System : Unknown

System : Unknown
Chapter 54 -Keteguhan hati seorang pahlawan


__ADS_3

Ternyata butuh waktu yang lama bagi netra merah darah milik seorang wanita layaknya vampire terbebas dari kelopak matanya yang terpejam. Dirinya terbaring di sebuah tempat tidur dengan seprai dan selimut bermotif hewan panda.


Mengabaikan motif yang tidak lumrah untuk zaman saat ini, bergeser ke sudut ruangan—tepatnya di depan sebuah rak yang penuh dengan buku. Seorang pria—Kiya yang jari-jemarinya dengan cekatan membalik tiap lembar buku di tangannya, tak lupa mata hitam-kecokelatan yang bergerak mengikuti alur kalimat.


"Aku dulu lumayan otaku, kah? Bahkan wibu!" Gumam Kiya bingung, dia pun menutup buku yang lumayan tebal itu. "Semua Manga dan LN ini ... aku memang ingat pernah membaca semua ini ... tapi, apa-apaan ini? Aku malah geli sendiri melihat dekorasi kamar ini!"


Di dinding kamar yang sekiranya kosong dipenuhi banyak poster karakter anime.


"Eliana, Emilia, Sistine, kertas lipat, Sagiri, dan masih banyak lagi. Apa aku punya fetish cewek ubanan?" Kiya menepuk-nepuk jidatnya dengan buku di tangannya.


Skill Dimension Room, memungkinkan pengguna menjadi Tuhan di dimensi pribadinya. Seperti yang dilakukan Kiya sekarang ... dia membuat replika kamarnya waktu di Bumi mengandalkan ingatan yang tersisa.


Setelah puas menahan rasa malunya terhadap dirinya sendiri. Kiya kemudian tersentak kaget melihat si wanita berambut perak yang tak lain adalah Calsya tak sadarkan diri di tempat tidur.


Calsya berambut perak, kan?


"Kondisi ini sangat buruk!"


.


.


.


"Ne ... ne ... ayo lawan aku!"


Formasi pasukan Wyvern seketika hancur saat seorang wanita tiba-tiba muncul dan terbang di tengah-tengah mereka.


Pasukan lain seperti pegasus dan gryphon menyadari identitas wanita misterius itu meskipun jaraknya masih jauh. Tanpa diberikan aba-aba mereka semua langsung membubarkan diri sampai satu sama lain saling bertabrakan.


Wanita itu—Ashera hanya tersenyum menyaksikan tingkah mereka.


"Sikap pengecut memang kadang diperlukan!"


Sedangkan pasukan Wyvern masih belum bisa mencerna situasi dan malah diam terbang di tempat terhipnotis oleh kehadiran Ashera. Lalu, salah seorang akhirnya sadar.


"D-de-mon-lord Ashera?!"


Seperti pasukan pegasus dan gryphon, pasukan Wyvern pun bubar ke segala arah.


Tapi sayangnya nasib mereka sudah ditentukan ketika bertatap muka.


"Kalian mau kabur kemana?"


Si wanita—Ashera dengan kecepatan yang tak bisa dibayangkan telah memblokir pelarian beberapa pasukan Wyvern.


Bak ... Jdarrr ...


Hanya dengan sebuah tinju, Wyvern beserta pilot-nya langsung terhempas jatuh ke tanah.


"K-k-kita pasti mati!"

__ADS_1


Bak ... Jdarr ...


Ashera mengulangi siklus itu sekali lagi ... zirah besi, mirthil yang melekat pada Wyvern tak sanggup membendung kekuatan fisik Ashera.


Belasan pasukan Wyvern telah jatuh ke tanah.


Pasukan pegasus dan gryphon berhasil melebarkan jarak yang sangat jauh, begitu juga dengan pasukan Wyvern yang berhasil lolos.


"Saat kalian bertemu denganku, kematian adalah mutlak!" Ashera mengangkat tangannya ke udara lalu mengatakan sesuatu.


"Weapon creation : Rain of weapons!"


Langit cerah mendadak berubah mendung, bukan mendung biasa—awannya berwarna ungu gelap.


"A-pa yang terjadi?" Kata salah seorang dari mereka ketakutan.


"K-kita tak akan bisa lari!"


.


.


.


"Ja-ngan bercanda!"


Viola dan Vian belum sepenuhnya pergi dari Lamort Desert, tentu saja mereka bisa melihat fenomena alam yang tak mungkin bisa dijelaskan. Awan badai berwarna ungu yang memiliki kandungan Mana super besar.


"A-ku tak bisa tinggal diam!" Tangan Viola terkepal kuat, dirinya merasa ketakutan dan tak berdaya. Akan tetapi, melihat sihir area sebesar ini ... membuat dirinya melupakan semua rasa takutnya.


"Jangan lakukan itu! Sebaiknya kita segera menjauh dari area ini?" Cegah Vian yang telah berubah menjadi bentuk burung raksasa yang menghalangi jalan Viola.


"Apa yang kamu katakan? Aku harus menyelamatkan mereka!" Viola berisi kukuh berusaha melewati hadangan Vian.


"Keselamatan kita lebih penting! Mereka cuma sekelompok prajurit biasa—"


"Aku ini pahlawan, Vian! Seorang pahlawan ... tugas seorang pahlawan adalah menyelamatkan semua orang tanpa pilih-pilih! Tak peduli itu rakyat biasa atau bangsawan, aku harus menyelamatkannya!" Kata Viola dengan tegas.


Setelah melihat ekspresi Viola yang sangat serius, Vian pun melunak. Dia membukakan jalan untuknya.


"Terimakasih, jika kamu tak ikut ... sebaiknya cepat pergi sejauh—" Perkataan Viola dipotong.


"Kamu tak mungkin menang! Tak mungkin bisa menang!" Kata Vian dengan mata burungnya yang mengeluarkan air mata.


Viola mengabaikan Vian, dia berjalan melewati dirinya tanpa berkata apa-apa.


"Enchant!"


Cahaya biru yang indah menyelimuti tubuh Viola. Selanjutnya, Viola mengambil ancang-ancang tuk segera melesat.


"Tak apa-apa aku mati, asal aku sudah benar dalam menjalankan tugas dari gelar ini!" Viola menengok ke belakang dan memberikan senyuman lembutnya.

__ADS_1


"Fly!"


Pasir berterbangan mengiringi Viola yang terbang dalam kecepatan tinggi meninggalkan Vian yang terkaku.


"KIYA ...! AKU TAU KAU ADA DI SEKITAR SINI, SELAMATKAN VIOLA! KAU HARUS BERTANGGUNGJAWAB, KIYA!" Vian berteriak sekeras mungkin menyebut nama seseorang yang belum tentu akan mendengarnya.


.


.


.


Weapon creation, sebuah sihir tipe pembentukan tingkat khusus, artinya cuma Ashera seorang yang bisa melakukan sihir ini. Mekanisme sihir ini adalah membuat senjata dari apapun, materi apapun ... baik padat, cair, atau gas.


Tapi, dalam kasus ini ... Ashera menciptakan senjatanya dari awan. Tak ada alasan khusus, dia merasa aneh jika menggunakan udara.


"Tak estetik rasanya jika aku menggunakan udara ... lebih keren jika menggunakan awan! Terlihat sangat mengerikan!"


Pembuatan senjatanya memerlukan waktu 0,02 detik per senjata, tidak bisa serempak. Lalu ... Weapon creation: Rain of weapons, tentu saja memerlukan waktu beberapa menit bahkan jam jika jumlahnya sungguh di luar nalar.


Dan Mana yang diperlukan tergantung pada senjata, semakin kuat maka semakin banyak.


Weapon creation: Rain of weapons harus diimbangi dengan jumlah Mana pengguna.


"Hmm ... aku menghabiskan setengah Mana hanya untuk menghabisi kroco. Tapi, yah ... tak apa-apa! Aku ingin menguji si pahlawan saja." Kata Ashera menyeringai menyaksikan sekumpulan manusia dengan kendaraan terbangnya terkaku diam di tempat. Tak ada yang mencoba untuk lari sejauh mungkin tuk menyelamatkan diri.


Ashera menengadahkan kepalanya melihat kumpulan awan berwarna ungu itu. "Sudah selesai?"


Syutt ...


Kemudian sebuah pedang melesat jatuh dari awan, satu, dua, tiga ... bertambah semakin banyak layaknya rintik hujan.


Syutt ... syutt ... syutt ...


"Protection!" Teriak seseorang yang melesat sangat cepat.


Para pilot yang mengira hidupnya akan berakhir di situ mendapatkan secercah harapan ketika mengetahui bahwa tubuhnya diselimuti oleh cahaya biru yang menghangatkan. Lebih hebatnya lagi ... cahaya itu membuat mereka kebal terhadap hujan senjata.


"Oh, pahlawan ... ternyata kau belum pergi!? Apa yang terjadi? Seharusnya kau sekarang meringuk ketakutan, tapi kenapa kau bisa memberanikan diri untuk menemuiku?" Kata Ashera cukup cuek membelakangi Viola.


"Tentu saja karena aku pahlawan!" Jawab Viola cukup tegas.


.


.


.


Pokoknya aku ucapin terimakasih pada pembaca yang bisa terus baca sampe chapter terupdate.


Maaf 🙏 nggak bisa ngasih cerita yang bagus.

__ADS_1


aku bakal usahain cerita ini agar bisa tamat.


Dah ... see you


__ADS_2