System : Unknown

System : Unknown
Chapter 70 -Semi-immortal


__ADS_3

Kiya PoV


Pagi hari yang cerah ... dan juga tenang. Aku bangun seperti biasa, namun ...


"Kenapa dia telanjang?"


Kesadaranku masih belum terkumpul, beberapa kali mataku terkejab, siapa tau aku masih mimpi atau bisa saja sedang berhalusinasi.


"Ah, tidak ya ... berarti bukan mimpi?! Jadi, kenapa?" Gumamku datar.


Aku membedah isi kepala, mengambil bagian yang bertugas menyimpan rekaman segala kejadian (Yah, cuma kiasan. Aku tak mungkin membedah kepala dan mengambil otak atau semacamnya).


"Apa yang terjadi semalam?" Diriku masih linglung. Aku merasa tak ada yang aneh semalam.


Lalu, kenapa Putri angkuh ini dalam keadaan telanjang? Apa insiatif dirinya sendiri atau ... yah, apakah memang mungkin terjadi, ya?


"Hmpffhh ... Kiya!" Calsya menggeliat dan menggumamkan namaku.


Masih dalam kondisi tidur, Calsya secara tak terduga lebih mendekatkan dirinya. Sensasi aneh di tulang rusuk bagian kiriku, huh ... dadanya ... menekan dengan kuat. Kepalanya di sandarkan persis di bawah daguku.


"Huh ... terserah, aku juga ingin bermalas-malasan hari ini—"


Rencananya gagal, suara ketukan pintu yang lumayan nyaring terdengar.


"Ayikza, kamu sudah bangun? Kalau sudah, kepala desa memanggilmu ... ini adalah soal kasus kemarin, utusan dari kerajaan sudah datang!" Katanya setengah berteriak.


Ini sudah lewat dua hari sejak kejadian Invasi monster pada desa, kepala desa memutuskan untuk melaporkan hal ini kepada pihak kerajaan Gharagi.


"Ya, aku akan segera ke sana."


"Baguslah."


Tanganku sedikit mendorong tubuh Calsya untuk sedikit menjauh dariku, begini-begini aku itu orang yang tak tegaan, aku tak ingin Calsya terbangun.


"Padahal aku ingin tidur lagi, tapi apa boleh buat—wo-ah, ayo bang—"


Baru kepala yang terangkat, tapi tarikan lengan Calsya mencegah. Selanjutnya aku dibekap dengan kuat sampai kepalaku tertekan ke dadanya.


"Kiya, tolong temani aku lebih lama lagi!"


"Cewek ini sebenarnya sudah bangun atau tidak sih?"


.


.


.


Keputusanku untuk ikut hadir dalam pertemuan dengan pihak kerajaan Gharagi sepertinya salah. Itu terlalu membosankan, aku terus-terusan dijejali berbagai pertanyaan ... yah, karena memang cuma aku yang tau detail kejadiannya.


Tentu saja aku berbohong di sana-sini, fakta sebenarnya kusimpan rapat-rapat. Biarlah mereka pusing tujuh keliling karena titik terang kasus ini tak kunjung tiba.

__ADS_1


"Terimakasih atas bantuannya, Ayikza. Maaf, telah mengganggumu. Katanya tadi pagi kamu ingin bermesraan dengan istrimu, ya?" Kata kepala desa menjabat tangan, alisnya yang sebelah terangkat menunggu jawabanku.


"A~hahaha, malu rasanya." Responku tersenyum kering. Sebisa mungkin aku menghindari tatapan mata kepala desa. Aku malu.


"Tak apa-apa, begitulah seharusnya pasangan muda!" Kepala desa menepuk bahuku beberapa kali. Kemudian dia mendekat, merangkul diriku dan berbisik—tak ingin ada orang lainnya lain mengetahui pembicaraan di antara kami. "Ngomong-ngomong, biasanya kalian melakukan berapa ronde?" Bisiknya dengan senyuman yang menjengkelkan.


"Ah, cukup ... pembicaraannya semakin ke arah yang aneh-aneh. Isi otak kepala desa penuh dengan hal mesum!"


Dalam benakku, berbagai kalimat cacian terus terukir pada pria tua bangkotan di hadapanku yang cengir tak jelas. Tentu saja, itu hanya dalam batin ... tapi, jika kesabaran habis ... perkataan kejam itu mungkin secara reflek keluar.


"Entahlah ... aku tak terla—"


"Ish ... ish, kamu tak waras, ya? Istrimu kan cantik, tubuhnya juga lumayan ... bukannya dia mirip seorang Putri? Auranya itu ...!? Kenapa—"


Aku tak tahan, tangan yang melingkar di leherku yang dari tadi senantiasa menghalangi untuk pergi, kusingkirkan dengan paksa.


"Maaf, kepala desa ... tapi, aku punya sesuatu yang harus dilakukan!" Aku buru-buru pergi, langkah kaki kupercepat.


"Baiklah, lanjutkan saja yang tadi pagi tertunda!"


Aku menyesal menyelamatkanmu, Pak tua.


.


.


.


Sesuatu yang harus dilakukan? Hmm, cuma kalimat acak yang secara random keluar. Nyatanya, tak ada yang bisa kukerjakan—nganggur. Keadaan Desa masih belum pulih, rasa trauma dan dampak negatif lainnya masih terasa.


Kegiatan perburuan dan aktivitas lain dihentikan sementara, sampai penyebab invasi monster dan penculikan itu terungkap. Siapa dalangnya ...?


Dunia saat ini sedang berwaspada terhadap sesuatu, apa pun itu ... mereka sekarang tak akan menyepelekan setiap ancaman, baik kecil maupun besar.


Mungkin rasa trauma karena diriku dan juga Ashera, yang sampai sekarang belum terlacak ... mereka sangat kebingungan menemukan keberadaan kami.


Masa damai yang telah terjalin ratusan tahun akan segera berakhir—prediksi semata.


Ngmong-ngmong soal Ashera ... hmm, kenapa dia belum kembali? Lewat beberapa hari, waktu selama itu harusnya cukup.


« Mungkin dia mampir-mampir saat perjalanannya »


"..."


« Aku akan bungkam sekarang! »


Luxury pada dasarnya adalah makhluk hidup, tentu saja dia memiliki perasaan. Lagipula dia adalah iblis—sama dengan Ashera.


« Aku serius »


"Hmm ..."

__ADS_1


Yah, menyenangkan menggoda Luxury, pada awalnya dia sangat jutek dan malas berinteraksi denganku. Tapi, coba lihat ... kenapa dia seperti itu?


« Kau tak merasakan ini? »


"Katanya bungkam?!"


« Ahh, diamlah! Ini penting, jika kau mati ... aku juga mati! Tapi, hei ... apa kau tak merasakannya? »


Bahuku sedikit terangkat ... "Aku tak dalam mode bertarung, jadi ... aku tak merasakan apa-apa."


« Ini serius, aura ini sama dengan— »


Aku belum sempat mendengarkannya Luxury, Calsya tiba-tiba dengan ekskresi marah bercampur senang datang mendekat.


"Kiya, kemana kamu terus menghilang? Aku mencarimu kemana-mana, tau!?"


"Maksudmu ini, Luxury?"


« Bukan, ah ... aku tidak sedang bercanda! Dia adalah— »


"Kita bertemu lagi, yah, perkenalkan ... umm, Tuan memanggil saya sebagai 'Orang iseng'. Maaf, atas keributannya!" Calsya dibekap, sebuah belati diposisikan persis di depan lehernya.


Dia ... seharusnya sudah mati, aku sangat yakin ... tapi, bagaimana caranya dia bisa kembali? Tubuhnya ada banyak, kah? Doppelganger?


« Kau bodoh, Kiya! Seharusnya kau mendengarkanku »


"Maaf, Tuan ... tapi, Anda harus mendengarkan—" Si orang iseng membelalakkan mata. Strategi yang dianggapnya sudah matang, malah aku mentahkan.


"Yah, aku tak akan mendengarkanmu! Apa kau pikir jika kau menyandera wanita itu ... aku akan menuruti kemauanmu?" Kataku seraya menodongkan Katana.


Calsya sendiri yang menjadi korban atas kejadian ini malah mulai meneteskan air mata.


"Cih ... dasar! Dia selalu membawa-bawa perasaan! Kami sudah bersama lumayan lama, kenapa Calsya tak bisa mengenalku, tahu cara berpikirku? Aku sudah berjanji tak akan meninggalkannya, jadi ... membiarkan dirinya terbunuh sama saja aku meninggalkannya."


"Lupakan wanita itu ...! Aku akan mendendangkan dan akan mempertimbangkan tawaran yang kau berikan beberapa waktu yang lalu ... namun, kau harus membeberkan informasi tentang dirimu!"


Aku memang penasaran, bagaimana dia bisa menemuiku lagi. Jelas-jelas aku sudah membunuhnya, dan itu tak mungkin gagal.


Si orang iseng sedikit melonggarkan kewaspadaannya, tapi Calsya tetap dia tahan.


"Baiklah, nama saya ... Russil ... dan, saya memiliki Blessing yang bernama Semi-Immortal."


Aku lantas tersenyum, perkembangan yang tak terduga.


.


.


.


Wow ... tak terasa sudah 70 Chapter.

__ADS_1


__ADS_2