System : Unknown

System : Unknown
Chapter 24 -Trauma-


__ADS_3

Sebelum membaca alangkah baiknya menyentuh tombol like terlebih dahulu jika suka dengan Chapter ini dan tinggalkan komentar jika ada kekurangan atau kelebihan.


Jangan lupa tekan tombol favorit, agar tak ketinggalan update.


Selamat membaca, semoga terhibur.


...


[Jadi, apa yang akan Tuan lakukan? Berurusan dengan keluarga kerajaan hanya akan membuat Tuan repot!]


"Tidak, umm ... kupikir ini akan menyenangkan! Memangnya apa yang akan dilakukan Raja pada seseorang yang sudah menyelamatkan nyawa salah satu Putrinya?"


[Baiklah, saya mengerti maksud Tuan]


Dalam satu kedipan mata, Kiya sudah raib dan berpindah ratusan meter ke depan. Lompatannya membuat pijakan—dinding kota hancur saking kuatnya tekanan yang diterima.


Rombongan Putri Calsya sudah akan kembali, Kiya berniat membuntutinya untuk melakukan sesuatu pada Putri itu. Dia cuma kesal dengan sikap Putri Calsya yang terlalu berlebihan pada anak-anak yang masih polos.


Keadaan Putri Calsya ...


Suasana hatinya sedang buruk, dari tadi Putri Calsya cuma diam menopang kepala dengan tangannya melihat pemandangan di hutan bawahnya dari jendela.


"Anak-anak kotor itu?" Umpat Calsya.


Dia masuk sangat marah disentuh olehnya anak yang dianggapnya kotor itu. Namun, segera dia menghilangkan kemarahannya karena Putri Calsya harus memikirkan kata-kata ketika dia kembali ke ibukota.


Putri Calsya memikirkan sesuatu, itu adalah tujuan aslinya datang ke sini. Sebenarnya tujuan bukan semata untuk mengurus pelepasan kota Xely, lebih dari itu.


"Di mana pemuda yang dikatakan Duke Volancy?"


Putri Calsya dikirim untuk mencari Kiya dan menawarkan sesuatu yang tidak mungkin ditolak oleh Kiya, yah ... begitu pikiran mereka.


Sebenarnya Raja sangat terkesan dengan kemampuan Kiya ketika Duke Volancy menceritakan dirinya yang diserang habis-habisan oleh Kiya. Raja berniat untuk membuat Kiya menjadi salah satu kekuatan tempur kerajaan Rentweder. Lagipula, tidak ditemukan informasi apa pun tentang Kiya, tempat kelahirannya dan sejenisnya.


"Ada seorang yang mirip dengan ciri-ciri yang diberitahu Tuan Volancy, tapi umurnya tidak sesuai. Seharusnya 17 tahun ke atas, kan?" Kata salah satu Maid.


"Yah ... anak itu ...? Apa mungkin Duke Volancy salah memperkirakan umurnya?" Timpal Maid lainnya.


"Jika benar ... itu berarti dia sungguh mengerikan, kan? Anak seusianya ... bisa melakukan hal seperti itu!" Putri Calsya bergidik ketika membayangkan Kiya menghabisi musuh.


Di sela-sela tatapan kosongnya melihat pemandangan, Putri Calsya sekilas melihat kilauan cahaya, itu seperti benang tipis. Sampai akhirnya ...


Sriettt ... brakk ...


Salah satu pengawalnya tiba-tiba terjatuh tanpa sebab yang jelas seperti ada yang menjeratnya dan menariknya paksa ke bawah. Selanjutnya ...


Satu per satu pengawalnya berjatuhan sampai tak bersisa. Seisi kereta kuda panik, dan lajunya di udara menjadi tak terkendali karena kusir sudah dikuasai oleh ketakutannya.


Putri Calsya yang panik juga sempat melihat sebuah benda kecil hijau melesat ke arah kereta kuda. Dan ...


Boam!

__ADS_1


...


"Menjadi Pahlawan, hehe ..." Kiya tersenyum jahat menyaksikan kereta kuda itu meledak.


Kiya dengan segera melakukan tindakan selanjutnya. Dia langsung berlari ke tempat kira-kira puing kereta itu jatuh.


"Hmm ... dimana dia?"


Kiya mulai meneliti area sekitarnya.


"Ahh ... itu dia?"


Kiya sudah memperhitungkan bahwa ledakan itu tidak akan membunuh Putri Calsya.


Jadi, langsung saja ... pertama-tama, Kiya menyembuhkan sejumlah luka yang diderita Putri Calsya dengan healing, Kiya menyentuh kepala Putri dan sejumlah cahaya yang melembutkan mulai menghentikan pendarahan di kepalanya lalu lukanya secara perlahan menutup. Namun, si Putri tetap tak sadarkan diri.


Kiya sejenak menatap wajah pingsan si Putri.


"Begitu, ya ...?"


Kiya membawanya seperti karung yang diletakkan di bahu kanannya. Dan untuk para bawahannya, Kiya membiarkannya begitu saja dan ada beberapa yang dia bunuh.


...


Dalam ruangan dengan ukuran 6 X 5, seorang wanita terbaring di ranjang tak sadarkan diri. Cahaya remang-remang dari kristal berwarna biru sedikit memperlihatkan wajah tidurnya yang begitu cantik. Seseorang yang duduk tepat di sebelah ranjangnya nampak tak terlalu peduli, beberapa kali dia terlihat menguap saking bosannya dia menunggu.


Jari manis wanita itu akhirnya secara perlahan bergerak, perhatian orang itu pun langsung terfokus pada si Putri tidur.


"Apa Putri Calsya baik-baik saja?" Orang itu yang tak lain adalah Kiya berpura-pura cemas.


"S-s-si-apa ...?" Putri Calsya berusaha mendudukan diri. "A-pa yang terjadi padaku?" Kepalanya terasa sedikit sakit ketika berusaha mengingat kejadian yang baru menimpanya.


"Saya juga tidak tahu, saya menemukan Tuan Putri sudah tak sadarkan diri di hutan?!"


"..." Putri Calsya berusaha mengingatnya, tapi tak ada reka ulang di kepalanya.


"Yah ... umm, tunggu sebentar! Saya akan memanggilkan seseorang!"


Kiya hendak pergi untuk memberitahu yang lainnya, akan tetapi hal itu dicegah oleh Putri Calsya. Pergelangan tangan Kiya ditahan olehnya.


"J-j-ja-ngan tinggalkan a-ku!" Lirih Putri Calsya yang menundukkan kepalanya.


"Tidak, saya cuma sebentar—"


"TIDAK!!! JANGAN TINGGALKAN AKU!" Teriak Putri Calsya dengan histeris, air matanya pun berlinang.


Mereka berdua sekarang ada di salah satu ruangan di pengungsian, maka dari itu ... suaranya menggema dan memancing perhatian semua orang.


Kiya pun mengalah, dia juga sebenarnya bingung dengan kondisi Putri yang menurutnya aneh.


"System, bagaimana menurutmu? Kenapa dia bisa sampai seperti ini?"

__ADS_1


[Jangan tanya saya, Tuan! Saya bukan psikiater!]


"Serius!"


[Mungkin dia memiliki semacam trauma]


"Trauma, ya?" Kiya berpegang dagu. "Lagi-lagi ... kenapa sesuatu tak selalu sesuai rencana?"


Beberapa saat berlalu ... datang beberapa orang untuk memastikan keadaan. Kiya lalu berkata bahwa baik-baik saja dan Putri Calsya hanya mimpi buruk, semua orang pun percaya.


Putri Calsya juga malah terlelap.


Kiya masih berada di ruangan itu dan setia menjaganya. Dia masih berpikir, trauma apa yang dialaminya? Kiya pun menerka-nerka.


"Apa dia pernah kehilangan seseorang?"


[Menurut saya dia ketakutan seperti itu karena Tuan sudah membunuh beberapa bawahannya]


"Memang ada kemungkinannya, tapi—"


"Kiya ...!" Panggil seseorang dari luar dengan lembut.


"Celia, kah?"


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang penting, Celia?"


"Er ... um, apa kau ... ahh, lupakan! Tapi, apakah kau tak mau makan atau sejenisnya? Biar aku yang gantian menjaga Putri Calsya!"


"Baiklah, sejujurnya aku memang merasa lapar!"


Merasa sudah mendapatkan izin, Celia lantas membuka pintu dengan pelan supaya Putri Calsya tak terganggu.


"Terima kasih." Kata Kiya pelan menepuk bahu Celia lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan.


Celia mengangguk dengan patuh. Setelah Kiya pergi, Celia tak langsung duduk di bangku yang sebelumnya diduduki Kiya. Dia berdiri menghadap ke arah ranjang dan melihat Putri Celia dengan tatapan yang aneh.


"Apa Kiya menyukai Putri Calsya?" Gumam Celia sembari kedua tangannya meremas pakaiannya untuk menahan kekesalan.


Di sisi lainnya ... Kiya belum sepenuhnya pergi, dia bersandar dibalik pintu. Dan tentu saja dia mendengarkan gumaman Celia, meskipun suaranya terlampau kecil. Sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, Kiya pun langsung pergi.


"Huh ... cinta itu adalah sesuatu yang menakutkan! Orang polos nan lugu sekalipun bisa berubah menjadi pembunuh berdarah dingin!?" Kiya tersenyum tipis. "Namun, aku harap sih ... itu tak terjadi!"


...


Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.


Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.


aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.


Dah ... see you.

__ADS_1


__ADS_2