Tahta Perak

Tahta Perak
Pindah


__ADS_3

Saat ini, di salah satu pintu keluar Colosseum, Isabell dan William yang baru saja kembali dari lokasi tahap pertama turnamen diadakan sedang menunggu kedatangan Evan.


" Hey Isabell, apakah kau lulus ?, berapa nomor yang kau dapatkan ? "


William yang mulai bosan karena menunggu cukup lama akhirnya memutuskan untuk memulai percakapan ringan dengan Isabell yang selama ini diam seperti balok kayu.


Entah kanapa, William merasa bahwa Isabell menjadi orang yang dingin dan tak berperasaan seiring berjalannya waktu, hal ini membuatnya khawatir jika suatu hari nanti dia akan menjadi sebuah mesin pembunuh tanpa emosi seperti yang terdapat di novel-novel itu.


" Hmm, aku mendapatkan nomor 3 "


" ... "


[ Fu*k, nomor 3, berapa banyak koin yang dia kumpulkan, aku hampir menelusuri setiap sudut hutan dan hanya mendapat 14 koin, meskipun tipis, untungnya aku masih berhasil lolos.


Tapi jika dibandingkan dengan gadis kecil yang tampak tidak berbahaya di depanku ini, perbedaannya sangat menjijikkan. ]


Setelah lolos dari tahap pertama, peserta turnamen akan diberikan nomor berdasarkan banyaknya perolehan koin yang mereka kumpulan, semakin banyak koin yang mereka punya, semakin kecil nomor yang mereka dapatkan.


Fungsi nomor ini sendiri adalah untuk mempermudah para panitia mempersiapkan tahap kedua dari turnamen, intinya, nomor ini sama sekali tidak berguna, jadi Isabell tidak terlalu memperhatikannya.


Tapi itu masih dapat menarik kekaguman dari banyak orang karena siapa yang memiliki nomor lebih kecil berarti dia mengalahkan lebih banyak musuh dan biasanya merupakan kandidat untuk pemenang, tapi selalu ada beberapa pengecualian.


Contohnya seperti William saat ini, dia hanya mendapatkan sedikit koin bukan karena dia lemah tapi karena memang banyak peserta yang sengaja menghindarinya karena ada semacam aura menakutkan yang mengelilinginya.


" Oh lihat, Tuan kita sudah tiba, Tuan, kita ada disini... "


Ketika William sudah kehabisan topik pembicaraan saat mencoba berbicara dengan Isabell yang seperti balok kayu, dia memperhatikan bahwa Evan telah datang dari kejauhan.


Secara reflek dia segera berteriak untuk menarik perhatian Evan tapi ketika Evan semakin dekat, dia menyadari bahwa ekspresi wajah Tuannya itu sangat suram dan tidak sedap dipandang.


" Hei Isabell, ini hanya perasaanku saja atau memang Tuan kita sepertinya sedang dalam suasana hati yang buruk ? "


" Akan kuberikan satu saran untukmu tuan William, jika kau tidak ingin dipukuli lagi, lebih baik kau diam dan jangan membuat masalah. "

__ADS_1


" Hmm, baiklah, akan kuingat saranmu, terimakasih. "


Ketika Evan mendeteksi William dan Isabell yang saling berbisik tidak jauh darinya dengan Soul Energy, dia hanya melewati mereka begitu saja tanpa niat berhenti sedikitpun.


Ketika Isabell melihat hal ini, ekspresinya menjadi aneh dan dia kemudian berkata kepada William dengan sangat serius.


" Ingat tuan William, usahakan jangan banyak bicara dan tidak membuat masalah, aku memperingatkanmu karena kau selalu baik kepadaku.


Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau membuat marah Tuan Muda kali ini, tapi aku sangat yakin sesuatu yang sangat mengerikan akan terjadi, jadi diamlah dan jangan berbuat sesuatu yang aneh-aneh. "


Setelah Isabell menyelesaikan kalimatnya, dia bergegas mengikuti di belakang Evan dan meninggalkan William yang masih mempersiapkan dirinya untuk bencana yang mungkin akan segera terjadi.


...


Dilantai pertama penginapan, Evan dan kelompoknya saat ini sedang duduk di sebuah meja dan menikmati makanan mereka.


Meskipun Evan sangat kesal karena kata-kata yang diucapkan oleh pengawal Anastasya beberapa saat yang lalu, dia tidak akan membiarkan hal itu mempengaruhi pola hidupnya.


" Penampilanmu hari ini sangat memukau Isabell, aku bahkan tidak meyangka jika kau akan menggunakan strategi serigala berbulu domba, aku sangat puas dengan hasil yang kau peroleh saat ini. "


" Terima kasih atas pujian anda Tuan Muda. "


" Hmm, sekarang mari kita beralih ke protagonis kita yang sesungguhnya, apakah ada yang ingin kau katakan padaku tuan protagonis ? "


" A-apa maksudmu Tuanku, aku tidak melakukan kesalahan apapun. "


William sangat gugup ketika Evan menoleh padanya, sebenarnya kegugupannya dimulai ketika Evan menjelaskan secara singkat bagaimana metode Isabell dalam menangani musuh-musuhnya seolah dia melihat kejadian itu secara pribadi.


[ Sialan, bagaimana dia bisa tahu apa yang kami lakukan saat jarak kami terpisah beberapa ratus kilometer, itu mustahil bahkan jika dia menggunakan mata yang aneh itu.


Dia pasti hanya menggertak, benar ! apa yang dia katakan hanyalah sebuah gertakan untuk menakut-nakutiku agar aku membocorkan kesalahan yang kubuat selama turnamen berlangsung.


Hahahaa, benar sekali, pasti itu yang terjadi, hehehee, kau tidak bisa menipuku kali ini dasar iblis tak berhati, apapun yang kau lakukan padaku, aku tidak akan mengatakan apapun, muahahaa ]

__ADS_1


Setelah William berkali-kali memotivasi dan meyakinkan dirinya sendiri, akhirnya dia mendapatkan kembali sedikit harapan dan keberaniannya yang sebelumnya menghilang.


Tapi itu tak berlangsung lama, tiba-tiba di tengah-tenga meja makan mereka ada sebuah layar cahaya yang menampilkan semua tindakan memalukan yang dia lakukan selama tahap pertama turnamen dan hal ini sekaligus memadamkan kobaran api harapan yang baru saja dia bangkit.


Setiap hal yang ditayangkan di atas layar cahaya adalah saat dimana dia mencoba memerankan beberapa adegan dalam novel-novel populer dan berakhir dengan tragedi yang sangat memalukan.


Bahkan Isabell yang biasanya sangat jarang tersenyum, saat ini menutup mulutnya dengan kedua tangan kecilnya dan mencoba menahan tawa sebisa mungkin.


" Sekali lagi, apakah ada yang ingin kau sampaikan padaku tuan protagonis ? "


" Apa yang kau katakan Tuanku, lihatlah dia baik-baik, orang itu jelas bukan aku, aku adalah seorang Ksatria yang terhormat dan jelas tidak akan melakukan hal-hal memalukan seperti itu. "


" Oh, jadi itu bukanlah dirimu, aku jadi lega kalau begitu, aku sebenarnya berencana menayangkan rekaman ini di layar cahaya raksasa yang ada di tengah-tengah Colosseum besok pagi sebelum tahap kedua turnamen dimulai untuk dijadikan sedikit hiburan pada para penonton yang bosan menunggu, percayalah, aku memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu. "


" Tidakkkk.... tolong jangan lakukan hal itu Tuanku, jika anda melakukannya, reputasiku akan hancur dan mungkin keluargaku dirumah juga akan mengetahui tentang hal ini.


Jika itu sampai terjadi, aku tidak akan sanggup menatap wajah mereka lagi, kumohon Tuan, akan kulakukan apapun asalkan jangan publikasikan rekaman itu. "


" Hohooo, baiklah, akan kuberikan satu kesempatan lagi, tapi jika kau tampil buruk dalam pertandingan berikutnya atau tidak mengambil tempat juara pertama, akan kupastikan semua orang di wilayah Silverash akan mulai memanggilmu tuan protagonis. "


" Jangan khawatir Tuan, pasti akan kudapatkan posisi juara untukmu. "


Tanpa pikir panjang, William segera menyetujui persyaratan Evan karena memang itulah tujuan awalnya mengikuti turnamen ini, sekarang dengan ancaman Evan yang telah memiliki bukti nyata hanya akan menambah sedikit tekanan lagi padanya.


" Hmm, baiklah, setelah menghabiskan makanan kalian, cepatlah berkemas, kita akan meninggalkan penginapan hari ini. "


" Hmm...? kemana kita akan pergi Tuan Muda ? "


Isabell bertanya dengan penasaran saat Evan tiba-tiba memerintahkannya untuk berkemas dan meninggalkan penginapan tanpa alasan yang jelas.


" Hari ini kita akan menuju ke kastil gubernur kota dan menetap disana selama beberapa hari, aku rindu dengan masakan mewah para bangsawan. "


ketika Evan mengatakan hal itu, dia tanpa sadar menjilat bibirnya beberapa kali sambil mengingat-ingat kembali semua makan lezat yang dia makan selama lebih dari 9 tahun di rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2