
Sebelum membaca alangkah baiknya menyentuh tombol like terlebih dahulu jika suka dengan Chapter ini dan tinggalkan komentar jika ada kekurangan atau kelebihan.
Jangan lupa tekan tombol favorit, agar tak ketinggalan update.
Selamat membaca, semoga terhibur.
...
Sekitar seribuan prajurit dengan zirah berlapiskan es biru tua yang kelihatan sangat dingin, secara perlahan bergerak memangkas jarak dengan kota Xely.
Kondisinya sekarang berbalik. Pihak kota Xely sekarang terdesak.
"Lagi-lagi hal yang tak terduga!" Kiya cuma bisa tersenyum masam.
Beberapa percobaan tembakan dengan senapan sudah dilakukan, namun nihil. Tergores saja tidak, zirah es itu sungguh keras. Beberapa serangan sihir yang menjadi kelemahan es, seperti api dan petir pun juga tak ada pengaruhnya.
"Viola, kau tau tentang ini?" Tanya Kiya yang tangannya sibuk melakukan berbagai serangan.
"Yah ... Menurut legenda ... ada—"
"Jangan mendongeng di saat seperti ini! Singkat saja!"
"Uhh ... huh, intinya es itu tak akan hancur atau mencair selain menggunakan api putih, puas?!" Terang Viola sedikit kesal pada Kiya.
[Wah ... Tuan lebih suka bertanya pada Viola daripada saya]
"Diamlah ...! Kau itu menyebalkan!"
"Hehehe ... api putih? Dari mana aku mendapatkannya?" Kiya tersenyum masam.
Kepala Kiya rasanya mau pecah mengatasi masalah ini. Pikirannya berulang kali mengolah semua informasi, namun gagal. Dia benar-benar tak punya ide untuk menghentikan para prajurit es itu.
Kemudian, Kiya sadar dengan perkataan Ranan sebelumnya.
"Ahh ... baiklah." Kiya sudah menemukan suatu ide.
"Kalian semua ...! Kita tak perlu memenangkan pertempuran ini. Asal kita bisa menahan pasukan itu kira-kira selama 1 jam, kalian bisa bebas dan pahlawan Ranan akan ada di pihak kalian! Jadi, jangan coba menghancurkan mereka, lebih baik cari cara untuk menahan pergerakannya!"
""Yeah ...!"'" Balas semua orang dengan semangat, hawa dingin yang ada terasa hilang terbakar oleh semangat.
Protection milik Viola belum sepenuhnya hilang, dia hanya melemahkannya saja agar konsumsi Mana lebih sedikit.
Mulailah orang-orang yang merasa memiliki sihir yang bisa menahannya berdiri di berdampingan dengan Kiya dan Viola.
Kiya memulainya dengan menjerat pasukan musuh dengan benangnya, kemudian seseorang membuat lubang yang membuat mereka jatuh terperosok. Dalam sekejap pasukan zirah es terjebak di lubang dengan kedalaman lebih dari 20 meter.
Terakhir, lubang itu ditimbun lagi dengan tanah.
"Apa berhasil?"
Semuanya mengira akan berhasil, kenyataannya tak semudah itu.
Booaamm!
Pasukan zirah es berhasil keluar dengan cara meledakkan tanah yang entah bagaimana caranya. Ternyata bukan hanya zirah-nya saja yang berubah es, melainkan seluruh perlengkapannya.
Percobaan pertama gagal, maka selanjutnya berbagai cara digunakan, sihir segel, membuat tembok, mengurung dalam barrier ... semuanya tak berhasil, zirah es itu juga meningkatkan segalanya.
Swoshh ... jdarrr ... jdarrr ...
Pemanah yang tersisa dari pasukan kerajaan Rentweder hanya belasan orang. Namun, karena buff yang diberikan Ranan, rasanya seperti ribuan bagi Kiya.
__ADS_1
Syutt ... syutt ... syutt ...
Ratusan anak panah secara bersamaan melesat ke arah pasukan kota Xely, itu seperti hujan. Dan buruknya ... anak panah itu memiliki efek pembekuan, apa pun yang terkena akan langsung membeku menjadi bongkahan es.
"Vian ...!" Seru Viola pada burung birunya.
Si burung, Vian langsung mengerti apa yang harus dilakukan. Dia mengembangkan sayapnya lebar-lebar. Dalam satu kepakan sayap, tornado tercipta dan memutar balikkan hujan panah pada pasukan musuh.
Keadaan semakin gawat, pasukan zirah es cuma menyisakan jarak ratusan meter dan belum ada tanda-tanda bahwa zirah es yang melekat runtuh karena Ranan yang mulai kehabisan Mana.
"Cih ... pahlawan sialan itu!" Dengus Kiya melihat ke arah Ranan yang santai-santai saja di barisan belakang.
"System, kau punya saran?"
[Menyerah]
"Tak membantu sama sekali!"
"Kiya, bagaimana ini?" Mereka semakin dekat!" Viola mulai sedikit panik.
"Aku juga tak tau! Eh, tunggu ... Viola bukannya kau pahlawan?! Apa kau tak punya kemampuan yang hebat seperti ini?" Tanya Kiya penuh harap pada Viola.
"Yah ... s-sebenarnya sih a-da, tapi ..."
Kiya langsung berlari tanpa mendengarkan Viola selesai bicara. "Aku akan mengulur waktu! Cepat gunakan sihir, skill ... atau apa pun itu!"
Beberapa orang juga ingin membantu Kiya untuk mengulur waktu. "Tuan Kiya ... kami juga akan membantu—"
"Aku juga akan membantunya, Viola!" Vian juga ikut terbang menghampiri Kiya yang bersiap menghadang musuh.
"Tidak usah! Serahkan ini padaku!" Potong Kiya siaga memegang katana di tangan kanannya.
Viola menghela napas, dia sedikit lesu. Bukannya apa-apa, hanya saja ... Viola tak terlalu percaya diri.
Kiya sudah mulai menerjang musuh tak peduli berapa jumlahnya, katana di tangan kanannya bergerak dengan lihai menahan dan melakukan tebasan pada pasukan beku itu.
Situasi solo Vs squad sudah menjadi makanan Kiya akhir-akhir ini, jadi ... dia tak terlalu kesulitan menghadapi ribuan orang sekaligus. Di tambah keahlian mereka yang standar baginya karena dia sudah membeli skill Sword Mastery tahap Master.
Trangg ...
Kiya memposisikan katana-nya secara harizontal di depan wajahnya untuk menahan salah satu serangan musuh yang mengayunkan senjatanya secara vertikal.
"Efek zirah es itu memang sangat mengerikan!"
Pijakan Kiya sampai retak dan hancur karena besar tenaga yang diterima.
"Staminaku sudah hampir mencapai batas! Ini harus cepat-cepat berakhir!"
Kiya sudah bertarung beberapa jam nonstop, wajar jika staminanya hampir habis. Yah ... dia memang terlalu memaksakan diri.
Tubuh Kiya mulai gemetaran tak kuasa menahan serangan itu lebih lama lagi. Pedang es itu sedikit demi sedikit turun hampir menyentuh rambutnya.
"Bersikap sok keren ...!" Vian langsung ikut campur.
Swooosh ...
Hembusan angin yang kencang muncul karena kepakan sayap dari Vian menghempaskan prajurit itu. Kiya juga hampir terhempas, namun karena sedikit reflek dia menancapkan katana ke tanah, menjadikan sebagai pegangan.
"Huh ... ini me-le-lahkan!" Kata Kiya dengan nafas yang tersengal-sengal mengelap keringat dengan lengannya.
Staminanya sudah hampir mencapai 10%, dia tak akan bertahan lebih lama lagi jika pertempuran ini terus dilanjutkan.
__ADS_1
"Kau sudah mencapai batas ...! Mundur dan beristirahat, lah!" Kata Vian agak angkuh memosisikannya dirinya di depan Kiya untuk melindunginya.
"Waaa ...! K-kau bicara?" Kejut Kiya melompat.
"Tentu saja!"
"Heh ... baiklah, aku akan mundur. Tapi, sebelum itu ..." Kiya merogoh sebuah botol kecil dari sakunya.
Langit yang indah dengan bulan dan ribuan bintang dalam sekejap tertutup oleh gumpalan asap berwarna hitam kelam. Penerangan satu-satunya telah hilang, daratan datar itu pun langsung berubah sangat gelap.
Kemudahan kilatan-kilatan cahaya keluar dari tubuh Kiya. Semua perhatian pun tertuju padanya.
Ranan pun hanya tersenyum, "Mau melakukannya serangan penghabisan sebelum mun—uhh ..." Senyuman itu mendadak hilang.
Yah ... Mana Ranan sudah tak memungkinkan.
Jdarrrrr ...
Kiya tersambar petir, itu yang ada dalam pikiran mereka. Kenyataannya Kiya menangkap petir itu.
"Terpanggang lah!" Kata Kiya mengayunkan tangannya ke bawah.
JDARRRRR ...!
...
"Hah ... hah ... hah ... Apa berhasil?" Meskipun kondisinya sekarang sangat menyedihkan, tapi dia masih sempat-sempatnya tersenyum.
Itu karena serangannya berhasil, para prajurit beku tak ada yang bergerak setelah menerima sambaran petir berjuta-juta volt. Petir yang meloncat-loncat masih bisa ditemui pada segunung tubuh prajurit.
Kiya mengerahkan semuanya pada serangan itu, dan kini dia sudah mencapai batas Mana yang sanggup dikeluarkan.
Bukan hanya Kiya, Ranan ekspresinya sedikit berubah.
"SUDAH SELESAI! INGAT APA YANG KAU UCAPKAN BEBERAPA SAAT YANG LALU, PAHLAWAN!" Teriak Kiya meledek Ranan.
Mendengar kabar yang sepertinya gembira ini, pasukan kota Xely lantas menghampiri Kiya.
"A-a-apa kita sudah menang?" Tanya Celia. Dia memastikan bahwa apa yang dipikirkannya sama dengan realita.
"Tentu sa—"
"Sepertinya belum ...!?" Ranan tersenyum penuh arti.
Beberapa prajurit es mulai berdiri lagi, sontak hal itu mengejutkan Kiya. Dia sudah yakin bahwa pelaku itu sudah tak sadarkan diri bahkan meninggal karena serangan penghabisan yang dilakukannya.
[Jangan panik, Tuan! Perhatikan baik-baik ...! Mungkin para prajurit itu memang belum mati akibat zirah es itu, namun mereka semua pingsan. Mereka bergerak karena Ranan yang menggerakkannya]
"Ini tak sesuai perjanjian ...Eh? hah ...? Yah, tak ada larangan untuk melakukan ini! Huh, sial! Tunggu, apa yang dilakukan Viola?"
[Dia masih fokus dengan sihirnya, Tuan]
Kiya menoleh ke belakang dan menempatkan Viola yang masih fokus dengan sihirnya. Matanya terpejam dan kedua tangannya seperti sedang berdoa.
Tak lama berselang, Viola mulai membuka matanya kembali. Sebuah lingkaran sihir berwarna biru muncul di bawah kaki para prajurit es.
"System ...! A-ku punya firasat buruk tentang ini!"
Kiya merasa tak nyaman dengan sihir yang akan dilakukan Viola. Dan bukan hanya Kiya saja, Ranan pun merasa ada yang janggal.
"Sihir apa itu? Apa Viola belajar sihir baru? Tidak ... dia Menciptakannya!" Batin Ranan yang mulai bersiaga.
__ADS_1
"Retrorsum!" Kata Viola tegas.
Semua yang ada di medan pertempuran terkena efeknya.