System : Unknown

System : Unknown
Chapter 49 -Mimpi atau nyata?


__ADS_3

Angin berhembus sangat kencang di salah satu puncak gunung yang ada di kerajaan Gharagi. Nampak 3 orang pria berdiri di sana, yang salah satunya berdiri paling depan dengan busur raksasa berwarna hijau.


"Aku punya firasat buruk tentang ini!?" Gumam si pria pengguna busur—Arron. Dia merinding memikirkan kemungkinan mengerikan yang akan menimpanya setelah ini.


"Bagaimana? Berhasil?" Tanya pria berambut cokelat—Gouri dengan santai.


"Jika yang kau maksud adalah tembakan itu ... yah, serangannya berhasil. Tapi, jika yang kau maksud adalah membunuhnya ... tentu saja tidak, itu mustahil!" Balas Arron setengah berteriak.


"Huh ... lalu, bagaimana keadaannya sekarang?"


"Tentu saja dia sudah memblokir penglihatanku ...! Huh ... Ashera pasti akan membalas seranganku berkali-kali lipat!?" Arron ketakutan membayangkan semua pikiran liarnya tentang Ashera.


"Tsk ... Iblis itu merepotkan!" Decih Gouri kesal.


Pria yang tak banyak bicara—Ranan hanya menjadi pendengar obrolan mereka. Jangan salah, dia bukan setakat menjadi pengamat. Sebenarnya dia juga sibuk memikirkan sesuatu.


"Bagaimana, Nia?"


"Sesuai dengan perkataan Arron. Ashera sudah memblokir segala sihir sensorik! Keberadaannya saat ini tak terlacak!" Balas sebuah suara yang menggema di pikiran Ranan.


"Apa kita perlu waspada?"


"Tidak, Ashera tak sebodoh itu! Dia tak akan gegabah ... lagipula dia tak bisa bergerak bebas karena bergantung pada si pemanggil."


"Kita hanya bisa menunggu pergerakannya!"


Busur raksasa berwarna hijau yang berada di tangan kanan Arron lenyap menjadi ribuan partikel berwarna hijau yang indah, bersamaan dengan itu ... dia mendekat ke tempat Ranan dan Gouri yang terletak tak jauh di belakangnya.


"Jadi, apa selanjutnya? Dengan begini, lokasi kita sudah diketahui oleh Ashera. Cepat atau lambat, seharusnya dia akan menyerang balik!?" Arron berusaha bersikap serius menekan perasaan takut yang berlebihan.


"Memang itu yang kita harapkan ...! Biarkan saja dia mendatangi kita. Lagipula, para JUDGMENT dan semua orang yang tertarik dengan Bouinty telah tersebar di mana-mana. Ashera akan kesulitan!"


"Kepercayaan diri yang tak berdasar, Gouri! Dia itu Ashera ...?! Kroco seperti mereka tak akan bisa!" Sanggah Arron tak setuju.


Ranan yang tak banyak bicara mendadak ikut angkat bicara.


"Komposisi mereka ada 3 orang!" Kata Ranan dengan wajah yang datar sambil menunjukkan jarinya yang tertekuk 2.


"Oh, si Putri Calsya ... ? Jadi, ada apa dengan wanita itu?" Tanya Gouri dengan wajah penasaran.


"Kita bisa memanfaatkannya ...!"


.


.


.


Calsya PoV


Aku masih beruntung, jika saja tidak ada serangan mendadak itu. Pasti aku sudah memberitahukan semua alasanku, kenapa aku bisa kabur?


Motif ku terbilang sangat sederhana ... tapi, entah kenapa aku enggan untuk menceritakannya. Terlebih ... Kiya juga bertanya ... apa aku membenci keluargaku? Dan apa aku peduli dengan mereka?


Itu pertanyaan yang aneh! Jika dibilang membenci juga tidak, dibilang peduli juga tidak. Aku tak menganggap mereka apa-apa, mungkin mirip seperti orang asing yang tak saling mengenal.


Mereka cuma orang kejam yang sudah membuat saudariku tiada!


"Hei, Putri ... bisa pinjam waktunya sebentar?!


"Hah ...? Eh ...? Whaa ...!" Aku terkejut setengah mati karena Ashera tiba-tiba mendekatiku.


Ashera tiba-tiba mengatakan hal yang tak bisa kuprediksi. Aku berinteraksi dengan Ashera ... seorang iblis.

__ADS_1


"Hmm ... ada apa?" Tengok Kiya ke belakang setelah mendengar teriakanku.


"Cuma pembicaraan di antara gadis. Aku kan juga ingin dekat dengan Putri Calsya!" Kata Ashera tersenyum sambil merangkulku. "Benarkan, Putri?"


"Hahahaha ... iya." Aku cuma bisa tersenyum masam menanggapi hal ini.


Iblis itu memang menyeramkan!


"Oh, yah ... kau gadis sungguhan, Ashera?!" Kata Kiya memutar kembali kepalanya ke depan, melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tuk menyusuri gurun ini.


"Wah ... wah ... padahal cantik begini, dan dikira genderless?" Keluh Ashera menggelengkan kepalanya.


"Siapa yang tahu, kan? Lagipula kau iblis!"


Ashera tak menanggapi kalimat terakhir Kiya, dia menaruh perhatiannya padaku lagi.


"Yah, aku tak suka berbasa-basi! Jadi, langsung saja ..."


Jleb ...


Eh? Apa maksudnya ini?


Sesuatu menembus tubuhku yang diiringi dengan rasa sakit yang luar biasa. Pandanganku mulai kabur dan tubuhku sepertinya akan segera kehilangan kekuatannya dan roboh. Sekilas aku melihat Ashera menjulurkan tangannya ke dadaku.


"Uhuk ... uhuk ..."


Aku muntah darah beberapa kali. Aku tak ingin roboh, aku masih ingin hidup dan ... aku tak ingin mati!


"Maaf, Putri ... aku akan membedah tubuhmu!"


.


.


.


Selayaknya saudara kembar pada umumnya, kami selalu bersama tak pernah terpisahkan. Apa-apa harus ada kak Callista di sampingku, jika tidak ... mungkin aku akan gila.


"Hei, Calsya ...! Ayo serang, apa kamu sudah lelah?"


"Eh? Kak Calista? Ka-kak masih hidup?" Tubuhku bergetar tak tentu, air seketika terkumpul di sudut mataku dan seketika jatuh menyusuri pipi.


Tubuhku bergerak sendiri ingin menghampiri dan memeluknya dengan erat, tak akan kubiarkan ada seorang pun yang mengambilnya dariku lagi.


Slash ...


Ayunan sebuah pedang menghentikanku memangkas jarak lebih dekat lagi ...


"Pertanyaanmu aneh, Calsya! Tentu saja aku masih hidup ..." Balas kak Calista bingung mengangkat sebelah alisnya dan juga mengarahkan pedangnya ke arahku. "Dan kenapa kamu menangis? Maaf, Calsya ... trik seperti itu tak akan berhasil!"


Dalam satu gerakan kak Calista sudah mencapai tempatku dan mengayunkan pedangnya secara vertikal.


Bunyi dentuman dua benda keras yang saling berbenturan sedikit memekakkan telinga.


"Wah ... kamu sudah hebat, Calsya?" Ujar kak Callista yang giginya bergetar karena terlalu mengerahkan tenaganya.


Kami sedang latihan berpedang, tempat ini adalah arena latihan akademi militer di kerajaan Rentweder?


Bagaimana bisa?


"Jangan melamun, Calsya! Kita sedang latihan ... seriuslah!"


Kak Callista secara tiba-tiba raib dari hadapanku. Dan ...

__ADS_1


"Seperti biasanya, aku yang menang! Hehe ... kerja bagus!"


Selanjutnya sari belakang aku merasakan kepalaku di elus-elus. "Kekuatanmu bertambah kuat, Calsya!"


Tanganku seketika kekuatan tenaganya, pedang yang kupegang terjatuh begitu saja. Bibirku juga tak berhenti tuk melengkung ke atas, mata pun sama saja ... air tak berhenti mengalir. Perasaanku tak bisa dikuasai sepenuhnya. Sedih ... bahagia ... aku tak tau pasti.


Aku berbalik dengan cepat dan berusaha melingkarkan tangan ke tubuh Calista, sekilas aku mendengar pekikannya karena terkejut. Tapi, aku tak peduli ... aku tak akan melepaskan pelukan ini, kak Callista tak boleh pergi dari sisiku.


"Calsya ... a-pa maksudnya ini?"


"Kak ... to-long jangan pergi lagi! Jangan pergi lagi ...!" Tetaplah bersamaku! Aku tak bisa hidup tanpa kakak!" Aku menangis sejadi-jadinya.


Namun ... perasaan aneh ini ...


"Yah ... berhentilah munafik, adik bodohku! Kau malah senang jika aku pergi, kan?"


"A-a-pa maksud kak—"


Tubuhku didorong begitu kuat hingga pelukanku terlepas.


"Berhentilah bermuka dua! Melihatmu saja membuatku jijik!"


"A-pa yang ka-kak ka-ta-kan? Aku sa-ma se-kali tak mengerti—"


Wajah penuh ekspresi kehangatan yang selalu kak Calista perlihatkan padaku pada saat ini lenyap tak bersisa, yang ada hanyalah ekspresi yang penuh dengan kebencian yang amat dalam.


"Aku lupa kau memang bodoh! Jadi begini saja ... aku akan menjelaskannya sampai kau paham!"


Slash ... sriett ...


Muncul rasa perih dan nyeri dan nyeri di pipi kananku yang bisa membuatku menjerit dengan keras. Tapi, rasa sakit itu terabaikan dengan aku yang melihat ekspresi kak Callista.


"Aku membencimu, Calsya! Dasar adik munafik yang selalu saja bersikap seolah-olah kau sangat menyayangi diriku ... padahal dalam lubuk hatimu, kau selalu berharap agar aku segera mati?!"


Dia seperti bukan kak Callista ... tapi, dia memang kak Calista.


Sriett ...


Kini pipi kiriku yang tergores oleh logam pipih kepunyaan kak Callista. Meskipun darah terus menetes dari kedua pipiku, tak ada niatan yang muncul tuk menyembuhkannya.


Yah ... semuanya kalah dengan perasaan ini.


"I-i-tu tak be-nar! A-ku sangat menyayangi kak Calista—"


Slash ...


"Sebaiknya kau mati saja!"


.


.


.


Nggak up beberapa hari ... maaf, ya🙏


Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.


Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.


aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.


Dah ... see you

__ADS_1


__ADS_2