System : Unknown

System : Unknown
Chapter 17 -Bertarung sampai akhir atau menyerah?-


__ADS_3

Sebelum membaca alangkah baiknya menyentuh tombol like terlebih dahulu jika suka dengan Chapter ini dan tinggalkan komentar jika ada kekurangan atau kelebihan.


Jangan lupa tekan tombol favorit, agar tak ketinggalan update.


Selamat membaca, semoga terhibur.


...


Langit sedang menangis di malam hari yang dingin ini, di reruntuhan kota yang tak dikenal. Seorang anak laki-laki yang terduduk lemas memeluk seonggok tubuh gadis kecil yang lebih muda darinya, buruknya gadis kecil itu sudah tak bernyawa.


Jika hujan adalah bentuk kesedihan, maka petir adalah bentuk kemarahan. Anak laki-laki itu merasa sangat sedih dan marah.


"K-k-enapa?"


Hujan turun begitu lebat membasahi mereka berdua, dinginnya angin malam dan di tambah hujan ganas disertai angin dan petir tak membuat anak laki-laki itu membuat dirinya pergi dari sana.


Dengan setia dia membekap tubuh gadis kecil yang merupakan adik dan satu-satunya keluarga yang dia miliki.


"V-vio ...!"


Potongan-potongan ingatan menyusupi kepalanya. Ingatan tentang kebersamaan dengan adiknya, suka maupun duka sudah mereka lewati sendirian.


Dimulai pada waktu ini, anak laki-laki itu akan menjalani kehidupan sendiri. Tak ada lagi senyum manis adiknya, tak ada lagi cemoohan adiknya ... semuanya tak akan bisa seperti dulu.


"Kamu hanya tidur, kan? Ayo bangunlah! Kakak akan membelikan makanan kesukaanmu!"


Anak itu masih mengira adiknya sedang tertidur lelap. Wajah tenang penuh kedamaian disertai dengan senyuman yang masih terukir, siapa pun yang melihatnya pasti berpikir bahwa gadis itu pura-pura tertidur.


"Hei, kalian baik-baik saja?"


Tiba-tiba datang seseorang dengan nafas yang tersengal-sengal karena telah mengerahkan seluruh tenaga untuk dapat mencapai tempat kedua anak itu berada.


"Apanya yang baik-baik saja? Anda sudah gagal, Pahlawan! Anda tak bisa menyelamatkan gadis ini!" Si anak berbalik dan menatap pendatang baru itu dengan tatapan mata yang sangat datar, tak ada emosi yang terpancar.


...


"Mimpi, kah?"


Kiya perlahan-lahan membuka mata, hal pertama yang dia lihat adalah untaian rambut hitam dan sepasang buah dada yang terbalut oleh pakaian. Jangan lupakan langit biru dengan dua matahari.


"Viola?"


Pada posisinya sekarang dan sensasi di belakang kepala. Yah ... salah satu adegan yang klise. Biasa bantalan paha.


Kiya dengan cepat bangkit. Viola terkejut karena Kiya bangun secara mendadak tanpa memberi kode.


"K-kiya, kau baik-baik saja?" Kata Viola kelihatan cemas.


Kiya tak menjawabnya dan memilih fokus melihat sekeliling. Seharusnya tempatnya kini berada telah berubah, dan memang itu kenyataannya. Dia di atas dinding kota Xely padahal sebelumnya di hutan.


Beberapa potong rekaman kejadian terakhir mulai diputar ulang.


"Aku menghabisi pasukan musuh? Serangan pemusnah?"


Pertanyaan terbesarnya ... kenapa Kiya pingsan dan berakhir bersama Viola?


Kiya mulai berjalan ke pinggir tembok yang mengarah ke kota untuk memastikan sesuatu. Viola mengikutinya dari belakang karena masih cemas akan kondisinya.


"System, bisa jelaskan apa yang terjadi? Ingatanku masih kabur!"


[Pihak kerajaan menggunakan senjata pemusnah untuk menghancurkan setengah dari kota Xely, Tuan]


"Dan penyebab aku pingsan?"


[Tidak diketahui]


"Siapa yang membawaku ke sini? Cewek ini?"

__ADS_1


[Tidak diketahui. Tapi, mungkin saja burung peliharaannya, Tuan]


Sesuai dengan informasi yang diberikan system, kota Xely hancur sebagian yang telah rata dengan tanah. Dinding kokoh yang melindungi kota menyisakan bentuk setengah lingkaran. Keadaan kota Xely sangat memperihatinkan.


"Hmm ... sepertinya begitu!" Kiya melihat Viola secara seksama, dan tak ada keberadaan burung itu. Cincin yang Viola kenakan juga tidak ada.


"Umm ... K-kiya, apa ada yang aneh?" Viola tampak malu ketika Kiya melihat dirinya dengan tatapan yang aneh.


"Mungkin ...!?"


Jawaban yang ambigu. Viola berkata dengan bingung, "Hah ...?"


"Berapa banyak korban jiwa?"


[8 ribu lebih orang meninggal, Tuan]


Para korban itu hanya datang dari orang-orang yang siap bertempur. Anak-anak dan lansia sudah diungsikan ke tempat pengungsian yang telah dibangun di bawah tanah dan letaknya di luar kota.


"8 ribu orang mati sia-sia!" Kiya tersenyum, bukan karena ada yang lucu. Alasannya tidak diketahui.


"K-kiya ...!" Panggil Viola sedikit ragu-ragu.


"Hmm ..." Responnya tanpa menoleh.


"Kau baik-baik saja, kan?"


"Tak ada yang berubah dari diriku ...!"


"Be-gitu, ya?" Viola tampak tak puas dengan jawabannya.


Pihak kerajaan Rentweder sungguh tak main-main, mereka membawa persenjataan terbaik.


Senjata pemusnah masal atau dari serangan seseorang?


"Viola, apa atau siapa yang menyebabkan semua ini?" Tanya Kiya dengan nada datar.


"Beritahu apa yang kau ketahui!?"


"Sesuai namanya, senjata itu menggunakan Mana sebagai amunisinya! Cara kerjanya sangat sederhana, cuma menampung Mana, dan ditembakkan seperti teknik Mana bullet!?" Terang Viola.


"Menyebutnya Mana bullet kurang tepat, seharusnya Mana laser!?"


[Kalau protes langsung saja, Tuan! Tak perlu bicara dalam hati!]


"Diamlah!"


"Sungguh tak masuk akal! Tak bisa dibayangkan berapa besar Mana yang dibutuhkan hingga membuat kerusakan seperti ini!"


"Yah ... aku juga tak tau. Menurut rumor senjata itu masih dalam tahap pengembangan!" Viola yang canggung menggaruk pipinya.


[Kalau menurut saya. Senjata itu menyerap Mana alam, Tuan. Pastinya membutuhkan waktu yang sangat lama. Untuk wadah Mana ... mungkin dari Monster core]


"Itu berarti, mereka memerlukan beberapa monster core rank S! Hebat sekali bisa mempunyai benda berharga mahal seperti itu!?"


[Tuan lupa? Lawan Anda adalah satu kerajaan, uang adalah hal yang kecil!]


"System, sebentar ... kenapa kita harus di atas sini? Ini tempat yang rawan, apa cewek ini bodoh!"


[Jangan tanya saya, Tuan!]


"Viola, bagaimana keadaan yang lain?" Tanya Kiya secara tiba-tiba.


Viola yang tak fokus karena sedang memikirkan sesuatu menjadi tersentak.


"Eh? Ahh ... maaf, mereka ada di tempat yang aman!"


"Apa dengan begini dia berada di pihak kami?"

__ADS_1


[Belum bisa dipastikan, Tuan]


...


Tempat pengungsian.


Kiya berjalan bersama Viola menunju tempat pengungsian. Di pintu masuk tampak orang-orang yang siap bertempur berkumpul dia luar, sepertinya untuk berjaga.


Semuanya terkejut melihat kedua pendatang baru itu.


"K-kiya?" Celia tampak sangat terkejut. Dengan reflek dia berlari menghampirinya.


"Kiya ... Kiya ... s-s-semu-anya ..." Celia langsung merobohkan tubuhnya—memeluk Kiya sambil berlinang air mata.


"Kau tak usah memberitahuku, aku sudah tau!" Kata Kiya sedikit dingin berusaha menjauhkan Celia.


Celia pun tampak terkejut.


Sama dengan kondisi Celia, tak ada lagi semangat dalam diri mereka. Semuanya seperti sudah menerima nasib mereka—kematian.


Kematian teman dan keluarga sudah cukup untuk membuat mereka menyerah.


"Apa sampai segini saja? Yah ... memang tak perlu dipaksa, mental mereka sudah hancur. Tapi ..."


"Viola, kau berada di pihak mana?"


Pertanyaan tiba-tiba itu mengejutkan semua orang, tak terpikir pada benak mereka bahwa Kiya akan menanyakannya.


"A-a-aku tak tau!?"


"Jawaban yang sama! Tapi, tak masalah."


Tanpa dijelaskannya pun mereka sudah tahu maksud dari Kiya ... Kiya masih berniat untuk berperang dengan pihak kerajaan.


Keheningan seketika menghampiri sampai burung besar tiba-tiba turun dari langit lalu merubah wujudnya menjadi kecil untuk hinggap di bahu Viola.


"Vian, bagaimana?" Tanya Viola penuh harap mendapatkan berita yang bagus.


Burung alerion tampak tak bersemangat menjawabnya. Tapi, Vian tetap mengatakan Informasi yang dia dapat.


"Kalian hanya diberi 2 pilihan. Mengosongkan kota, atau lanjut berperang!"


"Apa maksudnya mengosongkan kota?" Dahi Viola berkerut karena tak mengerti.


"Mereka akan meratakan kota Xely ... itulah tujuan asli mereka. Bagi semua penduduknya akan diusir dari wilayah kerajaan. Tapi, jika kalian kekeh melakukan perlawanan ... siap saja dibantai!" Kata Vian dengan nada yang sangat serius.


Raut wajah semua orang berubah gelap seketika. Apa pun pilihan yang mereka buat, semuanya merugikan. Tapi, pilihan diusir dan tak dianggap lagi sebagai penduduk kerajaan, lebih baik daripada mati sia-sia.


"Kalian hanya punya waktu sampai matahari terbenam!" Lanjut Vian.


"Kenapa seperti itu ...? Itu sangatlah kejam!" Viola tampak tak terima dengan dua pilihan yang diberikan kerajaan Rentweder.


"Huh ... jadi, apa yang akan kupilih? Bertarung sampai akhir untuk mereka, orang yang baru kukenal atau pergi meninggalkan perang ini? Aku sebetulnya tak punya kewajiban untuk menyelesaikan masalah ini. Terpenting aku sudah panen poin yang cukup banyak ... akan tetapi ... perasaan konyol ini."


Tangan Kiya terkepal kuat, dirinya dipenuhinya sebuah tekad, lebih tepatnya ambisi.


"System ... gunakan semua poin yang dibutuhkan untuk memenangkan perang ini! Ayo bantai saja mereka! Aku sudah muak dengan permasalahan ini!"


[Sesuai keinginan, Tuan]


...


Note : Monster core \= Inti monster. Bisa juga disebut Vessel-nya monster. Monster core berbentuk sebuah kristal dengan ukuran yang bervariasi, warnanya sesuai dengan elemen monster tersebut.


Biasanya dijadikan material campuran untuk membuat senjata karena yang sifatnya yang kuat dan kemampuan menyerap Mana alam.


Monster core dihargai berdasarkan rank Monster tersebut.

__ADS_1


__ADS_2