teriakan lainnya.


"Meskipun Tuan Kiya dan pahlawan Viola ada di pihak kita ... itu masih belum cukup!" Ekspresi wanita itu sungguh gelap, bekas tangisan juga terlihat jelas.

__ADS_1


"Pasti bisa, kita belum mencoba, kan?" Vlad berusaha meyakinkan wanita itu.


Dibantu oleh orang di sampingnya, wanita separuh baya berjalan sempoyongan ke arah Vlad.


Plak ...


"Ini semua salah kalian! Jika saja dari awal kalian tak melakukan kudeta ... semua ini tak akan terjadi!?" Lirihnya dengan berlinang air mata.


"Apa kalian tidak bisa menahannya? Apa kalian merasa paling menderita? Kami juga menderita!"


Vlad hanya terdiam setelah ditampar dengan keras. Sejujurnya, dia tak mengerti semua yang dikatakan oleh wanita itu.


Pada akhirnya pak Will mendekat ke arah keributan, dia dengan pelan menepuk punggung Vlad.


"Akan kuceritakan sebuah cerita!"


Itu adalah cerita yang sama dengan yang diceritakannya pada Kiya.


Akhirnya kesalahpahaman yang berlarut-larut terungkap.


Para penduduk slum area pun syok untuk sesaat. Kenyataan bahwa penguasa mereka lebih biadab dari perkiraan mereka selama ini.


Viola pun tak menyangka hal ini.


"Proses seperti ini memang perlu dilakukan!"


Kiya mendekati si wanita separuh baya yang menangis tersedu-sedu. Kiya lantas menyamakan tingginya lalu mengucapkan beberapa kata ...


"Apa nenek percaya pada saya!"


"Panggil saya bibik Lam, saya belum sangat tua untuk dipanggil 'nenek'!" Bibik Lam menjitak dahi Kiya.


"Baiklah, apa bibik Lam memercayai saya?"


Bibik Lam tak sanggup menjawab, mulutnya terbuka ingin mengatakan beberapa kata, namun tak ada satu pun kata yang keluar.


"Apa bibik Lam juga memercayai saya?" Viola mengikuti.


"N-no-na Viola?"


"Yah ... apa bibik Lam memercayai kami!"


"N-no-na Viola ...!" Bibik Lam merobohkan tubuhnya pada Viola. Dengan lembut Viola pun membelai rambutnya yang mulia sedikit memutih.


"Saya sejujurnya hanya takut. Saya sudah tak kuat lagi melihat teman dan keluarga kami mati satu per satu. Kami tak ingin ada yang mati lebih dari ini! Sudah cukup ... segini saja!" Bibik Lam tak kuasa membendung tangisnya.


Kemudian ... penduduk slum area mendekat ke arah bibik Lam.


"M-m-maaf, kami tak tau semua itu." Penduduk slum area menundukkan kepalanya kepada bibik Lam—pada penduduk kota Xely. Pada diri mereka sendiri.


Viola, Kiya, dan juga pak Will tersenyum melihat pemandangan ini.


"Bibik Lam belum menjawab pertanyaannya. Apa bibik mempercayai kami?" Kata Kiya dan Viola bersamaan.


Ini bukan lagi masalah soal sebuah kelompok yang merasa diskriminasi yang ingin melakukan kudeta. Ini sudah jauh berbeda.


Agak ragu-ragu, bibik Lam menganggukkan kepala yang dikuti oleh semua penduduk kota Xely.


...

__ADS_1


Tepat di depan dinding kota Xely yang sudah menjadi puing-puing. Ribuan manusia berjejer rapi dengan berbagai perlengkapan lengkap, seperti pedang, perisai, dan zirah.


Tinggal beberapa saat lagi matahari akan terbenam, dan pertempuran penentuan ini akan segera dimulai.


Setiap orang memegang senjata dengan erat, tak ada wajah ketakutan atau sejenisnya. Mereka sudah menguatkan tekad.


Apa pun hasilnya, setidaknya mereka sudah berjuang dan itu membuatnya bangga. Terkecuali ...


"Kenapa harga item di shop setinggi langit?" Keluh Kiya dalam hatinya.


[Tuan berhutang 3 miliar poin. Sebelum Anda bisa melunasinya, shop dan penukaran tak bisa diakses]


"Itu sangat kejam, system!"


[Apa Tuan tak menghargai perjuangan saya? Mengajukan sejumlah pinjaman poin pada Administrator adalah hal yang mustahil]


"Administrator? Apa itu sosok yang menciptakanmu?"


[Tidak ada informasi]


"Sangat dirahasiakan, ya?"


[Sebaiknya, Tuan fokus pada perang ini]


Di hadapan pasukan tempur kota Xely, membentang sebuah Padang rumput luas yang menjadi pembatas antara kota Xely dengan hutan. Bekas kerusakan yang diakibatkan oleh serangan Mana Cannon bisa dijumpai di Padang rumput yang memanjang sampai ke kota Xely.


Kiya mengaktifkan Clairvoyance, dia sudah menemukan tanda-tanda prajurit kerajaan yang segera bersikap di sisi luar hutan.


Ini akan menjadi peperangan lahan terbuka.


Pihak kota Xely kalah personil prajurit dan kelengkapan persenjataan. Namun, Kiya sudah menutupinya, dia bahkan sampai berhutang agar semua yang diperlukan bisa didapatkan.


"Hmm ... kuda terbang?"


Pasukan penunggang pegasus terlihat terbang di langit-langit.


"Apa yang perlu ditakutkan? Dengan senjata yang Tuan Kiya bagikan kita pasti menang!"


"Aku merasa satu kerajaan pun akan takluk di tangan kita!?"


Begitulah ... beberapa kata dari para prajurit relawan. Perubahannya sangat drastis, awalnya pesimis menjadi terlalu sombong.


Namun, ada benarnya ... dengan semua senjata itu, satu kerajaan kecil seharusnya takluk. Kiya membeli senjata militer di bumi. Semua persenjataan itu adalah kartu As milik Kiya.


"Hehehe ... padahal beberapa saat yang lalu memegang pedang saja tak berani. Sekarang, mereka bermulut besar!"


[Bukannya itu bagus, Tuan]


"Kita tak boleh meremehkan musuh!"


"Umm ... Kiya, aku masih penasaran dari mana kau mendapatkan kumpulan senjata yang menakjubkan itu?" Kata Celia keluar dari barisannya memangkas jarak dekat Kiya yang berada sendirian di depan pasukan.


"Tak perlu dipikirkan ...! Aku menjelaskannya pun kau tak akan mengerti!?"


"Terserah ...!" Dengus Celia kembali ke barisannya.


[Tinggal beberapa menit lagi, Tuan]


Pasukan besar musuh sudah terlihat memenuhi sisi luar hutan. Meskipun terlampau jauh, bisa terlihat dengan jelas beberapa persenjataan berat menghiasi formasi prajurit musuh.

__ADS_1


"Ini adalah hari dimana Kerajaan Xeliqia akan berdiri!"


__ADS_2