
Sebelum membaca alangkah baiknya menyentuh tombol like terlebih dahulu jika suka dengan Chapter ini dan tinggalkan komentar jika ada kekurangan atau kelebihan.
Jangan lupa tekan tombol favorit, agar tak ketinggalan update.
Selamat membaca, semoga terhibur.
...
100% yakin ... setelah sedikit bercakap dengan Putri Calsya, Kiya sudah sepenuhnya percaya dengan prediksinya. Selanjutnya ... dia akan pergi ke ibukota untuk membuat perhitungan pada Duke Volancy. Rasa tidak senang dan benci pada Duke itu sudah terlalu menumpuk, Kiya akan segera membalas apa yang sudah diperbuatnya.
"Hei, Tuan Putri ...! Jalanmu terlalu jauh, lebih mendekat lah!" Seru Kiya pada Putri Calsya yang berjalan agak jauh dibelakangnya.
"Ah, s-segini saja cukup! Tak apa-apa," jawab Putri Calsya tersenyum masam. Dia sungguh gugup berbicara dengan Kiya, wajahnya pun sampai dibanjiri keringat.
Reaksi yang wajar, sebelumnya Putri Calsya telah mendapatkan ancaman pembunuhan dari Kiya. Dan setelahnya mereka berpura-pura tak terjadi apa pun? Itu pasti sungguh berat.
"Hmm ...!?"
Kiya pun membiarkan Putri Calsya seperti itu, tak ada gunanya juga dia dekat-dekat dengannya.
Sesuai agenda, Kiya memang mengajak Putri Calsya berkeliling dan sedikit mencarikannya makanan. Kata mencarikan kurang tepat, faktanya Putri Calsya disuruh mencari.
Mereka berdua sedang ada di hutan sebelah barat kota, sedikit berjalan ke barat ... ada laut. Kota Xely memang terletak di pesisir.
"Nah, sudah sampai. Sekarang carilah makananmu sendiri! Aku akan menunggu di sini!" Kiya dengan santai duduk menyandarkan diri pada pohon belakangnya lalu mengeluarkan kantong berisi sedikit makanan.
Kiya tanpa merasa bersalah memakan daging kering nya dengan lahap.
"Apa maksudnya orang ini?"
Putri Calsya kesal, yah ... dia ingin protes, tapi tak berani.
"Bukannya di sini aku adalah tamu penting?"
Putri Calsya dengan perasaan kesal yang menumpuk pergi untuk mencari makanannya sendiri, entah itu buah-buah atau hewan buruan.
Beberapa menit berselang ... tak ada tanda-tanda kedatangan Putri Calsya. Kiya pun sampai bosan dibuatnya, tapi memang ini rencananya.
"Mereka berdua ...?!" Gumam Kiya mulai memejamkan mata.
...
"Cih ... bocah itu akan menerima akibatnya terhadap penghinaan ini!" Kata Putri Calsya kesal menendang apa pun yang ada di depannya.
Bukannya mencari sesuatu untuk dimakan, dari tadi Putri Calsya hanya berjalan tanpa arah sambil terus menggerutu. Dan kini ... cacing di tubuhnya mulai melakukan demonstrasi.
"Uhh ... a-ku sangat lapar!"
Rasa laparnya tak tertahankan, dia pun memutuskan untuk segera mencari sesuatu untuk dimakan. Namun sayangnya, setelah mencari lebih dari setengah jam ... Putri Calsya tak menemukan apa pun.
"Hutan macam apa ini? Hewan berlalu lalang saja tidak ada, semua tumbuhan beracun!" Putri Calsya sudah tak sanggup berjalan lagi. Alhasil dia mengistirahatkan tubuhnya.
Rasa laparnya sudah diambang batas, untuk berjalan saja sudah sangat berat.
__ADS_1
"A-pa yang diinginkan bocah itu?" Kata Putri Calsya dengan suara yang tak bertenaga.
Beberapa saat berlalu, sebuah aroma misterius tertangkap oleh hidungnya. Aroma yang cukup sedap, pikir Putri Calsya. Menggunakan sisa tenaganya, dia memaksakan diri tuk berdiri lalu mencari sumber aroma penggugah selera itu.
Langkahnya pun agak sempoyongan dengan kedua tangannya yang terus memegangi perut yang tak bisa berhenti bersuara.
Aroma itu semakin kuat seiring Putri Calsya menyusurinya, dari kejauhan juga nampak ada asap yang membumbung ke langit.
"Ah? Sepertinya sudah dekat!"
Semangat dan tenaga seketika terisi lagi, Putri Calsya langsung berlari ke arah asap itu. Dia berharap memang ada makanan dan bukan cuma halusinasinya.
"Hei, bakar yang bener! Itu ... lihat udah hampir gosong! Balik lah!"
"Berisik! Nyuruh doang!"
Putri Calsya bersembunyi di balik pohon dan melihat dua orang pria sedang membakar ikan. Terlihat sangat lezat baginya.
"Akhirnya ...!" Gumam Putri Calsya terdengar cukup senang.
"Hei, kalian ... berikan makanan kalian!" Seru Putri Calsya mencoba meminta—lebih tepat memaksa.
Kedua orang itu menoleh ke arah Putri Calsya, mereka bingung sesaat dan saling pandang.
"Maaf, ikan ini tidak cukup!"
"Aku tidak peduli! Cepat berikan ikan itu!" Paksa Putri Calsya menodongkan tangannya. Keluar bola api yang cukup panas.
Mereka berdua tahu apa itu, mereka tak berani melawan dan hendak menyerahkan ikan yang susah payah ditangkap. Namun ...
"Ada apa ini? Kenapa aku tak bisa menggunakan sihirku?"
"Hoi, cepat berikan ikannya!" Bentak Putri Calsya, dia berusaha agar tak terlihat panik.
Mereka berdua tak mengindahkan kata-kata Putri Calsya. Salah seorang berdiri lalu hendak menghampiri Putri.
"Hei, a-pa yang kalian mau lakukan?" Putri Calsya agak takut termundur secara perlahan seiring mendekatnya orang itu.
"J-j-jangan mendekat! K-kalian akan me-nerima akibatnya!" Putri Calsya sangat ketakutan, jalur pelariannya sudah terhalang pohon.
"Kyaaa ...!"
Orang itu menangkapnya dan menahan kedua tangannya ke belakang.
"Hei, kita apakan wanita sombong ini?"
Orang satunya yang dari tadi cuma menjadi penonton akhirnya ikut berdiri.
"Umm ... di sini sepi, kan? Orang-orang juga sedang ketakutan jika pergi keluar. Bagaimana kalau—"
"Kalian akan menyesal jika melakukan itu! Aku ini seorang Putri, Putri Calsya Arant Weder. Kepala kalian akan terpenggal jika melakukan ini padaku!" Putri Calsya berusaha menggertak.
"Ternyata sang Putri ... " Mereka berdua pura-pura terkejut.
__ADS_1
"Cepat lepaskan aku! Bukan hanya kalian ... tapi semuanya. Ayahku akan mengirimkan pasukan yang lebih besar dan kota kecil ini akan rata—"
Tangan Putri Calsya dicengkeram dengan kuat.
"Akhhh ... s-akit!"
"Cepat lakukan!" Desak orang yang menahan Putri.
"Hehehe, baiklah!"
Dia pun mendekati ke arah mereka berdua. Putri Calsya berusaha sekuat tenaga tuk berontak, tapi usahanya sia-sia.
"Sebelum melakukanya ... apa kau masih perawan, Putri?"
Pertanyaan itu sontak membuat Putri Calsya langsung menitihkan air mata. Jaraknya dengan pria busuk ini tinggal selangkah lagi.
"Tatap mata saya, Tuan Putri!"
Putri Calsya tak berani membuka matanya, namun dia merasakan bahwa gaunnya terasa diangkat ke atas. Air matanya pun semakin deras mengetahui hal yang seharusnya di jaga oleh seorang wanita akan segera direbut oleh pria tak dikenal.
"Kau sangat cantik Putri, izinkan saya menikmati tubuh Anda?!"
Putri Calsya sudah bisa merasakan nafas pria itu, wajahnya pun dipaksa untuk menghadap ke arahnya. Tak ada yang bisa dilakukan Putri Calsya selain pasrah.
"T-t-to-long ...!"
Secara tiba-tiba, datang pihak ke 4.
"Apa yang kalian lakukan?" Terdengar suara yang tak asing bagi Putri Calsya meskipun belum terlalu mengenalinya.
"K-kau ...!" Putri Calsya terlihat lega melihat orang yang datang adalah Kiya.
Dua pria itu pun langsung melepaskan Putri Calsya dan sedikit membungkuk ke arah Kiya.
"T-t-tuan Kiya ...!?"
Dengan sedikit ketakutan kedua orang itu pun pergi begitu saja. Putri Calsya langsung lemas terduduk, matanya sudah sembab akibat air mata yang keluar dengan deras.
"Jika kau memintanya secara baik-baik ... mungkin mereka akan memberinya meski sedikit. Yang kau lakukan tadi hanya memancing amarah mereka. Apa kau tak sadar bahwa posisimu sebagai peminta?"
"T-t-terima kasih!?"
Putri Calsya berdiri dan berlari menghampiri Kiya. Tapi, dihentikan ...
"Jangan memelukku, Tuan Putri!" Kata Kiya dingin menodongkan katana miliknya.
...
Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.
Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.
aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.
__ADS_1
Dah ... see you.