System : Unknown

System : Unknown
Chapter 12 -Usaha penyatuan dua kubu- (4)


__ADS_3

Sebelum membaca alangkah baiknya menyentuh tombol like terlebih dahulu jika suka dengan Chapter ini dan tinggalkan komentar jika ada kekurangan atau kelebihan.


Jangan lupa tekan tombol favorit, agar tak ketinggalan update.


Selamat membaca, semoga terhibur.


...


Ledakan yang menghancurkan kediaman Duke dan walikota tak menimbulkan kehebohan sama sekali. Aktivitas di kota Xely berjalan dengan normal, seakan-akan ledakan itu tidak ada atau mereka memang tak peduli.


Mungkin, gadis Maid dengan rambut cokelat panjang ini bisa menjadi jawabannya.


"Huh ... membuat silent barrier dengan skala sebesar ini membuatku hampir mengalaminya Mana Overdose!" katanya dengan nafas terengah-engah menunduk berpegang pada lutut.


"Apa tujuannya aku melakukan ini?"


BOOOOOMMMMM!


Akhirnya gadis—Celia mengetahui alasannya. Dia dengan aman bersembunyi di ruangan yang cukup besar dengan gunungan besar harta. Saat kekacauan tadi, Celia diam-diam menyelinap saat semua orang berfokus pada Syilta dan Balta. Pengalihan ganda, begitulah rencananya. Bahkan Syilta dan Balta tak mengetahui rencana ini.


"Apa mereka baik-baik saja?"


Beberapa saat berlalu setelah ledakan, suara derap kaki mendekat ke ruangan harta.


Tap ... tap ... tap ...


Karena di bawah tanah suaranya cukup menggema.


"Siapa? Musuh? Dan kedengarannya ada lebih dari 2 orang!?" Celia menjadi panik. Di ruangan itu dia sendirian dan dirinya juga tak punya kemampuan bertarung yang tinggi.


Pikiran-pikiran buruk mulai menyusupi otaknya. Tak tahu harus berbuat apa, dia mulai bersembunyi di gunungan harta itu.


Kreek ...


Pintu besi itu berbunyi dengan keras ketika dibuka menampilkan tiga orang berjalan bersama. Orang yang berada di tengah melihat sekeliling.


[Celia mengubur dirinya di tumpukan harta, Tuan]


"Hmm ..."


"Baiklah, silahkan keluar, penakut! Ini aku." Kiya setengah berteriak.


Di salah satu gunungan harta Celia muncul, dengan senang dia terbaring dan tertawa sampai mengeluarkan air matanya.


"Celia, kau baik-baik saja, kan?" Balta yang bertanya lebih dulu.

__ADS_1


"Tak ada lecet sedikit pun!" Jawab Celia santai.


Kiya lalu meminta Syilta dan Balta untuk membiarkannya berjalan sendiri. Mana di dalam tubuhnya sudah kembali, jadi Kiya sudah bisa bergerak meskipun belum terlalu bebas.


"Apa kau terluka?" Tanya Celia sedikit cemas.


"Dalam sebuah pertarungan, luka adalah sesuatu yang wajar! Kau tak perlu se khawatir itu!" Balas Kiya acuh sembari menggerakkan jarinya membentuk huruf I.


Lubang dimensi seketika muncul.


"""S-s-s-sihir manipulasi ruang?"""


"Ini adalah hal yg biasa! Ayo cepat masukkan semua ini!"


...... Kembali ke masa sekarang ......


Viola tak bisa berkata-kata, dirinya hanya menunduk. Dalam hatinya dia terus menyalahkan dirinya yang tak bisa mempunyai pendirian yang kuat. Viola masih ragu, kudeta sama saja dengan pemberontak dan pemberontak adalah musuh kerajaan. Status-nya sebagai pahlawan lah yang membatasi setiap tindakannya.


Kiya mengerti akan hal itu, dia tak memperdulikan jawabannya atau janji yang diucapkannya.


"Aku salah menilaimu! Kau masih memikirkan gelarmu, kan? Hal yang seperti itu tidak bisa dianggap pahlawan. Pahlawan sejati tak perlu sebuah gelar. Aku salah tentangmu, kau sama saja!" Kiya berhenti sesaat ketika berpapasan jalan dengan Viola lalu membisikan kalimat yang menusuk itu.


Viola lagi-lagi tak bisa berkata apa-apa, ekspresinya sungguh gelap dan kepalanya selalu menghadap ke bawah. Kiya melakukan senggolan bahu padanya untuk memberikan sedikit sentakan.


"Cih ... jika cewek itu masih belum bisa diajak kerja sama, maka aku harus membuat rencana ulang!"


"Maksudmu apa? Tentu saja hal itu!"


[Saya pikir itu adalah hal lain]


"Ahh ... sudahlah!"


Ketiga orang lainnya yang datang bersama dengan Kiya juga mulai mengekor padanya mengabaikan Viola. Dan semua orang pun mulai pergi menuju suatu tempat untuk membahas perdebatan mereka tentang kudeta.


Kedatangan Celia dan dua bersaudari sudah menjadi bukti bahwa misi mereka berhasil. Jadi, kubu oposisi sekarang punya sedikit keyakinan bahwa kudeta mereka berhasil. Tapi, belum sepenuhnya percaya.


Viola sekarang sendirian di tengah kegelapan tempat itu.


"Viola?" Cincin yang dipakainya berkedip dan mengeluarkan sebuah suara.


Kedipan cahaya dari cincin itu sedikit menerangi sekitarnya dan terlihat jelas pipi putih Viola mengalir sebuah cairan bening yang disebut air.


"A-ku tak apa-apa!" Viola dengan cepat menghapus air matanya dan berusaha membuat wajah tersenyum dengan menaikan sudut bibirnya ke atas menggunakan tangan.


"Lalu ... apa yang akan kamu lakukan, Viola? Kamu harus mengambil keputusan! Melawan kudeta atau membantu kudeta?"

__ADS_1


"Yah ... itu ..." Viola sedikit berat tuk melanjutkan dan senyuman paksa pun dilepaskannya. "A-a-aku hanya ingin tak ada pertumpahan darah terjadi. Aku tak pernah peduli dengan gelar atau nama baikku!"


Setiap orang memiliki pemikirannya masing-masing. Seperti Kiya yang akan melakukan sesuatu yang dianggapnya benar meskipun menjadi orang jahat. Dan Viola yang lebih memilih netral karena tak bisa memilih. Dia ingin masalah ini diselesaikan tanpa pertumpahan darah. Hal yang diinginkan Viola sangat sulit direalisasikan. Dan bagi Kiya orang yang tak bisa memilih sesuatu adalah orang yang paling dia benci.


"Apa pun yang kamu lakukan, aku pasti akan selalu membantumu, Viola!" Vian memperlihatkan wujud burung alerion-nya.


"Terima kasih karena selalu ada di sisiku, Vian!" Kata Viola menjatuhkan tubuhnya di bulu Vian yang lembut.


"Sejujurnya, aku lebih setuju dengan pria itu. Viola ... kamu memang naif! Tapi, aku akan selalu mendukungmu."


...


Kiya menyusun ulang rencana yang sudah kacau karena Viola yang keras kepala. Awalnya penyatuan dua kubu ini diperkirakan akan mudah malah menjadi sulit.


Terlebih dengan kaburnya Duke Volancy Egramn entah kemana. Kiya lebih pusing memikirkan hal itu. Skala perang menjadi lebih besar, Kiya memperkirakan Duke kabur ke ibukota kerajaan Rentweder. Kota Xely terletak paling ujung di pesisir barat dari kerajaan Rentweder.


Rentweder dikenal sebagai kerajaan yang diktator. Meskipun begitu, kerajaan ini cukup kaya jika dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan lainnya. Semboyan kerajaan Rentweder adalah, Patuh dan Hidup, Abai dan Mati.


Semboyan itu ada benarnya, setiap rakyat yang membangkang akan langsung dihabisi. Apalagi pemberontak ... yah, itu adalah hal yang paling membuat Kiya khawatir.


Vlad dan teman wanitanya mengajak Celia dan dua bersaudari untuk membicarakan sesuatu. Mereka menyingkir dari keramaian dan mulai membahas sesuatu. Kiya menatap mereka datar.


"Mereka sepertinya perlu bukti?!"


Mereka akhirnya selesai dengan diskusinya dan berjalan mendekati Kiya.


"Saya Vladika Virus, selaku orang yang mengirimkan mereka bertiga. Saya ucapkan banyak terima kasih pada Tuan Kiya karena telah membantu." Kata Vlad berusaha sesopan mungkin pada Kiya.


Pria berumur 20-an tahun dengan rambut cokelat itu juga sempat menundukan badan. Dia sangat berterima kasih.


"Saya Riela. Tuan Kiya bisa meminta apa pun pada kami!" Wanita di samping Vlad yang memiliki rambut dengan warna yang sama juga melakukan hal yang sama.


"Aku tak perlu imbalan. Lagi pula aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan!"


Tentu saja poin. Kudeta sangat menguntungkan, Kiya jadi memiliki alasan untuk membunuh seseorang. Dia kadang sangat merasa bersalah membunuh seseorang tanpa alasan yang jelas.


Vlad dan Riela melirik ke arah yang sama—Celia.


"Dia pasti menceritakan hal itu!"


"Bukan! Itu adalah sesuatu yang lain. Terpenting, aku melakukan ini karena mendapat sebuah timbal balik yang bagus. Nah ... ayo yakinkan teman-teman kalian!"


Jari Kiya bergerak dari atas ke bawah membentuk huruf I. Sebuah lubang dimensi muncul di udara dan dari dalamnya banyak sekali emas yang keluar.


Semua orang terkejut dan gembira. Dengan semua uang itu, mereka bisa melakukan sesuatu. Dan akhirnya dua kubu itu pun setuju untuk melakukan kudeta. Bersatu untuk melawan ... sebenarnya musuh hanya menyisakan Duke, Volancy Egramn. Tapi, dia berhasil kabur entah kemana. Masalah ini menjadi semakin besar.

__ADS_1


"Duke sialan itu! Aku takut dia pergi ke ibukota untuk meminta bantuan pada kerajaan! Dia sangat licik ...! Mudah baginya memberikan keterangan palsu, ehh ...? Dia tak perlu berbohong, Kerajaan pasti membantunya! Cih ... kondisinya sekarang berbalik, kami yang tertekan sekarang!"


__ADS_2