System : Unknown

System : Unknown
Chapter 84 -Berubah


__ADS_3

Maaf beberapa hari nggak update. Sibuk soalnya, ada acara keluarga.


Maaf, atas ketidakprofesionalannya🙏


.


.


.


Hari masih terlalu awal, seharusnya aku tak memiliki agenda apa pun sampai tengah hari. Namun, ada sesuatu mendesak, dan ini tak dapat ditunda.


Memang merepotkan, padahal mood-ku belum juga membaik.


"Maaf, sudah menyita waktu Anda!"


"Tak masalah."


Aku dan Calsya kini tengah berjalan di lorong yang mengarah ke suatu ruangan di gedung pemerintahan. Agenda kali ini adalah rapat, aku belum tahu mengenai tema rapatnya, sampai-sampai harus melibatkan diriku.


Aku malas mengurus urusan pemerintahan. Duduk-duduk di suatu ruangannya dengan tumpukan kertas sepanjang waktu, itu sangat membosankan.


"Balta, tolong sedikit jabarkan tentang rapat ini?"


Balta yang menjadi pemandu jalan seketika berhenti lalu menoleh ke belakang sambil tersenyum masam, serta menggaruk pipinya yang tidak gatal.


"Sepertinya Tuan Kiya memang sangat terganggu, ya?"


"Bukan seperti itu, aku cuma ingin tau. Lagi pula ini memang tanggungjawabku."


"Ah, soal masa depan Xeliqia dan dunia."


Jawaban yang ambigu dan setengah-setengah, tapi benar juga ... aku meminta sedikit penjabaran, bukan secara lengkap. Aku tak bisa protes.


"Hmm ... baiklah, cukup menarik!"


"Ah, ya ... mari."


Perjalanannya selesai beberapa menit menyusuri lorong, akhirnya kami sampai di ruangan yg dimaksud. Balta mendorong pintu dengan pelan.


Wajah-wajah orang kukenal tertangkap oleh mataku.


"Hmm ... masa depan Xeliqia dan dunia? Apakah ada semacam ancaman yang setara dengan Demonlord?"


""Selamat datang, maaf telah mengganggu waktu Anda."" Sapa mereka serentak sedikit menunduk.


Aku mengangguk, berjalan ke kursi yang kosong—sengaja disisakan untukku. Aku duduk tepat di tengah meja yang membentuk huruf U. Balta dan Calsya sendiri duduk terpisah di pinggir ruangan karena mereka bukan peserta rapat.


"Silahkan dimulai!" Kataku agak malas.


.


.


.

__ADS_1


Baiklah, skip saja rapatnya, aku tak terlalu mengikuti alur rapat tersebut dan cuma mengingat beberapa bagian penting.


Seperti yang dikatakan Balta sebelumnya bahwa masa depan Xeliqia dan dunia yang menjadi topik utama, dan itu benar adanya.


Kami membahas soal fenomena aneh, yaitu invasi monster ke pemukiman manusia tanpa sebab yang jelas. Jika jumlahnya di bawah ribuan mungkin bisa diatasi, ditambah Rank yang cuma B ke bawah. Namun, agresi monster kali ini tak main-main ... jumlahnya ada puluhan ribu dan Rank rata-rata B dan C, sebuah kota rata dalam sekejap. Beberapa kota telah menjadi korbannya.


Beberapa kerajaan pun sampai dibuat kerepotan oleh fenomenal ini, sebagai contoh ... Kaelseth ; domisili Ranan, Scasina ; domisili Fene, Arcadia ; domisili Viola. Kerajaan-kerajaan itu benar-benar kerepotan.


Terlebih Kerajaan Astel ; domisili Arron, yang paling parah menanggung kerugian. Meski Gouri, Fene, dan Arron sudah bersatu untuk membendung para monster itu, hasil tak begitu bagus ... beberapa kali mereka harus mundur merelakan beberapa kota karena tak sanggup membendungnya.


Karenanya, Astel mengirimkan surat permohonan kepada beberapa kerajaan untuk meminta bantuan. Penerima salah satunya adalah Xeliqia. Bisa dibilang rapat ini hanya untuk mengambil keputusan.


Mengirim bantuan ... atau mengabaikannya?


Aku sejujurnya tak peduli, tapi kesan dan pendapat kerajaan lain harus bagus, itu untuk kepentingan di masa depan.


Ksatria Pentagram : Ksatria Elit yang terdiri dari Falama, Geshi, Whikal, Feelid, dan Dandelina. Mereka yang akan dikirim ke Astel bersama 1000 pasukan pilihan.


Militer Xeliqia sudah sangat berkembang, menurutku itu sudah cukup


Dan juga ... aku mengirim Ashera. Bukan ke Astel, tapi ke Arcadia.


Aku cuma ingin melihat kondisi pahlawan naif itu. Bagaimana dirinya yang sekarang?


.


.


.


"Menurutmu, apa yang kini sedang terjadi?" Orang di sampingku, yah pastinya Calsya memulai pembicaraan.


"..."


Aku mengacuhkannya.


"M-ma-af, tak sepatutnya—"


"Dasar pemurung!" Kataku gemas menyentilkan jariku ke dahinya.


"Aww, kenapa kamu menjitakku?" Erangnya menegang dagunya, ia pun menatapku dengan kesal. "Aku bukan pemurung!"


"Heh ... realita sangat mendukung argumenku, kau tau!" Kataku sedikit cengengesan.


"Aku murung juga karena kamu, bodoh! Aku takut kamu membenciku!"


Yah, ini jelas sangat murung. Dia menundukkan wajahnya seraya sebelah tangannya sedikit menarik bajuku.


"Apakah kamu marah padaku, apa kamu membenciku?" Katanya parau.


Jtak ...


"Aww, sakit ... jangan lakukan itu terus-terusan!"


"Yah, habisnya kamu bodoh sih!?" Aku berjalan kembali dengan sedikit nada menggoda.

__ADS_1


"K-kamu?"


Aku berhenti berjalan dan menoleh kembali ke belakang ketika mendengar pekikan terkejut dari Calsya, "Ada yang aneh?"


"Uhh, tidak, itu sangat bagus." Ekspresi Calsya seketika berseri-seri, ia berjalan pelan ke arahku lalu memeluk lenganku. "Hei, Kiya ... apa kamu mencintaiku?"


Pertanyaan yang tak ingin kujawab secara langsung.


"Kamu memang terlalu bodoh! Seharusnya waktu yang kita habiskan bersama sudah menjawabnya."


Aku mulai berjalan lagi dengan Calsya yang berada di sisiku, memeluk erat tanganku, aura kebahagian terpancar jelas dari dirinya.


Apa kami sudah seperti sepasang kekasih?


"Eh? Kamu itu terlalu misterius, sulit dimengerti! Malah aneh, seharusnya yang main kode-kodean itu wanita, tapi ini malah kamu ... pria yang tak mau langsung terus terang!" Cemooh Calsya.


Perkataannya benar, aku memang tak pernah berterus terang. Entahlah ... aku cuma takut.


"Teruslah tersenyum!"


"Eh?" Kejut Calsya, mulutnya sampai menganga lebar, berusaha mengatakannya sesuatu.


"Jangan jadi dirimu yang dulu, yang selalu menyendiri dan tak pernah tersenyum. Teruslah tersenyum seolah-olah kamu adalah orang paling bahagia di dunia, sampai orang berpikir kamu gila. Senyumanmu adalah hal yang membuatku tersenyum!"


Aku tak ingin semua ini berakhir, maksudku ... ah, aku sudah bilang bahwa sulit berterus terang. Aku memang tak bisa jujur dengan perasaanku.


"Y~a, aku akan selalu tersenyum untukmu."


Pelangi akan segera berakhir, dan badai akan tiba.


.


.


.


Surai hitamnya berkibar terkenal hembusan angin. Ia duduk dengan anggun menyilangkan kedua kaki di atas sebuah tembok tinggi yang menjulang dan dengan santainya melihat pemandangan di bawahnya.


Bunyi metalik dan gemuruh, tak lupa beberapa teriakan—entah itu kesakitan atau semangat ... itu belum cukup untuk membuat netra birunya menunjukkan minat.


Meskipun pemandangan di bawah sana bisa dibilang indah. Banyak orang dan monster terlihat menari-nari di atas lingkaran sihir raksasa berwarna biru.


"Viola, bagaimana selanjutnya?"


Seekor burung biru raksasa melesat turun dari langit lalu hinggap di samping wanita yang ternyata adalah Viola.


"Biarkan saja seperti ini, sampai kapan pun para monster itu tak akan bisa menembus pertahanan kita." Katanya datar tanpa mengalihkan pandangannya pada pertempuran di bawah.


"Oh, ya ... Vian, kamu sebaiknya jangan maju ke garis depan! Itu buang-buang tenaga, lebih baik kamu mulai melakukan Link denganku ... Mana-ku mulai terkuras!?" Viola sedikit melirik Vian.


"Tak bisa seperti itu ... jika aku—bukan. Kita harusnya ikut bertempur, mereka tak akan sanggup mengalahkan para monster itu. Buff perlindungan yang kamu gunakan memang luar biasa, bisa meniadakan semua efek negatif." Vian diam sejenak, ia sedikit melirik ke medan pertempuran.


"Apa kamu tak kasihan mendengar jeritan kesakitkan dari mereka? Terluka, sembuh ... terus seperti itu!"


"Aku tak peduli. Kamu melihat dari sudut pandang yang salah, Vian! Hal ini bisa menjadi ajang latihan bagi mereka supaya bertambah kuat. Mereka terlalu lemah, aku sengaja melakukan ini!" Viola menoleh, salah satu sudut bibirnya terangkat. Seringai yang tak pernah ditunjukkan oleh wanita dengan mata biru saphir itu.

__ADS_1


"S-s-siapa kamu sebenernya? K-kamu bukan Viola!"


"Kamu sudah ada di sisiku sejak aku masih bayi, Vian. Apakah kamu belum bisa memahamiku?" Kata Viola menatap tajam si burung biru yang tertegun. Sebuah tatapan yang sangat berbeda dari Viola yang dikenalnya dulu.


__ADS_2