
[ Sialan, monster macam apa ini, kemampuannya terlalu aneh dan menakutkan. ]
Robin yang adalah seorang Ksatria Bergelar, merasa sangat frustasi dengan musuh yang dia hadapi saat ini.
Dari total 21 Ksatria yang berpartisipasi dalam pertarungan ini, hanya tersisa 8 orang yang masih memiliki kemampuan untuk bertempur sedangkan yang lainnya tergeletak dilantai dalam kondisi yang mengerikan.
Ke 13 orang yang tergeletak dilantai, 7 dari mereka masih memiliki sedikit tanda-tanda kehidupan sedangkan sisanya telah menjadi mayat yang dingin.
Dan kematian para Ksatria itupun juga sangat aneh, terlihat jelas bahwa ada bekas sayatan besar di bagian tubuh mereka tapi tidak ada setetespun darah yang mengalir keluar.
Tapi jika kita mengalihkan pandangan pada orang-orang yang terluka parah, kita akan mengetahui mengapa tidak ada setetespun darah yang mengalir dari mayat Ksatria yang mati itu.
Jika kita memperhatikan dengan seksama, akan terlihat jelas bahwa darah yang mengalir keluar dari luka para Ksatria yang masih hidup itu tidak jatuh ke lantai melainkan melayang ke udara dan perlahan membentuk sebuah pedang dengan bentuk yang aneh dan senjata inilah yang membuat Robin dan para Ksatria lainnya sakit kepala.
Meskipun terbuat dari darah, senjata aneh itu sangatlah tajam dan dapat dengan mudah menembus Aura Shield yang dibentuk oleh seorang Master Ksatria dan yang lebih menakutkan adalah senjata darah itu tidak memiliki bentuk tetap, hal aneh itu seketika dapat beralih dari bentuk padat ke bentuk cair dalam waktu yang sangat singkat sehingga sangat sulit untuk dihancurkan.
[ Sial, jika ini terus berlanjut, akan ada lebih banyak korban, meskipun mahkluk itu tidak dapat membunuhku, tapi aku juga tidak dapat mengikuti kecepatan dan gerakan anehnya itu, untung saja aku sudah mengirim sinyal darurat dan mungkin sebentar lagi bala bantuan akan datang, tapi apakah aku sanggup melindungi orang-orangku dan Nona Muda sampai saat itu... sialan, sialan, sialan. ]
Baam...
Saat Robin sedang berpikir keras tentang bagaimana cara untuk keluar dari situasi buruk ini, tiba-tiba pintu masuk tempat pelatihan terbuka dengan suara yang sangat keras dan memperlihatkan sesosok seorang anak laki-laki berambut perak yang berusia sekitar 10 tahun berjalan perlahan kearah tengah tempat pelatihan.
" Jangan mendekat Yang Mulia, disini sangat berbahaya, cepatlah pergi sejauh mungkin. "
Robin yang melihat Evan berjalan perlahan ke tengah lapangan, segera berteriak keras untuk memperingatkannya agar pergi sejauh mungkin tapi sepertinya Evan tidak memperdulikannya sama sekali.
__ADS_1
Sebagai seorang Ksatria tingkat tinggi di wilayah Silverash, Robin jelas mengetahui seberapa penting identitas Evan, dapat dikatakan bahwa semua orang di tempat ini dapat dikorbankan asalkan tidak terjadi hal yang buruk pada Evan.
Oleh karena itu, saat Robin melihat Evan tidak menggubris peringatannya, dia bersiap untuk bergegas kearahnya dan meninggalkan Sofia serta para Ksatria lainnya dengan tujuan untuk melindungi Evan.
Tapi tindakannya ini segera dihentikan oleh Brian dan William yang entah kapan sudah berada di dekatnya.
...
Evan yang saat ini sedang berada tepat di tengah lapangan pelatihan, memandang keadaan di sekitarnya dengan dingin.
Tiba-tiba, dari tubuhnya mengalir keluar sebuah energi berwana biru yang perlahan membentuk bola-bola cahaya kecil seukuran telapak tangan, saat bola itu terbentuk secara sempurna, itu secara otomatis melayang perlahan menuju para Ksatria yang tergeletak tak bergerak dilantai.
Ketika bola cahaya biru itu menyentuh tubuh para Ksatria, sebuah adegan yang sangat menakjubkan terjadi, para Ksatria itu yang sudah dalam kondisi setengah mati mulai mendapatkan kembali vitalitas mereka secara perlahan, meskipun itu tidak secara langsung menyembuhkan para Ksatria itu dan juga tidak dapat menghidupkan kembali yang sudah mati, setidaknya, mereka yang masih hidup tidak lagi berada di ambang kematian.
" Apa yang kau lakukan disana, cepatlah kemari ! "
Mata biru safir dengan tanda pedang perak ditengahnya menatap bayangan yang berada tepat di sudut tembok itu dengan datar seolah sedang memandang sesuatu yang tidak penting, bahkan tidak ada sedikitpun ekspresi diwajahnya.
Saat William melihat kondisi Evan saat ini, dia menjadi sangat khawatir, karena dia telah mengikuti Evan selama beberapa waktu, dia tahu bahwa keadaan Evan saat ini hanya terjadi ketika dia telah memasuki mode tempur.
Dalam kondisi ini, Evan seperti mesin pembunuh yang tak berperasaan, apakah itu orang dewasa atau anak-anak, perempuan atau laki-laki, muda ataupun tua, dia akan membunuh mereka tanpa ragu-ragu sedikitpun.
Tapi keadaan ini hanya akan aktif setelah Evan memutuskan untuk membunuh atau menyiksa musuh-musuhnya, karena itu, William sangat jarang melihat Evan dalam keadaan seperti ini dan juga tidak sekalipun terlintas dalam benaknya bahwa mode tempur Evan akan aktif saat melawan Isabell.
Hal ini jelas menunjukkan bahwa Evan telah membuat keputusan dalam hatinya bahwa dia akan membunuhmu Isabell dengan kedua tanganya sendiri.
__ADS_1
Meskipun William sangat khawatir dengan apa yang terjadi selanjutnya, tapi tidak ada yang dapat dia lakukan, dia hanya bisa berharap bahwa Tuannya itu dapat membuat keputusan yang terbaik dan membiarkan Isabell tetap hidup.
" Jangan buat aku mengulanginya lagi, kemarilah !!! "
Evan yang tidak mendapat respon dari kalimat pertamanya, segera berkata sekali lagi tapi kali ini dengan nada yang jelas sangat tidak enak didengar.
Dan bersamaan dengan itu, berbagai senjata berwarna merah darah yang selama ini melayang-layang di udara tiba-tiba bergetar dengan hebat dan dengan cepat terbang mengelilingi bayangan yang berada di sudut tempat pelatihan itu, anehnya senjata-senjata itu tidak berniat menyerang Evan sama sekali melainkan melayang disekitar bayangan itu dan bergetar dari waktu ke waktu seolah takut akan sesuatu.
" CEPATLAH KEMARI DASAR GADIS BODOH !!! "
Sringg...
Setelah menunggu cukup lama dan tidak mendapat jawaban yang memuaskan, Evan merangung dengan sangat keras dan tiba-tiba menghunus pedang biru yang sangat indah yang entah muncul darimana.
Ketika suaranya dengungan pedang terdengar, senjata-senjata yang mengelilingi bayangan itu bergetar lebih keras hingga secara bertahap mencair menjadi genangan darah dilantai.
Bersamaan dengan itu, bayangan yang ada disudut tempat pelatihan juga berfluktuasi dengan keras dan beberapa saat kemudian muncul sesosok gadis kecil keluar dari bayangan itu secara perlahan.
Gadis itu memiliki rambut panjang seputih salju, kulit pucat, mata merah gelap dan ada sepasang gigi taring kecil menonjol keluar dari mulutnya.
Dilihat sekilas, kondisi gadis itu sebenarnya cukup buruk, banyak luka tebasan dan tusukan di seluruh tubuhnya, luka-luka itu perlahan menggeliat seolah mencoba memperbaiki dirinya sendiri tapi sepertinya bekas Aura yang tertinggal di luka itu menghambat proses penyembuhannya.
Selain luka-luka itu, gadis itu juga memegang sebuah lengan kiri dengan tangan kanannya yang sepertinya adalah lengan kirinya sendiri yang terpotong saat pertempuran terjadi sebelumnya.
Tidak perlu ditanyakan siapa identitas gadis itu, dia adalah Isabell yang sebelumnya telah kehilangan kendali dan menyerang Sofia serta para Ksatria yang ada di tempat pelatihan secara tiba-tiba.
__ADS_1
Isabell saat ini sepertinya masih tidak dalam kondisi sadar sepenuhnya, dia memeluk lengan kirinya dan berjalan perlahan kearah Evan dengan ekspresi ketakutan diwajahnya, bahkan tubuhnya terus bergetar dari waktu ke waktu.
Robin yang melihat pemandangan itu, sangat sulit menggambarkan bawah gadis kecil yang ketakutan itu adalah mahkluk yang sama yang telah menyebabkan 21 Ksatria elit kota Aurum dalam kondisi sangat buruk dan bahkan memenggal beberapa dari mereka.