System : Unknown

System : Unknown
Chapter 14 -Aku sudah mengerahkan semuanya! Kuharap ini sesuai dengan rencana-


__ADS_3

Sebelum membaca alangkah baiknya menyentuh tombol like terlebih dahulu jika suka dengan Chapter ini dan tinggalkan komentar jika ada kekurangan atau kelebihan.


Jangan lupa tekan tombol favorit, agar tak ketinggalan update.


Selamat membaca, semoga terhibur.


...


Sorot mata dari pemuda itu sungguh datar, tak ada emosi yang terpancar dari sana. Bisa dibilang dia bukan seperti manusia—robot yang tak memiliki perasaan.


Tumpukan mayat yang dia duduki adalah buktinya, dengan santainya dia mengelap kedua pedangnya yang kotor karena noda darah.


"T-t-tuan R-ranan ... terima kasih s-sudah membebaskan Desa kami dari para bandit!?" Seorang pria setengah baya, terlihat beberapa bagian pada rambutnya mulai memutih, dia berusaha menjadi perwakilan untuk menyatakan rasa terima kasihnya pada pria di depan mereka yang telah menjadi penyelamat.


Ranan menoleh ke arah orang tua itu, dia mengangguk pelan kemudian memposisikan kembali kepalanya, nampak tak peduli. Dia lalu melanjutkan kegiatannya yang sempat terhambat.


Ekspresi orang tua—kepala desa menjadi aneh. Dia tak tahu apa lagi yang harus diucapkannya setelah ungkapan terima kasih. Sebuah kantong berisi uang masih belum berpindah tangan, padahal itu adalah hadiah untuk Ranan. Tapi, Ranan tampak tak punya minat pada hal seperti itu. Dan kepala desa tak berani tuk memberikannya.


Semua orang yang ada di belakangnya mulai mendesak agar imbalan itu segera diberikan.


"Kepala desa, apa yang Anda lakukan? Cepat berikan uang itu!" Bisik seorang pria pada kepala desa.


"Shtttt ... diam, kamu tak mengerti posisiku! Coba kamu gantikan saya untuk memberikannya?"


Pria tadi langsung menggeleng.


"Umm ... T-t-tuan Ra—" Kepala desa memberanikan diri.


Namun, tangan Ranan mengisyaratkan untuk berhenti. Kepala desa itu pun ketakutan setengah mati, dia mengira Ranan marah padanya.


Lalu burung merpati terbang mendekat menghampiri Ranan lalu hinggap di bahunya. Ranan lalu mengambil sebuah gulungan kertas yang terselip di salah satu kakinya dan menerbangkan burung merpati itu kembali. Dia membacanya dan tak ada ekspresi yang berubah dari wajahnya, masih sama saja.


"Huh ... begitu?!"


Kertas di tangannya di lempar dan secara tiba-tiba langsung hangus terbakar menjadi abu. Kemudian Ranan menyarungkan kedua pedangnya kembali dan berdiri mengenakan jubah hitamnya.


"Sampai jumpa."


...


Menikmati pemandangan sore terbenamnya matahari dari ketinggian adalah hal yang paling disukai oleh Kiya. Dia selalu melakukan itu, semua orang sampai tahu apa yang akan dilakukannya pada sore hari.


"Kiya?" Panggil seseorang ikut memanjat ke atap bangunan.


"Hmm ...?" Respon Kiya tampak tak peduli ada orang lain di dekatnya.


"Apa aku boleh duduk di sampingmu?"


"Silahkan ...!"

__ADS_1


Dia—Celia alis matanya berkedut, dia kesal dengan respon Kiya yang acuh. Namun, Celia tetap mengambil posisi duduk di sampingnya dan menikmati pemandangan sore bersama. Yah ... itu yang dipikirkan Celia.


"Hmm~ hmm~ hmm~"


Di antara keheningan yang hanya membuat suasana canggung, Celia bersenandung. Suara merdunya terdengar menghanyutkan semua orang dalam suasana—sedih?


"Kiya adalah orang yang paling bekerja keras! Padahal kau adalah orang asing, tapi kau sampai melakukan sejauh ini untuk kami!"


Akhir-akhir ini Kiya memang sangat bekerja keras lebih dari semua orang. Kiya merasa jika dia santai- santai saja, kemenangan akan semakin menjauh.


"Jangan menganggapku sebagai orang baik! Semua yang kulakukan tidak mencerminkan hal itu!" Kata Kiya datar.


Celia pun tak sanggup menjawabnya. "Tapi, bagiku kau adalah orang yang paling baik, Kiya! Celia hanya mengatakan itu di dalam hatinya.


Memang benar hal yang dilakukan Kiya tak mencerminkan orang yang baik. Namun, itu adalah penilaiannya sendiri. Bagi orang lain seperti Celia, Kiya adalah orang yang paling baik karena dialah satu-satunya orang yang mau mengulurkan tangan saat semua orang baik menutup mata.


Keheningan terjadi lagi ...


Semilir angin tiba-tiba berhembus membuat rambut hitam yang berkilau keemasan karena sinar matahari berayun-ayun, Celia yang sudah memperhatikannya sejak tadi seketika pipinya berubah merah merona. Dia terpesona dengan Kiya.


"Perasaan macam apa ini?" Batin Celia.


Kiya sebetulnya sadar akan orang disampingnya yang menatapnya dengan aneh. Akan tetapi, dia tak punya waktu hanya untuk bertanya "Kenapa?"


"System ... kita harus bersiap-siap, kan?"


[Begitulah, Tuan]


...


Di sebuah ruangan dengan meja panjang besar yang hampir mengisi seluruhnya dari sudut ke sudut, beberapa orang terlihat duduk di setiap sisi meja, jumlahnya ada 6 orang yang sedikit berpencar, tidak duduk bersebelahan.


Pria dengan rambut berwarna cokelat—Vlad mulai memimpin rapat.


"Malam ini adalah persiapan terakhir kita. Pihak kerajaan diperkirakan akan sampai besok, regu pengintai sudah memastikannya!" Kata Vlad membaca secarik kertas di tangannya.


"Lalu ... bagaimana rencana kita?" Timpal seorang pria dengan kaca mata bulat yang dikenakannya.


"Rencananya cukup sederhana, kita akan melakukan strategi pertahanan penuh. Lagi pula kita kalah kualitas dan kuantitas!" Jawab Vlad serius.


Semua pandangan tertuju pada seorang pemuda di ujung meja.


Meskipun tahu jika kalah segala-galanya, tapi tak nampak wajah-wajah gentar pada mereka semua. Itu karena berkat kehadiran seorang pemuda yang matanya terpejam dengan kepala menghadap bawah. Dia tertidur?


Kehadiran sosok pemuda itu—Kiya bagaikan cahaya menerangi kegelapan yang menyelimuti mereka.


"Selanjutnya, jalur mana yang akan digunakan oleh pihak kerajaan?" kali ini adalah pria botak dengan tubuh kekar yang bertanya.


"Kota Xely di kelilingi oleh hutan dan padang rumput. Hutan besar sebelah timur adalah satu-satunya jalur paling aman. Kita bisa berasumsi mereka akan menggunakan jalur itu. Tapi, hutan kecil di sebelah Utara kota juga tak bisa diabaikan!"

__ADS_1


"Hutan kecil di sebelah Utara kota memiliki medan yang tak rata dan cenderung banyak sekali lembah. Memilih jalur itu hanya akan menguras tenaga mereka saja!" Celia pun tak ingin kalah juga untuk menyatakan pendapatnya.


"Khusus untuk hutan di utara, bagaimana jika kita menempatkan pasukan di sana? Pencegahan juga perlu dilakukan!" Usul pria berkaca mata. Dia membenarkan posisi kacamatanya berusaha tuk terlihat keren. Tapi, bagi semua orang di ruangan itu malah sangat absurd.


"Itu tak bisa dilakukan! Kita akan sepenuhnya bertahan. Seluruh area padang rumput yang menjadi pembatas antara kota Xely dan hutan sudah dipasang banyak jebakan. Terlalu beresiko, kemungkinan senjata makan tuan bisa terjadi!?" Riela menyanggah pendapat orang berkacamata itu.


Sebagian orang mulai mengangguk terhadap apa yang dikatakan Riela.


"Penduduk kota Xely kira-kira berjumlah 60 ribu orang, itu sudah termasuk para prajurit, petualang, dan pendatang. Prajurit yang kita miliki berjumlah 20 ribu prajurit, penduduk yang bisa berperang berjumlah 18 ribu, dan jumlah petualang ada 7 ribu. Total pasukan seluruhnya adalah 45 ribu pasukan." Vlad mengeluarkan beberapa kertas yang memuat informasi tentang kekuatan tempur kota Xely.


"Mereka benar-benar terlalu polos! Apa pikir semua penduduk kota setuju? Hanya 25 ribu orang saja yang benar-benar ingin mempertahankan kota ini, selainnya pasti akan berpindah kubu ke pihak kerajaan!"


[Kenapa Tuan diam saja?]


"Sengaja, pihak kerajaan pasti juga tak akan semudah itu percaya! Jadi, tak perlu dikhawatirkan. Dan juga ... itulah kenapa aku mengusulkan untuk bertahan secara penuh agar orang-orang seperti mereka tak berbuat aneh-aneh seandainya melakukan peperangan terbuka."


"Jika ibukota melakukan mengerahkan seluruh pasukan ... bisa dipastikan pihak kita pasti kalah! Namun, kemungkinan menang tetap ada. Kami sangat berterima kasih pada Anda, Tuan Kiya!" Si pria botak menundukkan kepalanya pada Kiya.


Matanya yang terpejam mulai terbuka secara perlahan, beberapa kali dia mengedipkan matanya untuk menyesuaikan pencahayaan di ruangan itu.


"W-wo—ah, umm ... ah? Begitulah, sadar jika akan kalah bila bermain bersih ... kenapa tidak bermain kotor?"


...


Seorang pemuda berada di atas gerbang masuk kota dengan berbagai persenjataan yang berada di sekitarnya, seperti meriam dan sejenisnya. Beberapa orang juga terlihat berpatroli di sekitaran gerbang.


Pemuda itu—Kiya memfokuskan pandangannya pada arah timur tepat pada hutan besar itu.


"A-aku tak menyangka ini! 750 ribu poin lebih aku habiskan untuk membeli beberapa item dan meningkatkan level."


Kiya menganggarkan poinnya lebih ke pembuatan jebakan. Dia sudah membeli beberapa item dari bumi untuk melancarkan rencananya. Orang yang paling berkorban segalanya adalah Kiya, waktu, tenaga, dan uang sudah dia kerahkan.


[Keuntungan yang besar harus disertai dengan modal yang besar, Tuan]


"Yah ... kuharap ini memang berhasil. Aku sudah mulai lelah melakukan ini. Terburuknya aku bisa saja pergi nyelonong begitu saja di tengah pertempuran karena sudah kehilangan minat!"


[Itu artinya Tuan orang yang tidak bertanggung jawab]


"Apa maksudmu? Dari awal ini bukan urusanku, aku hanya kebetulan tertarik dan menyadari keuntungan yang kudapat!"


[Maaf, Tuan]


"Ah, sudahlah! Umm ... system, apakah cewek itu masih berada di kota ini?"


[Viola masih berada di dalam kota]


"Aku juga harus memikirkan kemungkinan bahwa cewek itu akan memihak kerajaan! Pihak abu-abu seperti dia sangat sulit ditebak!"


Ada kemungkinan seperti itu ... hanya seperempat bagian pasukan yang dianggap loyal yang diberitahu soal ribuan jebakan yang terpasang di area padang rumput dan hutan.

__ADS_1


Akan konyol jika salah satu kartu As milik Kiya terbongkar. Usahanya bersama dengan 700 orang lainnya dalam membuat jebakan selama seminggu penuh akan sia-sia.


__ADS_2