
Blessing, sebuah kemampuan khusus yang diberikan oleh Dewa-dewi kepada suatu individu. Yah, berkah ... tapi, bukan melulu soal kemampuan khusus. Blessing ada banyak macamnya, kebanyakan memang berbentuk kemampuan.
Blessing yang sudah terkonfirmasi ...
Feeling Vote milik Feelid.
Observation milik Ashera.
Semi-immortal milik Russil.
White fire milik Calsya.
Eternal fire milik Callista.
Dan Azkiya ... masih belum jelas kebenarannya, dikatakan bahwa Blessing-nya adalah sebuah System ... namun Blessing milik Kiya belum terlalu jelas, misterius.
Melihat penjabaran di atas yang mengatakan bahwa Blessing adalah pemberian Dewa-Dewi ... sangat bertentangan, Administrator dari System milik Kiya sebelumnya adalah Raphael.
.
.
.
Kiya PoV
Ini memang perkembangan yang tak terduga, rencana yang telah aku persiapkan untuk orang ini kukira telah karam, namun rupanya rencana itu belum sepenuhnya tenggelam, mencuat lagi dan memberikan harapan.
"Semi-immortal?" Sebelah alisku terangkat.
Orang iseng yang mengaku sebagai Russil mengangguk pelan. Sang sandera sendiri, matanya terus berkerip—memelas padaku.
"Sebelum ke inti masalah ... lepaskan dia!?"
Russil menyanggupi, dia melepaskan Calsya begitu saja tanpa syarat yang memberatkan. Begitu dirinya terbebas, aku dihantam oleh tubuhnya begitu saja, sesak—dia memelukku terlalu erat.
"Huh, sudahlah ... aku punya urusan, kau bisa menyimpan ini untuk nanti! Ashera antar Calsya—" Aku bahkan sampai lupa bahwa Ashera sedang tidak ada. "Kembali ke desa, bisa, kan?" Kataku lembut membelai rambutnya.
Calsya menjadi anak anjing yang patuh, dia mengangguk pelan.
Kami menunggu sampai Calsya benar-benar pergi dan memastikannya tak ada kehadiran satu makhluk pun di sekitar. Pembicaraan ini akan sangat penting, mungkin juga akan menentukan masa depanku.
"Silakan bicara ... aku akan mendengarkanmu!"
"Saya adalah perwakilan dari benua iblis untuk mengajak Anda, Tuan Azkiya selaku Master dari Nona Ashera ... untuk bergabung dengan kami!"
Aku sejenak membelakakan mata, entah kenapa akhir-akhir aku selalu terkejut. Ada saja hal yang tak disangka-sangka. Contohnya ini ...
Benua Iblis? Aku tak pernah memikirkan akan terlibat sesuatu dengan benua iblis.
Jadi, prediksi bahwa kedamaian ratusan tahun akan sirna ... benar, ya?
"Lalu ...?" Aku menautkan alis.
Russil melakukan hal yang sama. Merasa bingung, umm ... eh, apa cuma segitu hal yang ingin dikatakannya?
__ADS_1
"Aku tak tertarik!?" Celotehku asal.
Ekspresi wajah Russil pun menjadi bermasalah, bingung, takut, dan kesal ... menjadi satu ekspresi yang aneh.
"K-k-enapa?"
Katana yang selalu kugenggam mengarah lurus ke leher Russil.
"Kau cuma mengajakku cuma-cuma, apa ada kau menyebutkan keuntungan atau semacamnya? Dasar tak pandai bernegosiasi!"
Satu ayunan kecil cukup untuk membunuhnya Russil untuk kedua kalinya.
Russil terlalu meninggikan Blessing-nya, padahal yang ingin aku dengar adalah perihal kemampuan selayaknya Avatar sebuah gim. Bisa hidup dan mati seenaknya ... huh, Cheat yang hebat.
Russil tak akan menyerah, dia akan menemuiku lagi. Kuharap dia sadar, apa yang menjadi pelicin negosiasi ini ... tentu saja Blessing miliknya.
Aku bisa mempertimbangkan untuk bermigrasi ke benua iblis.
.
.
.
Benua Timur, wilayah kekuasaan Elf.
Seorang gadis muda berambut pirang panjang, terpaku pada wajahnya, sebuah senyuman yang tertuju pada suatu objek yang sangat jauh di barat, mungkin untuk seseorang di benua seberang.
Senyuman yang mungkin bisa membuat dua negara saling berperang untuk memperebutkannya, senyuman bidadari yang sanggup membuat kepahitan hidup seakan sirna.
"Apa yang lucu, kamu melihat apa?"
Sang pemilik surai pirang mengangkat bahu dan senyum itu ditelan. "Kamu ingin aku menjawab apa?"
"Tentu saja jawaban yang benar."
"Ah, begitu ya? Baiklah, yang aku lihat adalah kebenaran!" Katanya lantang, dia berdiri membentangkan kedua tangan selebar yang dia bisa.
Sang lawan bicara mengangkat alis, telinga runcingnya sedikit bergetar ... "Kenapa Fharaya ... membual hal yang aneh lagi!?" Katanya sedikit menatap tajam, gadis bersurai pirang keemasan turun, ikut mengangkat alisnya.
"Aku tak membual, Redrala!" Sanggah gadis yang ternyata bernama Fharaya, pipinya digemukkan ... membuat semua orang ingin, yah, setidaknya ingin menyentuh.
Fharaya berjanjak dari atap rumah pohon yang selama ini menjadi alas duduk untuknya.
"Hei, kamu mau kemana?" Teriak Redrala melihat Fharaya yang berjalan menjauh.
"Jalan-jalan."
"Membawa busur?"
"Hehe ..."
Tak lama setelah Fharaya hilang dari pandangan, seorang gadis lainnya berdiri sejajar di samping Redrala.
"Dia seenaknya lagi?" Mata hijau layaknya zamrud melirik Redrala.
__ADS_1
"Hmm, apa karena hal itu?" Kata Redrala cemas mengatupkan kedua telapak tangan. Dia kemudian menyadari ada yang mengganjal. "Eh ... Atalia, muncul dari mana kamu?" Kejut Redrala.
"Itu bukan urusan kita, tapi sebentar lagi akan menjadi urusan kita—" Atalia berhenti sebentar, menatap jalan yang dilalui Fharaya. "Setidaknya ...?" Sambungnya kedengaran ragu.
"Yah, betul, tapi ... pertanyaanku belum terjawab semua!" Mata Redrala meminta penjelasan.
"Be-gini ..." Atalia merangkul Redrala. "Kamu tak pernah dengar bahwa kadang suatu rahasia lebih baik tak terungkap."
"Huh ... kamu malah dinilai aneh oleh semua orang jika muncul dan menghilang secara tiba-tiba!" Redrala sedikit risih dengan rangkulan Atalia, jadi dia pun menyingkirkannya.
"Aneh memang nama tengahku!" Atalia cengir tidak jelas.
"Yah, Atalia memang Atalia, tak ada yang bisa mengubahmu ..." Cemooh Redrala. Kemudian, tanpa sebab yang jelas ekspresi Redrala berubah. Menjadi lebih—sangat serius.
Atalia yang melihatnya pun mengerti, tampang cengengesannya telah dibuang jauh-jauh.
"Manusia, alam semesta ini seakan-akan adalah milik mereka sendiri dan bisa berbuat seenaknya ... Fharaya—maksudku Nona Raya adalah buktinya. Kalau bukan karena kelembutan hati beliau ... yah, aku tak tau apa yang terjadi!?" Atalia memeluk tubuhnya sendiri dan bergidik.
"Peran sebagai gadis polos dan ceria apa akan segera berakhir?" Tanya Redrala menatap lekat Atalia.
"Sepertinya begitu ..."
"Kita semua akan terus mendukung Nona Raya!"
.
.
.
Tempat yang tidak diketahui.
Pria berambut abu-abu dana mata biru duduk di atas sebuah batu, sudut bibirnya terus melengkung ke atas menanggapi sebuah surat yang tergulung rapi di kaki seekor gryphon
..."Aku akan ikut serta."...
"Hmm ... masih ada lagi?" Tanyanya melihat perilaku gryphon yang aneh.
"Pemborosan kertas!"
Pria itu kemudian menemukan sebuah gulungan di bawah sayap gryphon yang besar. Dia membukanya dan membaca surat—memo itu sekilas.
..."Aku cuma tertarik dengan West Continent."...
Ekspresi pria itu pun menjadi aneh, keningnya pun dia pijat.
"Hmm ... bagaimana, ya?" Dia tampak berpikir.
"Begitulah, seharusnya kau tak menjalin ikatan dengan mereka ... padahal mereka semua—leluhur mereka telah semena-mena pada kita. Aku dikhianati dan kau ditelantarkan ... tebang pilih tak akan memuaskan rasa benci ini!"
.
.
.
__ADS_1
See you next chapter