
Saat ini Evan dan William sedang berjalan menuju suatu tempat dipandu oleh Isabell yang terlihat sangat riang dan bersemangat.
[ Tuanku, mengapa kau memutuskan membantu anak ini ?, apakah ada yang istimewa dengannya ? ]
William yang sedang berjalan di samping Evan bertanya menggunakan telepati.
Telepati sendiri adalah metode komunikasi yang hanya dapat digunakan oleh seseroang dengan basis budidaya Master Ksatria atau lebih tinggi karena penggunaan telepati membutuhkan Soul Energy.
[ Memang ada sesuatu yang menggangguku, saat aku pertama kali melihat anak ini, sepertinya ada energi berwarna hitam yang sangat menjijikan menyelimuti dirinya, meskipun sangat samar tapi aku sangat yakin tidak salah melihat. ]
[ Energi hitam yang menjijikkan ?, apakah... ]
[ Benar, Penyihir Hitam. ]
[ Jika itu memang Penyihir Hitam, kita tidak dapat membiarkan masalah ini berlalu begitu saja Tuan, jika tidak, pasti akan timbul lebih banyak korban jiwa. ]
[ Aku tahu itu, karena itulah aku berusaha untuk menemukan jejaknya melalui anak ini. ]
Saat kedua Tuan dan pelayan ini berdiskusi tentang apa yang akan mereka lakukan selanjutnya, suara Isabell berdering di telinga mereka.
" Tuan-tuan, kita sudah sampai di rumahku, silahkan masuk. "
Mungkin karena Evan dan William terlalu fokus dengan diskusi tentang Penyihir Hitam itu, mereka tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan.
Itu adalah sebuah rumah kecil yang dindingnya terbuat dari papan kayu yang sudah banyak berlubang dan atap dari jerami yang disulam sedemikian rupa hingga dapat membentuk persegi.
[ Hey William. ]
[ Ada apa Tuanku. ]
[ Menurutmu, apakah manusia dapat bertahan hidup di tempat seperti ini ? ]
[ Mengapa anda mempertanyakan hal yang sudah jelas Tuanku, tentu saja tidak. ]
[ Lalu bisakah kau menjelaskan apa yang ada di depanku sekarang ini ? ]
__ADS_1
[ Hmm... coba kupikirkan sejenak, aha, aku tahu, mungkin yang kita lihat saat ini adalah arwah dari gadis kecil itu, kurasa tubuhnya sudah dijadikan sebagai kelinci percobaan oleh penyihir hitam yang kita bahas tadi dan sampai sekarang arwahnya masih bergentayangan di sekitar sini- ]
BAM...
Sebelum William menyelesaikan opininya, Evan menendang perutnya hingga dia terlempar beberapa meter dan akhirnya berhenti setelah menabrak sebuah pohon tua.
[ Hmph, rasakan itu dasar Guardian tidak berguna, kuharap kau tidak akan bangun lagi. ]
Evan mendengus dingin dan meninggalkan William yang masih terbaring dibawah pohon sambil memegangi perutnya.
Setelah Evan memasuki rumah Isabell, hal pertama yang dia lakukan adalah memindai daerah sekitarnya menggunakan Soul Energy untuk memastikan apakah ada sesuatu yang mencurigakan.
" Tuan, kenapa kau sendirian, dimana pengawalmu itu, tidak baik bagimu untuk berjalan sendirian tanpa apa yang memandu. "
Saat Isabell melihat Evan melewati pintu sendirian, dia bergegas menuju arahnya dan membimbingnya ke kursi terdekat.
" Hehe... maaf merepotkanmu, penjagaku sepertinya salah makan sesuatu tadi pagi karena itu perutnya sedang mengalami sedikit masalah saat ini. "
" Tapi seharusnya dia tidak meninggalkanmu sendirian, tunggu sebentar disini Tuan muda, aku akan membuatkanmu sesuatu. "
" Tentu. "
Jika bagian luar rumah ini terlihat sangat buruk, maka bagian dalamnya bahkan lebih buruk, banyak dinding berlubang yang telah coba ditambal dengan papan seadanya dan hanya ada dua ruangan yang ada di rumah ini.
Ruangan pertama adalah yang Evan tempati saat ini, sebenarnya Evan sendiri bingung harus menyebut ini ruang tamu atau dapur karena sepertinya hampir semua aktivitas yang dilakukan Isabell dirumah ini berpusat pada ruangan ini, bahkan Evan bisa melihat Isabell yang sedang memanaskan air di sudut ruangan.
Sedangkan untuk ruangan kedua, Evan belum dapat mengetahui apa yang ada di dalamnya karena ada sebuah pintu yang menghalangi, meskipun begitu dia dapat merasakan gelombang energi yang sangat menjijikan memancar keluar dari ruangan itu, Evan berasumsi bahwa ruangan ini adalah tempat orang tua Isabell berada, sebenarnya Evan bisa saja menembus melewati pintu itu, tapi dia tidak mau merusak privasi orang lain, jadi dia tidak melakukannya.
" Maaf sudah membuatmu menunggu Tuan, ini teh mu, mungkin rasanya tidak begitu baik karena aku hanya membuatnya dengan bahan seadanya. "
Saat Evan sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, Isabell datang dengan secangkir teh hijau ditangannya.
" Tidak perlu repot-repot, lagipula aku adalah pengunjung yang datang tiba-tiba, daripada itu lebih baik kita pergi melihat kondisi orang tuamu ? "
" Bukankah kita harus menunggu pengawalmu dulu Tuan ? "
__ADS_1
" Tidak perlu, sebenarnya sebelum mataku jadi seperti ini, aku pernah belajar tentang kedokteran walupun itu cuma dasar-dasarnya saja, aku mungkin bisa menyimpulkan bagaimana kondisi mereka lewat denyut nadi. "
" Benarkah Tuan, kalau begitu tolong ikuti aku. "
Isabell berkata dengan sangat bersemangat dan segera membantu Evan menuju pintu ruangan kedua dan setelah Evan memasuki ruangan itu dia sangat terkejut dengan apa yang dia lihat.
" Tuan, perkenalkan, ini adalah orang tuaku, sepertinya mereka masih tertidur, hehehee, beberapa hari ini mereka memang sering tidur, tunggu sebentar, aku akan membangunkan mereka.
Ibu, ayah... bangun, ada seseorang yang ingin bertemu dengan kalian, dia adalah seorang bangsawan dan dia juga mengatakan bahwa bisa menyembuhkan penyakit kalian. "
" Cukup Isabell, kemarilah ! "
" Tunggulah sebentar Tuan, aku janji mereka akan segera bangun... Tuan, apa yang kau lakukan, lepaskan aku."
Saat Isabell berusaha membangunkan orang tuanya, Evan tiba-tiba memeluknya dari belakang dengan sangat erat dan mengatakan sesuatu yang membuat Isabell menjadi linglung.
" Mereka sudah pergi Isabell, ayah dan ibumu sudah tiada, aku yakin kau sudah tahu itu. "
" TIDAK !!! Ayah dan ibuku masih hidup, mereka hanya tertidur, kau pembohong... cepat lepaskan aku... lepaskan aku !! "
Setelah mendengarkan perkataan Evan, Isabell berteriak dengan sangat keras dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Evan tapi Evan tetap tidak membiarkannya pergi.
Sebenarnya apa yang Isabell coba bangunkan dari dari adalah sepasang mayat yang telah membusuk dan bahkan sudah mulai berubah menjadi tulang, hanya bagian wajah mereka yang cukup utuh, mungkin karena Isabell yang sering merawat bagian wajahnya sehingga mereka masih dapat dikenali.
" Lepaskanlah Isabell, biarkan orang tuamu beristirahat dengan tenang, tidakkah kau kasihan dengan mereka, sudah saatnya kau merelakan mereka pergi. "
" Tidak.. hiks...hiks... mereka hanya tertidur.. hiks.. mereka tidak akan meninggalkanku sendirian.. hiks... mereka bilang akan selalu bersamaku.. hiks...hiks... "
" Menangislah..., lepaskan semua kesedihanmu, aku akan selalu disini menemanimu. "
" Huaaaa..... "
Setelah beberapa bujukan dari Evan, Isabell akhirnya menangis dengan keras untuk melampiaskan kesedihannya dan bahkan Evan sendiri berusaha sebisa mungkin untuk menahan air matanya agar tidak terjatuh.
Saat ini suasana hati Evan dipenuhi oleh beberapa emosi yang bercampur tapi sebagian besar didominasi oleh kesedihan dan kemarahan yang luar biasa.
__ADS_1
[ HAHAHAHAAA... sungguh sebuah keberanian yang besar, kau pikir bisa lolos dengan melakukan semua hal ini di wilayah kekuasaanku hahahaaa....
Tunggu saja, aku pasti akan menemukanmu, bahkan jika kau bersembunyi di ujung dunia sekalipun, pedangku pasti akan mencapai lehermu ]