
Negara Xeliqia ...
Di dalam sebuah bangunan terbesar di kota yang kini sudah berubah menjadi sebuah negara. Di dalam sebuah ruangan, nampak 3 orang tengah sibuk menangani tumpukan kertas.
Salah seorang dari mereka yang merupakan pria yang cukup tua, terlihat rambut hitam yang tersisir rapi ke belakang mulai memutih di beberapa bagian.
"Kenapa harus saya yang harus mengemban tugas ini?" Keluh pak tua, William.
"Ini adalah sistem negara Xeliqia, kan? Pak Will—eh? maksudku Tuan wakil presiden William yang terpilih bersama Tuan Kiya sebagai presidennya!" Ejek seorang wanita berambut putih panjang sambil menuangkan teh. Dia adalah Syilta yang berdiri di samping pak Will.
"Panggil saja seperti biasa, Syilta! Saya merasa aneh dengan gelar itu!" Jawab pak Will menempelkan kepalanya bersama tumpukan kertas di meja.
"Tak boleh! Tak sopan rasanya. Benarkan, Tuan Volancy?" Syilta mengoper pada pria setengah baya berambut pirang yang sibuk membaca tulisan yang ada pada semua kertas itu.
"Itu tepat sekali! Anda adalah sosok pemimpin pengganti selama Tuan Kiya belum kembali." Jawab Volancy kembali menaruh kertas itu di meja, tepatnya memukul pelan kepala pak Will.
"Hmm ... Tuan Kiya mengalami masalah yang sangat besar! Saya harap dia masih baik-baik saja di manapun dia berada!" Kata Pak Will menegakan kembali kepalanya.
"Umm, yah ... apa ini sudah sesuai rencana?" Kata Syilta penasaran.
"Masih dalam trek meskipun melenceng ... tapi ... huh, rencana Tuan Kiya terlalu gila!" Volancy menghembuskan nafas berat.
"Yang cuma bisa kita lakukan adalah berdoa dan menyiapkan semua hal yang diperlukan untuk langkah selanjutnya!"
.
.
.
"Kenapa Nona Ashera harus kembali? Mereka semua jadi Baper dan langsung memutuskan untuk menjajah Benua Barat, kan? Ahh ... Nona Ashera, ini salahmu!"
"Eh? Tidak, tidak ... Ini bukan salah Nona! Ini adalah salah manusia bodoh yang telah memanggil Anda! Tolong jangan bunuh saya!"
Seseorang dengan tubuh yang sepenuhnya tertutupi oleh jubah hitam terbang menunggangi seekor serigala setengah kelelawar. Orang misterius itu berbicara sendiri, marah-marah tidak jelas seperti orang gila.
"Dasar manusia ...! Tapi, aku juga manusia ...?" Ekspresi orang itu sedikit bermasalah.
.
.
.
Lamort Desert ...
Setelah munculnya awan ungu gelap yang menjatuhkan hujan senjata, semua orang yang berperan sebagai pihak pencegat bagi sudah keluar dari posisinya. Mereka bergeser menjauhi Lamort Desert beberapa kilometer mengingat ngerinya hujan senjata yang terjadi.
"Tadi itu sangat mengerikan!" Kata seorang komandan bergidik ngeri karena telah menyaksikan fenomena alam yang tak akan pernah bisa dijelaskan.
__ADS_1
"Tuan, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Salah satu bawahannya mendekat dan bertanya dengan nada yang agak ragu-ragu.
Komandan itu berpikir sejenak dengan memegangi dagunya, dia beberapa kali memerhatikan kondisi pasukan yang dia pimpin. Semuanya baik-baik saja, tak ada yang terluka ... hanya saja mental mereka benar-benar jatuh mengetahui bahwa setiap makhluk hidup yang ada di Lamort Dessert telah musnah secara keseluruhan.
Komandan itu juga melihat ke arah Lamort Desert yang tanahnya berwarna kemerahan.
"Sudah tak ada gunanya!? Kami telah mundur jauh dari posisi seharusnya dan itu sepertinya juga dilakukan oleh pasukan lainnya. Si buronan itu mungkin sengaja melakukan sihir area sebesar itu untuk memaksa kami mundur, dan dia bisa langsung kabur dengan leluasa!" Batin si komandan yang berpikir keras, sedikit bingung dengan keputusan yang akan diambilnya.
"Tuan, bagaimana?"
"Itu ... yah, kita—" Perkataan komandan itu terpotong setelah beberapa orang asing mendadak muncul di tengah-tengah mereka.
"Para pahlawan? Hoi, para pahlawan datang!" Teriak salah seorang prajurit dengan lantang.
"Pahlawan? Kenapa mereka datang?" Gumam si komandan bingung melihat tiga orang pahlawan, Ranan, Gouri, dan Arron.
"Seburuk ini kondisinya? Hmm ... Ranan, jadi bagaimana?" Kata Gouri santai menghiraukan seluruh perhatian dari orang sekitarnya.
"Tentu saja kembali! Apa yang akan kita lakukan di tempat seperti ini?" Respon Arron ngeri melihat pemandangan tanah yang kemerahan di kejauhan.
Ranan tak merespon, di lebih memilih melakukan interogasi pada komandan pasukan itu.
"Kau ... komandan pasukan ini, kan? Tolong jelaskan situasinya?" Tanya Ranan tanpa ada ekspresi, datar seperti biasa.
"Situasi sangat mengerikan, tanpa ada sebab yang jelas cuaca tiba-tiba mendung dengan awan berwarna ungu gelap. Selang setengah jam ... hal yang tak terduga terjadi, hujan senjata dengan efek-efek tertentu turun secara serempak meluluhlantakkan seluruh area Lamort Desert!" Terang komandan itu dengan jelas.
"Meskipun begitu ... sepertinya tidak ada korban jiwa yang diderita oleh pasukan yang bersiaga di seluruh perbatasan Lamort Desert, selain ... regu pencari!" Sambung si komandan yang suaranya sedikit mengecil pada akhir kalimat.
Ranan menanggapinya dengan cuek seakan-akan tak peduli. "Sepertinya ada bagian yang terlewat!?"
"Eh? Ahh, ya ... saya sedikit lupa. Sebelum cuaca berubah, sesuatu terbang dengan sangat cepat menuju ke tengah gurun!"
"Wah ... rasa curigamu pada Viola ternyata benar!?"
"Sekarang, apa yang dilakukan wanita itu?"
"Baiklah, terimakasih. Sekarang, kau dan seluruh pasukanmu ... mundurlah, kalian sudah tak berguna!" Ranan berbalik menuju ke dekat Gouri dan Arron.
"Baik, laksana!" Jawab si komandan lantang melakukan hormat.
Lalu ... mundurlah pasukan itu.
"Jadi, bagaimana?" Ujar Gouri berkacak pinggang.
"Viola ... penyebab semua ini adalah dia!"
"Viola ...? Jadi, apakah Viola telah dihabisi Ashera?" Tanya Arron sangat terkejut.
"Bukankah itu sangat buruk? Kekuatan kita berkurang, ini akan menyulitkan! Dan dimana Ashera ... niat kita ke sini adalah untuk melawannya setelah dia menggunakan setengah lebih kekuatannya!?" Gouri meminta kejelasan.
__ADS_1
"Yah, kita harus menunggu Viola. Cuma dia yang tahu ...!"
"Hah ... apa katamu?"
Di langit sebuah retakan dimensi muncul, dari dalam sana keluar sesuatu ...
Brakk ... brakk ...
Ribuan manusia dengan monster seperti Wyvern dan gryphon jatuh begitu saja, namun ... salah satu dari mereka adalah topik pembicaraan yang diangkat Ranan.
Ranan melompat mencoba untuk menangkap salah satu dari mereka dan di saat yang bersamaan, dia juga melemparkan salah satu pedang di punggungnya, Pedang Es Niare.
"Viola, bagaimana bisa?" Arron terkejut orang yang ditangkap Ranan adalah Viola yang pingsan.
"Kenapa Viola masih bisa selamat? Lalu ... tadi, itu lubang dimensi, kan?" Gouri juga sama terkejutnya dengan Arron.
"Kita dengar semua penjelasannya." Kata Ranan menatap Viola yang ada di gendongannya.
"Lakukan yang terbaik, Nia!"
.
.
.
Kiya dan yang lainnya masih di dalam dimensi pribadinya dikejutkan oleh sesuatu yang muncul secara tiba-tiba tepat setelah dia mengirim Viola kembali. Itu adalah sebuah pedang berwarna biru sepenuhnya di seluruh bagian.
"Pedang itu ...?" Kata Kiya tak mempercayai apa yang dilihatnya.
"Oh, Nia? Aku tak menyangka aku akan bertemu dengan kalian satu per satu, sebelumnya aku sudah bertemu dengan Vian!" Ashera memunculkan dirinya kembali.
"Kau pembuat masalah, Ashera!" Pedang biru itu mulai berbahaya dan membentuk sebuah sosok.
"Ayo kita bersenang-senang!" Rambut putih lah yang pertama terlihat
.
.
.
Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.
Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.
aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.
Dah ... see you
__ADS_1