Tahta Perak

Tahta Perak
Penguasa


__ADS_3

Plok... plok... plok...


Saat ini, suasana hening menyelimuti seluruh tempat pelatihan, selain suara langkah kaki Isabell yang terdengar jelas, tidak ada seorangpun di tempat itu yang membuat suara.


Evan yang tidak memiliki ekspresi di wajahnya, memandang Isabell yang berjalan mendekatinya secara perlahan.


Dilihat dari ekspresi dan tingkah lakunya, Isabell sepertinya merasa takut kepada Evan, dia memeluk lengan kirinya yang telah terlepas dari bahunya dengan sangat erat saat berjalan perlahan kearah dimana Evan berada dan semakin dekat dia dengan Evan, semakin jelas terlihat rasa takutnya.


Ketika Isabell akhirnya berada tepat di depan Evan, dia menundukkan kepalanya kebawah sambil memeluk lengan kirinya erat-erat seperti seorang anak yang telah sadar jika dia melakukan kesalahan dan bersiap-siap untuk dimarahi.


Sedangkan Evan sendiri tetap tanpa emosi dan mulai berbicara dengan suaranya yang dingin.


" Apa yang kau lakukan saat aku tidak ada disampingmu ? "


" Uwuwuww... "


" Katakan dengan jelas, aku tidak mengerti apa yang kau katakan. "


" Uwawwuu... uwuwawa. "


" Jangan bersikap bodoh, aku tahu kau mengerti yang aku katakan, jika kau memberikanku alasan yang masuk akal, aku akan meringankan hukumanmu. "


" ... "


Ketika Isabell mendengar apa yang Evan katakan, ekpresi wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang berpikir sangat keras sebelum dia mengatakan sebuah kata yang akhirnya dapat dimengerti oleh Evan meskipun tidak begitu jelas.


" Maa.. akaan. "


" Makan ? "


" Hmmm... "


Isabell menganggukkan kepalanya keatas dan kebawah untuk menjawab keraguan Evan, tapi itu justru membuat Evan sangat marah dan mulai membentaknya.


" Jadi kau membuat semua keributan ini hanya karena kau lapar dan ingin makan ?, bukankah aku sudah memberimu makanan yang cukup untuk hari ini, jika itu memang tidak cukup, kau selalu bisa meminta lagi padaku, tidak perlu melakukan hal-hal semacam ini, hohohoo jadi sekarang kau mulai berani berbohong padaku hah. "


" Uwuwuwuuu... hiks...hiks..."

__ADS_1


Saat Isabell melihat Evan menjadi semakin marah, dia berjongkok dan mulai menangis, ketika Evan melihat hal ini, dia mulai menghela nafas lega dan segera menonaktifkan Sword Eyes, bersama dengan itu, suasana berat dan menakutkan yang ada disekelilingnya menghilang secara tiba-tiba, bahkan wajahnya yang selama ini tanpa ekspresi menunjukkan senyum hangat dan tulus yang sangat langka.


" Baiklah, berhenti menangis, aku tidak akan memarahimu lagi, kau bilang kau lapar kan, ini ambillah, makanlah secara perlahan. "


Setelah menyelesaikan hal yang paling dia khawatirkan, Evan membungkukkan badannya dan mengelus kepala Isabell yang penuh dengan rambut putih dengan lembut sambil memberikan beberapa botol kecil yang berisi cairan merah didalamnya.


Ketika Isabell melihat botol-botol itu, dia segera menghentikan tangisannya dan dengan secepat kilat menyambar semua botol itu dengan tangan kanannya sehingga secara otomatis menjatuhkan lengan kirinya yang dia genggam selama ini.


" Kau gadis kecil, setidaknya sambung kembali tangan kirimu itu dulu, apakah hanya makanan saja yang selama ini ada diotakmu, jika kau terus seperti ini, lama-kelamaan kau akan menjadi William yang kedua. "


Evan yang melihat tingkah konyol Isabell, menggelengkan kepanya tak berdaya, kemudian dia mengalihkan perhatiannya pada orang-orang di sudut tempat pelatihan yang selama ini mengawasinya dan Isabell diam-diam.


" William, cepat bawa Isabell ke kamarnya, aku ingin berbicara dengan gubernur Brian dan para Ksatrianya. "


" Baik Tuanku. "


Setelah mendapat perintah, William bergegas mendekat kearah Isabell untuk membawanya beristirahat, tapi saat William mendekat, Isabell segera menyembunyikan semua botol yang diberikan oleh Evan di dalam bajunya yang compang-camping dan menatap William dengan waspada.


" Tenanglah Isabell, aku tidak akan merebut makananmu, cepatlah ikut denganku, jika tidak, Tuan akan memarahimu lagi nanti. "


Dengan itu, William mengambil lengan kiri Isabell yang tergeletak dilantai dan meraih tangannya yang lain untuk dengan cepat meninggalkan tempat pelatihan.


" Sigh... "


Ketika Evan melihat mereka berdua telah pergi, dia menghela nafas panjang sambil berjalan mendekat kearah kelompok Brian yang masih sedikit bingung dengan apa yang terjadi.


" Tuan-tuan, aku benar-benar menyesal untuk apa yang terjadi hari ini, aku berjanji atas nama keluarga Silverash, aku akan melakukan yang terbaik untuk memberikan kalian kompensasi atas luka-luka yang kalian derita, sedangkan untuk parak Ksatria terhormat yang telah pergi... sigh... aku sendiri yang akan memberikan penjelasan kepada keluarga mereka. "


" Terimakasih atas perhatian anda Yang Mulia, dengan anda secara pribadi mengambil tindakan, kami yakin bahwa saudara-saudara kita yang telah gugur dapat beristirahat dengan tenang. "


Sebagai pemimpin kelompok, Robin menanggapi kalimat Evan dengan serius dan penuh hormat.


" Baiklah, sekarang kalian bisa pergi dan mengobati luka-luka kalian, aku dan gubernur Brian akan mengambil alih dari sini. "


" Terima kasih Yang Mulia. "


Dengan itu, para Ksatria yang masih hidup menjadi kelompok kedua yang meninggalkan tempat pelatihan dan hanya menyisakan Evan, Brian dan tubuh dingin para Ksatria yang telah terbunuh oleh Isabell di tempat itu.

__ADS_1


" Bagaimana keadaan putrimu ?, apakah dia baik-baik saja ? ".


Setelah hening sejenak, Evan akhirnya memutuskan untuk memulai percakapan.


" Berkat teknik penyembuhan yang Yang Mulia gunakan, kondisinya telah membaik. "


" Sigh... tidak perlu menyembunyikannya, kau bebas bertanya apapun yang kau mau. "


" Tidak ada yang ingin hamba tanyakan Yang Mulia. "


" Hehee... apakah kau tidak ingin tahu mengapa aku menyimpan monster yang mengerikan dan berbahaya seperti itu bersamaku ? "


" ... "


" Karena kau sudah melihat terlalu banyak, tidak ada salahnya untuk membiarkanmu tahu lebih banyak lagi, sebenarnya aku berencana untuk menjadikan Isabell sebagai tangan kananku. "


" Apa !, tidak mungkin Yang Mulia, gadis itu terlalu berbahaya, bagaimana jika suatu hari nanti dia mengamuk lagi dan menyerang anda. "


" Aku sebelumnya juga sedikit khawatir dengan hal itu, tapi karena kejadian hari ini, aku dapat memastikan bahwa itu tidak akan terjadi. "


" Tapi kita tidak bisa mengambil resiko Yang Mulia, anda terlalu penting bagi masa depan seluruh wilayah Silverash dan juga meskipun gadis itu tidak akan menyerang anda, dia bisa menyebabkan bencana yang mengerikan, apakah itu layak ? "


" Layak !, bahkan jika aku harus mengorbankan 100 Ksatria Bergelar, itu masih merupakan harga yang dapat ku toleransi dan hanya beberapa Master Ksatria, itu merupakan harga yang sangat murah karena aku berhasil mendapatkan sesuatu yang sangat bermanfaat dari kematian mereka. "


" ... "


Brian menatap Evan dengan tidak percaya, dia tidak menyangka bahwa Evan yang masih sangat muda adalah orang yang sangat kejam, dia tidak tahu apakah hal ini baik atau buruk jika wilayah Silverash dipimpin olehnya suatu hari nanti.


" Gubernur, aku memberitahumu hal ini karena aku tahu kau adalah orang yang sangat setia pada keluargaku, aku bahkan tidak ragu jika kau akan mengorbankan dirimu sendiri untuk keluargaku.


Sigh... meskipun disebut sebagai orang paling berbakat dalam sejarah keluarga Silverash, tapi aku hanya satu orang, tidak mungkin aku dapat melindungi seluruh wilayah Silverash hanya dengan kekuatanku sendiri, karena itulah aku membutuhkan banyak bakat yang luar biasa untuk menjadi pedang dan perisaiku dan kebetulan Isabell adalah salah satu kandidat terbaik yang pernah kutemukan hingga saat ini.


Selain itu, kau juga pasti sangat mengerti akan hal ini, terkadang kita harus mengorbankan hal-hal kecil untuk mencapai tujuan yang lebih besar, setiap kaisar, permaisuri atau pemimpin yang dapat berdiri di puncak benua ini pasti tidak akan memiliki tangan yang bersih, aku harap kau mengerti apa yang aku sampaikan saat ini. "


" ... "


Seketika, Brian terdiam setelah mendengar apa yang Evan katakan, secara tidak sadar, dia dapat merasakan aura tak terlihat yang saat ini mengelilingi tubuh Evan.

__ADS_1


Meskipun tidak terlihat, dia dapat merasakan aura itu dengan sangat jelas, itu sangat agung dan mendominasi, dia tiba-tiba teringat bahwa dia juga pernah merasakan hal serupa dari pemimpin keluarga Silverash saat ini, yaitu Ryan Silverash dan tanpa sadar tiga kata muncul kembali dari ingatnya yang berdebu.


Aura sang Penguasa.


__ADS_2