
" Oh, menarik sekali, hal apa yang bahkan bisa membuatmu kesulitan untuk tidur. "
" Pertama-tama aku ingin bertanya sesuatu padamu ayah. "
" Apa itu. "
" Bagaimana reaksimu saat pertamakali membunuh seorang manusia sebelumnya ? "
" Hmm... sungguh pertanyaan yang nostalgia sekali, sekarang aku mengerti mengapa kau kesulitan untuk tidur, waktu aku pertama membunuh seseorang, aku juga sepertimu.
Rasa tidak nyaman dan gelisah, dihantui oleh rasa bersalah dan mimpi buruk tentang orang yang telah kau bunuh, ini dinamakan beban psikologis.
Tapi kau tidak perlu khawatir, hal ini akan menghilang seiring berlalunya waktu-
Ada apa dengan ekspresi wajahmu itu, apa yang aku katakan ada yang salah ?"
Ryan sedikit bingung saat melihat reaksi putranya jadi dia memutuskan untuk menghentikan penjelasannya, meskipun Evan saat ini sudah jelek kerena lukanya, tapi Ryan tidak menyangka wajah itu bisa berubah menjadi lebih jelek lagi.
Sedangkan Evan saat ini sedang dalam suasana hati yang sangat buruk, dia mengambil nafas dalam-dalam dan mengatakan masalah yang dialaminya saat ini.
" Aku tidak merasakan hal itu. "
" Hah ?, hal apa ?, aku tidak mengerti maksudmu. "
" Maksudku aku tidak merasakan apapun saat membunuh seseorang, baik itu gelisah, mimpi buruk atau apapun itu, aku tidak merasakannya sama sekali. "
" ... "
Seketika Ryan terdiam setelah mendengar penjelasan Evan, ternyata masalah yang dialami putranya lebih buruk dari yang dia duga.
" Jadi apa yang membuatmu kesulitan untuk tidur nyenyak jika kau tidak merasakan apapun. "
" Justru karena aku tidak merasakan apa-apa itulah yang membuatku gelisah, aku tahu bahwa manusia normal akan merasakan berbagai macam efek negatif saat dia melakukan pembunuhan untuk pertama kalinya, tapi mengapa aku tidak merasakan apapun ?
Biasanya aku akan mengabaikan hal-hal seperti ini, tapi kali ini berbeda, jika hal ini terus berlanjut, aku takut aku akan menjadi bagian dari mahkluk-mahkluk hina itu. "
" Mahkluk-mahkluk hina ?, apa yang kau maksud adalah Ksatria Hitam. "
__ADS_1
" ... "
Saat Evan mendengarkan sebutan itu, ekspresinya tiba-tiba berubah drastis sehingga membuat Ryan yang ada di depannya sangat terkejut, Evan yang biasanya sangat percaya diri dan sombong menundukkan kepalanya kebawah dengan ekspresi ketakutan terpasang diwajahnya.
Selama kurang lebih 9 tahun Ryan menjadi ayah Evan, ini adalah pertama kalinya dia melihat putranya mengeluarkan ekspresi seperti itu.
" Tenanglah Evan, sebenarnya ada banyak kasus sepertimu di dunia ini, apa yang kau alami saat ini dapat dijelaskan dengan teori yang logis, bahkan aku pernah melihat beberapa kasus yang sama seperti milikmu dan tidak semua dari mereka berakhir dengan buruk. "
" Benarkah ?, apa itu, cepat jelaskan padaku. "
" Baiklah dengarkan baik-baik, Ehem... Manusia sebenarnya mempunyai banyak emosi yang melekat dalam diri mereka seperti gembira, sedih, tenang, amarah, cinta, benci dan masih banyak lagi dan jika kita lebih menyederhanakannya, emosi itu dapat dikategorikan sebagai baik dan buruk.
Biasanya, seseorang hanya akan menampilkan sifat baiknya jika berada di depan orang lain dan menyembunyikan sisi buruknya.
Tapi ada beberapa kasus dimana seseorang tidak dapat mengendalikan sisi buruknya dalam keadaan tertentu seperti kasusmu saat ini, hal ini sering disebut sebagai sisi gelap.
Menurut keadaanmu saat ini, kau memiliki sifat ketenangan dan ketidakpedulian yang sangat kuat sehingga menekan semua sifat yang ada ditubuhmu. "
" Hmm, cukup masuk akal, jadi sisi gelap adalah situasi dimana seseorang kehilangan kendalinya atas emosinya sendiri sehingga membuat orang tersebut menunjukkan sisi buruknya kepada orang lain dan hal ini hanya dapat terjadi jika kita berada dalam keadaan tertentu atau ada sesuatu yang memicunya. "
" Hmm... entahlah, sepertinya aku harus mulai belajar tentang sisi gelap ini, oh, dan satu hal lagi, mengapa saat aku bertemu dengan musuh, aku merasakan perasaan yang sangat aneh, seperti - "
" Kegembiraan. "
Ryan memotong Kalimat Evan bahkan sebelum dia menyelesaikan kata-katanya.
" Bagaimana kau tau, pak tua. "
" Hehehee, bukankah itu normal, aku juga sering merasakannya saat bertemu dengan musuh yang kuat, setiap Ksatria sejati pasti akan merasakannya juga.
Tidak seperti para penyihir yang menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk meneliti mantra-mantra tidak jelas itu, seorang Ksatria hanya dapat tumbuh dan berkembang melalui pertempuran yang sesungguhnya, apa kau mengerti. "
" Hmm, setelah berbicara denganmu, banyak kekhawatiranku menghilang, terima kasih ayah, tapi jika hal yang terburuk terjadi, aku ingin kau memenggal kepalaku saat itu juga, setidaknya aku ingin mati ditangan anggota keluargaku. "
Evan mengatakan sesuatu yang membuat Ryan sangat terkejut, tapi dia tidak menolak permintaan Evan yang ekstrim itu.
" Jangan khawatir, aku pasti akan melakukan itu dengan tanganku sendiri bahkan jika kau tidak memintanya, tapi jika bisa, aku tidak ingin membunuh putraku sendiri, jadi berjuanglah, apakah ada lagi yang kau butuhkan ? "
__ADS_1
" Ada beberapa hal, aku ingin kau memberi kompensasi kepada 18 Ksatria yang gugur untuk melindungiku dan memberikan mereka pemakaman yang terhormat, selain itu aku juga ingin buku teknik pernafasan Ksatria dari setiap atribut, jika bisa aku ingin kualitasnya agak tinggi. "
" Hah ?, mengapa aku harus memberi mereka kompensasi, bukankah mereka Ksatriamu, gunakanlah uangmu sendiri, dan juga mengapa kau ingin buku teknik pernafasan Ksatria dari semua atribut ? "
" Apa kau tidak paham juga pak tua, dalang yang menyebabkan semua hal ini terjadi adalah ayah mertuamu, masih untung aku tidak mengungkit masalah ini lebih jauh, jika tidak kantongmu pasti akan berlubang cukup dalam untuk membayar harga dari perbuatan mertua sialanmu itu, amarahku tidak mudah dipadamkan.
Dan untuk buku teknik pernafasan, aku sebenarnya ingin merekrut beberapa bakat untuk keluarga kita dalam perjalanan ini, seperti yang kau tau, mataku ini cukup luar biasa. "
Saat Ryan mendengar kata-kata Evan, dia tiba-tiba menyadari sesuatu yang cukup penting.
[ Sialan, aku lupa jika masih memiliki mertua seperti itu, dasar Marley bajingan, jika saja aku tidak takut pada putrimu, akan kuhapus seluruh keluargamu. ]
" Sigh, baiklah akan kuberikan apa yang kau mau, tapi pastikan untuk membawa banyak bakat yang baik untuk keluarga kita. "
" Tentu, kalau begitu aku pergi dulu, kau bisa mengirimkan buku-buku itu padaku lewat pengawalmu nanti. "
" Kenapa kau terburu-buru, tidakkah kau ingin bertemu dengan ibumu terlebih dahulu, selain itu bawalah beberapa pengawal. "
" Aku terburu-buru karena tidak ingin bertemu dengannya, jika dia melihat keadaanku saat ini, dia mungkin akan pingsan, dan untuk pengawal, aku tidak membutuhkannya, aku hanya akan membawa seseorang bersamaku. "
" Tunggu dulu, bukankah banyak pelayan dan penjaga yang telah melihat penampilanmu, pasti ibumu sudah mendengar tentang itu, bagaimana aku harus menghadapinya saat dia mencariku nanti, asal kau tahu saja dia sudah sangat marah saat aku mengirimmu pergi tanpa bertanya padanya. "
" Hehehee, itu bukanlah urusanku, tapi ingat, jika aku mendengar kau berani menyakitinya bahkan jika itu ujung jarinya, akan kubakar kastil ini, muahahahaa. "
Setelah menyelesaikan ancamannya, Evan berlali menuju pintu Aula, tapi saat dia akan membuka pintu itu, dia tiba-tiba menghentikan gerakannya dan menoleh kepada ayahnya.
" Uhm... ayah, bolehkah aku pergi ke wilayah kekaisaran Azeroth ?, sepertinya pangeran Arnold mengundangku untuk bermain. "
" Hmph, baru sekarang kau memanggilku ayah, pergilah, tapi jangan bertindak terlalu berlebihan, lagipula Azeroth masih majikan kita dalam nama. "
" Tapi pangeran Arnold yang terlebih dahulu memberiku hadiah yang sangat mahal, bukankah tidak adil jika aku tidak membalasnya. "
" Hmm, kurasa kau benar, kalau begitu lakukan sesukamu, asalkan mereka tidak memiliki bukti nyata, kau dapat melakukan apapun yang kau mau. "
" Hehehee, terima kasih ayah, akan kuingat itu. "
Setelah itu Evan membuka pintu Aula dan bergegas pergi meninggalkan kastil.
__ADS_1