
Sebelum membaca alangkah baiknya menyentuh tombol like terlebih dahulu jika suka dengan Chapter ini dan tinggalkan komentar jika ada kekurangan atau kelebihan.
Jangan lupa tekan tombol favorit, agar tak ketinggalan update.
Selamat membaca, semoga terhibur.
...
Cahaya rembulan merupakan jantung penerangan pada malam ini dan akan menjadi saksi sejarah lahirnya sebuah kerajaan baru atau dihapuskannya sebuah kota dari peta dunia.
Suasananya begitu hening, makhluk yang biasanya keluar pada waktu malam tak ada yang bersuara, seakan-akan tahu bahwa ini bukan waktunya. Suara yang muncul hanyalah suara dari langkah kaki manusia dan kuda yang bercampur. Ribuan manusia itu sudah semakin dekat dengan kota Xely, kira-kira 3 kilometer.
Total 11 ribuan prajurit kerajaan Rentweder berjalan serempak mendekati kota. Regu yang mendominasi adalah penunggang kuda yang berjumlah 4 ribu, 2 ribu prajurit pejalan kaki, 1 ribu pemanah, dan 800 penyihir ... sisanya adalah regu khusus yang terbang di langit.
Yah ... ribuan kuda terbang—pegasus meramaikan langit malam seperti balon-balon yang berterbangan.
Pasukan berkuda sudah dianggap kuat karena perlengkapan mereka yang sedikit lebih baik dari pada prajurit pejalan kaki, akan tetapi pasukan pegasus adalah pasukan paling unggul dalam segala aspek dalam pertempuran ini.
Ribuan pegasus yang terbang dengan formasi yang seirama.
Mereka akan melawan pasukan kota Xely yang berjumlah 16 ribu pasukan. Jumlahnya sangat menurun drastis akibat Mana Cannon.
"Kuda terbang itu ...!" Kiya sedikit terganggu oleh para pegasus.
Senjata-senjata berat seperti ketapel dan meriam juga ikut meramaikan barisan, jumlahnya ada beberapa, menyelip di antara pasukan. Akan tetapi ... senjata yang mampu menghancurkan kota Xely tak nampak batang hidungnya.
"Mereka terlalu percaya diri! Sepertinya senjata pemusnah itu hanya digunakan untuk menggertak!? Pastinya sekarang itu tak berguna karena sedang mengisi amunisi. Memang masih dalam tahap pengembangan. Tapi, kami juga punya senjata yang serupa dan tak perlu waktu cooldown!" Kiya tersenyum jahat memikirkan bagaimana reaksi prajurit kerajaan Rentweder.
Di sisi lainnya ...
Di barisan paling belakang pasukan kerajaan Rentweder, seorang pemuda dengan rambut abu-abu berpadu dengan warna mata yang sama. Zirah berwarna abu-abu dengan sedikit corak warna hitam nampak sangat keren, ditambah dengan jubah hitam yang berkibar terkena hembusan angin malam ... kesan keren tak bisa lepas dari pemuda itu.
"Viola ...? Kau mengahambat tugasku!"
Mata pemuda—Ranan menatap ke kejauhan di mana pasukan kota Xely berada, tepatnya fokus pada burung biru raksasa yang di punggungnya terdapat seorang gadis yang terbang di atas pasukan kota Xely.
Pesta dimulai ... prajurit kerajaan Rentweder sudah ada dalam jangkauan.
Krakkk ... brakkk ...
Tanah pijakan mendadak runtuh yang membuat prajurit kerajaan Rentweder terperosok ke lubang dengan kedalaman 10 meter lebih dan mampu menjebak seperempat pasukan berkuda. Bukan sebatas itu, masih ada yang menyambut mereka.
Boammm!
Semua yang ada di dalam lubang mati seketika terkena ledakan. Terjadi sedikit perubahan ekspresi pada Ranan meskipun sedikit, sudut bibirnya sedikit turun.
"Hoh ... begitu, ya? Perangkap, aku tak menyangka jika masih ada. Yah ... kupikir aku meremehkan mereka!?"
Formasi rapi pasukan mendadak kacau.
"Tuan Ranan, seperempat pasukan berkuda tewas! Bagaimana ini?" Kata salah satu komandan pasukan melaporkan situasi dengan sedikit panik.
"Pasti mereka lebih punya banyak kejutan!?"
"Bergerak sesuai aba-aba, Padang rumput ini sudah dipenuhi perangkap!" Seru Ranan dengan ekspresi datar.
"Siap!"
Satu lompatan kecil dilakukan Ranan dan dalam sekejap dia telah berada di barisan paling depan pasukannya.
Lubang dimensi secara tiba-tiba muncul di sampingnya dan keluar sebuah pedang dengan bilah biru. Dia mengambilnya lantas mengayunkannya secara harizontal ...
Swoshh ...
Timbul hembusan angin yang sangat kuat dari ayunan pedangnya yang bahkan sanggup membuat tanah terkikis cukup dalam. Hebatnya lagi ... terpaan angin itu sampai di kota Xely.
"Akhhh ... apa ini?" Teriak seseorang memposisikan tangannya di depan wajah menghalangi angin yang membawa berbagai material kecil.
__ADS_1
"Dia memang kuat!" Kiya pun tersenyum disertai dengan keringat dingin yang mulai menetes.
Boom! Boom! Boom! Boom!
Tak lama setelahnya ... seisi padang rumput timbul ledakan-ledakan. Itu bukanlah efek dari ayunan pedang Ranan, tapi puluhan perangkap yang sudah disiapkan Kiya dan yang lainnya.
"Poinku terbuang percuma ...!?" Keluh Kiya mengetahui ratusan ribu poin yang telah dihabiskan tak memberikan hasil yang diharapkan.
"Habisi para pemberontak itu!" Kata Ranan datar menunjuk ke arah kota dengan pedangnya.
Pasukan kerajaan menambah lajunya karena tak perlu lagi mengkhawatirkan perangkap yang terpasang.
Ranan memperhatikan Kiya, "Selain Viola ... dia yang akan membuatku repot!" Ranan menancapkan pedangnya ke tanah.
Hawa dingin secara tiba-tiba menjalar ke seluruh area. Semuanya terkejut, tapi mereka sudah tau apa yang menyebabkannya. Pihak kota Xely lantas melihat Ranan.
"Pedang es Niare? Apa ini kekuatannya?" Kata salah seorang pasukan Kiya.
Sadar bahwa benda itu adalah ancaman, orang itu secara tak sadar menelan ludahnya.
Hembusan nafas disertai uap adalah bukti bahwa suhunya semakin jatuh. Beberapa orang juga mulai menggigil dan paling parah ada yang langsung terkena hipotermia. Akan tetapi, pasukan musuh tak merasakan efek apa-apa.
"Huh ... " Kiya menghembuskan nafas sejenak breaker : Area!" Kata Kiya dengan lantang.
Hawa dingin yang dirasakan oleh semua orang langsung menghilang.
"Apa masih terasa dingin?" Kiya menengok ke belakang untuk memastikan keadaan semuanya.
""Ya ... terima kasih, Tuan Kiya!"" Jawab mereka serempak.
"Bagus, tapi jangan jauh-jauh dariku! Selagi kalian berada di dekatku, kalian tak akan kedinginan!"
Viola meminta Vian terbang lebih rendah untuk mengatakan sesuatu.
"Ahh ... Kiya, kau tak perlu repot-repot! Biar aku saja ... Berikanlah hamba-Mu ini perlindungan, Protection ...!"
"Are? Apa ini?" Salah satu prajurit kebingungan.
"Selama aku masih hidup dan mempunyai Mana yang cukup, efek negatif tak bisa menyentuh kalian!" Terang Viola dengan lembut pada prajurit itu.
"Nah, Kiya ... kau boleh melepaskan sihirmu, biar aku yang menangani hal ini! Gunakan Mana-mu sebaik-baiknya untuk pertarungan!"
"A-a-ah, baiklah ... Lepas!" Breaker pun dinonaktifkan.
Viola tampak senang, dia mengeluarkan senyum manisnya pada Kiya. "Bebaskan kota ini, Kiya! Aku akan mendukungmu!"
"Yah ... itu pasti!" Kata Kiya dengan semangat yang menggebu-gebu menatap pasukan musuh yang jaraknya sudah dekat.
Kiya menggerakkan jarinya dari atas ke bawah, lubang dimensi muncul dan Kiya merogoh sesuatu dari sana. Itu adalah sebuah katana dengan bilah berwarna biru.
"Ini harganya hampir satu juta, kuharap senjata ini berguna!"
Kiya sejenak memejamkan mata. "Wahai petir ... mengamuk lah ...!"
Petir mulai meloncat-loncat keluar dari tubuhnya, dan itu menimbulkan suara petir yang keras. Semua orang pun terpaku, mereka hanya mendengar rumor bahwa Kiya dapat menghabisi ratusan orang sendirian—intinya kuat. Sekarang, mereka melihatnya sendiri ...
Pahlawan Ranan akan kalah jika lengah, pikir mereka.
Kiya juga ingin sedikit pamer kekuatannya. "Intimidasi memang diperlukan, tapi ... yah, tak berhasil!"
Kiya mengayunkannya katana-nya ke depan. "Serang!"
Bentrok pun dimulai.
...
Celia PoV
__ADS_1
"Gunakanlah ini! Kita pasti bisa menang!"
Kiya memberikan sebuah senjata pada kami, namun kami tak pernah melihat senjata seperti ini.
Apa ini senjata baru? Pikir semua orang.
"Ekhmm ... begini, ini namanya senapan! Ini adalah senjata dari Kerajaan-ku!" Kata Kiya mengangkat tinggi-tinggi benda yang dia sebut 'senapan'.
Benda itu memiliki panjang lebih dari lengan. Ujungnya berbentuk bulat dan berlubang.
Kiya berkata bahwa cara kerja benda ini mirip dengan meriam, yaitu memanfaatkan ledakan untuk meluncurkan amunisi. Kelebihannya adalah peluru yang kecil, kecepatan tembak, sanggup menembus baju besi sekalipun, dan tentunya kecil.
Ahh ... ini baru satu, masih ada banyak lagi lainnya. Ha-ha-ha ... kepalaku ingin pecah, terlebih lagi nanti akan ada praktek.
Ini mustahil, kami hanya punya waktu selama beberapa jam.
Meski kedengaran gila, tapi semua orang tak ada yang mengeluh. Mereka benar-benar ingin mempertahankan kota ini.
Aku tau ... semua ini terjadi karenanya, seorang pemuda asing. Awalnya memang orang jahat, tapi jauh di dalam dirinya dia adalah orang yang sangat baik. Oleh karena itu ... aku pun ja—
"Hei, Celia ...! Kenapa bengong? Cepat tembak sasaran itu!"
"Eh? Uh ... umm ... maaf, tapi bagaimana caramu mendapatkan senjata ini dalam jumlah banyak? Kau pedagang atau kau orang penting di kerajaanmu, Kiya?"
"Sangat sulit menjelaskannya, terpenting kalian fokus saja untuk menguasai semua senjata ini!"
"Baik ...!"
Aku hanya menarik pelatuk dan keluarlah bunyi "Dor" yang bisa melubangi tubuh makhluk hidup.
...
Alur pertempuran ini sepenuhnya ada di tangan kami. Korban berjatuhan di pihak kami lebih sedikit dibanding musuh. Yah ... semua ini memang berkat dirinya.
"K-kiya memang sangat hebat!"
Tanpa ampun! Kiya menghabisi pasukan musuh dengan mudah. Tak peduli jika kalah jumlah, dia tetap berhasil mengalahkannya.
"Paralyzed!" Seru Kiya membuat ledakan petir yang merusuh di tengah-tengah kerumunan musuh.
Pasukan musuh seketika roboh akibat dari sengatan listrik Kiya yang teramat kuat. Dan ini ... adalah kesempatan kami.
Dor ... dor ... dor ...
Para manusia yang tak bisa bergerak itu menjadi santapan empuk bagi senjata ini.
"Jika begini terus ... kita pasti akan menang—"
Swoshh ... jdarrr ...
Serangan dari langit ... aku sedikit terbuai, hampir saja aku terkena.
"Celia, tetap fokus! Ini belum berakhir!"
Yah ... benar. Dalam peperangan semua hal bisa terjadi. Belum tentu pihak yang kalah awal-awal akan membalikkan keadaan ketika perang sudah mencapai klimaks.
Bisa saja musuh punya senjata rahasia ... tapi, kami juga memilikinya. Aku 100% yakin bahwa kami yang akan memenangkan perang ini.
...
Yo ... author di si sini.
Hmm ... jika ada yang mengganjal di ch ini tolong sampaikan, jangan ditahan! Saya akan menerima kritik apa pun. Yah, itu karena penulis pemula, jadi butuh sekali kritik dan saran dari kakak-kakak sekalian supaya bisa berkembang.
Tapi, jika nggak mau ya ... nggak papa Itu hak kalian.
Saya berterima kasih karena menyempatkan waktu untuk membaca cerita yang ala kadarnya ini.
__ADS_1