
Di tengah-tengah lapangan pelatihan, Evan yang sedang duduk bersila tiba-tiba menghembuskan nafas panjang penuh kabut putih, kemudian dia berdiri dari tempatnya dan berjalan menuju sudut lapangan untuk menemui ayah dan saudaranya, dia sudah tidak sabar untuk memamerkan kejeniusannya kepada kedua orang itu.
Mungkin kerena dia terlalu tergesa-gesa untuk pamer sehingga tidak menyadari situasi disekelilingnya atau memang karena dia masih belum bisa melihat dengan benar, saat dia berjalan, kakinya tidak sengaja menginjak pecahan batu yang tersebar disekitarnya dan dia berakhir jatuh tersungkur dilantai.
Saat Ryan dan Ernest melihat kejadin itu dari kejauhan, mereka tertawa sangat keras sambil memegangi perut mereka, setelah mereka berdua puas tertawa, mereka kemudian mendatangi Evan yang masih mengutuk dengan keras batu yang membuatnya jatuh.
" Dasar batu sialan, siapa yang menempatkanmu disini, jika kau tidak berbicara akan kuhancurkan kau menjadi debu. "
" Hehee, apakah kepalamu terbentur sesuatu saat terjatuh tadi, kenapa aku mengutuk batu yang jelas-jelas tidak bersalah, apa kau tidak merasa kasihan padanya. "
" Diam kau pak tua, ini adalah urusanku dengan batu ini, jangan mencoba ikut campur. "
" Hmph, terserahlah, jadi bagian proses terobosanmu tadi, apakah kau mengalami masalah ? "
Saat Evan mendengar pertanyaan ayahnya, wajahnya yang semula suram membentuk senyuman yang sangat cerah seperti bunga yang sedang mekar.
" Hahahahaa, berilah hormat pada Master Ksatria termuda yang penah tercatat dalam sejarah. "
" Hehehee..., kau memang sudah membuat prestasi luar biasa yang cukup untuk dicatat dalam sejarah, selain menjadi Master Ksatria termuda, kau juga adalah Master Ksatria pertama yang jatuh tersungkur dilantai hanya karena terpeleset sebuah batu, mungkin dimasa depan kau akan mendapat julukan Rock Knight atau Fallen Knight, bukankah itu keren, hahahaa. "
" ... "
[ Sialan, hancur sudah reputasiku jika hal ini sampai tersebar. ]
Evan yang sedang berusaha menjaga reputasinya, segera mengalihkan fokus pembicaraan.
" Ayah, aku sekarang sudah berhasil mencapai Master Ksatria dan juga berhasil membuka Hidden Gate yang ada di tubuhku, sekarang cepat jelaskan padaku bagaimana cara melihat dengan menggunakan Soul energi. "
" Hmm, sebenarnya tidaklah rumit untuk menggunakan Soul Energy, sekarang cobalah pejamkan matamu... oh, maafkan aku, aku lupa jika matamu memang sudah terpejam dari awal, haha... ehem, selanjutnya hubungkan indramu dengan kolam jiwa yang ada di glabellamu, setelah kau dapat merasakan bahwa indramu menyatu dengan kolam jiwa, cobalah kontrol Soul energi yang ada di dalam kolam tersebut untuk keluar dari tubuhmu, selanjutnya jadikanlah tubuhmu sebagai pusatnya dan sebarkanlah energi itu sejauh mungkin dan kau akan dapat melihat sesuatu yang sangat luar biasa. "
Dibawah bimbingan ayahnya, Evan berlatih cara menggunakan Soul Energy, setelah beberapa trial dan error dia akhirnya berhasil mengontrol Soul Energynya dengan cukup lancar, saat dia mencoba menyebarkan energi itu keluar dari tubuhnya, dia sangat terkejut dengan apa yang dia lihat.
__ADS_1
Dengan Soul Energy sebagai medianya, dia akhirnya berhasil mendapatkan lagi indra penglihatannya dan bukan hanya itu saja, pandangan yang dilihatnya dengan menggunakan Soul Energy jauh lebih jelas dan detail dari pada saat sebelum Bloodlinenya dibangkitkan.
Apapun yang dilewati oleh Soul Energy, Evan dapat melihatnya dengan jelas bahkan jika itu adalah butiran debu, saat ini Evan merasa bahwa dunia yang sebelumnya terlihat biasa-biasa saja sekarang menjadi jauh lebih indah dan berwarna, inilah fungsi lain dari Soul Energy yang hanya bisa didapatkan setelah membuka Hidden Gate, hal ini dinamakan indra spiritual.
Indra spritual dapat memungkinkan pengguna merasakan area disekitarnya dengan lebih jelas dan detail, disamping itu pengguna juga tidak lagi memiliki apa yang dinamakan titik buta karena Soul Energy dapat disebarkan keluar dari tubuh dan apapun yang menyentuhnya akan terdeteksi oleh penggunanya, bahkan semut yang bersembunyi di bawah tanah tidak akan lolos dari deteksi Soul Energy.
Evan saat ini seperti seorang anak yang mendapat mainan baru, dia terus menyebarkan Soul Energy menjauh dari tubuhnya yang akhirnya berhenti setelah mencapai radius 10 meter, ini terjadi bukan karena Evan tidak mau lagi menyebarkan energinya tapi memang karena tidak dapat menyebar lebih jauh.
Saat hal ini terjadi, ekspresi Evan menjadi suram dan semakin lama waktu berlalu semakin buruk ekspresinya.
Ryan yang memperhatikan disamping, tersenyum sinis sambil mencela putranya yang bodoh ini.
" Hehe, apakah Soul Energymu tidak dapat lagi menyebar lebih jauh. "
" Hah, bagaimana kau tau ? "
" Ini adalah masalah yang selalu dialami oleh seorang pemula, tingkat radius penyebaran Soul Energy tergantung dari besarnya kolam jiwa yang kau miliki, semakin besar kolam jiwa semakin jauh pula kau dapat menyebarkan soul Energymu, jika dilihat dari betapa jauhnya kau bisa menyebarkan Soul Energy, pasti kolam jiwamu sangat kecil saat ini, namun ini masih bisa dianggap bagus untuk seseorang yang baru saja membuka Hidden Gate. "
" Hahahaa, apa yang kau bicarakan, apakah kau lupa identitasmu saat ini, kau adalah penerus berikutnya posisi pemimpin keluarga, jadi kau tidak punya waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna seperti itu. "
" ... "
" Jangan bilang kau akan menolak lagi, ingat, kau sudah berjanji untuk ini. "
" Apa yang kau bicarakan ayah, sebagai anggota keluarga Silverash, aku akan dengan bangga menerima posisi itu, jadi apa yang harus kulakukan sekarang ? "
" Hehe, bagus, sekarang kau hanya perlu membiasakan dirimu dengan kekuatan baru yang kau miliki dan jangan lupa istirahat yang cukup, besok pagi datanglah ke aula utama dan temui aku disana. "
" Sigh... tentu. "
Evan menjawab kata-kata ayahnya dengan nada sedih dan tak berdaya karena dia tahu besok tidak akan menjadi hari yang mudah, kemudian dia menarik Ernest yang selama ini diam disamping untuk membantunya melatih kemampuan barunya.
__ADS_1
...
Keesokan harinya, Evan bangun pagi-pagi sekali, setelah membersihkan dirinya, dia kemudian berjalan dengan tidak bersemangat ke aula utama.
Alasan mengapa dia merasa lemas dan tak bertenaga adalah karena dia tau bahwa mulai hari ini akan menjadi hari yang sangat sibuk dan berat baginya, tugas seorang pemimpin keluarga bukanlah hal yang mudah, apa lagi keluarga besar seperti Silverash, pasti ada banyak masalah yang harus diseleaikan setiap harinya.
Saat Evan memikirkan tentang seberapa keras ayahnya akan memperbudaknya, tanpa sadar dia sudah mencapai tempat tujuan.
Aula utama adalah sebuah aula yang digunakan untuk urusan resmi keluarga Silverash seperti penyerahan posisi penting atau mendali kehormatan bagi orang yang memberikan kontribusi cukup besar bagi keluarga, jadi tidak heran jika aula ini sangat besar dan didekorasi dengan sangat mewah, bahkan pintunya saja sudah setinggi rumah pada umumnya, dapat dibayangakan betapa besar bagian dalam aula ini.
Didepan pintu itu, sudah ada dua pelayan yang menyambut dan mempersihkannya masuk, setelah Evan sampai didalam aula dia melihat ayahnya yang sedang duduk tinggi di singgasana perak yang sangat indah.
Dia berjalan dengan santai diatas karpet merah yang sangat panjang dan lembut, dekorasi yang indah dan mahal dipasang disekitar aula tidak membuatnya terkejut atau memperlambat langkahnya sedikitpun karena dia sudah terbiasa dengan itu.
Tak lama kemudian dia akhirnya sampai di depan singgasana ayahnya dan hanya dipisahakan oleh beberapa anak tangga.
" Jadi untuk apa kau memanggilku kesini ayah ? "
Saat Ryan mendengar kata-kata putranya yang tidak sopan itu, wajahnya berkedut sedikit.
" Dasar anak nakal, apakah kau tidak menyadari dimana kita saat ini, setidaknya berikan ayahmu ini beberapa wajah saat di aula ini. "
" Hah, lagipula tidak ada siapapun disini. "
" Sigh... lupakan, aku memanggilmu kesini untuk memberimu sebuah tugas, tapi sebelum itu aku ingin bertanya satu hal padamu. "
" Apa itu ? "
" Apakah kau pernah membunuh seorang manusia sebelumnya ? "
Pertanyaan yang keluar dari mulut Ryan membuat Evan, yang biasanya tetap tenang dalam situasi apapun menunjukkan ekspresi terkejut serta sedikit ketakutan diwajahnya.
__ADS_1