
Situasi bertambah buruk setelah hancurnya kota Ran'gild. Pihak kerajaan Rentweder melaporkan kasus itu ke Federasi Dunia atas laporan bahwa manusia bernama Azkiya sudah melenyapkan kota kecil itu. Padahal fakta di lapangan tidak mengarah pada Kiya sekalipun.
Sekarang bouinty-nya Kiya langsung melesat menjadi 7 M dengan tambahan hadiah satu permintaan. Buronan peringkat S kerajaan berubah menjadi buronan peringkat S Benua. Peningkatan itu hanya berselang 3 hari setelah kota Ran'gild hancur.
Ruang gerak Kiya pun terbatas dan harus sangat berhati-hati.
.
.
.
Di sebuah gua yang terletak di perbukitan batu yang ada di tengah-tengah sebuah padang pasir. Terdapat dua orang, pria dan wanita.
Gua itu tidak gelap sama sekali karena terdapat banyak sekali bebatuan bercahaya yang menerangi seisi gua.
"Ini semua salahmu, Ashera!" Kiya bicara pada sebuah katana.
Katana yang berstandar di dinding gua lalu berubah menjadi wujud seorang gadis.
"Aku melakukan ini juga untukmu! Aku berusaha untuk melunasi utang poinmu, apa aku salah?" Si gadis yang tak lain adalah Ashera mendekati Kiya dari belakang lalu memeluknya dan Ashera menopangkan kepalanya di pundak Kiya.
"Aku tidak tau!?"
"Heh ... benarkan? Kondisi ini malah sangat bagus. Kau jadi punya alasan untuk membunuh mereka!"
"Kau selalu menggodaku untuk memusnahkan seluruh manusia, sebesar itukah kebencianmu pada manusia?"
Menanggapi perkataan Kiya, Ashera melepaskan pelukannya dan berdiri memegang katana-nya.
"Tentu saja. Aku akan menghabisi semua manusia, akan kubalas kekalahan kami pada perang di masa lalu!" Ashera mengayunkan katana ke arah leher Calsya yang tertidur pulas. "Kau tak bergeming? Apa aku boleh membunuhnya?"
"Terserah!" Jawab Kiya sambil mengalihkannya pandangannya ke arah lain.
"Jangan menyesal, ya!?"
Trangg ...
Sebuah aura hitam muncul dan menghentikan serangan Ashera.
"Sesuatu yang ada pada tubuhnya terlalu merepotkan!" Ashera tersenyum kecut. "Seharusnya ini sudah membuktikan bahwa manusia adalah ras yang perlu dibasmi! Kami para iblis dan demon tak mungkin berbuat seperti ini pada keluarga sendiri!"
"Mungkin kau benar?!" Jawab Kiya agak ragu.
"Baiklah, baiklah ... kalo begitu, tak perlu memusnahkan seluruh manusia, perlakuan khusus untuk kerajaanmu ... bagaimana?" Tanya Ashera dengan senyum yang merekah. Dia sangat yakin bahwa Kiya akan menyetujui usulannya.
"Aku perlu memikirkan hal ini terlebih dahulu."
.
.
.
Di sebuah kawah yang terbentuk dari hasil ledakan, terlihat jelas beberapa orang berdiri di tepiannya memandang luasnya kawah yang memiliki luas yang sama dengan kota Ran'gild. Dalam kegelapan malam mereka memerhatikan dengan seksama seluruh area itu.
__ADS_1
"Bekas aura ini ... tidak mungkin, kan?" Kata seorang pria dengan zirah berwarna perak.
"Akan telusuri seluruh wilayah ini!" Timpal pria lainnya yang mengenakan zirah dengan warna yang sama. Kemudian dia melompat menuju ke dasar kawah.
Wushh ...
Tepat saat dia baru menginjakkan kakinya, muncul sebuah lingkaran sihir raksasa berwarna ungu. Dari sana ditembakkan serangan-serangan sejenis Mana Bullet. Pria itu berhasil menghindar kemudian dia kembali lagi ke tempat rekannya berkumpul.
"Ada jebakan seperti ini, ya?"
"Fokuslah kalian! Ini akan merepotkan!" Seru satu-satunya wanita di kelompok itu yang sudah waspada terhadap apa yang muncul selanjutnya.
Syutt ... Syutt ... Syutt ...
Mana bullet melesat sangat cepat dari lingkaran sihir itu membidik mereka.
Jdarr ... Jdarr ... Jdarr ...
Ledakan yang dihasilkan cukup besar, mereka sempat menghindar tapi gelombang kejut dari ledakannya membuat mereka kesal.
"Cih ... beraninya menyerang dari sana! Keluar lah iblis, atas nama Dewi Aria, kami akan memusnahkanmu!" Kata pria lain dengan warna zirah yang berbeda dari pria lainnya, berwarna hitam dengan corak putih.
Dari lingkaran sihir keluarlah beberapa sosok yang memiliki tubuh sepenuhnya hitam dengan corak berwarna ungu. Tanduk tunggal di dahi dan sepasang sayap hitam yang cukup besar.
"Benar-benar iblis! Jadi, buronan itu memang menghancurkan kota ini untuk memanggil para iblis itu!"
Semuanya langsung ditelan dengan kemarahan.
"Biar aku yang mengurus ini! Lagipula mereka hanya iblis tingkat rendah!?"
Syutt ... Syutt ... Syutt ...
Para iblis lalu terbang melesat dengan cepat ke arah kelompok kecil itu. Semuanya cuma tersenyum, semua senjata sudah dikeluarkan.
Kemenangan tentu saja berpihak pada ksatria-ksatria yang tergabung dalam kelompok JUDGMENT, ksatria elit di bawah naungan Gereja suci.
Para iblis itu cuma dijadikan sambutan untuk awal menunjukkan eksistensi ... bahwa iblis sudah turun kembali ke dunia.
.
.
.
Di sebuah dungeon yang tidak diketahui.
"Hmm ...? Si Ashera, sekali terpanggil sudah membuat kegaduhan ini!" Kata seorang pria dengan rambut abu-abu panjang dengan mata biru.
Senyuman tiba-tiba muncul di wajahnya, dia baru saja terpikirkan sesuatu yang lumayan lucu.
"Ashera, Ashera ... apa ini akan jadi peperangan jilid 2 bagi kita? Huh ... biarlah, tujuan kita sedikit berbeda!"
Beberapa ekor monster mendekat ke arahnya, dia mengabaikan itu. Masih dengan santai duduk.
"Tamer!"
__ADS_1
Secara mengejutkan para monster itu tertelan ke bawah tanah kemudian beberapa saat kemudian muncul kembali dengan kondisi yang berbeda.
"Evolved!"
Kondisi para monster berubah drastis, tubuh mereka semakin membesar dan aura hitam menyelimuti tubuh mereka.
"Menyiapkan pasukan besar memang melelahkan! Hmm ... sepertinya aku harus beristirahat sejenak, tak perlu buru-buru."
Dalam satu jentikan jari dia sudah berpindah tempat ke suatu kota di tengah-tengah keramaian orang dan tak ada satu pun yang menyadari kemunculannya yang tiba-tiba.
"Lihatlah mereka semua, tersenyum bahagia! Mereka semua memang harus dimusnahkan! Kita sudah berusaha payah menciptakan kedamaian ini, tapi apa yang mereka berikan? Mereka menipu kita dan memanfaatkan kita demi kepentingan mereka sendiri. Aku sendiri yang akan menghancurkan perdamaian ini!"
Dia adalah orang yang sama, dialah dalang dari semua masalah di kota Xely ... berbekal dengan kemampuannya yang bisa menirukan wujud orang lain. Dia berusaha agar setiap kerajaan terpecah-pecah.
Tujuan orang itu hanya ingin dunia ini hancur tak bersisa, menurutnya Arias beserta isinya sudah menghianati dirinya juga dengan teman-temannya.
.
.
.
Burung besar berwarna biru terbang di langit malam menembus awan, pemandangan langit penuh dengan bintang pun tak terelakkan. Di atasnya duduk seorang gadis menikmati pemandangan malam yang indah itu.
"Ada seseorang yang memanggil iblis, dan yang terpanggil bukan iblis sembarangan. Iblis tingkat tinggi, Ashera. Iblis yang sama dalam peperangan ratusan tahun silam!"
"Yah, itu memang perkembangan yang sangat buruk!? Tapi, tak perlu khawatir ... kita pasti akan mengirimnya kembali ke neraka!" Jawab si burung biru, Vian.
"Sepertinya tak semudah itu, Vian!" Kata Viola agak lesu.
"Kamu harus fokus pada tugasmu, Viola! Jangan libatkan perasaan, siapa pun yang mengancam dunia harus dibereskan!"
Setelah pengumuman bahwa manusia bernama Azkiya menjadi buronan seluruh kerajaan dan dalang dibalik hancurnya kota Ran'gild. Viola benar-benar syok dan tak mampu mempercayainya sama sekali.
Dia sudah bertukar kata dengan Kiya, dan Viola bisa menyimpulkan bahwa Kiya adalah orang yang baik, meskipun dia orang yang kejam terhadap musuhnya.
"Aku tak mempercayai ini! Kiya tak mungkin melakukan hal seperti itu, pasti ada sesuatu!" Viola masih kekeh terhadap keyakinannya.
"Percuma saja kau membelanya! Semua orang menganggapnya seperti itu! Fokuslah, pertemuan kali ini akan membahas sikap naifmu itu!"
Viola mengepalkan tangannya kuat-kuat, dia ingin membela Kiya, tapi tak punya cukup keberanian untuk menentang seluruh benua.
"Kiya, maaf jika kita bertemu ... kita akan bertarung!"
.
.
.
Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.
Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.
aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.
__ADS_1
Dah ... see you