System : Unknown

System : Unknown
Chapter 40 -Pembantaian sepihak-


__ADS_3

Biasakanlah menyentuh tombol like terlebih dahulu sebelum membaca. Itu cara termudah untuk mengapresiasi tulisan author.


Selamat membaca.


.


.


.


Seorang gadis yang kelihatannya sangat pemalu mencoba membeli buah-buahan segar. Dia selalu tertunduk menyembunyikan wajahnya di balik jubah. Namun, sekilas terlihat rambut berwarna perak dan mata yang berkilauan merah nampak sangat indah, berbanding terbalik dengan jubah lusuh yang dia kenakan.


Si penjaga toko pun sampai tertegun. Siapa gerangan Ini? Pikirnya.


"Nek, saya beli apelnya!?" Kata gadis itu yang tak lain adalah Calsya menunjuk sebuah keranjang berisi apel.


"Eh? Ah, maaf Nona. Saya tadi melamun, mau beli apa?"


"Apel—"


Angin mendadak berhembus dengan kencang, menerbangkan sesuatu yang dianggap ringan termasuk tudung jubah Calsya. Namun, dia dengan sigap mengenakannya kembali, si nenek penjaga toko tak punya kesempatan untuk bisa melihat jelas wajahnya, selain rambut perak yang mencolok.


Calsya buru-buru mengambil apel itu dan bergegas pergi, tapi tak disangka ... nenek itu menahan tangannya.


"Tunggu sebentar, Nona!"


"Huh? Ada apa? Maaf, tapi saya buru-buru." Kata Calsya dengan gugup berusaha melepaskan diri.


Nenek itu tak melemaskan pegangannya justru memperkuatnya.


"To-long tunggu sebentar!" Tahan nenek itu.


Calsya dengan panik berusaha melepaskan diri, tapi dia tak bisa melakukannya.


"Lepaskan dia, Nek!" Kata seseorang tegas.


Nenek itu sontak langsung melepaskan Calsya, tubuhnya bergerak dengan sendirinya mengikuti perkataan orang tadi.


"Kiya ..!?" Calsya sangat senang mengetahui bahwa orang itu adalah Kiya.


Kiya tak meresponnya, dia fokus pada si nenek.


"Tolong lupakan apa yang nenek lihat tadi!" Perintah Kiya.


"Baik!" Balas si nenek dengan tatapan mata yang datar.


Selanjutnya Kiya menarik Calsya ke tempat yang lebih sepi, dia menuju ke sebuah gang yang tak jauh dari sana.


"Huh ..." Kiya menghela nafas. "Kau ceroboh, Putri!" Lanjut Kiya menatap Calsya dengan tajam.


"Ma-maaf ...!" Calsya menundukkan kepalanya takut.


Kiya menghela nafas sekali lagi, dia kemudian berjalan keluar gang dan mencoba melihat kondisi. Kiya berulang kali melihat ke arah langit. Calsya yang memerhatikannya sedikit bingung dengan Kiya yang terus-menerus menatap langit.


"Ada apa di langit?"


Calsya mencoba melihat ke arah yang sama. Dan tentu saja tak menemukan apa-apa selain langit berwarna biru laut dengan bola api yang terus memancarkan panas—Kalma dan Palma.


Dia ingin bertanya, namun sayangnya ketakutan lebih besar dari rasa penasarannya.


"Sebentar lagi ...!" Kiya tersenyum jahat.


.

__ADS_1


.


.


Calsya PoV


Tengah hari, di gelanggang Festival Darah atau bisa dikatakan sebuah arena gladiator antara para tahanan dan penduduk sipil.


Tradisi ini hanya ada di kerajaan Rentweder, tentu saja Festival ini di selenggarakan di seluruh penjuru kerajaan. Akan tetapi, kota Ran'gild sedikit istimewa, saat festival akan ada satu acara khusus ... itu merupakan daya tarik utama kota Ran'gild untuk menggaet orang-orang untuk berkunjung ke kota ini.


Itu adalah gladiator ... pesertanya adalah para tahanan dan para penduduk sipil atau siapa pun yang berminat.


Aku lupa memberitahu ... di kota Ran'gild terdapat fasilitas penjara terbesar di kerajaan. Setiap kota kadang mengirimkan tahanannya ke sini. Seharusnya jumlahnya ada belasan ribu, itu belum termasuk di luar gladiator ... yang setiap orang bebas membunuh seseorang yang dianggap penjahat. Dan itu akan langsung berubah menjadi nol setelah festival ini selesai.


Kota ini akan dipenuhi oleh cairan merah kental dan bau amis, itulah namanya festival darah.


"K-kiya, apa kau yakin dengan apa yang kau katakan tadi?" Kataku agak cemas pada orang di sampingku. Soalnya ... tindakannya akan sangat berpengaruh pada masa depan kami.


"Tentu saja!" Balasnya cepat. Dia benar-benar yakin.


Aku tak habis pikir, apa yang sebenarnya ada di pikiran pria di sampingku ini?


Dia bilang akan menunjukkan identitasnya saat Festival. Itu adalah tindakan gila. Itu hal yang bodoh, apa dia tak mengingat kondisinya?


Seluruh kota akan memburunya, yah, aku memang tau dia kuat. Seharusnya seluruh penduduk kota ini tak akan bisa menangkapnya. Yang menjadi permasalahan adalah keberadaan kami, jika benar Kiya akan membuat kerusuhan. Sudah dipastikan ... perjalanan kami selanjutnya akan sulit karena terus-terusan dikejar oleh "JUDGMENT". Kami masih beruntung para pahlawan tak akan ikut campur.


"Dia keras kepala, sejenak sendiri, beraninya mengancam ... pokoknya aku ingin sekali membunuhnya. Tapi ... ahhh. Kuharap dia mati, supaya aku bebas!"


"Hei, jika aku mati ... nasibmu akan tamat di sini!? Heh ... seharusnya kau mendoakan yang baik-baik, kan?" Katanya tiba-tiba, dia menatapku sangat tajam.


Aku sontak berusaha mengalihkan pandanganku ke arah lain, sebisa mungkin aku ingin menghindari tatapannya, itu sangat menakutkan!


" ... Selamat datang para penonton atau peserta, saya selaku—"


Acaranya akan segera dimulai.


Puk ...


Aku sedikit tersentak saat merasakan sensasi sentuhan di pundakku.


"Jaga dirimu baik-baik di sini!" Kata Kiya padaku sebelum dia melompat ke arena.


"A-pa maksudnya?"


Sekarang dia sudah ada di arena bersama dengan ribuan orang lainnya. Sesuai yang dikatakan pembawa acara, ini adalah pertempuran besar dan tak ada istilah bekerjasama, Kiya dan semua orang bekerja sendiri-sendiri.


Di dalam arena dengan bentuk menyerupai mangkok ini, di sisi lain arena, gerbang mulai di buka. Gerombolan orang berjalan keluar dengan kedua tangan yang diborgol. Tampilan mereka benar-benar sangar, posturnya juga besar-besar. Yah ... para tahanan itu kuat.


Sedangkan para peserta yang bertindak sebagai algojo tak gentar melihat perbedaan fisik yang ada, belum ada yang merasa takut dan hendak melarikan diri dari sana karena inilah waktu yang tepat. Jika tidak ... mereka mungkin akan kesulitan kabur jika acaranya sudah dimulai.


Kiya sendiri dengan santai memerhatikan sekelilingnya, bukan hanya sebatas para tahanan itu, tapi, semuanya. Para penonton pun juga tak luput dari perhatiannya.


Pandangan kami tak sengaja bertemu.


Jdarr ...


Aku dikejutkan oleh suara ledakan. Ternyata sudah ada peserta yang melakukan serangan pembuka padahal belum sah dimulai.


"Wah ... ternyata para peserta sudah tak sabar!?Jadi, tunggu apa lagi ... bunuh semua penjahat!"


Ding ...


Sebuah lonceng berbunyi dengan keras, pertempuran ini sudah bisa dimulai. Kiya pun langsung melancarkan aksinya.

__ADS_1


Aku cuma bisa menempelkannya kedua tanganku dan berdoa untuk keselamatannya.


.


.


.


"Hei, hei ...! Bukannya itu buronan 200 juta itu?! Ciri-cirinya sama dengan yang ada di poster!?"


"Bukannya ini sangat bagus, pihak kerajaan berjanji akan memberikan 200 juta Arial dan mengabulkan sebuah permintaan pada orang yang berhasil membawanya ke hadapan Raja, hidup atau mati."


Beberapa orang di dekatku langsung menyadari identitas Kiya tepat setelah dia memperlihatkan wujudnya. Semua perhatian langsung tertuju pada Kiya semuanya.


Acara gladiator ini akan berubah ...


Syutt ... syutt ... jdarr ... jdarr ...


Salah seorang penonton menembaki Kiya dengan panah sihir. Namun, hal itu tak cukup. Kiya dengan mudah menghindarinya.


"Cih ... sialan!" Umpat kesal orang itu.


Slash ... srett ...


Sebuah pedang terlempar menuju ke arah orang tadi, dan ...


"AAAAAA-RGHHH ...!"


Mataku seketika melebar dan mulutku tak bisa menutup setelah melihat pemandangan ini. Kiya tanpa rasa kasihan melemparkan sebuah pedang milik peserta lain yang dia rebut, itu memotong lengan orang itu.


Aku tak berani melihat kucuran darah itu. Ini sedikit membuatku mual. Baru kali ini aku melihat hal seperti ini depanku seumur hidupku dan tepat di hadapanku sendiri.


"A-pa dia memang seperti ini?"


"Hiyya ...! Matilah ...!"


Semua orang mulai mencoba menyerang Kiya.


Ini akan menjadi pembantaian sepihak.


Belasan orang yang bahkan jaraknya masih terpaut jauh dari Kiya secara mengejutkan mati dengan cara yang berbeda-beda. Otomatis yang lainnya lebih waspada dan menunda serangannya.


"Apa yang terjadi? Kenapa mereka mati?"


Memanfaatkan kelengahan semua orang, Kiya melancarkan sebuah serangan ke orang yang paling dekat dengannya.


Jleb ...


"C-ce-pat sek—"


Orang itu bahkan tak menyadari bahwa Kiya sudah berpindah tempat. Bermodalkan tangan kosong Kiya berhasil melubangi tubuh orang itu.


Festival Darah terburuk dari yang terburuk.


.


.


.


Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.


Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.

__ADS_1


aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.


Dah ... see you


__ADS_2