System : Unknown

System : Unknown
Chapter 65 -Ketahuan


__ADS_3

"Ada sesuatu yang aneh?!"


Feelid menoleh ke salah seorang dari rombongannya. Sadar bahwa dirinya ditatap terlalu lama, orang itu pun menegur.


"Apa ada yang salah pada diri saya?" Tanya orang itu sambil melihat-lihat tubuhnya, juga mencoba mengendus baunya. Siapa tahu bahwa bau tak sedap yang menjadi inti masalah.


"Ah, maaf. Tidak ada apa-apa!" Jawab Feelid agak canggung.


"Hmm ... baiklah." Balas orang itu kebingungan melihat tingkah laku Feelid yang merupakan salah satu pengawal rombongannya.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang mencurigakan?" Tanya Falama lewat telepati. Falama berada agak jauh di depan. Tapi, pendengarannya cukup tajam untuk mendengar obrolan singkat itu.


"Tidak ada. Mungkin hanya perasaanku saja!"


"Perasaan? Apa maksudmu?" Desak Falama, tak puas menerima penjelasan yang ambigu


"Bukan apa-apa!"


Falama menyerah dengan Feelid, untuk memperlihatkan kekesalannya ... dia menoleh ke belakang melihat Feelid yang kelihatan bingung.


"Dia selalu tak mau berterus terang dari dulu!" Batin Falama menatap Feelid serius.


Orang yang mengobrol dengan Feelid tadi kedapatan memerhatikan dengan tatapan yang aneh. Yah, perasaan aneh yang dirasakan Feelid ada benarnya. Orang tadi bukan orang sebenernya. Dia adalah ...


"Yah, ternyata dia cukup peka!" Batin orang itu.


Iris matanya pun secara tak sengaja berubah menjadi merah darah untuk sesaat, tak ada yang menyadarinya sama sekali.


"Ancaman, ayo bunuh ancaman ... hehe!"


Ya, dia adalah Ashera. Dia telah melenyapkan keberadaan salah satu orang dari rombongan dagang, kemudian meniru wujudnya.


.


.


.


Proses yang cukup panjang di gerbang masuk sebenarnya masih belum seberapa, para pendatang baru yang lolos selanjutnya akan di arak menuju ke kediaman penguasa Xeliqia. Mereka akan diintrogasi lebih lanjut, maksud kedatangan mereka dan berapa lama mereka akan menetap.


Selama di Xeliqia, setiap gerak-gerik akan diawasi. Pasti ada sosok prajurit yang akan selalu berpatroli memonitoring keadaan.


Terlihat seperti tempat yang kurang ramah bagi imigran. Tapi, apa boleh buat. Situasi sedang kacau bagi Xeliqia, mereka berpikiran terlalu banyak para pendatang datang hanya membawa masalah, lebih baik sedikit bahkan tak usah ada pendatang untuk saat ini. Situasinya memang sangat buruk bagi Xeliqia untuk saat ini.


Sementara itu di kediaman presiden ...

__ADS_1


"Balta ... apa kau tadi mengupingnya?" Kata seorang wanita berambut putih panjang tersenyum licik.


"Tentu saja, terdengar sangat jelas!" Wanita berambut abu-abu yang menjadi lawan bicaranya tak kalah menyunggingkan senyuman licik.


Mereka berdua adalah salah satu petinggi Xeliqia, Kementrian sosial ... Syilta dan Balta. Mereka tadi secara tak sengaja menerima sinyal sihir telepati saat keduanya juga sedang berhubungan lewat telepati.


Telepati memang gampang sekali disadap, apalagi jika sihir telepati yang digunakan tingkatannya lebih rendah.


Sihir telepati Syilta dan Balta dalam tahap tertinggi kerena itu memang keahlian mereka, Ashera pun kalah.


"Jadi, apa yang akan kita lakukan pada mereka? Sudah jelas mereka berniat buruk, mereka sedang mengumpulkan informasi tentang Tuan Kiya!?" Kata Balta.


"Laporkan hal ini pada semua orang, awasi rombongan itu sepenuhnya!"


.


.


.


"Hei, apa kalian tak sadar? Sepertinya kita sangat diawasi!?" Dandelina memulai pembicaraan lewat telepati.


Geshi, Whikal, Falama yang tersebar di depan dan tengah rombongan pun langsung melirik ke sekeliling. Dan benar saja ... mungkin bagi orang lain tak ada yang aneh, tapi bagi seseorang setingkat dengan JUDGMENT sudah sangat jelas.


Bahwa tatapan mata puluhan orang dari segala arah tertuju pada mereka berlima, mereka sudah ketahuan.


"Kedok kita terbongkar secepat ini ... sedikit aneh, apa kita melakukan tindakan yang mencurigakan?" Dandelina berpikir dengan keras, dia melirik ke arah semua rekannya berada.


"Gerak-gerik kita normal! Apa jangan-jangan ..."


"Hmm ... asumsikan saja bahwa introgasi di gerbang masuk adalah penyebabnya. Mungkin orang dengan kemampuan Mind Reading dan sejenisnya!" Falama berpendapat.


"Huh ... pasti ini salah Geshi dan Feelid, kalian tukang penghancur rencana! Kalian harus membatasi pikiran kalian!" Cemooh Whikal.


"Hah ...! Hei, jangan salahkan aku! Ini terjadi karena kita lengah!" Sanggah Geshi tak mau disalahkan.


Feelid tetap memilih diam, meskipun dia juga merasa tak melakukannya kesalahan apa pun.


"Nasi jadi bubur! Jadi, bagaimana ...? Mencoba hancurkan kerajaan mungil ini!" Saran Falama.


"Baiklah, kita mulai—"


Lingkaran sihir berwarna ungu gelap muncul di bawah rombongan dagang itu, mereka tak bisa bergerak saat cahaya ungu dari lingkaran sihir menyelimuti tubuh mereka. Dan beberapa detik berselang mereka cahaya yang keluar semakin terang, mungkin orang yang nekat tetap membuka mata di tengah cahaya itu akan langsung mengalami kebutaan.


Selanjutnya rombongan dagang lenyap ditelan cahaya ungu itu.

__ADS_1


Para JUDGMENT yang menyamar bingung sesaat dengan perpindahan mereka yang dari tengah kota ke hutan berantaran yang mereka ingat adalah belasan kilometer dari Xeliqia. Namun dengan segera mendapat fokusnya kembali.


"Teleportasi? Cepat berpencar!"


"Nah ... manusia, ayo kita bermain!" Kata seseorang dengan jubah yang menutupi tubuhnya berdiri di atas kereta kuda yang terbalik. Selain para JUDGMENT, semua orang telah dihabisi.


"Sepertinya perasaanku tadi benar!" Feelid tersenyum kecut melihat orang berjubah—Ashera.


Sementara itu ...


"Tuan ... Volancy?" Rengek Syilta menoleh ke arah Volancy yang berada di sampingnya.


"Hmm ... ya." Balas Volancy cuek dan datar sembari menyeruput teh yang berada di cangkir antik yang elegan.


"Ada terjadi sesuatu yang buruk?"


"Bagaimana perkembangannya?"


Pak Will dan Vlad yang juga kebetulan berada di ruangan yang sama tak bisa menahan rasa penasarannya.


"M-mereka tiba-tiba menghilang! Sebuah lingkaran sihir berwarna ungu tiba-tiba muncul ... dan boom ... mereka lenyap!"


Beberapa tetes teh berhasil membasahi mulut Volancy, namun dengan segera termuntahkan.


"Uhuk ... uhuk ... bagaimana bisa? Teleportasi?" Kata Volancy yang agak panik mengelap sudut mulutnya dan meletakkan cangkir sejenak.


Syilta mengangguk pelan.


"Huh ... sebenarnya apa yang terjadi? Tiba-tiba ada penyusup lalu hilang tiba-tiba!" Semua orang dalam ruangan itu cuma bisa memegangi kepalanya atas kejadian itu.


Kembali ke kondisi Ashera.


"A-shera, dia iblis yang dimaksud?" Bulir peluh keringat mulai membasahi wajah Geshi.


"Sudahlah, tak perlu takut! Target sudah menunjukkan dirinya sendiri, yakinlah dengan berkah yang diberikan Dewi Aria ... kita pasti bisa memusnahkan iblis terkutuk ini!" Kata Dandelina menunjukkan ekspresi yang jarang terlihat pada dirinya. Perlengkapan biasa yang melekat pada tubuhnya telah berubah menjeda zirah perak kebesaran para JUDGMENT.


Moral rekan-rekannya yang sempat jatuh kembali naik sampai menembus langit. Mereka pun juga telah siap melakukan pertarungan.


""Musnahlah iblis!""


.


.


.

__ADS_1


Terimakasih yang sudah baca sampai sini.


__ADS_2