
Saat ini suasana hening dan tegang menyelimuti seluruh tempat latihan karena pertengkaran ayah dan anak, Ryan yang sedang dalam keadaan marah besar karena keputusan yang Evan ambil untuk menjadi seorang Ksatria sihir tanpa memberitahu keluarganya berniat memberi anak nakal ini sebuah pelajaran yang tidak akan bisa dia lupakan.
Tapi saat dia mulai berjalan mendekati putranya langkahnya tiba-tiba terhenti, dia menatap mata Evan yang sebelumnya tertutup tiba-tiba terbuka secara perlahan, mata biru safir yang indah dengan sebuah tanda pedang perak tipis ditengahnya sedang menatapnya dengan tajam.
Saat Ryan menatap mata itu tiba-tiba dia merasa tubuhnya seperti di tusuk oleh ratusan pedang, dia buru-buru menyerbarkan auranya keseluruh tubunya dan perasaan itu segera menghilang.
" Bisakah kita bicarakan tentang ini dengan tenang ayah ? "
" Haaaa..., baiklah, aku harap kau tidak mengecewakanku dengan jawabanmu. "
Ryan menghembuskan nafas panjang dan menyetujui saran putranya, mungkin karena ilusi yang disebabkan oleh Sword Eyes Evan sedikit menjernihkan pikirannya yang dipenuhi amarah, aura yang sebelumnya sangat mengerikan kini sedikit mereda.
Setelah beberapa saat menenangkan diri Ryan menyadari bahwa tindakannya sebelumnya yang dibutakan oleh amarah hanya akan memperburuk keadaan, sebagai seorang ayah dia sangat memahami sifat-sifat putranya, jika melanjutkan apa yang dia lakukan sebelumnya mungkin akan ada keretakan antara hubungannya dengan Evan mulai saat itu.
Beberapa saat kemudian percakapan antara ayah dana anak dimulai kembali, sedangkan 3 orang lainnya mengamati dari samping tanpa niat untuk mengganggu, Rossaline sebenarnya sangat khawatir tentang apa yang sedang terjadi, tapi jika dia ikut campur dalam masalah ini keadaan mungkin jadi semakin buruk, jadi dia memutuskan untuk diam dan mengamati dari samping.
Ryan yang sudah menjernihkan pikirannya dan Evan yang kembali menutup matanya mulai melanjutkan pembicaraan mereka tadi.
" Jika kau sudah memilih jalan untuk menjadi seorang Ksatria sihir, dengan kecerdasanmu seharusnya kau sudah mengetahui resiko berjalan di jalan ini. "
" Aku tau. "
" Jadi kenapa kau masih melakukannya, dengan bakatmu saat ini seharusnya tidak sulit bagimu untuk melampauiku di jalan Ksatria jika kau berlatih dengan giat selama beberapa tahun lagi. "
" Karena aku ingin menjadi jauh lebih kuat dari apa yang kau bayangkan saat ini, untuk melindungi keluarga ini. "
__ADS_1
Untuk sesaat suasana hening menyelimuti 4 orang yang mendengar kata-kata itu, mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya dikatakan Evan saat ini, dan perkataan Ryan selanjutnya sepertinya mewakili kebingungan semua orang.
" Melindungi keluarga ?, apa kau pikir ada di dunia ini yang bisa mengancam kelangsungan hidup keluarga kita, jika hanya ini alasan yang kau punya, kau benar-benar membuatku kecewa- "
" Apa kau pikir aku tidak mengetahui apapun ayah, mengapa dunia ini mempunyai nama World of Ruins , mengapa peradaban makmur sebelum kita hancur walaupun mereka pernah menjadi pemimpin absolut di dunia ini dan mengapa tidak pernah ada catatan perang antar kerajaan selama beberapa ribu tahun ini, apakah kau pikir aku menghabiskan waktuku membaca buku-buku tua itu dengan sia-sia. "
Ryan kembali dikejutkan dengan apa yang dikatakan Evan saat ini, hal-hal yang baru saja dia katakan adalah rahasia besar yang hanya diketahui oleh beberapa orang di dunia ini, dia tidak menyangka Evan akan bisa tau tentang sejarah mengerikan yang sangat ingin disembunyikan oleh seluruh pemimpin tertinggi dunia ini.
" Ikuti aku, kita perlu bicara secara pribadi. "
" Tentu ayah. "
Kedua ayah dan anak ini berjalan menuju pintu keluar tempat latihan dibawah tatapan bingung ketiga anggota keluarga lainnya, tapi tak lama kemudian suara Ernest terdengar di telinga mereka berdua yang menyebabkan langkah kaki mereka berhenti.
" Sigh..., ini masih terlalu dini untukmu, jika kau mengetahui hal ini, hanya akan ada hal buruk yang terjadi. "
" Tapi kenapa Evan bisa mengetahuinya, dia bahkan jauh lebih muda dariku. "
" Karena Evan jauh lebih dewasa dan bijaksana dari dirimu saat ini dan dia juga adalah pemimpin masa depan keluarga kita, jika kau masih keras kepala maka kemarilah, tapi setelah kau mengikuti kami bersiaplah untuk tidak pernah memiliki kemajuan dalam jalan ksatriamu. "
"..."
Ernest menundukan kepalanya dan mengepalkan tanganya sangat erat saat mendengar perkataan ayahnya, bahkan darah mulai menetes dari sana.
Menjadi seorang ksatria yang terampil adalah tujuan hidupnya, jika dia tidak bisa membuat kemajuan dalam jalan ksatrianya, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
__ADS_1
Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundaknya dengan ringan, itu adalah Ryan yang tanpa dia sadari sudah berdiri di depannya.
" Beban yang harus ditanggung oleh pemimpin keluarga lebih berat dari apa yang kau bayangkan nak, kau belum siap menanggungnya sekarang. "
" Aku paham apa maksudmu ayah, tapi satu hal yang tidak dapat ku mengerti adalah jika Evan bisa melewati rintangan yang kau sebutkan setelah mengetahui rahasia itu, apa yang membuatmu berpikir kalau aku tidak bisa, apakah karena Evan lebih berbakat dariku ?, apakah bakat menentukan masa depanmu sejak kau dilahirkan di dunia ini ?, jika memang seperti itu, apakah kerja keras yang kulakukan selama ini tidak ada gunanya ?, aku tidak bisa menerima semua ini kalau benar itu alasannya. "
" Apa kau ingin tau apa perbedaanmu dengan adikmu, baiklah akan ku jelaskan dengan singkat apa perbedaanmu dengannya, apakah kau tau jalan apa yang diambil saudaramu saat ini ? "
" Jika aku tidak salah dengar ayah menyebutnya jalan Ksatria Sihir, jalan apa itu ?, mengapa aku tidak pernah mendengarnya. "
" Wajar jika kau tidak pernah mendengarnya, dalam sejarah panjang keluarga Silverash hanya mencatat ada 5 orang yang berhasil menempuh jalan ini, memang jika kau berhasil kau akan mendapat kekuatan yang luar biasa, tapi jika kau gagal tidak akan ada jalan kembali, baik itu mati atau cacat seumur hidup, hanya dua pilihan itu yang tersisa bagi mereka yang memilih jalan Ksatria Sihir. "
"..."
Ernest tiba-tiba berkeringat dingin saat ayahnya menyelesaikan kata-katanya, tanpa sadar dia memandang Evan yang saat ini sedang diam-diam mendengarkan disamping dengan ekspresi wajah yang sangat tenang, tiba-tiba dia merasa sedikit mengagumi adiknya ini karena berani memilih jalan yang bebahaya seperti itu.
Tapi dia tidak menyadari bahwa telapak tangan Evan saat ini sudah basah oleh keringat.
[ Sial, mengapa aku tidak pernah mendengar jika resiko menjadi seorang Ksatria sihir bisa seberbahaya itu, jika aku tau ini aku tidak akan pernah bahkan mencoba-coba jalan ini.
dan juga siapa yang menulis buku tentang Ksatria sihir itu, kenapa kau tidak menuliskan hal sepenting ini di buku sialanmu itu, dasar penulis penuh kebencian, pasti kau ingin menyesatkan orang-orang dengan tulisanmu, awas saja, jangan sampai kau bertemu denganku penulis sialan.]
Meskipun Evan merasa sangat gelisah dihatinya, tapi dia tetap berusaha mempertahankan ekspresi wajah yang anggun dan tenang, karena jika dia tiba-tiba menunjukkan kegelisahannya, dia merasa akan merusak citra yang sudah susah payah dia bangun tentang Evan yang misterius dan keren.
Selain itu yang terpenting adalah itu terlalu memalukan jika dia mengakui tidak mengetahui apapun setelah bersikap sangat percaya diri di depan ayahnya sebelumnya.
__ADS_1