Tahta Perak

Tahta Perak
Ksatria Idiot


__ADS_3

Di pinggiran Desa Pilze yang sudah rata dengan tanah, terlihat seorang anak kecil yang sedang memandangi mayat seorang wanita dalam kondisi sangat mengenaskan sambil memegang pedang biru yang masih meneteskan darah di tangannya.


Tidak perlu ditanyakan lagi siapa identitas anak ini, jelas dia adalah Evan yang baru saja mengeksekusi seorang Penyihir Hitam.


Saat ini Evan sedang memandang mayat Ursula dengan pandang menyedihkan bercampur dengan sedikit rasa simpati, dia sebenarnya sedikit mengasihani Penyihir Hitam yang malang itu, hanya karena terlahir dengan wajah yang cantik dan menawan, dia harus menjalani hidup yang sengsara dan kesepian.


Hal ini jelas-jelas disebabkan karena sistem hirarki yang ada dunia ini, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan untuk itu.


Mungkin dia bisa membantu satu atau dua orang yang mengalami nasib seperti Ursula dan mengubah kehidupan mereka menjadi lebih baik, tapi dia hanya satu orang, tidak mungkin dia bisa mengubah seluruh sistem dunia yang telah ada selama beribu-ribu tahun hanya dengan kekuatannya sendiri, itu seperti mencoba menghancurkan sebuah batu besar menggunakan sebutir telur yang jelas mustahil untuk dilakukan.


" Sigh... sungguh menyedihkan, terkadang aku bingung mengapa para bangsawan idiot itu sangat suka menindas rakyat mereka sendiri, jika dilihat dari gambaran besarnya, tidakkah mereka menyadari bahwa harta dan kekayaan yang merena hasilkan semuanya melalui keringat dan kerja keras rakyat mereka sendiri.


Aku mungkin memang tidak bisa mengubah sistem dunia ini yang telah mengakar jauh sejak zaman kuno, tapi setidaknya aku yakin bahwa ketidakadilan seperti yang kau alami tidak akan pernah terjadi di wilayah kekuasaan keluarga Silverash selama aku masih berada di dunia ini.


Beristirahatlah dengan tenang, aku Evan Silverash pasti akan menepati janji yang kubuat denganmu. "


Setelah menghela nafas panjang dan mengatakan sesuatu yang tidak jelas, Evan melemparkan sebuah bola api kepada mayat Ursula yang masih mengenakan senyum diwajahnya meskipun sudah tak bernyawa.


Beberapa saat kemudian, mayat itu akhirnya menghilang dan hanya menyisakan abu hitam yang perlahan terbang tertiup angin.


Setelah Evan menyaksikan kejadian itu dia akhirnya berbalik dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu.


Tujuannya selanjutnya adalah menemui William dan Isabell yang kemungkinan besar sudah berada di penginapan.


Dalam perjalanan kembali, dia juga tidak lupa untuk berterima kasih kepada penjaga dan kepala desa yang telah berusaha keras menutup akses masuk ke daerah disekitarnya.


Dan pada saat itu juga Evan mengalami sedikit kesulitan yang disebabkan oleh antusiasme kepala desa yang berlebihan, tidak hanya dia bersujud menyembahnya, dia bahkan menyebut Evan sebagai putra Dewa sehingga menyebabkan cukup banyak keributan terjadi diantara banyak penjaga yang ada disekitar.


Sebenarnya penduduk di Wilayah keluarga Silverash tidak memiliki kepercayaan kepada dewa-dewa yang ada di benua Bintang, bahkan sebagai besar dari mereka tidak memiliki kepercayaan sama sekali, tapi mereka sangat mengagung-agungkan atau memuliakan pemimpin mereka yaitu keluarga Silverash, bahkan tidak sedikit yang mengagap keluarga Silverash adalah keturunan dari dewa atau bahkan dewa itu sendiri.

__ADS_1


Jadi, setiap kali anggota keluarga Silverash terlihat, para penduduk akan meninggalkan semua yang mereka lakukan atau kerjakan dan bersujud menyembah mereka sambil berteriak " Salam Dewaku. " dengan keras dan bagi siapapun yang melanggar, akan dikenakan hukuman yang berat oleh para penduduk setempat.


Tapi karena keluarga Silverash sendiri menganggap tindakan ini terlalu berlebihan dan menggangu, mereka akhirnya menghapuskan tradisi ini dan hanya menyuruh rakyat mereka untuk membungkuk sedikit sebagai rasa hormat, selain itu sebutan Dewa juga dihilangkan dan menggantinya dengan Tuan atau Yang Mulia.


Meskipun demikian, masih ada cukup banyak orang yang tidak mau meninggalkan tradisi ini khususnya dikalangan orang-orang tua seperti kepada desa Pilze saat ini.


Jadi Evan harus menggunakan banyak usaha untuk membuat kepala desa mendengarkan apa yang dia ucapkan sekaligus memintanya untuk merahasiakan identitasnya dari orang lain.


Setelah berhasil mengusir tua bangka itu, Evan akhirnya dapat berjalan kembali ke penginapan dengan tenang sambil memikirkan keuntungan yang dia dapatkan kali ini.


[ Hehehee, telur Naga, organisasi Hitam bernama Black Fire, Keluarga Aghony, penculikan dan penjualan ras Elf dari benua Pohon Besar...


hahahaaa, luar biasa, jika semua informasi ini benar, aku dapat membuat kekaisaran Azeroth berdarah cukup banyak, meskipun itu tidak mungkin untuk menghapuskan hutang terakhir keluarga Silverashku atau mengambil kembali Silver Knight Armor, keuntungan yang kudapat pasti tidak kecil, muahahahaa...


Tapi aku harus merencanakan hal ini dengan hati-hati dan sempurna, tidak boleh ada kesalahan sedikitpun, selain itu aku juga membutuhkan bantuan kekuatan penuh dari keluarga Silverash, dengan begitu aku dapat memeras keluarga kerajaan Azeroth hingga kering, hehehee... ]


Evan hanya sadar dari lamunannya saat dia sudah berada di depan pintu penginapan, tapi saat dia membuka pintu penginapan, tiba-tiba ada sesuatu yang meluncur kearahnya dengan kecepatan tinggi dari dalam penginapan dan secara refleks membuatnya menghindari benda misterius itu.


Swoohhh... Bam !!!


Setelah benda itu melewati Evan, itu terus meluncur hingga menembus pintu dan hanya berhenti setelah menabrak tembok bangunan yang ada di depan penginapan.


Setelah memperhatikan dengan seksama, Evan akhirnya menyadari bahwa hal itu bukanlah sebuah benda mati atau sesuatu semacamnya, itu adalah seorang manusia dan Evan sangat mengenal siapa orang itu.


Kemudian, dia berjalan menghampiri orang yang baru saja meluncur itu sambil memungut potongan kayu dari pintu penginapan yang baru saja hancur.


Saat Evan sampai di dekat orang itu, dia berjongkok memeluk kedua lututnya dan menyodok wajah orang itu menggunakan potongan kayu yang dia pungut sebelumnya.


" Woyy, Ksatria idiot, apakah kau masih hidup ? "

__ADS_1


" Uhukk...uhuk... Oh Tuan, mengapa kau ada disini, apakah urusanmu dengan Penyihir Hitam itu sudah selesai. "


" Hohohoo, aku mendapatkan banyak keuntungan kali ini, omong-omong apa yang baru saja terjadi padamu, dimana Isabell sekarang ? "


" Oh benar !, cepat Tuan, kita harus menyelamatkan Isabell, ada orang cabul yang mengincarnya, aku baru saja bertarung dengan pengawalnya tapi karena lukaku belum sembuh sepenuhnya, aku dalam kondisi yang kurang menguntungkan. "


Saat Evan menyebutkan nama Isabell, William dengan cepat bangkit dan berlari kembali kedalam penginapan meninggalkan Evan sendirian.


Swoosshhh... Bam !!!


Tapi tak perlu waktu lama, William kembali dengan cara yang sama seperti pertama kali dia datang dan berhenti dengan menabrak tembok bangunan yang sama.


Evan yang melihat itu kembali menyodok wajahnya sekali lagi dan bertanya pertanyaan yang sama.


" Hoyy, Ksatria idiot, apakah kau masih hidup ? "


" Uhuk.. Oh Tuan, mengapa kau ada disini- , tunggu dulu, mengapa ini terasa Dejavu, aku merasa pernah mengalami kejadian ini sebelumnya. "


Plak...buk...plak...buk...


" Ah.... Tunggu dulu Tuan, kenapa kau memukuliku, ahhh.... hentikan, itu sangat menyakitkan, aahhh... wajahku, setidaknya tolong jangan menggunakan auramu saat memukul disana Tuan.


Ahhhh.... Tolong, iblis kecil ini ingin membunuhku, tolong... "


" Hohohoo, sekarang kau berani meminta tolong dan bahkan menyebutku iblis, sepertinya kau tidak paham posisimu saat ini. "


Plak...plok...plak...


" Aaahhh... maafkan aku Tuan, aku tidak akan mengulanginya, tolong berhenti memukulku Aaahh.... "

__ADS_1


__ADS_2