
Jo kembali untuk melaporkan sesuatu, sesuatu yang tidak sesuai fakta.
"T-tuan saya kembali!" Kata Jo sedikit menunduk.
Mendengar suara yang tak asing, Volancy reflek menghadap ke sumber suara. "Oh, Jo ... bagaimana, apa mereka akan datang?" Tanya Volancy penuh harap.
Jo dengan sedikit menyesal menggelengkan kepala sebagai simbol ketidaksanggupannya. Si istri, Foulan yang pertama bereaksi.
"Kenapa mereka tak mau? Apa mereka tak nyaman? Kita memerlukan mereka dengan buruk?" Kata Foulan setengah berteriak, hingga bayi di gendongannya sedikit terusik.
"Tenanglah sayang! Kamu membuat anak kita ketakutan!?" Kata Volancy lembut berusaha menenangkan sang istri. "Jadi, kenapa mereka tak mau hadir?" Sambung Volancy menatap Jo dengan serius.
Alih-alih menjawab pertanyaan, Jo malah menyerahkan sebuah benda. Volancy menerima benda dan menatapnya aneh, tak mengerti kenapa Jo memberikannya.
"Apa maksudnya ini?"
"Anak panah itu saya temukan dari sana—tempat para imigran!? Anda tau ... anak panah itu dilapisi racun yang sangat mematikan!"
"Jadi ...?" Tatapan Volancy bertambah serius.
Sebelum menjawab pertanyaan itu, Jo beberapa kali melihat sekeliling dan sedikit melirik ke arah Foulan. Volancy pun mengerti maksudnya, dia kemudian sedikit bergeser beberapa meter dari istrinya.
"Sepertinya mereka melakukan rencana pembunuhan, Tuan!?" Bisik Jo.
Tepat pada saat itu ...
Syutt ...
Sebuah anak panah meleset mengincar Volancy yang lengah. Tak ada yang menyadari hal itu selain sang istri.
"SAYANG!"
Foulan berlari dan mendorong tubuh sang suami.
Jleb ...
Volancy hanya mematung melihat tubuh istri tercintanya tertancap oleh sesuatu dan secara perlahan tubuhnya roboh. Tapi, Foulan masih berupaya agar bayi di gendongannya tak terluka.
"M-m-maaf ...!" Rintih Foulan yang roboh dalam pelukan suaminya.
"Oek ... oek ... oek ..."
Tangisan seorang bayi langsung memecah kemeriahan pesta. Sedangkan Volancy sendiri belum bisa mencerna situasinya hanya melihat tubuh Foulan berada di pelukannya bersama anak mereka.
"SEMUANYA ... ADA YANG MENYERANG TUAN VOLANCY, CEPAT CARI PELAKUNYA!" Teriak Jo mengintruksikan setiap prajurit yang berjaga di beberapa titik untuk mencari pelakunya.
Kemudian kerumunan orang mulai mengerubungi Volancy dan Foulan. Semua orang yang merasa punya keahlian dalam bidang penyembuhan berupaya untuk menyelamatkan nyawa Foulan.
"T-tidak bisa, racunnya sangat mematikan! Healing bahkan tak bisa menghilangkannya!?"
Semua usaha dilakukan ... tapi, tak ada yang sanggup mengatasi penyebaran racun yang sangat cepat itu.
Dan Sudah terlambat, tak ada yang bisa menyelamatkan Foulan.
"F-foulan b-berta-hanlah! Tolong bertahanlah, aku pasti akan menyelamatkanmu! Jadi, jangan tidur ...! Anak-anak kita masih ... aku tak mau kehilanganmu, Foulan! To-long bertahanlah, to-long jangan tinggalkan kami" Air mata menetes dengan deras membasahi wajah Volancy. "KALIAN ...!? APA TAK ADA YANG BISA MENGUSAHAKAN UNTUK MENYELAMATKANNYA?"
Semua orang itu senyap, mereka dengan menyesal menggeleng dan berkata. "Maaf, Tuan!?"
"TIDAK BERGUNA!" Bentak Volancy dengan berlinangan air mata.
Secara mengejutkan Foulan yang sebelumnya pingsan kembali sadar. Tapi, kelihatannya itu adalah pengucapan kata-kata terakhir. Foulan berjuang keras melawan racun dalam tubuhnya hanya untuk mengatakan beberapa kata.
"S-sa-yang, ja-ngan memarahi mereka! Me-reka sudah berjuang!" Kata Foulan lemah menatap mata sang suami kemudian tangannya berusaha menggapai pipi Volancy.
Volancy pun meraih tangan itu dan menempelkan ke pipinya sendiri.
"I-nilah akhirnya ...uhuk ... uhuk ..." Foulan memuntahkan darah. Dengan lemah, Foulan berusaha menghapus air mata di pipi Volancy.
"M-ma-afkan, m-m-maaf aku tak bisa me-nepati janji ... untuk bisa ... se-lalu di sampingmu, mem-be-sarkan ... anak-anak kita, me-nua ber-sama. Maaf, ya ... s-sam-pai kapanpun ... aku akan ... selalu ... mencintaimu ..." Foulan pun ikut meneteskan air matanya.
Kata-katanya terputus dan bersamaan dengan itu, tangannya yang lemas terlepas dari pipi Volancy diikuti dengan mata yang terpejam.
"A ..."
__ADS_1
"Aaa ..."
"Aaaa ..."
Volancy ingin berteriak sekeras-kerasnya, tapi entah kenapa dia tak bisa melakukannya. Volancy membekap Foulan sekuat-kuatnya seperti tak ingin melepaskannya. Selanjutnya dia terus memeras air di matanya sampai habis, jika ditampung mungkin volume-nya sudah mendekati satu gayung.
Suasana sukacita dalam sekejap berubah menjadi berkabung.
"OEK ... OEK ...OEK ...!"
Sang bayi yang seperti merasakan bahwa ibunya pergi menangis dengan keras memecah keheningan.
Tangisnya bertambah keras seiring waktu, tapi Volancy tampak tak peduli ... dia masih terus membekap tubuh Foulan yang berubah semakin dingin dan kulit yang mulai memucat.
"Tuan Volancy kami berhasil menangkap pelakunya!?"
Datang sekelompok prajurit yang membawa seseorang yang diduga pelaku. Sontak hal itu membuat semua orang yang di sana terkejut, terlebih lagi Volancy.
"Penggal dia di tempat!" Seru Volancy datar.
.
.
.
Beberapa hari setelah kematian Foulan.
Semuanya berubah drastis, apalagi Volancy. Sejak malam itu dia sama sekali tak pernah meninggalkan kediamannya sekalipun padahal biasanya dia selalu berjalan-jalan ke kota.
Para warga kota yang sudah tak melihatnya beberapa hari terakhir menjadi cemas akan kondisinya. Jadi, beberapa orang perwakilan datang untuk membesuk Volancy, namun niat baik itu dihancurkan.
"Usir mereka! Aku tak mau menerima siapa pun untuk saat ini!" Perintah Volancy datar tanpa emosi.
"Baik, Tuan!"
Prajurit itu pun undur diri dari kamar Volancy.
Bukan setakat keluar dari Mansion, Volancy juga tak pernah keluar dari kamarnya—terus mengurung diri dari dunia luar.
Aku hidup di neraka.
Volancy sudah tak peduli pada keadaan sekitarnya bahkan pada dirinya sendiri. Di kedua tangannya terlihat jelas bekas sayatan-sayatan benda tajam—dia berniat mengakhiri hidup. Dunia sudah tak berarti, aku hidup di neraka ... pikirnya.
"A-pa benar iblis sanggup menghidupkan orang mati?" Gumam Volancy.
Muncul pemikiran seperti itu di benaknya, bukan tanpa alasan. Pemikiran itu muncul karena dia menerima sebuah kertas dengan isi yang menyatakan bahwa iblis bisa menghidupkan orang mati atau iblis bisa mengabulkan permintaan.
Volancy meremas dengan keras kertas itu hingga hampir membuatnya robek. Tubuh Volancy gemetar, sebagian dirinya memercayai tulisan itu dan sebagian lainnya menolak dengan keras. Lagipula, Volancy adalah pengikut setia ajaran Dewi Aria.
Volancy mengalami dilema berat ...
"Foulan ...!?"
Volancy menangis ketika menyebutkan nama istri yang sangat dia cintai. Potongan-potongan memori lalu menghujaninya, Volancy menjadi goyah ... rasa cintanya terhadap Foulan lebih dari apa pun. Jadi ...
Volancy pun terhasut dengan tulisan pada kertas di tangannya itu ...
"A-ku harus melakukan ritual pemanggilan iblis!"
Jika Volancy benar-benar melakukan itu ... maka dia secara sah adalah orang yang harus dibunuh, jika pihak gereja suci Carialin mengetahuinya ... sudah dipastikan hukuman mati akan diberikan.
Pada titik inilah Volancy yang dulu saat istrinya masih hidup sudah hilang, berganti dengan Volancy yang baru. Semua orang bahkan tak bisa mengenali sosok pemimpin mereka saat ini karena terlalu banyak berubah.
Masa kelam kota Xely dimulai.
.
.
.
Kiya PoV
__ADS_1
Semua orang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Penguasa yang mereka anggap adalah orang paling busuk sedunia memiliki masa lalu kelam seperti itu. Tak sedikit orang yang mulai melihat Duke Volancy dengan tatapan iba.
Sebenarnya ini sedikit aneh, kejadian itu terjadi 20 tahun lalu ... seharusnya para sepuh kota Xely mengetahuinya, kan? Tapi, mereka bereaksi seolah tak pernah mengetahui soal ini.
"Duke ...!? Dia ...?!" Vlad dan yang lainnya belum sepenuhnya percaya.
"Yah ... itu adalah hak kalian untuk memaafkannya!" Balasku melirik Volancy.
"Bukan seperti itu ... tapi, ah ...! Saya bingung, kenapa semua penduduk kota tak ada yang mengetahui hal ini?" Vlad memegang kepala karena berpikir terlalu keras.
"Hal seperti itu tak perlu dipikirkan! Hanya akan membuat pusing kepala!? Terpenting ... apa keputusan kalian?"
Vlad dan yang lainnya saling pandang sesaat ... wajah mereka penuh keragu-raguan. Aku bisa menganggap ini adalah hal yang normal. Mana ada orang yang ingin memaafkan orang yang sudah membuat hidupnya menderita sangat lama bahkan sejak terlahir, contohnya Celia, Balta, dan Syilta. Mereka terlahir 3 tahun setelah Duke Volancy berubah. Generasi mereka yang paling menderita sejak terlahir.
Aku menyuruh Calsya untuk membawa Duke mendekat. Kemudian aku mulai menyembuhkan setiap luka yang ada pada tubuhnya.
"Aku memang tak bisa membenarkan setiap tindakannya, tapi dia juga korban! Semua yang terjadi padanya sudah dimanipulasi ... " Aku sejenak menatap mereka semua.
"Dia orang yang sangat baik malah terlampau baik, sampai dia tak mengetahui bahwa para bawahannya sudah main belakang karena terlalu percaya. Jika ingin dibandingkan, tidak ... penderitaan tidak bisa dibandingkan! Intinya Duke juga menderita!"
Menurutku pihak yang paling salah atas masakan ini adalah Jo. Tak bisa dipercaya ... padahal aku sudah membunuhnya saat menyisip ke Mansion.
«Jangan terperdaya! Dia pasti masih hidup!»
"Aku sudah tau ... dia dalang dari semua ini!"
Aku tidak menyalahkan Asmodeus, karena ...?
Yah, iblis pada dasarnya memang jahat! Untuk apa menyalahkan entitas yang sejak terlahir memang jahat?
Jika Duke tak memanggilnya, Asmodeus juga tak akan merusuh di dunia. Begitulah ...
Aku telah selesai melakukan penyembuhan meski tak sempurna. Seharusnya sebentar lagi dia sadar ... pengaruh Asmodeus sudah lenyap, dia akan jadi dirinya yang dulu, dia harus memulai semua ini dari awal.
Aku percaya dengan kepemimpinannya ... pasti kota, bukan sekarang adalah sebuah negara yang berdiri sendiri. Negara ini pasti akan berkembang di bawah kepemimpinannya.
"Tuan Volancy, Tuan Volancy ...!? Anda baik-baik saja?"
Duke secara perlahan membuka matanya. Dia sangat terkejut melihat banyak orang yang mengerumuninya.
"Bunuh saja saya!" Kata Volancy yang tak punya semangat hidup lagi.
"Tidak ... belum waktunya kau mati! Masih ada tugas yang harus kau lakukan! Ini adalah cara untuk menebus semua dosamu" Kataku padanya.
Dia terkejut setengah mati ketika melihatku. Aku sungguh suka ekspresinya.
""Tuan Volancy ... dengan kemurahan hati Andra ... tolong pimpin kami sekali lagi!""
"Eh? A-pa maksudnya?" Mata Duke mulai berlinang melihat semua orang menundukkan kepala pada dirinya.
"Intinya ... ayo mulai semuanya dari awal!" Kataku melemparkan senyum.
.
.
.
Yeayyyy ... arc 1 selesai, nggak nyangka bisa selesai.
Jadi, gimana menurut kalian?
Terlalu banyak drama?
Plot terlalu lambat?
MC nggak OP²?
Atau apa?
Aku pingin denger pendapat kalian.
Yah ... arc ini adalah awalan untuk mengenalkan antagonis utama, ya ... jadi, sengaja seperti ini konfliknya.
__ADS_1
Sampai jumpa di Arc 2 ...