System : Unknown

System : Unknown
Chapter 13 -Segala persiapan-


__ADS_3

Sebelum membaca alangkah baiknya menyentuh tombol like terlebih dahulu jika suka dengan Chapter ini dan tinggalkan komentar jika ada kekurangan atau kelebihan.


Jangan lupa tekan tombol favorit, agar tak ketinggalan update.


Selamat membaca, semoga terhibur.


...


Dari salah satu bangunan tertinggi, Kiya menghadap ke arah sang surya yang baru bangun dari tidurnya. Cahaya yang dipancarkan sedikit hangat. Kiya pun merasa tenang karenanya.


"System, ini menjadi semakin ruwet!"


[Saya yakin Tuan tetap bisa menyelesaikannya]


Rencana yang sudah dipikirkan matang-matang kadang tak bisa selalu mulus, ada saja rintangannya. Seperti yang Kiya rasakan saat ini.


Awal perkiraan hanya perang sipil dalam skala kecil menjadi perang sipil skala besar. Ada kemungkinan kota Xely akan diserang oleh satu kerajaan.


Rentweder tak main-main soal pemberontakan.


"Duke sialan itu ...! Heh ... jika bertemu lagi, akan kusiksa dia habis-habisan!"


"Oi ...! Kiya, kau tak ikut sarapan?" Teriak seseorang dari bawah melambai-lambaikan tangannya.


"Kalian duluan saja! Aku harus melakukan sesuatu!"


"Ahh ... baiklah, tapi jangan lupa sarapan, ya?!"


Suara itu menghilang, Kiya kemudian melesat pergi dari bangunan itu menuju ke arah dua matahari kembar terbangun dari tidurnya.


Beberapa saat berlari Kiya pun sampai di gerbang masuk kota. Sekarang gerbang itu tertutup rapat. Kota Xely mengasingkan diri dari dunia luar.


Berdiri di atas gerbang, Kiya melihat ke kejauhan di ufuk timur. Pemandangan hutan belantara yang bisa terlihat sampai batas penglihatannya.


"Hmm ... itu adalah hutan dimana aku pertama kali tiba di dunia ini. Ternyata cukup besar, ya?" Kiya memegang dagunya terlihat berpikir.


"System, apa ada jalur lain untuk menuju ke kota ini?"


[Jalur lain tentu saja banyak Tuan. Hutan itu merupakan jalur teraman, jika ingin membawa pasukan yang besar seharusnya pasukan dari ibukota akan melewati hutan itu]


"Begitu, ya? Baiklah, berpikir dari sudut pandang musuh.


Duke itu pasti sudah tau kemampuanku ... nah, aku juga sedikit licik. Pasti Duke itu sudah memberikan semua informasi tentangku, pihak kerajaan pasti akan berpikir dua kali untuk melewati jalur itu karena aku pasti akan menyiapkan jebakan. Umm ... seharusnya pihak kerajaan pasti akan mengirimkan pasukan secara bertahap, tidak langsung menggunakan satu serangan besar!"


[Jika kualitas para prajurit yang mereka gunakan sama dengan prajurit kota ini. Seharusnya Anda tak kesulitan jika hanya membantai puluhan ribu pasukan]


"Pasti ada gap antara prajurit kota ini dengan ibukota, system! Kualitas prajurit yang dikirimkan pasti lebih baik!"


[Kemungkinan pihak kerajaan akan memanggil salah satu pahlawan juga besar, Tuan]


"Yah ... itulah yang aku takutkan. Viola masih abu-abu, aku tak tau dia akan memihak siapa! Aku saja tak yakin bisa mengalahkan Viola, apalagi akan ada pahlawan lain. Kemungkinan terburuk aku harus melawan dua orang pahlawan! Ahhh ... apa-apaan ini?" Kiya mulai kesal, dia mengacak-acak rambutnya lalu menggigit jempolnya sampai berdarah, dia tampak berpikir sangat keras.


Kiya lalu membuka status-nya. Jari telunjuknya membentuk huruf O di udara.

__ADS_1


...Nama : Kiya...


...Level : 37 (0/1438)...


...Ras : Manusia...


...HP : 1438/1438...


...MP : 719/719...


...SP : 690/719...


...Kekuatan : 1002...


...Pertahanan : 1007...


...Kecepatan : 1004...


...Ketahanan : 1001...


...Sihir : 1008...


...Skill :...


...*Hide...


...*Lightning magic(tahap awal)...


...*Thread manipulation...


...Blessing : System...


...Poin : 1040.560...


...Penyimpanan :...


...*Jarum...


...*Benang baja...


...*Pedang...


...*Jubah putih...


...*Sisa harta Duke...


"Aku menggunakan hampir lebih dari 200 ribu poin untuk membeli satu set jarum, benang, skill manipulasi benang, dan breaker. Pemasukan lebih besar dari pengeluaran, sampai sini ... semuanya baik-baik saja! Lalu ... apa dengan 1 juta poin cukup untuk mempertahankan kota ini?


[Seharusnya sudah cukup, Tuan]


"Tapi, aku ingin menekan pengeluaran poin-ku!"


[Tapi, Tuan nanti akan mendapatkan berpuluh-puluh kali lipat]

__ADS_1


"Jangan terlalu percaya diri, system! Aku itu punya masalah soal keberuntungan. Rencana yang sudah aku atur selalu berantakan oleh situasi-situasi yang tak terduga!"


Kiya fokus memperhatikan status-nya.


"Hmm ... kapan terakhir kali aku meningkatkan level dan stat? Apa sebaiknya tingkatkan ke level 100 lebih, ya?"


[Saya menyarankan, Tuan]


"Baiklah, aku harus memikirkan beberapa kemungkinan terburuk!"


...


Beberapa hari terlewati sejak penguasa kota ini meninggal dan kekuasaan berpindah tangan. Suasana kota berubah drastis, tak ada perasaan kebahagiaan yang terpancar dari warga kota, yang ada hanya ketakutan.


Untuk membuat semua warga kota menurut, kelompok kudeta Slum Area menggunakan dua cara yaitu menyuap dan ancaman.


Sepertiga dari harta Duke dihabiskan hanya untuk memastikan para petualang dan prajurit kota Xely yang tersisa untuk membantu mempertahankan kota. Sisanya menggunakan ancaman untuk menurut, kebanyakan adalah warga sipil yang menggunakan cara ini.


Sisa harta rampasan di gunakan untuk mempersiapkan persenjataan. Kota Xely sudah benar-benar terputus dari dunia luar. Melakukan perdagangan untuk membeli logistik perang tidak bisa dilakukan, jadi terpaksa mereka harus memanfaatkan sumberdaya yang ada di sekitar semaksimal mungkin. Tak ada yang tau kapan pihak kerajaan akan melakukan serangan.


Kemenangan kota Xely hanya 30% itu sudah ada Kiya yang membantu mereka. Jika tidak ... 10% pun tak ada kemungkinan untuk menang.


Lupakan semua itu ...


Di salah satu kamar penginapan, seorang gadis berambut hitam dengan pupuk mata biru terus-terusan menggigit jarinya sambil melihat secarik kertas di tangan kirinya. Tulisan pada kertas itu sudah membuatnya terjaga semalaman.


"A-pa yang harus kulakukan? Pihak kerajaan tak menggubris usulanku untuk berunding dengan pihak kota Xely untuk menyelesaikan masalah ini dengan damai. Mereka bahkan mengancamku ..."


"Tenang saja Viola! Aku akan menghabisi setiap orang yang ingin menyakitimu!" Kata seekor burung biru kecil yang hinggap di bahu kirinya. Vian bisa merubah wujudnya menjadi burung kecil.


"Kamu tak perlu sampai seperti itu, Vian! Aku bisa menjaga diriku sendiri!" Viola berusaha menenangkan Vian yang termakan oleh amarah. Vian memang akan sangat marah jika ada yang berani menyakiti Viola.


" ... Pahlawan Viola, Anda diminta untuk segera meninggalkan kota itu jika menjadi pihak netral. Jika tidak, maka Anda akan dianggap memihak kota Xely.


^^^-The king-^^^


Viola juga sudah mengirimkan beberapa surat ke kerajaan lain untuk meminta mereka menjadi penengah atas masalah ini. Tapi, semuanya menolak, alasannya pun sama. Kami tak ingin mencampuri urusan internal kerajaan lain.


Viola sudah kehabisan ide, dia tak tahu lagi untuk mencegah pertumpahan darah yang akan segera terjadi.


"Kemungkinan pahlawan yang dipanggil pihak kerajaan adalah dia, Viola! Kiya dan yang lainnya tak akan bisa menang!" Kata Vian dengan nada serius.


"Ya ... aku tau. Dia akan membasmi kejahatan sampai ke akar-akarnya. Dia tak punya belas kasih terhadap penjahat, apa pun alasan seseorang melakukan kejahatan, dia tak peduli. Aku dari dulu tak terlalu suka dengan cara-caranya!"


Bayangan kejadian mulai muncul, seorang pria dengan rambut berwarna abu-abu membelakangi dirinya. Dua buah pedang dengan warna sedikit kontras, merah dan biru bersilangan di punggungnya. Lalu ... sepasang mata tanpa emosi melirik ke belakang dimana Viola berada.


"Kebaikanmu terlalu besar! Karena itulah kejahatan akan selalu ada karena ada orang-orang sepertimu!"


Viola yang mengingat itu, tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.


"Ra-nan!?


(Kira-kira begitulah rupa dari Ranan)

__ADS_1


__ADS_2