
Saat ini dilantai bawah, suasana yang biasanya berisik sekarang menjadi sangat tenang, para tentara bayaran yang sebelumnya minum sambil membuat keributan entah kenapa menghentikan semua tindakan mereka dan menatap kearah yang sama, yaitu tangga menuju lantai 2.
Tentara bayaran ini adalah orang-orang yang bekerja menggunakan senjata sebagai keseharian mereka, jadi tidak heran jika indra mereka sangat tajam saat merasakan bahaya.
Setelah beberapa saat menunggu, para tentara bayaran ini akhirnya melihat hal apa yang menyebabkan insting bertahan hidup mereka aktif.
Itu adalah seorang pria muda yang berusia kurang lebih 17 tahun dengan aura menakutkan berwarna kuning pekat terpancar dari tubuhnya.
Pria itu menuruni tangga dengan santai selangkah demi selangkah, saat pria itu semakin mendekat, perasaan kematian itu juga semakin kuat mereka rasakan dan tanpa sadar mereka membuka jalan untuk membiarkan pria itu lewat.
Tak lama kemudian pria muda ini akhirnya berhenti di depan sebuah meja yang berisikan 5 orang tentara bayaran yang sedang menatapnya dengan ketakutan.
Pria ini tidak lain adalah William dan orang yang didatanginya adalah kelompok tentara bayaran yang menabrak Evan di depan pintu penginapan.
" Heeee... sekarang Tuanku tidak ada disini, bisakah kita melanjutkan pembicaraan kita tadi. "
" ... "
" Hah ! dimana mulut besarmu tadi, kenapa kau diam saat ini. "
" Te-temanku, bisakah kita membahas ini secara- "
Bam...
Bahkan sebelum pria botak itu selesai bicara, William mendorong kepala botaknya ke bawah hingga wajahnya menghantam meja dengan sangat keras.
" Sialan, siapa yang baru saja kau panggil temanmu, apa kau ingin dipukuli. "
Bam...bam...bam...
William tanpa henti menghantamkan kepala pria botak itu ke meja hingga membuat wajahnya sulit dikenali dan hanya berhenti ketika meja itu patah menjadi dua.
Tapi sepertinya dia belum puas dengan apa yang dia lakukan, saat William hendak memukulinya dengan lebih keras, terdengar suara yang membuat gerakannya berhenti.
" Anak muda, kurasa itu sudah cukup, bisakah kau memberi wajah orang tua ini dan membiarkan masalah ini berlalu. "
Orang yang berbicara adalah seorang lelaki tua dengan rambut putih, diwajahnya terlihat banyak kerutan yang menunjukkan ujian waktu yang telah dilewati oleh orang ini, meskipun begitu tubuhnya yang kekar dan berotot menunjukkan kalau orang ini adalah seorang yang tidak bisa diremehkan, setidaknya untuk tentara bayaran yang ada disekitarnya.
" Ksatria formal ?, hmph ! siapa kau berani berbicara seperti itu padaku. "
__ADS_1
" Hehehee, namaku adalah David, pemilik penginapan ini, jika aku boleh tahu masalah apa yang menyebabkanmu begitu marah pada pria botak itu anak muda. "
" Hah, Botak sialan ini berani menghina Tuanku sebagai orang cacat, sebagai seorang Ksatria yang melayaninya, kau pikir aku dapat menerima hal itu. "
" Bisakah kita bicarakan ini secara damai anak muda, dia memang memiliki mulut yang kasar, tapi aku jamin dia adalah orang yang baik. "
" Heeee, apa kau ingin menghentikanku pak tua ? "
" Sigh... jika itu maumu tidak ada yang bisa aku lakukan.
Semua orang, serang pria muda ini secara bersamaan, meskipun dia sangat kuat, aku yakin dia masih memiliki batasannya. "
" Serang !!! "
Seketika lebih dari 30 orang termasuk pak tua itu menyerang William secara bersamaan, meskipun William kalah jumlah, hasil pertandingan ini tidak perlu dipertanyakan lagi.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian semua tentara bayaran yang menyerang William jatuh tersungkur ditanah dengan masing-masing hidung mereka patah atau tangan dan kaki mereka terkilir, bahkan pria tua yang adalah seorang ksatria formal itu tidak terkecuali.
Jelas tidak mungkin bagi orang-orang biasa ini yang hanya mengetahui sedikit tentang beladiri dapat menandingi seorang Master Ksatria apalagi orang yang mereka lawan adalah William yang jelas bukan seorang Master Ksatria biasa.
" Hmph, lain kali jaga mulut kotormu itu, jika ini terjadi lagi, mungkin bukan hanya hidung kalian yang akan patah. "
Setelah mengucapkan kata-kata itu, William kembali ke lantai atas dibawah tatapan ketakutan seluruh penghuni penginapan yang melihat kejadian saat ini.
Keesokan harinya, seperti biasa, Evan bangun pagi dan mencuci wajahnya untuk menghilangkan rasa kantuk, setelah itu dia menuju lantai bawah untuk sarapan paginya.
Tapi saat dia sampai di tempat tujuannya dia dikejutkan dengan pemandangan yang dia lihat, lantai bawah yang seharusnya penuh dengan meja dan kursi saat ini seperti reruntuhan, bahkan tidak ada satu kursipun yang dapat berdiri dengan benar.
" Apakah terjadi gempa bumi semalam ? "
Saat melihat ada pelayan yang lewat, Evan segera menanyakan kejadian yang terjadi, tapi yang aneh adalah pelayan itu sedikit terkejut dan ketakutan saat melihat Evan.
" Tu-tuan, ta-tadi malam a-ada sedikit perkelahian diantara pa-para tentara bayaran, j-jadi tempat ini s-sedikit berantakan. "
" Oh aku mengerti, ternyata ini ulah orang-orang sialan itu, tapi sekarang bagaimana dengan sarapanku ? "
" Tuanku, aku sudah mempersiapkan makananmu, apakah anda ingin makan disini atau di ruangan anda ? "
Sebelum pelayan itu bisa menjawab, tiba-tiba suara William terdengar dari belakang Evan.
__ADS_1
" Aku ingin makan disini. "
" Bukankah lebih baik makan di ruangan saja Tuanku, tempat ini sepertinya agak kotor. "
" Tidak, ada sesuatu disini yang cukup menarik perhatianku, cepatlah siapkan makananku, aku kelaparan saat ini. "
" Baik Tuan. "
Beberapa saat kemudian, sebuah meja dengan banyak makanan lezat dihidangkan di depan Evan yang membuatnya cukup puas, tapi tak lama kemudian, Evan menanyakan sesuatu yang membuat William gemetar ketakutan.
" Apa kau yang melakukan semua ini, William ?, sebelum kau menjawab, kuingatkan jika kau berani membohongi tuanmu ini, konsekuensinya akan sangat buruk, aku paling benci dengan pembohong dan penghianat, ingat ini didalam hatimu. "
" ... "
" Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku. "
" Ya Tuan, aku yang melakukannya. "
" Sigh... aku tau itu, dari sikap para pelayan yang memperlakukanku sudah jelas bahwa ini ada hubungannya denganku, panggil pemilik penginapan ini, aku akan meminta maaf kepadanya secara pribadi. "
" T-tapi Tuan, anda tidak salah sama sekali, aku yang melakukan semua ini, biarkan aku yang meminta maaf kepada pemilik penginapan ini. "
" Dasar idiot, aku mengerti apa yang kau rasakan sekarang, jika seorang penguasa dipermalukan didepan Ksatrianya sendiri itu adalah penghinaan terbesar bagi seorang ksatria tersebut karena tidak mampu membela Tuannya... "
" Jika anda sudah mengerti, lalu kenapa- "
" Tapi hal itu juga berlaku untukku, jika seorang Ksatria melakukan sebuah kesalahan, itu juga dianggap sebagai kesalahan Tuannya karena tidak dapat melatihnya dengan benar, apa kau mengerti sekarang. "
" ... "
" Sigh... William, menjaga kehormatan Tuanmu memang penting, tapi kau juga tidak boleh mengabaikan perintahnya begitu saja, sepertinya kau masih perlu banyak belajar, anggaplah ini sebagai pengalaman dan renungkan kembali kesalahanmu. "
" Baik Tuan. "
William mengepalkan tanganya dengan erat sambil menundukkan kepalanya kebawah, dia saat ini baru menyadari bahwa menjadi seorang Guardian bukanlah semudah yang dia kira.
" Apa yang kau lakukan dengan berdiam diri disana, cepat panggil pemilik penginapan ini. "
Saat William mendengar kata-kata Evan, dia segera bangun dari lamunannya dan segera berlari untuk melaksanakan tugasnya.
__ADS_1
Setelah melihat William pergi, Evan kembali menikmati sarapannya sambil mengamati hal yang menurutnya sangat menarik dari tadi.
Hal itu adalah seorang gadis muda berpakaian sederhana atau bahkan bisa dikatakan lusuh yang sedang mengepel lantai dengan sungguh-sungguh tidak jauh dari tempatnya.