
Feelid PoV
Dandelina adalah gadis yang berbakat, selain berbakat dia juga cantik dan baik, hmm ... sifatnya juga periang.
"Dia bagaikan malaikat."
Itu adalah anggapan dari masa lalu, sekarang semuanya telah berubah. Sudah tak ada Dandelina—Lina yang aku kagumi dan juga aku cintai.
Semuanya berubah karena pihak gereja suci.
"Feelid, jangan melamun!"
Teriakan itu membuyarkanku dari pikiran yang telah lama terhapus, namun entah kenapa itu muncul lagi. Aku lantas melekatkan zirah perak sebagai tanggapan, aku bingung menjawabnya dengan kata-kata.
"Kita harus segera menghabisi iblis itu!" Katanya kemudian dengan gigi yang bergemelatuk. Tangannya memegang erat seutas cambuk dengan warna emas.
Siyat ... jdarrr ...
Lina menyabetkan cambuknya, kereta kuda yang dipijak oleh iblis itu pun terbelah menjadi dua bagian dan meninggalkan alur yang besar di tanah.
"Ada apa, Nona? Kenapa kau kelihatan sangat marah, punya dendam pribadi, kah?" Iblis itu tertawa cengengesan menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Kau tak punya hak bicara, iblis!"
Siyat ... jdarr ...
Serangan yang sama, dan iblis bernama Ashera berhasil menghindarinya tanpa kesulitan yang berarti.
Dandelina sangat membenci iblis, menurutnya ... kedua orang tua yang dia sayangi telah direnggut dari sisinya. Yah, itu cuma anggapan Lina ... aku adalah satu-satunya orang yang tahu fakta sebenarnya dari kematian orang tua Lina.
"Hei, Dandelina ... tenanglah! Ini seperti bukan dirimu saja." Whikal berusaha menenangkan Lina.
"Benar, Dandelina ... Jangan termakan oleh emosi—" Falama juga ikut memenangkannya, tapi tak memberikan efek yang semestinya.
"Berisik, kalian!" Teriak Lina lirih. "Peran kalian untuk saat ini menjadi supporter! Aku yang akan bertarung di garis depan!"
"Hei, jangan gegab—" Geshi juga tak berhasil menghentikannya.
Lina mendorong tubuhnya melesat menuju ke arah Ashera.
Siyat ...
Sabetan demi sabetan penuh ***** membunuh dilancarkan Lina, namun ke semuanya tak ada yang berhasil tepat sasaran atau lebih tepatnya Lina yang meleset.
"Kenapa serangan Dandelina terus meleset? Itu aneh!?" Whikal kebingungan.
"Hei, Nona semua seranganmu meleset!" Ejek Ashera tersenyum.
"TUTUP MULUTMU!" Cambuknya dialiri oleh aura berwarna merah.
Siyat ... Wushhh ...
__ADS_1
"A-PA?"
Mat kami reflek melebar, tak bisa disangka. Serangan yang pernah kulihat membagi sebuah hutan kecil menjadi dua bagian bisa ditangkap dengan mudah.
"Huh, kau itu banyak bicara!" Cemooh Ashera, cambuk yang berhasil di tangkap ditarik hingga tubuh Lina juga ikut tertarik.
Buk ...
Aku bergerak secepat yang aku bisa untuk menjadi bantalan bagi Lina yang terlempar akibat tinju Ashera.
Brakk ...
"Dandelina, kau tak apa-apa!"
"Lepas, Feelid! Serangan seperti itu tak akan berdampak apa-apa!" Lina menghempaskan diriku yang telah bersusah payah menjadi bantalan untuknya.
Yah, sakit rasanya ... tapi, itu tak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan Lina(perasaan).
"Ahh ... kenapa kalian diam saja! Saat ada celah seharusnya kalian menyerang, dasar bodoh!" Maki Lina pada kami semua.
"Lina, dinginkan kepalamu! Kemenangan tak mungkin bisa kita raih jik—"
"Menang, aku pasti menang! Aku pasti akan membunuh iblis itu!" Lina menatap Ashera dengan tatapan yang begitu menyeramkan, aku tak pernah melihat tatapan itu. Penuh akan kebencian yang kental dan haus akan dendam.
"Hmm ... memang manusia, aku tak akan heran melihat ini!" Ashera tersenyum lebar melemparkan kembali cambuk milik Lina yang sempat berhasil dia rebut.
Lalu, mata merah miliknya berkilauan di tengah kegelapan malam. Jujur, itu sangat mengintimidasi kami semua. Aku bahkan tak bisa menghentikan kakiku tuk bergetar.
"Kami akan mati jika terus bertarung!?"
Feeling Vote ... ini dinamakan Blessing, kemampuan aneh yang sudah kumiliki sejak kecil. Itu bukan sihir, entah apa itu ... akan tetapi kemampuan itu selalu berhasil mengeluarkanku dari berbagai macam situasi kritis.
Cara kerja Feeling Vote adalah dengan perasaan, aku memberikan dua macam pilihan. Contohnya ... apakah kami harus kabur dari Ashera atau tetap melawannya?
Jika perasaanku lebih condong ke kabur, berarti pilihan terbaik adalah 'kabur' Feeling Vote akan selalu memberikan pilihan terbaik yang menguntungkan pengguna. Jika dua-duanya tidak menguntungkan atau tak ada efek yang berarti, maka netral.
Selain membuat keputusan di saat-saat kritis. Kemampuan ini juga adalah caraku untuk mengetahui semua kebenaran. Pada dasarnya, aku tinggal membuat dua pilihan saja. Contohnya, apa Lina juga menyukaiku atau tak memiliki perasaan padaku?
Dan perasaanku lebih condong ke pilihan kedua, maka pada kenyataannya Lina memang tak menyukaiku.
Kemampuan yang sangat berguna ... tinggal bagaimana cara pengaplikasiannya. Kelemahannya hanya terbatas dua pilihan, tak bisa lebih.
.
.
.
Calsya mengatupkan rahangnya kuat-kuat serta menggigit bibir bawahnya dari tadi, dia sedikit gugup dan takut.
"Aku harus percaya, aku harus percaya pada Kiya! Kiya mempercayaiku, aku tak boleh mengecewakannya!"
__ADS_1
Calsya terus berusaha untuk mendoktrin dirinya sendiri. Lalu ...
"Putri ...!"
Secara tiba-tiba Calsya berakhir di suatu tempat yang aneh. Tempat yang gelap, tak bisa membedakan mana atas dan bawah, mirip seperti di luar angkasa dengan pemandangan miliyaran bintang.
"Bagaimana mungkin? Seharusnya kau sudah lenyap, aku telah berhasil mengalahkanmu!" Kata Calsya sedikit terkejut.
Tak jauh di depannya terdapat lawan bicara yang cuma gumpalan asap berwarna putih yang terdapat dua bulatan berwarna merah layaknya sebuah mata.
"Aku bukan makhluk hidup, Putri ... aku hanya kumpulan energi!"
"Apa maksudmu?"
"Yah, itu tidak penting! Aku mengucapkan selamat padamu karena telah berhasil menang melawan ketakutan dan trauma masa lalumu! Kini ... kau bisa menggunakan kekuatan ini secara bebas tanpa perlu mengkhawatirkan apa pun.
Tapi, mungkin saja diriku yang masih hidup akan mengambilnya kembali. Yah, sepertinya mustahil ... diriku yang hidup sudah tak tertarik dengan urusan dunia fana."
"Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan?! Hei, jangan pergi! Kau belum menjelaskan semuanya padaku!"
Gumpalan asap itu secara perlahan menghilang.
"Tak perlu ada yang dibicarakan lagi!"
"A-ku mas—"
Tempat aneh itu kemudian retak layaknya pecahan kaca, Calsya pin terjerembab ke dalam retakan dan jatuh dalam lubang kegelapan tanpa batas.
"Monster ...!"
"Eh?"
Calsya kembali dari alam bawah sadarnya, namun dia—bukan mereka telah disambut oleh seekor monster dengan wujud serigala setengah kelelawar lalu lingkaran sihir berwarna merah muncul di sembarang tempat dan dari sana keluar berbagai jenis monster.
"M-onster? B-ba-gai-mana bisa, dari mana mereka muncul?" Kata seseorang dengan sorot mata yang sangat ketakutan.
"K-kita haru—" Wanita itu belum bisa menyelesaikan perkataannya, dia dikejutkan oleh sebuah mulut menganga penuh dengan gigi sebesar pisau tepat hadapannya
"L-lari ... ka-lian, cari tempat yang aman!" Calsya berdiri memosisikan dirinya sebagai perisai hidup, dia menahan mulut buas monster itu dengan sebuah pedang.
"Calli ...?" Kata wanita itu tak percaya, mengira semua ini hanyalah mimpi buruk di tengah malam.
"Lari ...!" Teriak Calsya memperingatkan. Tubuhnya gemetaran tak kuasa menahan tenaga monster itu.
Setelah semuanya telah pergi menjauh, Calsya pun melepaskan diri dari mulut berbahaya monster berbentuk aneh itu dan menjaga jarak sejauh mungkin.
"Apa aku bisa mengalahkan semua monster ini? Dengan kekuatanku ... tidak, aku pasti bisa!"
.
.
__ADS_1
.
Terimakasih telah baca sampai sini ... kalian terbaik👍