System : Unknown

System : Unknown
Chapter 41 -Bawahan iblis-


__ADS_3

Biasakanlah menyentuh tombol like terlebih dahulu sebelum membaca. Itu cara termudah untuk mengapresiasi tulisan author.


Selamat membaca.


.


.


.


Bagi sebagian orang yang tak terbiasa dengan darah, mereka pasti sudah memuntahkan sarapan mereka pagi ini. Bagaimana tidak, kondisi arena sudah mengenaskan ... banyak mayat bergelimpangan dengan isi perut yang keluar dan anggota tubuh yang tak lengkap, lantai arena pun sudah terbanjiri oleh darah.


Pemandangan yang sungguh mengerikan.


Di sisi lainnya ... dalang dari semua ini hanya bersikap biasa saja di antara semua mayat itu.


«Total 3200 orang terbunuh, 32 juta poin terkumpul. Seluruh poin akan dialokasikan untuk membayar hutang»


Pihak pembantai—Kiya mengerutkan alisnya menanggapi suara yang muncul di kepalanya. "Kapan habisnya?"


«Kau masih beruntung karena tidak ada bunga!»


"Aku punya system, tapi serasa tak punya! Menyebalkan!"


Slash ...


Kiya menghindar dengan sempurna atas tebasan vertikal seseorang pengguna pedang yang melakukan serangan mendadak dari belakang.


"Dia bukan manusia!" Umpat orang itu meludah, kesal karena gagal mengenai Kiya.


"Meskipun dia monster atau apalah ...! Kita bisa menang jika terus mendesaknya sampai kehabisan stamina. Pada saat itu kita serang dia habis-habisan!" Timpal seorang pengguna sihir dengan percaya diri. Setiap orang yang mendengarnya mengangguk, setuju dengan rencananya. Secuil semangat dan harapan muncul lagi.


"Confusion area!" Teriak si pengguna sihir.


Seluruh arena pertempuran seketika terselimuti oleh kabut hitam yang mematikan seluruh indera. Seseorang yang terpengaruh dengan sihir ini akan sangat kebingungan, mungkin atas dan bawah tak akan bisa dibedakan.


"Dia sudah tak bisa apa-apa. Cepat segera habisi!"


"WOOOOOAAAAAHHH!" Seru semua orang sangat semangat.


Mulailah mereka semua melancarkan semua jenis serangan yang difokuskan pada satu titik, yaitu Kiya.


Slash ...


Syutt ... syutt ... syutt ...


Jdarr ... jdarr ... jdarr ...


Boammm!


Kondisi arena seharusnya sudah hancur sebagian setelah rentetan serangan itu. Semua penonton berdecak kagum bertepuk tangan dan berteriak sekeras-kerasnya menyemangati setiap orang yang ingin membunuh Kiya.


"HABISI DIA ...!"


Namun, secara mengejutkan ada satu kaum minoritas yang berharap sebaliknya, dia adalah Putri Calsya.


"Dewi Aria ... tolong selamatkan lah dia! Jangan biarkan dia mati!"


Yang bisa dilakukan Calsya adalah memanjatkan doa untuk keselamatan Kiya.


Kondisi Kiya saat ini ...


«Kau mengalami banyak sekali luka, lebih dari ini ... kau akan mati»

__ADS_1


"Begitu ...? Ternyata sihir ini lumayan hebat! Aku tak merasa sakit sedikit pun!?"


«Kau santai sekali»


"Aku tak akan mati! ... sekarang, lakukan tugasmu!"


BOAMMM!


Sebuah serangan besar dilesatkan ke arah Kiya. Ledakan yang dihasilkan cukup besar untuk menggetarkan arena dan membuat semua penonton bertambah riuh.


"Bagaimana ...? Apa dia sudah mati?"


"Seharusnya dia sudah mati menerima semua serangan itu ... dia benar-benar monster jika masih bertahan!" Timpal lainnya bergidik ngeri.


"D-d-dia mati ...!? Aku tak bisa merasakan hawa kehadirannya—"


Si pengguna sihir lalu menonaktifkan sihirnya, arena pertempuran kini terlihat sebuah kawah dengan diameter lebih dari 100 m terbentuk, sedangkan diameter keseluruhan arena adalah 400-an meter.


"""YEAH ... KITA BERHASIL!""" Seluruh penjuru arena menjadi semakin riuh akan hal ini.


Putri Calsya lemas melihat kawah itu, seharusnya di sana ada seseorang, tapi sepertinya dia sudah dilenyapkan menjadi debu.


"Apa-apaan ini ...? Kiya, kau mati? Jangan bercanda ...!" Calsya tak bisa menahan air matanya untuk tidak menetes.


Kesedihan bercampur amarah, itulah perasaan Calsya saat ini. "Mereka pikir siapa, bisa melakukan hal ini? Rakyat rendahan ... akan kubunuh mereka semua!" Gumam Calsya melihat ke arena dengan tatapan membunuh.


Bagian putih pada mata kanan Calsya berubah menghitam, mata merah delimanya pun berubah menjadi merah gelap. Sejumlah aura yang mengerikan mulai merembes keluar dari tubuhnya. Sejumlah orang di dekatnya langsung menyingkir menyadari perubahan pada diri Calsya.


"A-da apa dengan dia?"


"Aku juga ingin tau!?"


Boam!


"B-bunuh ... b-bu-nuh ... akan kubunuh kalian semua!"


"Ahh ... sebuah penghinaan kau mengira aku akan mati dengan cara konyol seperti ini! Huh... itu tidak mungkin!" Suara misterius memasuki pikiran Calsya.


"K-kiya, kau masih hidup?"


"Tentu saja ... sekarang, jangan mengamuk, Putri! Kau hanya membuatku repot nanti. Duduklah manis di sana! Akan ku selesaikan ini dengan cepat!"


Aura yang keluar dari tubuh Calsya sedikit demi sedikit menghilang, begitu juga amarahnya yang mulai mereda. Kemudian senyuman terukir di wajahnya saat memandang ke arah langit dengan air mata yang menetes.


Belum ada yang menyadari hal ini selain Calsya dan beberapa penonton yang nyalinya menciut untuk berteriak memperingatkan semua orang yang ada di arena.


Masih ada 8 ribuan orang tersisa di arena pertempuran. Ke semuanya saling pandang sebentar, mereka tadi gencatan senjata dan bekerja sama untuk mengalahkan Kiya. Tapi, 200 juta untuk 8 ribu orang? Terlalu sedikit, jumlahkan harus dikurangi ... pikir rata-rata mereka. Mereka hendak melanjutkan Festivalnya, namun ...


Cling ... jdarrrrr ...


Sesuatu jatuh dari langit selayaknya sambaran petir menciptakan sedikit ledakan. Dan petir di siang bolong itu sudah cukup untuk mencuri seluruh perhatian.


"A-pa itu?"


Swoshh ...


Angin kencang berhembus dengan kuat dan menghilangkan kepulan debu yang ada, yang tadi hanya sebuah siluet ... kini terlihat seutuhnya. Seorang manusia ...


"T-tidak mungkin!? B-ba-gai-mana bisa? Ini sungguh mustahil!"


Di sana berdiri seorang manusia, remaja berumur 15 tahun—Azkiya. Pakaiannya sudah compang-camping dan tubuhnya yang penuh akan luka serius, namun secara perlahan setiap luka di tubuhnya sembuh dengan sendirinya. Ada sesuatu yang berbeda pada diri Kiya, dia memiliki mata berwarna hitam-kecoklatan, tapi sekarang matanya berubah menjadi cokelat rami ... sama dengan warna mata yang dimiliki wujud manusia dari Asmodeus.


"Yo ... makhluk rendahan! Ajal kalian di tanganku!"

__ADS_1


Dalam satu kedipan mata Kiya menghilang, dia berpindah ke depan orang yang telah melakukan sihir Confusion Area. Semua orang tak ada yang bereaksi, mendadak kaki mereka tak bisa digerakkan.


Jleb ...


Tanpa ampun Kiya menusuk dada orang itu dan mengambil jantungnya lalu menunjukkan hal itu ke depan semua orang. Orang itu langsung roboh tanpa memberikan perlawanan yang berarti terhadap Kiya.


"Sihir yang kau gunakan tadi lumayan bagus! Bahagialah karena bangsa iblis sepertiku memujimu!" Kiya menghancurkan jantung itu.


Semua orang dikuasai oleh rasa takut, untuk bergerak saja mereka tidak bisa. Semuanya terkaku dengan keringat dingin yang membasahi wajah. Begitu juga dengan orang yang ada di bangku penonton, jika tadi suasananya sangat ramai, kini berubah 180° ... benar-benar senyap tanpa suara.


"Yah, jumlah kalian lumayan! Hmm ... ini menguntungkan?" Ujar Kiya tersenyum lebar ketika memerhatikan semua orang.


Petir mulai meloncat-loncat dari tubuh Kiya yang seiring waktu bertambah ganas menyambar sekitarnya. Kemudian semua petir itu terkumpul di tangan kanan membentuk sebuah pedang yang panjang dan besar.


"Kalian yang tadi hanya duduk-duduk saja! Jika masih sayang nyawa ... sebaiknya pergi dari sini!?"


Gertakan seperti itu sudah cukup untuk mengusir segelintir orang tuk lari terbirit-birit. Peringatan itu hanya untuk penonton saja, bagi orang yang ada di arena pertempuran cuma bisa gigit jari melihat orang yang mereka kenal kabur begitu saja.


"Takdir kematian sudah tertulis di akhirat dan waktu inilah kematian kalian!?"


.


.


.


Seluruh arena sudah sepenuhnya teraliri oleh cairan merah, tumpukan mayat juga menggunung dimana-mana. Arus pendek masih terlihat pada semua mayat yang mati terpanggang.


Orang yang masih berdiri atau tak terbunuh di dalam arena hanya beberapa orang, lebih tepatnya 5 orang termasuk Kiya.


"Kiya tak menyuruh untuk membunuh orang yang dari awal tak ingin menyerang dirinya!? Hmm ... dia memang masih memiliki hati!" Kata Kiya melihat semua orang yang masih hidup.


Kiya kemudian melihat ke arah bangku penonton, di sana hanya ada Calsya seorang. Puas melihat Calsya, selanjutnya Kiya memandang langit mendung yang membasahi dirinya dengan rintik-rintik hujan. Cuaca memang langsung berubah ketika dia menggunakan elemen petir.


"Baiklah ... bentuk investasi untuk masa depan!?"


Tanpa sebab yang jelas semua mayat memancarkan cahaya warna ungu gelap yang menyala dan lingkaran sihir raksasa terbentuk di bawahnya.


"Temanku ... kemarilah, aku memiliki persembahan untukmu. Semua mayat-mayat ini, seraplah!"


"Ritual pemanggilan iblis?" Gumam Calsya menerka.


Semua mayat yang ada terhisap ke lingkaran sihir sampai tak bersisa kemudian timbul sebuah ledakan.


Boom!


"Wah ... cara kemunculan yang mencolok!" Kata Kiya dengan nada mengejek.


"Jadi, Ashera ... selamat datang di dunia fana, layani lah pemilik tubuh ini!"


.


.


.


Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.


Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.


aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.


Dah ... see you

__ADS_1


__ADS_2