
Sekelompok orang dengan seragam putih-putih sedang duduk manis mengelilingi sebuah meja bundar dengan rongga ruang di tengahnya, sambil mendengarkan presentasi dari seseorang dengan busana yang serupa. Dia berdiri di samping gumpalan air bening besar yang terletak di tengah meja, kedua tangannya bergerak dengan irama yang aneh di depan gumpalan air tersebut.
"Kemungkinan kelompok Dandelina telah di bereskan. Sejak mereka ditangkap oleh iblis itu, tak bisa dilacak lagi!?" Proyeksi suatu tempat tergambar jelas pada gumpalan air tersebut. Jelas sekali itu adalah wilayah Xeliqia dan sekitarnya.
Seseorang mengangkat tangan, "Hmm ... padahal ini adalah rencana yang diajukan sendiri olehnya ... dan berujung kegagalan!"
"Sayang sekali, kita kehilangan salah satu ksatria yang sangat berpotensi."
"Tak perlu memikirkan wanita itu ... dia sudah mati, usaha keras kita di masa lalu untuk menjadikannya ksatria tak memberikan hasil yang sepadan. Juga, kita sudah sangat berharap atas rencana ini ... heh, harapan semu!"
"Xeliqia ...? Kerajaan itu ... bisa dijadikan target, bukan?"
Seseorang menggeleng. "Target apa ...? Meratakan kerajaan itu? Pandangan dunia terhadap kita akan jatuh, kerajaan itu juga tak bisa dikatakan punya hubungan dengan si buronan dan iblis-nya, status Xeliqia masih abu-abu. Sebetulnya rencana Dandelina lah yang paling aman, tapi apa boleh buat ..."
Seseorang berpegang dagu dan menatap pria di tengah meja bundar.
"Penerawanganmu ... apa tak bisa menunjukkan secara jelas kondisi kerajaan itu?"
Dia menggeleng sedikit menyesal, "Aku perlu pemancar ... contohnya Dandelina dan kelompoknya ..."
"Ah, begitu ..."
Seseorang mencibir. "Lupakan rencana mata-mata, kerajaan itu sungguh selektif dalam perizinan keluar masuk!"
"Yang bisa dilakukan adalah menunggu pergerakan dan berusaha mencari celah informasi."
Di saat orang-orang tengah berdiskusi, ada satu orang yang sama sekali tak tertarik dengan bahasan rapat. Meskipun, cuma di dalam pikirannya, dia tak berani untuk menunjukkannya terang-terangan, masalah akan menunggu.
"Sejak awal ini adalah keputusan yang buruk, selalu aku yang susah, hidup tak bisa tenang ... teman-teman tak berguna!" Dia terus memaki di dalam pikirannya.
"Aku harap pemanggil Nona Ashera akan memperlakukan kalian dengan buruk, terutama Larus dan Miris."
.
.
.
Sejak meninggalkan desa kecil yang terletak di kerajaan Gharagi, lewat dua hari Kiya dan rombongan menghabiskan waktu di perjalanan menuju Xeliqia.
__ADS_1
Persis dengan perkataan Ashera, medan yang dilalui tak selalu rata, ada tinggi-rendah—gunung atau lembah. Namun, Kiya tak terlalu ambil pusing. Perjalanan yang kurang efektif dan menyenangkan—bagi Ashera.
Meskipun Ashera terus merengek agar menggunakan sihir teleportasi, Kiya tak goyah, Kiya punya suatu alasan untuk memilih melakukan perjalanan manual daripada yang instan.
Kiya dan rombongan pun sekarang harus melewati sebuah hutan dengan pohon raksasa, tingginya rata-rata 100 meter lebih. Menghemat waktu, Kiya memutuskan terbang di atasnya dari pada lewat jalur darat ... itu pun dengan kecepatan biasa.
"Kondisi abnormal yang terjadi hampir di seluruh Benua Barat? Apakah itu cuma omong kosong belaka?"
« Aku juga tak terlalu mengerti, maksud kata abnormal »
Kiya menerima semacam penjelasan yang sedikit mengejutkan dari manusia bernama Russil. Manusia yang berasal dari benua iblis tersebut yakin bahwa di Benua Barat terjadi sesuatu yang tak beres, tak semestinya ... dan tak ada yang menyadari.
Kini, jarak antara mereka dan Xeliqia semakin dekat. Harusnya hari ini mereka akan sampai dengan kecepatan yang sekarang.
"Persepsiku mengatakan bahwa yang dimaksud 'abnormal' adalah orang itu ... biang masalah dari Xeliqia!?"
« Umm ... jika begitu, orang itu pasti sedang merencanakan sesuatu yang berdampak buruk bagimu »
"Yah, pasti ... aku sangat ingin membunuh orang itu!"
Perasaan itu tersalurkan pada orang yang terbang menunggangi seekor Wyvern, Kiya secara tak sadar membuat ekspresi wajah yang sedikit mengerikan. Hal tersebut membuat dia—Calsya gelisah. Dia lantas mengarahkan salah satu monster jinakkan Ashera tuk menempelkan jarak dengan Kiya.
Kiya terkesiap dengan panggilan Calsya yang pelan, dia mengetur nafas sejenak dan menoleh ke arah Calsya.
"Begini ... hiraukan saja, aku punya semacam kemampuan untuk ..." Kiya tiba-tiba lupa harus berkata apa. "Umm ... namanya Parallel Mind, pikiranku ada banyak ... dan, yah, aku kadang bertengkar dengan pikiranku sendiri!?" Jawab Kiya membuang muka, dia ragu jawabannya akan dapat meyakinkan Calsya.
"Be-gitu, yah, aku tak terlalu mengerti, tapi syukurlah."
« Jawaban ngawur, tapi masuk akal. Ngmong-ngmong, Shop tak mencantumkan Skill Parallel Mind, yang ada adalah Mind Acceleration »
"Ah, si Raphael ... dia sengaja membatasi beberapa kemampuan."
Sibuk dengan pikirannya, Kiya tiba-tiba dikejutkan oleh sesuatu.
"Oi, Kiya ...!" Ashera tiba-tiba muncul di depan Kiya dan juga Calsya.
Hal itu sontak membuat Wyvern yang ditunggangi Calsya terkejut dan hampir menyembur Ashera dengan api.
"Heh ... tak bisakah kemunculan lebih tenang sedikit, aku hampir menyerangmu dengan kekuatan penuh!?" Cibir Kiya dengan salah satu tangannya yang sudah teraliri petir.
__ADS_1
"Serangan seperti itu tak cukup untuk membunuhku." Dengus Ashera.
"Ok, ok ... jadi, ada apa? Jangan bilang kau mengejutkanku hanya untuk omong kosong tak berguna!?"
"Ini bukan omong kosong ... Emm, begini ... ini tentang penduduk Xeliqia yang akan mengadakan pesta besar-besaran untuk menyambutmu!" Kata Ashera sangat antusias.
"Yah, tak terlalu berguna ... tapi, pesta penyambutan?" Kiya sedikit menyipitkan mata. "Huh ... berarti kau tadi ke sana dan memberitakan tentang kedatanganku?"
Ashera mengangguk nyengir.
"Terserahlah!"
Kiya berlalu terbang melewati Ashera yang masih setia menunjukkan deretan gigi putih. Calsya dan 5 mantan anggota JUDGMENT terbang mengekori Kiya.
"Eh? Reaksimu dingin sekali! Apa kau tak bisa senang?" Protes Ashera mengetahuinya bahwa Kiya seakan acuh terhadap berita yang telah disampaikan.
Kiya tetap mengacuhkannya ...
"Hei, dengarkan aku!" Teriak Ashera.
"Huh ... punya bawahan tak membantu sama sekali, malah bisanya bikin repot!" Kiya menghela nafas.
Sebentar lagi ... manusia, pahlawan Xeliqia, buronan peringkat S dan Bounty tertinggi dengan nama Azkiya tak akan ada, dia mati.
"Aku harus membuang identitas lama."
« Keuntungannya kau akan lebih tenang dan damai ke depannya »
Pelangi setelah badai ... namun, bagi Kiya adalah sebaliknya ... setelah masa-masa santai, hari-hari sulit tak bisa menikmati hidup akan segera menerjang.
"Huh, merasakan kedamaian sebentar tak lah buruk ... kuharap si Russil berhasil mengerjarkan tugasnya."
.
.
.
See you next chapter
__ADS_1