Tahta Perak

Tahta Perak
Ksatria sejati


__ADS_3

" Jadi intinya, kau adalah teman masa kecil ibu Cecil dan sampai saat ini masih memendam perasaan padanya ? "


" Kurang lebih seperti itu, maafkan aku karena tidak sopan tuan muda, aku tahu bahwa cintaku pada Ms. Cecil seharusnya tidak pernah kubiarkan berkembang sampai sejauh ini, tapi semakin aku ingin melupakannya entah kenapa semakin dalam pula perasaanku padanya, jadi aku mencoba untuk membiarkan perasaanku ini terhapus seiring berlalunya waktu, tapi semua tetap saja sia-sia. "


Saat ini Evan dan Andrew masih mengobrol santai tentang kisah hidup Andrew yang pahit dan menyedihkan, meskipun mereka masih waspada dan menjaga jarak masing-masing, tetapi suasana percakapan mereka cukup harmonis, jika ada orang yang melihat mereka saat ini, orang itu pasti tidak akan pernah membayangkan bahwa kedua orang ini baru saja mencoba untuk saling membunuh satu sama lain.


Evan sepertinya cukup tertarik dengan kisah hidup Grandmaster Ksatria ini, dia terus menerus bertanya tentang sesuatu yang tidak dia mengerti dan Andrew akan menjawabnya dengan sabar.


" Apakah ibu Cecil tau bahwa kau memendam perasaan padanya ? "


" Kurasa tidak, karena aku selalu menyembunyikan perasaanku, dia mungkin tidak menyadarinya. "


" Apakah kau yakin, ibu Cecil adalah orang yang cerdas, tidak mungkin dia tidak tahu setelah semua pengorbanan yang kau lakukan. "


" ... "


" Hehehee, sepertinya kau juga menyadari bahwa orang yang kau cintai sebenarnya menyadari perasaanmu, kau hanya tidak ingin mengakuinya saja. "


" ... "


" Dan kurasa itu juga berlaku untuk semua orang yang ikut dalam misi kematian ini bersamamu, kalian merasa berhutang budi pada orang yang menolongmu disaat kalian berada pada masa tersulit kalian dan sekarang kalian bersedia mengorbankan nyawa demi orang itu, hahahaa sungguh orang-orang idiot yang naif. "


" ... "


Saat ini suasana yang awalnya cukup harmonis menjadi tegang karena kata-kata yang keluar dari mulut Evan, dan seolah dia belum puas, Evan terus melanjutkan kalimat sarkastiknya dan semakin mempermalukan kelompok itu.


" Hahahaa... lucu sekali, kalian sebenarnya sadar jika selama ini kalian dimanfaatkan dan kalian tidak berusaha kabur dari belenggu yang mengikat kalian tapi malah berusaha untuk mengabaikannya karena kalian takut untuk menghadapi kenyataan, dasar sekelompok pengecut. "


Meskipun kata-kata Evan sangat menyakitkan untuk didengar, tapi Andrew dan kelompoknya hanya sedikit mengerutkan kening dan sepertinya tidak merasa emosi sama sekali, dan saat Evan selesai berbicara, mereka hanya menjawab dengan satu kalimat pendek.


" Karena kami adalah seorang Ksatria. "


Saat Evan mendengar kalimat itu, dia tersenyum sangat cerah seolah sudah mengharapkan jawaban mereka, ini bukanlah senyum palsu yang biasa dia pakai saat menghadapi orang lain sebagai seorang bangsawan tingkat tinggi tapi ini adalah senyum paling tulus dari hati yang jarang sekali dia tunjukkan pada orang lain.


" Hahahaa... bagus sekali, seorang Ksatria sejati harus membayar kembali hutangnya apapun yang terjadi bahkan jika harus kehilangan nyawa dalam prosesnya.


Baik atau buruk dan benar atau salah tidak ada dalam kamus kita, hanya apa yang menurut kita benar adalah jalan yang harus kita ikuti.


Sangat memalukan bahwa Ksatria terhormat seperti kalian tidak berada dibawah sayap keluarga Silverashku yang dijuluki sebagai keluarga Ksatria nomor satu di dunia ini, jika tidak, kalian mungkin tidak akan berakhir tragis seperti ini dan akan mencapai hal-hal hebat dimasa depan "

__ADS_1


" Terima kasih atas pujianmu tuan muda, menerima pujian dari anggota langsung keluarga Silverash merupakan sebuah kehormatan terbesar yang pernah kami terima. "


Para Ksatria yang berada di sisi Andrew tiba-tiba membungkuk dan memberi hormat kepada Evan secara bersamaan dengan sedikit kebanggaan terukir di wajah mereka, mungkin ini adalah pertama kalinya bagi mereka dipuji sedemikian rupa apalagi orang di depan mereka bukanlah orang biasa, melainkan salah satu anggota langsung keluarga Silverash yang dicap sebagai keluarga ksatria terkuat di dunia saat ini.


" Meskipun aku tidak ingin mengotori tanganku dengan darah dari para Ksatria sejati seperti kalian, tapi kalian tahu bahwa sudah waktunya untuk mengakhiri pembicaraan ini. "


" Jadi tuan muda, apakah kau bersedia- mengabulkan permintaan kami ? "


" Tentu, hari ini aku, Evan Silverash, bersumpah demi kehormatanku sebagai seorang Ksatria, tidak akan melibatkan Cecil Marley dan keluarganya dalam insiden ini.


tapi kalian seharusnya tahu bahwa tidak akan ada satupun dari kalian yang dapat meninggalkan tempat ini hidup-hidup. "


" Hahahaa, kau tidak perlu khawatir tentang itu tuan muda, kami bahkan tidak pernah berpikir untuk kembali saat kami menerima misi ini, setelah mendengar sumpahmu, kami akhirnya bisa beristirahat dengan tenang di alam sana. "


Andrew yang mewakili kelompok itu menjawab perkataan Evan dengan senyum cerah seolah yang menantinya bukanlah kematian, tapi sebuah kebebasan yang sesungguhnya dan bukan hanya dia, para Ksatria disampingnya juga memakai ekspresi yang sama di wajah mereka.


Evan yang melihat hal ini, mau tidak mau merasa sedikit kasihan pada orang-orang yang menyedihkan ini, karena mereka bersumpah kepada tuan yang salah, mereka akhirnya memiliki akhir yang tragis, jadi dia berniat memberikan sedikit bantuan sebelum mengirim mereka ke peristirahatan terakhirnya.


" Sebelum itu, aku ingin bertanya sesuatu, apakah kalian memiliki keluarga ? "


Saat kelompok itu mendengar kata-kata Evan, ekspresi mereka menjadi sedikit suram dan Andrew, sebagai pemimpin tim ini akhirnya menjawab.


Tapi dari 72 Ksatria yang mengambil misi kematian ini denganku, sebagian besar dari mereka punya keluarga yang menunggu kepulangan mereka dirumah, tapi kau tidak perlu khawatir tentang itu tuan muda, aku yakin Baron Marley akan mengurus keluarga dari para Ksatria yang gugur, terima kasih sudah mengkhawatirkan kami. "


" Tulislah nama kalian dan saudara kalian yang gugur di selembar kertas, aku akan menyampaikannya kepada seseorang untuk mengurus keluarga kalian nanti, anggap saja ini sebagai hadiah dariku untuk para Ksatria sejati seperti kalian. "


" Apa kau serius tuan muda, hahahaa, terima kasih banyak kalau begitu. "


Segera ekspresi semua orang yang ada di kelompok itu menjadi riang kembali, jika ada orang asing lewat dan melihat mereka, orang itu pasti berpikir bahwa mereka baru saja memenangkan lotre saat ini, dengan senyum gembira diwajah mereka, jelas tidak akan ada yang berpikir bahwa sebentar lagi mereka akan kehilangan nyawa mereka.


Saat kelompok Andrew hendak menuliskan nama rekan-rekan mereka, mereka menemui kesulitan yang tak terduga, mereka tidak membawa kertas dan alat tulis.


Jadi tanpa malu-malu mereka meminta Evan untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan, tapi sayangnua Evan juga tidak memilikinya, memang di dalam Blue Rose Ring Evan ada banyak barang, tetapi tidak ada sesuatu seperti alat tulis.


Karena mereka tidak memiliki solusi lain, mereka akhirnya menggunakan selembar kain putih yang sepertinya adalah selimut Evan sebagai kertas dan darah mereka sebagai alat tulis.


Hal ini membuat bibir Evan berkedut saat dia mengamati dari samping, tapi dia tidak mengatakan apapun, setelah menunggu beberapa menit Evan akhirnya menerima selimutnya kembali dengan tambahan noda darah diatasnya, dia tidak bisa membayangkan berapa banyak darah yang harus dikeluarkan untuk menuliskan total 73 nama.


" Apakah kalian siap ? "

__ADS_1


Setelah semua persiapan sudah selesai, Evan menanyakan pertanyaan yang sudah di tunggu-tunggu oleh Andrew dan yang lainnya.


Tanpa membuang banyak waktu, Andrew dan kelompoknya menancapkan pedang mereka ke tanah dan berdiri diam sambil perlahan menutup kedua mereka.


Evan yang melihat tindakan mereka, segera menghunuskan kembali pedangnya dan berjalan perlahan mendekati orang-orang ini.


Tak lama kemudian, dia sampai didepan orang pertama dan tanpa ragu sedikitpun dia menusukkan pedangnya tepat dibagian kiri dada pria itu hingga menembus punggungnya dan saat pedang Evan menembus jantung Ksatria itu, tidak terdengar sedikitpun suara kesakitan yang keluar dari mulutnya tapi tubuh yang berdiri tegak itu perlahan-lahan mulai membungkuk dan akhirnya jatuh tepat kearah Evan.


Evan dengan capat menangkap tubuh Ksatria itu yang masih memiliki senyum tipis diwajahnya dan segera membaringkannya dengan lembut ke tanah.


Dari awal sampai akhir, tidak ada perlawan yang terjadi, seluruh proses terlihat sangat sederhana dan alami.


Setelah Evan selesai membaringkan orang pertama, dia kemudian menarik kembali pedangnya dari dada orang itu dan melanjutkan ke orang kedua, seluruh proses sama seperti sebelumnya, tidak ada suara atau perlawan apapun dari Ksatria itu sampai dia terbaring tak bernafas di tanah.


Ini terus berlanjut sampai Evan membaringkan orang ke 13, setelah itu dia berjalan perlahan menuju orang terakhir yang sedang menunggunya saat ini.


Tidak seperti sebelumnya, Andrew saat ini berusaha berdiri dan meluruskan punggungnya dengan menggunakan pedangnya sebagai tumpuan.


Dia menatap Evan yang saat ini sedang berjalan perlahan menuju ke arahnya dengan pedang pendek yang berlumuran darah dari rekan-rekan seperjuangannya.


Tak lama kemudian, Evan sampai di depan Andrew dan mengatakan sesuatu.


" Apakah ada yang ingin kau katakan padaku. "


" Tentu, aku tidak akan melupakan janjiku padamu, sebenarnya orang dibalik semua ini adalah... "


Tepat setelah Andrew menyelesaikan kalimatnya, Evan mengangkat pedangnya sekali lagi dan menembus jantung Grandmaster Ksatria itu.


Saat tubuh Andrew mulai terjatuh, Evan dengan cepat memeluknya dan segera membaringkannya dengan lebut ke tanah seperti orang-orang sebelumnya dan sesaat sebelum kematiannya, Andrew mengatakan sesuatu yang membuat Evan tersenyum sekali lagi.


" Terima kasih karena telah memberi kami kematian yang terhormat, tuan muda Evan. "


" Hehehee, kurasa aku juga belajar banyak dari kalian, terutama dari dirimu, saat aku mendengar kisah hidupmu, aku banyak belajar hal baru, terutama tentang sesuatu yang berhubungan dengan cinta, sesuatu yang belum pernah kurasakan selama ini, tapi aku tahu bahwa suatu hari nanti aku akan menemui sesuatu yang bernama cinta ini dan pelajaran yang kau berikan hari ini akan sangat membantu saat itu terjadi.


Terkadang memiliki sepenuhnya bukanlah sebuah cinta, tapi pengabdian dan pengorbanan yang murni dan mulia dapat diartikan sebagai cinta yang sesungguhnya, ada juga kalanya jika melepaskan adalah sebuah bentuk lain dari cinta.


Andrew, Ksatria dari keluarga Marley, namamu akan selalu terukir di sudut ingatanku, mungkin suatu hari aku akan menceritakan kisah tentangmu kepada istri dan anak-anakku dimasa depan.


Beristirahatlah dengan tenang wahai para KSATRIA. "

__ADS_1


__ADS_2