
Setelah kelompok Evan mengunjungi makam kedua orang tua Isabell, mereka segera meninggalkan Desa Pilze menggunakan sebuah kereta kuda.
Sebelum pergi dari desa, Evan tidak lupa meminta pedagang yang sedang lewat untuk mengirimkan dua buah surat yang ditujukan untuk ayah dan ibunya.
Dia sebenarnya lupa jika dia meninggalkan rumah tanpa berpamitan kepada ibunya yang pasti akan membuatnya sangat khawatir, apalagi saat dia kembali ke kastil setelah pertempuran sengit melawan Ksatria keluarga Marley dengan luka yang sangat mengerikan diwajahnya.
Insiden itu jelas tidak akan dapat disembunyikan dari telinga ibunya karena banyak pelayan sudah melihat penampilan saat itu, jadi dia memutuskan untuk menulis surat secara khusus kepada ibunya agar tidak membuatnya terlalu khawatir.
Setelah Evan menyelesaikan semua urusannya, dia akhirnya dapat melanjutkan perjalanannya dengan tenang.
...
Kastil Silverash.
tok..tok..tok...
Saat ini Ryan yang sedang sibuk bekerja di ruangannya tiba-tiba mendengar sebuah suara ketukan dari pintu.
" Masuk ! "
Setelah mendapat izin dari Ryan, pintu ruangan itu akhirnya terbuka perlahan dan memperlihatkan seorang pelayan wanita yang sedang memegang dua buah surat di tangannya.
Pelayan itu kemudian membungkuk ringan dan menyerahkan kedua surat itu pada Ryan sambil berkata dengan hormat.
" Salam Yang Mulia, baru saja ada seorang pedagang yang lewat dan dia berkata bahwa dia diberikan permintaan untuk mengirimkan surat ke Kastil Silverash oleh seorang anak, setelah kami memeriksanya dengan hati-hati, ternyata surat itu disegel dengan stempel asli keluarga Silverash, jadi kami memutuskan untuk memberinya kepada Yang Mulia. "
" Oh, ini adalah segel yang kuberikan kepada Evan sebelum pergi, tapi seharusnya mengirimkan satu surat saja sudah cukup, kenapa ada dua. "
Setelah Ryan mengambil surat itu dari tangan pelayan, dia akhirnya mengerti mengapa Evan mengirim dua surat.
" Hmm... sepertinya yang satu ini untuk ibunya, Cepat panggil nyonya kedua kemari. "
" Maafkan hamba Yang Mulia, tapi semenjak Tuan muda Evan pergi dari Kastil, nyonya mengunci diri di kamarnya dan tidak mau keluar, bahkan porsi makannya sekarang sangat berkurang. "
" ... "
__ADS_1
Setelah Ryan mendengar kata-kata pelayan itu, bibirnya berkedut beberapa kali.
Setelah Evan kembali dengan luka mengerikan di wajahnya saat itu, Ryan sempat bertengkar hebat dengan Rossaline.
Sebenarnya itu tidak bisa disebut sebagai pertengkaran, itu lebih seperti Rossaline yang memarahi dan mencaci makinya dengan sangat keras dan dia hanya bisa bertahan secara pasif.
Semenjak kejadian itu, Rossaline mengurung dirinya sendiri dikamarnya dan tidak keluar selama beberapa hari ini.
" Sigh... lupakan, aku akan pergi sendiri. "
Setelah menghela nafas panjang, Ryan kemudian bangkit dari kursinya dan menuju ke kamar istri keduanya.
Beberapa saat kemudian, Ryan yang telah sampai di depan kamar Rossaline segera mengetuk pintu dengan lembut.
tok..tok..tok...
" Sayang, apa kau di dalam ? "
Tapi setelah menunggu cukup lama, tidak ada jawaban sama sekali, bahkan setelah mencoba beberapa kali lagi tetap tidak ada respon sedikitpun.
Setelah melihat usahanya gagal, Ryan akhirnya mengubah cara pendekatannya.
Dan benar saja, setelah Ryan menyelesaikan suaranya, tiba-tiba terdengar suara seperti benda jatuh beberapa kali dari dalam ruangan itu, tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka sedikit dan sebuah tangan kurus yang sepertinya milik seorang wanita terulur keluar darinya.
" Berikan padaku. "
" Aku tidak membawanya, surat itu ada di ruanganku. "
" Kalau begitu ambillah. "
" Tentu, tapi keluarlah terlebih dahulu dan makanlah sesuatu, lihatlah tangan kurusmu itu, jika kau terus bersikap begini, tak akan lama sebelum kau jatuh sakit. "
" Itu bukan urusanmu, cepatlah ambil surat itu. "
" Terserahlah, jika kau tidak mau, akan kubaca surat itu sendiri.
__ADS_1
Ohoho, ternyata aku membawa suratnya, hmm... mari kita lihat apa yang ada disini, hehehee ternyata ini tentang kisah perjalanan Evan selama beberapa hari ini, menarik, sangat menarik.
Hahahaa, lucu sekali, ternyata dia diusir dari sebuah rumah makan dan sekarang ini dia mengeluh kepada ibunya, dasar anak tak tau malu. "
Ryan dengan licik membaca surat itu di depan kamar Rossaline dan mulai menghasutnya untuk keluar dari kamarnya dengan cara mengucapkan potongan-potongan kalimat yang tertulis disana.
Meskipun rencana ini terlihat sangat konyol tapi ternyata cukup berhasil.
Brakkk..
Rossaline yang tak dapat lagi menahan dirinya dibawah hasutan suaminya akhirnya membuka pintu itu dengan keras dan segera merebut surat itu dari tangan Ryan.
Saat Rossaline membaca surat yang menceritakan tentang pengalaman putranya itu, wajahnya yang sebelumnya suram akhirnya menjadi sedikit lebih baik, jelas Evan tidak menuliskan hal-hal menakutkan seperti Penyihir Hitam di dalam suratnya agar tidak membuat ibunya lebih khawatir.
Satu-satunya hal buruk yang Evan tuliskan di surat itu adalah tentang bagaimana dia diusir dari sebuah rumah makan dan kali ini Evan tidak bertindak sopan.
Dia menceritakan semua kejadian yang terjadi di rumah makan itu dengan sangat dilebih-lebihkan.
Bahkan dia menuliskan jika pelayan barunya Isabell dan Ksatrianya William disebut sebagai pengemis jalanan saat memasuki rumah makan itu dan saat dia berusaha mengajukan keluhan, dia malah dituduh sebagai pemimpin para pengemis dan akhirnya mereka bertiga ditendang keluar secara paksa.
Saat Rossaline membaca penjelasan Evan yang jelas-jelas palsu dan berlebihan itu, kemarahan segera menyelimuti hatinya.
" Hahahaa, aku tidak menyangka jika putraku akan diperlakukan seperti itu di sebuah rumah makan kecil yang ada di desa terpencil, dan parahnya lagi rumah makan itu ternyata menjadi milik keluargaku sendiri.
Kurasa ini saatnya untuk melakukan pembersihan kepada para pegawai tidak melakukan tugas mereka dengan baik, ya, aku pasti akan membuat mereka menyesal karena telah memperlakukan putraku seperti itu.
hehehee. "
Setelah selesai membaca surat ditangannya, Rossaline tiba-tiba mengeluarkan tawa dingin hingga membuat Ryan yang ada di dekatnya bergidik ketakutan.
Sebenarnya jika dilihat secara cermat, apa yang di jelaskan Evan di dalam surat itu jelas sangat tidak masuk akal.
Bagaimana mungkin Evan akan berdiam diri jika dia diperlakukan seperti itu, menurut sikap yang telah dia tunjukkan selama ini, jika hal-hal yang tertulis di surat itu benar-benar terjadi, rumah makan itu pasti akan rata dengan tanah dan tulisan itu jelas-jelas hanyalah sebuah lelucon kecil Evan untuk menghibur ibunya.
Tapi sepertinya Evan tidak mempertimbangkan jika cinta seorang ibu terkadang juga buta dan lelucon kecil yang dibuatnya ternyata mengakibatkan banyak pegawai yang berada di bawah serikat dagang Mawar menderita.
__ADS_1
Dan benar saja, beberapa hari kemudian setelah Rossaline menerima surat itu, sebuah rumah makan yang ada di Desa Pilze tiba-tiba rata dengan tanah dalam waktu satu malam dan pekerja yang ada disana menerima surat pemecatan secara paksa.
Seolah masih tidak puas, para petinggi yang ada di serikat dagang Mawar yang berhubungan dengan pegawai atau pekerja di rumah makan itu juga di copot secara paksa dari jabatannya tanpa menerima penjelasan apapun.