
" Baiklah, aku siap, ayo kita lanjutkan pembicaraan kita tadi, tapi apakah benar jika yang akan kau katakan selanjutnya dapat menyebabkan berbagai status negatif jika para keturunan keluarga Silverash yang mendengarnya ayah ?, apakah ada mantra atau kutukan tertentu yang menyebabkan itu semua terjadi ? "
" Tidak ada mantra atau kutukan semacam itu, hanya saja kau akan sulit menerima kenyataan karena apa yang akan kukatakan selanjutnnya sangat mengejutkan dan tidak bisa dipercaya, khususnya bagi keturunan keluarga Silverash, setelah mendengar kebenaran ini, sebagian besar dari mereka akan merasakan kemarahan yang ekstrim terhadap leluhur mereka karena telah melakukan sesuatu yang tabu bagi seorang ksatria, karena itu cerita ini hanya diteruskan kepada pewaris posisi pemimpin keluarga dari generasi ke generasi. "
Evan yang sedang mempersiapkan mentalnya untuk mendengar sejarah kelam keluarganya tiba-tiba merasa ragu dengan apa yang dikatakan ayahnya.
" Jika hal ini memang merupakan sejarah kelam keluarga yang tidak boleh diketahui oleh siapapun, mengapa kita harus menceritakannya kepada pewaris pemimpin keluarga berikutnya ?, bukankah lebih baik jika hal ini menghilang seiring berjalannya waktu. "
" Itu tidak mungkin terjadi, karena perbuatan leluhur pertama, kita generasi masa depanlah yang harus menanggungnya akibatnya dan itu juga yang menyebabkan keluarga kita melemah sampai titik tertentu dibandingkan dengan dahulu. "
Saat Ryan mengatakan kata-kata itu, dia kembali mengingat harga apa yang harus dibayarkan keluarganya kepada kekaisaran Azeroth selama ribuan tahun terakhir, amarah sekali lagi menyelimuti hatinya.
[ Sialan kau pak tua, jika kau ingin membuat masalah, setidaknya jangan libatkan keluargamu dalam hal ini, apa kau tidak memikirkan akibat perbuatanmu, kita generasi masa depanlah yang harus menanggungnya. ]
Setelah mengutuk leluhurnya beberapa kali, akhirnya Ryan dapat sedikit menenangkan diri dan melanjutkan ke pembahasan utama.
" Baiklah, ayo kita lanjutkan bagian selanjutnya, ehm... sampai dimana aku tadi ? "
__ADS_1
" William membawa Adelaine kembali ke kekaisaran Azeroth, sepertinya memang benar terjadi sesuatu dengan kepalamu ayah, ingatanmu benar-benar buruk. "
" Diamlah dan dengarkan saja dengan baik dasar bocah idiot, saat perjalanan menuju ke kekaisaran, William seringkali berhenti untuk menyembuhkan luka-lukanya, pada suatu hari yang biasa, setelah berlari melintasi hutan yang lebat, William memutuskan untuk beristirahat sejenak disebuah gua, dia menurunkan Adelaine yang masih tidak sadarkan diri dari punggungnya dan membaringkannya di selembar kain yang telah ia persiapkan sebelumnya, inilah penyebab bagaimana semua tragedi ini dimulai.
saat William membaringkan Adelaine, dia tiba-tiba menyadari bahwa Adelaine adalah seorang wanita yang sangat cantik, kulit putih bersih dan lembut saat disentuh, rambut emas panjang yang yang sangat indah dan fitur wajah yang hampir sempurna, sejenak William terpesona dengan kecantikan yang ada dihadapanya sekarang.
William adalah seorang ksatria terkuat yang ada di benua Bintang, selain itu dia juga memiliki wajah yang sangat tampan, tentu saja dia memiliki banyak pengalaman tentang hubungan antara pria dan wanita, bahkan karena statusnya yang tinggi, tidak jarang banyak wanita bangsawan yang cantik dan anggun melemparkan diri padanya, bahkan jika dia melihat wanita paling cantik di dunia mungkin dia tidak akan terlalu terpesona seperti saat ini.
tapi Adelaine adalah kasus yang sama sekali berbeda, karena statusnya yang tinggi sebagai permaisuri kekaisaran Azeroth, dia selalu memasang wajah yang dingin atau tanpa ekspresi untuk menjaga citra seorang penguasa yang adil dan agung, tapi saat ini Adelaine menunjukkan penampilan yang sangat rapuh berbeda dengan dia yang biasanya.
William perlahan menarik tanganya dan menghantamkannya dengan keras ke wajahnya sendiri, setelah melakukan itu dia akhinya bisa kembali berpikir jernih sekali lagi dan keadaan kembali seperti semula.
dua hari kemudian, Adelaine yang sebelumnya tak sadarkan diri akhirnya terbangun, dia memandang sekeliling dengan bingung dan waspada, saat dia melihat bahwa ada William disekitarnya, dia merasa lega dan melepaskan kekhawatirannya, alasannya adalah karena reputasi seorang ksatria selalu dikenal baik dan lurus, mereka selalu menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan sangat menghormati perempuan yang biasanya selalu dipandang rendah pada era itu, jadi saat dia menyadari bahwa orang yang berada di dekatnya adalah William, dia melepaskan semua penjagaannya, apalagi sekarang dia sedang dalam keadaan lemah dan tidak dapat melakukan apapun.
saat dia melihat William mendekatinya, dia tersenyum lembut dan hendak mengucapkan terima kasih padanya karena telah menjaganya selama ini, tapi dia tidak akan pernah berpikir bahwa ksatria terkuat yang ada di dunia ini tiba-tiba menyerangnya seperti binatang buas yang kelaparan, William yang seperti sedang kerasukan saat itu merobek pakaiannya dengan kasar, meskipun dia berusa melawan tapi itu tidak berguna sama sekali, saat itu dia masih dalam keadaan yang sangat lemah dan tidak bisa dibanding dengan William, jadi..."
BAM...
__ADS_1
" CUKUP ! "
Evan yang mendengar kisah masa lalu tentang leluhurnya tiba-tiba berteriak dan memukul meja yang ada didepannya dengan keras sehingga menghentikan ayahnya dari melanjutkan kata-katanya.
Saat ini tubuh Evan memancarkan aura yang sangat menakutkan, tanganya masih terkepal erat diatas meja dan keringat dingin mengalir deras di punggunnya, matanya yang sebelumnya tertutup saat ini terbuka lebar menatap ayahnya didepannya dengan ekspresi kemarahan yang ekstrim.
Meskipun Evan terlihat sembrono dan nakal, tapi dia masih seorang keturunan keluarga Silverash, keluarga yang disebut sebagai keluarga ksatria terkuat di dunia, sejak dia kecil, dia telah diajarkan bagaimana untuk menjadi seorang ksatria yang hebat seperti para pendahulunya, tetapi sekarang dia mendengarkan bagaimana leluhurnya sendiri telah melanggar hal yang paling tabu bagi seorang ksatria, bagaiman dia tidak marah, kemudian dia bertanya kepada ayahnya dengan nada yang sangat tidak menyenangkan.
" Apakah semua yang kau katakan tadi adalah sebuah kebenaran ? "
" Tentu. "
" Lalu apakah peristiwa selanjutnya sama dengan apa yang kupikirkan saat ini ? "
" Benar. "
Evan menjadi lebih marah saat mendengar jawaban ayahnya yang tegas dan tanpa sedikitpun keraguan, dia kemudian berjalan ke arah dinding ruangan dan melampiaskan amarahnya ke dinding yang tidak bersalah itu, untungnya seolah Ryan telah memprediksinya tindakannya, dia telah menggunakan auranya untuk melapisi seluruh bagian ruangan, jadi meskipun Evan menggunakan seluruh kekuatannya untuk menghajar dinding itu selama berjam-jam, tidak akan ada sedikitpun goresan yang akan tertinggal, ini sekali lagi menegaskan bahwa kekuatan Ryan sangatlah menakutkan karena hanya dengan melapisi suatu benda dengan auranya saja dapat menahan serangan penuh seorang ksatria formal tingkat tinggi.
__ADS_1