
Ashera tersenyum getir atas kemunculan Vio, adik dari Azkiya. Bisa dikatakan ia adalah sosok yang berbahaya setelah semua yang dilaluinya. Apalagi Vio memiliki kemampuan yang bukan sihir, melainkan murni kekuatan yang berasal dari bumi.
"Siapa sangka, secuil ingatan sanggup menjadi sebuah kepribadian. Energi spiritual adiknya Kiya memang mengerikan!?"
"Mbak Ashera, di mana kakak?" Vio bertanya hal yang sama.
Kini, Ashera kesulitan bicara. Ia harus memikirkan dampak apa yang terjadi jika Vio atau Viola bertemu dengan Kiya. Tentang reaksi Kiya dan semuanya. Jujur saja, meskipun Vio mengaku sebagai adiknya, akan tetapi perkataannya tak bisa dipercaya sepenuhnya.
"Bisu, ya?"
Salju yang turun bertambah lebat, begitu juga dengan suhu yang turun begitu tajam, sampai dapat membekukan apapun. Makhluk hidup yang berada dalam badai salju akan segera menemui ajal. Kekuatan yang mengerikan.
"Benar-benar mengerikan! Vio memang berbahaya ... kekuatan es yang dimilikinya lebih hebat dari Ranan maupun Nia!"
Ashera panik, kenapa kakak dan adik sama-sama merepotkan, pikirnya. Sekarang, untuk menghindari suhu dingin yang ekstrim, Ashera harus membuat semacam penghalang atau Barrier khusus untuk dirinya.
"Tinggal bicara, dan semua ini akan berakhir!"
"Gawat ...! Apa yang harus kulakukan? Beritahu saja, apa itu langkah yang baik? Ahh ... ini membingungkan!"
"Vio ...?" panggil seseorang terkejut.
Pendatang baru tersebut adalah Vian yang sampai dengan badan babak belur. Sama dengan Ashera, ia juga terkejut, terlebih badai salju yang tiba-tiba muncul. Padahal belum waktunya musim dingin.
"Kau mengetahuinya? Eh, tunggu dulu ... kau sudah mengurus semua monsternya?"
"Diamlah! Tenang saja, berkat badai salju kematian ini, semua monster membeku. Begitu juga dengan dunia ini!" kata Vian serius menatap Vio.
"Oh, Vian? Hmm, yah ... tak ada salahnya bertanya. Di mana kakakku, di mana Azkiya?"
"Apa maksudmu? Kamu tau sendiri, ia sudah mati!'
"Jangan berpikir bahwa aku sebodoh Mbak Viola. Ikatan persaudaraan kami jelas lebih kuat dari perasaan cinta bodoh Mbak Viola!"
Vian tersebut getir yang sama dengan Ashera tadi, ia tak tahu-menahu soal pertanyaan Vio. Vian adalah golongan yang meyakini kematian Kiya, tapi Vio begitu bersikeras memaksakan pendapatnya untuk diterima.
__ADS_1
"Aku akan memakai cara kekerasan, jika Mbak Ashera atau Vian tak mau bicara!" Vio dalam kondisi kuda-kuda menyerang. Di tangannya tercipta sebuah busur es berwarna biru muda.
Vian lantas menengok Ashera, ia yakin Ashera tahu sesuatu. Keberadaannya sekarang bisa menjelaskan. Iblis panggilan akan menghilang kembali ke tempatnya berasal begitu Tuannya mati, hal tersebut tak bisa dibantah ... iblis tingkat rendah maupun tinggi seperti Ashera, tak mungkin mengelak.
Ashera menggeleng, timbul cahaya ungu di tangannya yang membentuk siluet katana ... Ashera menciptakan katana. Artinya Ashera bersiap bertarung.
"Pilihan buruk! Kekuatan asli Vio sudah terlalu mengerikan untuk kategori bukan suatu jenis sihir. Ditambah dengan pengetahuan sihir milik Viola ... aku sungguh pesimis!" satire Vian.
"Bodo amat! Aku adalah mantan Demonlord, harga diriku dipertaruhkan di sini. Apa kata dunia jika aku kabur dari anak kemarin sore yang tak jelas!" kesal Ashera.
"Masih memikirkan harga diri? Kau bisa mati, lho!"
"Berisik, dasar burung!"
"Kalian masih sempat bicara. Meremehkanku? Akan kubuat kali—" belum sempat Vio menyelesaikan perkataannya. Ia secara mengejutkanku kehilangan kekuatannya untuk terbang dan terhempas jatuh.
Vian yang melihatnya pun tak tinggal diam, secepat kilat ia terbang berusaha menangkap tubuh Vio atau Viola.
"Huh, syukurlah!" lega Vian dapat menangkapnya dan tak ada satu luka pun yang bersarang. Vian kemudian terbang menjauh untuk mencarikan tempat yang sesuai.
"Hei, Vian—" Ashera persis berhenti ketika Vian membentangkan sayapnya menghadang.
Ashera mendecih kesal, "Ayolah, aku tak punya niat buruk denganmu atau dia!"
"Kendali Vio telah lenyap. Kau punya kebebasan untuk menyerang kami, kau menyuruhku untuk tak waspada dan membiarkanmu berkeliaran di dekat Viola?"
"Tujuanku bukan membunuh kalian, lagian tak ada untungnya aku melakukan itu. Tujuan asliku adalah para monster menyebalkan itu. Tapi, tunggu ... kau membiarkan para monster itu menguasai kota ini? Badai salju telah menghilang, aku yakin monster-monster itu masih sanggup bertahan menghadapi terjangan suhu ekstrim tadi!" kata Ashera panjang lebar.
"Masa bodo. Situasinya lebih genting, biarlah kota ini hancur, asal Viola baik-baik saja."
"Dasar simp!" Maki Ashera pelan. Ia ragu Vian akan menggubrisnya, terlebih Vian tak tahu arti kata yang diucapkan oleh Ashera.
Benar saja, Vian tetap diam, ia lebih mementingkan kondisi Viola. Vian memastikan jika tidak ada luka dalam yang terjadi.
"Hei, Vian! Kau sudah tau soal Vio, kan?" tanya Ashera yang sontak membuat Vian terkejut. Melihat dari reaksinya, seharusnya Vian tahu sesuatu.
__ADS_1
"Sejak kecil ... Viola memiliki semacam kelainan—"
"Kepribadian ganda?" tebak Ashera.
"Yah, tepat sekali. Sedari kecil, kepribadian Viola berubah-ubah tak tentu. Ia kadang menjadi Viola normal yang ceria dan riang, namun kadang ia berubah menjadi Viola yang cengeng. Selalu menangis dan menyebut-nyebut suatu nama ... Azkiya, 'kak Azkiya' dalam bahasa yang berbeda.
Aku dan keluarganya kebingungan atas kondisi Viola yang abnormal. Padahal Viola adalah salah satu kandidat pahlawan, jika ada sesuatu kejanggalan dalam tubuhnya ... maka hak istimewa tersebut akan dicabut. Dalam kasus ini, aku akan pergi mencari kandidat lain. Aku tak ingin itu terjadi, maka suatu hari ... aku memberanikan diri untuk berkomunikasi dengan diri Viola yang lain. Itu baru pertama kali karena perbedaan bahasa ..."
"Jadi, saat itu kau tau bahwa itu adalah Vio adik dari Kiya?" sela Ashera.
"Aku belum sepenuhnya yakin, meski aku menggunakan sihir penerjemah ... tetap saja membuatku bingung. Apa benar bahwa itu adalah ingatan Viola di kehidupan sebelumnya? Apa mungkin ingatan dapat membentuk semacam kesadaran lain? Waktu itu aku benar-benar bingung!" kata Vian menatap Viola yang pingsan.
"Apa yang kau lakukan selanjutnya?'
Vian kembali melipat sayapnya, kewaspadaannya terhadap Ashera dikendurkan. Ia menghela nafas ...
"Aku membuat kesepakatan. Sesuai permintaannya, aku akan mencari orang bernama Azkiya, dan Vio tak boleh keluar sama sekali saat Azkiya belum ketemukan. Aku awalnya mengira bahwa Viola cuma mengidap semacam kelainan, semua hal tentang Vio cuma omong kosong. Bertahun-tahun aku mencari, namun orang bernama Azkiya tak pernah ada.
Sampai suatu hari, Viola datang ke kota Xely, dan di sanalah kami bertemu dengan seseorang bernama Azkiya. Pada waktu itu aku sangat panik, khawatir jika Vio muncul lagi. Namun, kekhawatiran palsu, Vio tak kunjung muncul. Aku sempat mengira bahwa Vio memang tak pernah ada ...."
"Kini ... secara mengejutkan Vio muncul lagi. Ashera, kau mengetahui alasannya?' Vian balik bertanya setelah cerita panjangnya.
"Aku tak yakin. Tapi, Viola yang mencegah Vio muncul. Dalam diri Viola ada semacam tempat khusus bagi Vio. Saat aku menggunakan Observation pada Viola, dan hal itu tembus sampai ke tempat Vio. Kami sempat bercengkrama dan ia titip kabar soal Kiya. Vio juga berkata ...
'tolong, jaga kakakku! Aku sebetulnya sangat ingin menemuinya, aku telah salah besar karena membuatmu menderita. Tapi, aku bukan Vio yang dulu, aku telah menjadi orang lain. Aku tak bisa berada di sisi kak Kiya'
Dari semua perkataannya, sudah sangat jelas bahwa Vio memang tak bisa keluar. Tapi, kenapa sekarang ia sanggup melakukannya?"
"Jadi, begitu. Huh, tapi ..." Vian menahan kata-katanya.
"Yang jelas, Vio adalah suatu ancaman jika ia lepas kendali. Begitu juga dengan Kiya, beruntunglah ingatan Kiya telah dihilangkan, jika tidak ... sudah sejak dulu ia menghancurkan dunia ini!"
"Tuan Raphael tak salah untuk mengotak-atik ingatannya!"
Ashera hanya bisa bergidik ngeri membayangkan sepasang kakak beradik itu.
__ADS_1