
Evan saat ini sedang membaringkan tubuhnya yang letih di atas tempat tidur sambil membayangkan apakah dia akan terus menjalani kehidupan yang menyiksa seperti ini selama beberapa tahun kedepan.
Banyak kisah-kisah pahlawan menceritakan tentang protagonis yang hidupnya berubah menjadi lebih baik setelah dia membangunkan kekuatan tersembunyi di dalam dirinya, dia bisa mendapatkan 2X hasil dengan sedikit usaha dan banyak gadis-gadis bodoh dan naif yang mulai mendekatinya.
Tapi apa yang dia dapatkan sekarang setelah membangkitkan garis darahnya ?, bukannya kekuatan yang luar biasa atau keterampilan yang saleh tapi sebuah kesengsaraan.
Bagaimana tidak, bahkan untuk makan saja sekarang dia membutuhkan bantuan ibunya atau para pelayan untuk menyuapinya dan bukannya garis cantik yang mendekatinya tapi lelaki tua yang memukulinya setiap hari.
Setelah berpikir untuk waktu yang lama dan tetap tidak menenumukan solusi untuk masalahnya saat ini dia hanya bisa pasrah dan menerima nasibnya, satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah berlatih lebih keras untuk mencapai tingkat Master Ksatria lebih cepat.
Keesokan harinya Evan bangun pagi-pagi sekali untuk melakukan sesi meditasi hariannya, meskipun dia tidak bisa mempelajari tentang rune sekarang dia tetap dapat meningkatkan teknik meditasinya, oleh karena itu dia selalu meluangkan waktu untuk melakukan latihan meditasinya.
Setelah satu putaran meditasi dia berhenti dan memanggil pelayan untuk sarapan pagi, karena keadaanya sekarang dia memerlukan bantuan pelayan untuk memberinya makan, meskipun memalukan tidak ada yang bisa dia lakukan tentang itu, bagaimanapun dia tidak bisa selalu merepotkan ibunya untuk menyuapinya dan yang lebih penting disuapi oleh ibunya lebih memalukan daripada para pelayan.
Kemarin di meja makan Ernest tertawa sangat keras saat ibunya memberinya makan seperti anak kecil, dan meskipun dia tidak bisa melihat ekspresi wajah ayahnya, dia yakin pak tua itu juga sedang menertawakannya, dia tidak bisa melupakan penghinaan yang dia terima di meja makan saat itu, jadi dia memutuskan untuk disuapi oleh para pelayan tapi ibunya bersi keras untuk melakukannya sendiri.
Setelah sarapan dia menuju tempat latihan dengan bimbingan para pelayan, karena ayahnya belum datang dia melakukan pemanasan ringan terlebih dahulu dan kemudian melanjutkan dengan teknik pernafasan.
Dua jam kemudian Ryan datang dengan senyum puas diwajahnya saat melihat Evan yang duduk melatih teknik pernafasannya.
" Cukup, saatnya berlatih seni pedang, jika kau hanya melatih teknik pernafasanmu saja kau akan mati saat menginjakkan langkah pertamamu di medan perang. "
" Haaa, apa kau pikir aku percaya pada ucapanmu, kau hanya membuat alasan acak untuk memukuliku, medan perang ?, tidak ada negara yang berperang melawan kita saat ini, setidaknya berikan alasan yang lebih baik jika kau ingin menipu seseorang. "
" Hehehee, apa yang diketahui oleh bocah kecil sepertimu, kau hanya katak di dalam sumur, saat kau berumur 10 tahun nanti kau akan mengerti bagaiman dunia ini sebenarnya bekerja, cukup bicaranya, terima serangan ini. "
"Aaahhh, sialan kau pak tua, setidak jangan serang wajah tampanku. "
Dengan teriakan dan kutukan dari Evan, latihan kedua ayah dan anak ini akhirnya dimulai.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian Rossaline datang dan menghentikan latihan mereka berdua.
" Saatnya makan siang. "
" Ibu, apa yang kau lakukan disini, aku sudah bilang akan meminta pelayan untuk membantuku makan mulai hari ini. "
" Dasar anak nakal, apa kau lebih memilih disuapi oleh para pelayan dibanding ibumu sendiri. "
" Bukan begitu bu, aku hanya tidak ingin selalu merepotkan mu dengan masalah sepele seperti ini. "
" Apa yang kau katakan, memberi makan putranya adalah tugas seorang ibu, cepat buka mulutmu, keretanya akan lewat ...tut.. tut.. "
"..."
" Puahahahaaa. "
" Tunggu, kenapa kau juga ada disini. "
"..."
[ Sial, apa aku harus mengalami penghinaan ini setiap hari, kurasa aku juga mendengar sesuatu disana, apa itu kau pak tua, bahkan jika kau menahan suaramu, aku masih bisa mendengarnya dasar tua bangka sialan. "
Dan begitulah Evan Silverash menjalani kehidupannya yang monoton dan menyedihkan.
...
Satu tahun kemudian.
Disuatu tempat latihan dua pemuda saling berhadapan satu sama lain dengan sebuah pedang kayu di tangan mereka masing-masing, jika dilihat dari postur tubuh, jelas bahwa mereka bukan orang biasa melainkan prajurit yang sangat terampil.
__ADS_1
Tiba-tiba salah satu dari mereka bergerak dengan kecepatan yang sulit dilihat dengan mata telanjang dan meluncurkan serangan yang ditujukan kepada pemuda di depannya.
Jika gerakannya diperlambat akan terlihat bahwa di kaki dan permukaan pedang kayu pemuda ini akan terlihat dilapisi oleh cahaya perak samar, hal ini membuktikan bahwa pemuda yang tampaknya baru berusia belasan tahun ini sudah menjadi seorang Ksatria tingkat tinggi.
Dihadapkan dengan serangan yang sangat cepat dan ganas ini adalah seorang anak kecil yang mungkin belum genap berusia 10 tahun yang sedang dalam posisi bertahan dengan mata tertutup.
Tapi yang mengejutkan adalah serangan yang diluncurkan oleh pemuda itu dengan mudah ditangkis oleh anak ini walaupun dia tidak membuka matanya sama sekali.
Tidak perlu ditanyakan siapa identitas kedua orang ini, mereka adalah Evan dan Ernest, dua bersaudara dari keluarga Silverash.
Selama setahun ini Evan yang telah menjalani latihan yang keras telah mengalami kemajuan yang sangat pesat, seperti kata pepatah 'usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil', setelah dipukuli oleh ayahnya selama berbulan-bulan akhirnya dia berhasil meningkatkan naluri bertarungnya hingga dapat menyadari serangan yang ditujukan kepadanya meski dengan mata tertutup, selain itu dia juga meningkatkan hampir seluruh indranya ketingkat yang sangat tinggi.
Dan hal yang paling menakutkan adalah kemajuannya dalam seni pedang dan jalan ksatria, hanya dalam waktu satu tahun dia berhasil meningkatkan kekuatannya dari seorang Ksatria formal tingkat rendah menjadi kastria formal tingkat tinggi, kecepatan peningkatan ini tercatat sebagai yang paling cepat dalam seribu tahun terakhir.
Seni pedangnya juga tidak kalah mengerikan, meskipun tidak ada peringkat yang pasti dalam tingkat ilmu pedang, tetapi sebenarnya ada syarat tertentu jika seseorang ingin dihormati sebagai ahli pedang yang sangat terampil, yaitu berhasil menguasai niat pedang.
Niat pedang adalah akumulasi pengalaman dan pemahaman bertahun-tahun dari seorang pendekar pedang tentang jalan pedang mereka sendiri hingga dapat dimanifestasikan menjadi suatu bentuk energi tertentu.
Meskipun pemahaman Evan saat ini belum dapat menciptakan niat pedangnya sendiri, tetapi seharusnya sudah dekat untuk membentuk embrionya, selama dia meningkatkan akumulasi pengalaman dan pemahamannya tentang jalan pedang, pasti tidak akan terlalu lama sampai dia berhasil membentuk niat pedangnya sendiri.
Biasanya butuh bertahun-tahun bahkan bagi seorang yang sangat berbakat dalam jalan pedang untuk membentuk sebuah embrio pedang, mungkin karena kebangkitan Bloodlinenya, bakatnya dalam jalan pedang yang awalnya sudah luar biasa kini menjadi semakin mengerikan.
Ernest terkejut saat mendengar bahwa Evan telah berhasil menjadi Ksatria formal tingkat tinggi yang dia baru capai dalam sebulan sebelumnya, dia buru-buru bergegas ke tempat latihan dan menantang adiknya berduel.
Ernest adalah seorang maniak bela diri, dimana dia akan menaruh harga dirinya sebagai kakak jika dia dilampaui oleh adiknya.
Dan begitulah duel yang sangat sengit terjadi antara dua saudara laki-laki ini, Ernest yang tidak ingin kehilangan harga dirinya sebagai seorang kakak dan Evan yang ingin membalas dendam pada kakaknya yang selalu menertawakannya saat ibunya menyuapinya.
Dengan memperjuangkan alasan masing-masing mereka bertempur dengan seluruh kekuatan mereka, satu jam kemudian duel berakhir dengan kemenangan tipis yang secara mengejutkan berhasil diraih oleh Evan.
__ADS_1
Mulai saat itu Ernest akan datang setiap hari ketempat latihan untuk menantang adiknya berduel.