
Seorang wanita dengan helaian rambut berwarna biru yang cerah—mencolok, tengah berjalan di suatu lorong megah yang keseluruhan berwarna putih, kecuali lantai. Dengan santai dia berjalan, ikatan rambut kembar di kedua sisi terayun seiras dengan langkahnya. Beberapa makhluk hidup tertangkap oleh visinya, dia yang merasa tak nyaman langsung menaikan tudung jubah putih yang melekat, memasukkan rambut ke dalam jubah, lalu sedikit menunduk. Karena terburu-buru, beberapa helai tak masuk sempurna.
"Pahlawan Fene ..."
Usahanya gagal untuk menyembunyikan identitas, dia dengan pasrah menegakkan kembali kepalanya.
Fene merekahkan senyum terbaik sebagai balasan dengan sedikit anggukan. Namun, sangat jelas ... itu adalah sebuah senyum palsu yang dipaksakan.
Setiap orang yang berpapasan dengannya lantas berhenti terus sedikit menundukkan kepala dan mengucapkan beberapa kata sapaan yang sopan.
Bibir yang melengkung ke atas langsung jatuh ketika para biarawati itu telah lewat. Dengan segera Fene merapikan helaian rambutnya dan membenarkan posisi tudung agar identitasnya kali ini aman.
"Fene ... perdebatannya dengan Viola ternyata sampai separah ini?!"
Tiga orang pria berjalan jauh di belakang Fene, mereka tentu saja menyaksikan sedikit tingkah aneh wanita berambut biru itu. Rekan sesama pahlawan, Ranan, Gouri, dan Arron ... mereka sedikit berbisik.
"Viola bahkan tak datang ke Carialin ... aku sedikit khawatir!"
"..." Pria berambut abu-abu—Ranan memilih diam membisu.
"Hei, Gouri ... bagaimana jika Viola memutuskan berhenti menjadi pahlawan, kalau seperti itu ... Fene akan semakin—"
"Ah, tidak ... itu tak boleh terjadi! Keadaan sedang genting, jika Viola keluar ... kekuatan tempur kita jelas akan menurun drastis. Kita berlima saja belum tentu bisa mengalahkan iblis Ashera dan si buronan!?" Gouri dengan segera menangkis pikiran Arron yang liar.
"Huh ... melihat semua fakta, bagaimana pun kita tak mungkin bisa ... lengkap atau tidak!" Arron berkata dengan nada yang sangat pasrah, dia berusaha bersikap realistis setelah menyaksikan bagaimana kekuatan Ashera. "Menyerah adalah jalan satu-satunya—"
Reflek Gouri mencengkeram kuat kerah jubah berwarna putih yang dikenakan Arron. Gouri jelas-jelas marah. Semua orang yang melihat itu secara tak sengaja dengan sigap mempercepat langkah.
"Harus bersikap realistis, Gouri ... mereka bukan musuh yang bisa kita raih!" Kata Arron memalingkan muka, tak menatap Gouri yang tenggelam dalam kemarahan.
Gouri tak tahan dengan segala ocehan yang menyatakan bahwa kemenangan tak akan pernah ada di pihak mereka. Sebelah tangannya terangkat bersiap menghantam wajah Arron.
"Tarik kata-katamu, dasar pengecut!"
Arron secara rela dipukul oleh Gouri yang mengerahkan segenap kekuatannya. Namun, pria yang dari tadi diam membisu seolah-olah tak ada, bertindak. Ranan menangkap tinju Gouri, hasilnya beberapa helai poni Arron tersibak akibat hembusan angin yang datang dari pukulan Gouri.
"Jangan lakukan hal yang tak berguna ... semua orang ketakutan!" Kata Ranan datar, bola matanya bergerak tak tentu melirik ke sekitar.
Seperti yang dikatakan Ranan ... biarawati, pendeta, maupun anggota JUDGMENT yang tak sengaja menyaksikan kejadian ketakutan, jelas khawatir bahwa perkelahian akan pecah.
"Cih ..." Gouri dengan kesal melepas paksa pegangan tangan Ranan juga cengkraman pada jubah Arron.
Gouri selanjutnya bergegas pergi menyusul Fene, bukan ... tujuan akhir para pahlawan adalah sebuah ruangan.
Arron juga ikut mempercepat langkah, tapi tak secepat Gouri agar jaraknya tetap berjauhan. Ranan kini sendiri ...
__ADS_1
"Ada sesuatu yang aneh, Ranan ... waspadalah!" Niare mengingatkan Ranan.
"Ada yang aneh? Memangnya apa yang bisa terjadi di Carialin—"
BOOOOOMMMMM!
Ledakan yang begitu besar mengejutkan Ranan, ratusan meter di depannya ... sebuah ruangan yang menjadi tujuan mereka, hancur.
Ranan, Gouri, dan Arron secara jelas langsung menuju ke ruangan itu.
"Fene, apa yang terjadi?" Teriak Gouri sedikit panik.
Di sana sudah ada Fene yang membuat barrier untuk melindungi beberapa orang.
"Aku tidak tau, tiba-tiba ada ledakan!"
"Lalu, bagaimana dengan kondisi uskup agung?" Arron juga mulai khawatir.
Kepulan debu material menutupi penglihatan, mencegah mereka berempat menyaksikan kondisi ruangan yang seharusnya adalah tempat pertemuannya.
"Ranan, waspadalah!"
Rentetan peluru sihir melesat secara membabi-buta menyerang apa saja, Fene lantas memperluas barrier hingga dapat melindungi semua orang.
"Apa yang terjadi? Serangan? Ahsera dan si buronan, kah?" Kata Gouri mulai geram, dia telah bersiap bertarung sepenuhnya.
Para anggota JUDGMENT mulai berdatangan.
"Yah, kemungkinan ..." jawab Gouri. "Hei, kalian ... evakuasi semua orang ... serahkan tugas membereskan penyusup pada kami, pahlawan!"
"Baik ... "
Mereka pun menuruti arahan dari Gouri, dan segera bergegas pergi untuk mengevaluasi semua orang.
"A-ku sedikit lupa, bu-ronan itu ... ba-gaimana ciri-cirinya?" Arron berkata sedikit gagap seolah dia ketakutan. Selain, itu manik coklat tanah miliknya bersinar terang.
"Rambut hitam ... jangan bilang—"
SWUSSHH ...
Angin kencang berhembus, debu yang berterbangan langsung lenyap seketika, siluet manusia berdiri.
"Dia ...?!"
"Kiya ...? Lalu, dimana iblis-nya, dimana Ashera?" Ranan mulai memasang sikap waspada dan beberapa sihir pelacak telah diaktifkan.
__ADS_1
"Tak ada ... aku tak merasakan keberadaan Ashera."
Pemuda berambut hitam dengan poni agak panjang sehingga sedikit menutupi mata yang berwarna hitam kecokelatan. Sebilah katana berwarna hitam dengan alur ungu tergenggam, yah ... jelas sekali bahwa itu adalah Kiya—menurut mereka semua.
"Ne, pahlawan ... ayo bermain sebentar!"
.
.
.
"Heh ... aku memang cari mati, rasanya kematian itu menyakitkan, meskipun aku sudah mengalaminya beberapa kali."
"Yah, tugas ini merupakan bunuh diri, sangat pas denganku yang bisa kembali dari kematian."
"Ukh ... rasanya sakit!"
Sebilah pedang menembus perutnya, sedangkan dirinya tak bisa bergerak karena terjebak dalam bongkahan es.
"Tunggu, apa dia selemah ini? Jadi, untuk apa kegelisahan kita selama ini?"
Arogansi mulai muncul ketika lawan mereka menunjukkan tanda-tanda kekalahan, namun ... dia Russil malah senang dengan kondisi ini.
"Thousand Arrow ...!"
Jdarrr ... jdarrr ... jdarrr ...
"Yah, kematian memang sangat menyakitkan, tapi tak apa ... cepat bunuh aku pahlawan!"
"Tak cukup! Fene ... serang dia habis-habisan!"
Formasi lingkaran sihir berbeda-beda warna bermunculan di udara ... Fene merapalkan beberapa mantra sihir serangan berskala tinggi.
Swush ... jdarrr ... boam!
Ruangan yang seharusnya menjadi arena pertarungan mereka luluh lantak dan sebagian kecil area Gereja Suci Carialin hancur berkeping-keping.
"Para uskup telah berhasil diselamatkan." Kata Ranan membawa beberapa orang yang pingsan di pundaknya
"Bagus sekali, ayo serang sampai dia mati!"
.
.
__ADS_1
.
Arc 2 hampir selesai ...